When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Kayra 2.


__ADS_3

Aku melangkah lunglai sesaat setelah aku keluar dari mobil yang membawaku ke tempat Madam Ellen. Kedua mataku di tutup, dan tentu saja mulutku juga di bungkamnya menggunakan saputangan milik dari penculik itu.


Mereka menyeretku ke dalam ruangan yang lumayan besar. Terasa olehku saat kaki melangkah, terdengar suara kaki yang menggema di dalam ruangan itu.


" Sudah kalian dapatkan gadis itu," tanya Madam Ellen, sambil mengipas-ngipaskan tubuhnya.


" Iya Madam. Ini dia orangnya. Saya masih hafal betul wajah dan bentuk tubuhnya." ujar pria misterius itu. Lalu membuka penutup mataku. Saat mataku terbebas dari penutup mata, aku berusaha untuk bisa melihat sekelilingku. Dan melihat Madam Ellen yang tengah bahagia karena mendapatkan barang baru.


" Segera bawa gadis itu ke ruangan tuan Gara! Kasihan, dia masih menunggu teman kencan baru. Kalian tahu sendiri kan bagaimana tuan Gara itu? Cepat, jangan bertele-tele!"


Tanpa di beri peringatan kedua kali, anak buah Madam Ellen langsung membawaku ke dalam ruangan kamar, dimana ada sesosok pria dewasa bernama Gara.


.


.


" Siapa namamu, Nona?" tanya seorang pria dewasa. Jika di lihat dari penampilannya itu, sepertinya dia bukan orang sembarangan. Hanya saja kelakuannya mungkin tak seindah wajahnya. Bejat!


" Untuk apa? Apa untuk membokingku tiap hari, Hah?!" umpatku, dengan nada tinggi. Anehnya, ia malah tertawa.


" Kamu itu lucu Nona. Aku sangat suka padamu, karena kamu itu lucu." katanya, sambil mendekatiku. Jemarinya meraih daguku. Dan kemudian wajahnya semakin dekat. Ia memandangku dengan tatapan penuh hasrat. Tak lama kemudian, ia mencium bibirku. Mengecupnya pelan dan penuh kelembutan.


Akan tetapi, sentuhan itu lama kelamaan berubah menjadi ******* yang begitu mendebarkan dadaku. Aku belum pernah melayani pria tampan.


" Kenapa kamu diam!" bentaknya. Karena diriku yang diam tak merespon ciumannya.


" Ma-maaf, Tuan ... ," kataku penuh ragu.


" Aah! Basi," umpatnya lagi. Lalu ******* habis bibirku, hingga ia tak bisa menahan gejolaknya lagi.

__ADS_1


Seketika aku mendorong tubuhnya, hingga ia terjungkal ke lantai. Dan kepalanya membentur lantai.


" Kurang ajar kau!" umpat Gara, ia meringis kesakitan.


" Maaf Tuan, aku-aku sedang datang bulan," ujarku lirih.


Sejurus kemudian, pria itu membenturkan tangannya ke cermin besar yang berada di dalam ruangan kamarnya.


Darah segar mengalir di telapak punggungnya. Ia berdarah, tetapi aku yang panik.


" Tuan, maafkan aku. Maafkan telah mengecewakanmu. Sini biar aku obati, boleh?" Aku menawarkan diri untuk menebus kesalahanku tadi.


Kubuka kotak P3K. Kuambil alkohol lalu kuoles ke luka pria dewasa itu. Pria itu meringis kesakitan. Lukanya cukup parah.


" Baiklah, kali ini aku membebaskan dirimu. Tapi lain kali, aku akan kembali. Dan sebelum aku yang menjamah tubuhmu, jangan sampai kau di jamah oleh orang lain, ingat!!!"


" I-iya tuan, saya tunggu kedatangan tuan kemari," kataku tergugup. Sambil berusaha mengobati punggung telapak tangan pria yang berusaha ingin menikmati tubuhku malam ini.


Pagi ini, aku masih berada di tempat Madam Ellen. Kukira kejadian yang kualami, ini semua hanya mimpi. Mimpi buruk dan aku harus segera sadar dari mimpi buruk ini. Dan saat aku membuka mata, kulihat diriku masih berada di rumah madam Ellen. Ingin aku berteriak, bila perlu aku kabur dari sini, akan tetapi, aku sadar bahwa untuk kabur dari tempat ini, aku mungkin tidak akan bisa melihat ibuku lagi untuk selamanya.


Seseorang memasuki kamarku. Dia menatap padaku. Menatap dengan pandangan yang tajam. Itu pasti orang suruhan madam Ellen. Matilah aku, pasti pria tampan yang semalam datang, ia sudah melaporkan diriku. Jika ia berkata aku tidak melakukan hal itu karena datang bulan, celakalah aku.


" Rupanya kau sudah bangun, Sayang." katanya menyeringai. Ia duduk dekat denganku.


" Pria tampan yang datang tadi malam, ia ingin kau menemuinya. Namanya tuan Gara. Dan akan ada orang yang datang kemari untuk menjemput dirimu. Ingat! Kau harus bisa memuaskannya, jangan sampai membuatnya marah. Atau kau akan tahu akibatnya!" ucapnya sambil mengancam diriku.


Hatiku gugup saat ini. Apa yang akan dilakukan pria itu kali ini. Tadi malam, aku sudah lulus darinya. Tapi, kali ini aku pasti tidak akan bisa lepas lagi darinya.


Aku menghembuskan nafasku kasar, lalu mengangguk. Tanpa berkata apapun pada orang suruhan madam Ellen.

__ADS_1


" Berdandanlah yang rapih. Rias wajahmu secantik mungkin. Tuan Gara sangat menyukai gadis cantik. Apalagi, gadis sepertimu. Yang cantik dan mulus," katanya, lalu pergi meninggalkanku sendiri di kamar.


Kedua mataku mengerling ke sudut-sudut kamar. Mencari celah agar bisa pergi. Senyum tersunging di bibir tipisku, saat aku memikirkan bisa bebas dari sini. Dan saat sadar, aku merutuki diriku yang tidak berguna ini.


☘️☘️☘️


" Silahkan kamu bisa memilih pakaian apapun. Hari ini aku akan membelikanmu beberapa pakaian," kata pria tampan bernama Gara, saat aku bertemu dengannya di tempat butik terkenal di kota Singapore.


" Untuk apa, Tuan? Aku masih ada pakaian yang bagus. Terima kasih," kataku menjawab perkataannya.


" Aku tidak ingin mengulang perkataanku, jika aku menyuruhmu membeli semua pakaian, kau harus menurutinya. Paham!" katanya setengah membentak.


Lihatlah pria ini, dia begitu lembut tadi, tapi, kenapa saat keinginannya di tolak, dia menjadi marah?


" Baju ini sepertinya bagus untukmu. Cepat pakai!" perintahnya, lalu membimbingku ke kamar pengganti.


Aku menurutinya, jika tidak pasti dia akan marah padaku. Dan akan memukulkan tangannya ke cermin.


.


.


Kedua netra berwarna cokelat itu terbelalak saat diriku keluar dari kamar ganti dengan baju yang tadi ia berikan padaku. Dress dengan warna merah, dengan panjang selutut kakiku. Membuat tubuhku nyaris saja seperti bidadari. Perpaduan warna merah, dengan kulit tubuhku berwarna putih.


Kadang aku membenci diriku sendiri yang terlihat begitu sempurna. Sempurna membuat para lelaki berdecak kagum pada keindahan tubuhku dan juga kecantikan wajahku.


" Kau sangat cantik, Sayang." ucapnya berbisik di telingaku. Seraya memeluk tubuhku dari belakang.


" Malam ini, kau akan kuajak ke tempat yang indah. Maka, puaskan aku malam ini, oke?" bisiknya lagi, sambil mengecup leher jenjangku.

__ADS_1


Aku benar-benar terkejut saat ini. Ini bukanlah kemauanku. Dan aku harus bisa kabur darinya saat ini juga.


Bersambung.


__ADS_2