
Pernikahan yang di dasari bukan karena cinta. Akan menimbulkan ketidak-harmonisan dalam rumah tangga.
Kata-kata itu mewakili hatiku saat ini. Aku di paksa menikah oleh paman Ben dengan seorang lelaki yang belum pernah aku temui selama aku tinggal di kota. Lelaki asing yang sebentar lagi akan menjadi suamiku, tentunya dia juga tidak mengenal diriku sebelumnya. Kami terikat dengan pernikahan sakral. Namun, penuh dengan perjanjian hutang piutang.
"Pokoknya kamu harus mau menikah dengan anak sulung dari keluarga pak Haris! Jika tidak, rumah peninggalan orang tuamu beserta seluruh aset kekayaan milik ayahmu, Paman jual! Tentunya kamu tidak ingin hal itu terjadi bukan?" Paman Ben memberiku ultimatum lagi. Selalu dan selalu mengancamku ketika keinginannya tidak di kabulkan. Aku muak dengannya, yang terlalu penurut pada Bibi May.
"Iya, Paman, aku mau menuruti perkataan Paman. Tapi, jangan Paman jual rumah Ayah. Itu kenang-kenangan untukku, Paman. Aku mohon." Aku memohon padanya. Air mata mengalir deras dari kedua mataku.
"Baiklah kalau begitu, besok pernikahanmu akan di langsungkan. Segeralah bersiap-siap! Akan ada orang yang menjemputmu untuk fitting baju pengantin untukmu besok."
"Baik Paman, aku mengerti. Terima kasih sudah mau mendengarkan ucapanku. Aku mohon pamit." ucapku, dengan wajah tertunduk. Kemudian aku pergi meninggalkan Paman Ben di ruang kerja.
Saat aku keluar dari ruangan itu, kulihat Razak dan Alea sedang tersenyum bahagia karena aku telah menyetujui pernikahan konyol ini. Mereka dengan bebas menikmati kembali kehidupan yang serba mewah, bahkan akan lebih mewah dan terhormat lagi. Sungguh aku muak melihat mereka tersenyum. Ingin sekali aku tampar wajah mereka saat tersenyum bahagia seperti itu. Namun sekali lagi, aku hanya bisa diam dan menghindari mereka dari pada aku harus mendapat balasan dari bibi May yang gembul itu.
Tak lama kemudian, mobil utusan dari calon suamiku datang. Mereka membawaku pergi ke butik ternama. Harganya pun bisa bikin kantong bolong. Jadi, jangan coba-coba Anda membelinya. Sayangi kantong Anda ya?
Aku dipaksa mengikuti para utusan itu untuk masuk ke dalam butik. Sungguh pemandangan yang luar biasa buatku. Karena di dalam butik tersebut, terdapat banyak sekali gaun pengantin yang sangat indah. Aku terpana melihat gaun-gaun pengantin yang dipajang di etalase butik. Hingga satu karyawan butik itu menegurku dan membuyarkan lamunanku karena terpana.
"Mari nona, ikut saya! Anda akan mencoba gaun pengantin rancangan Tuan Hilda. Gaun ini khusus dibuatkan untuk Anda Nona. Silahkan Anda mencobanya di kamar ganti yang berada di ujung sana." Karyawati yang sangat baik itu menunjukkan letak di mana aku harus mencoba gaun pengantin.
Aku mengikuti arahan Karyawati itu untuk mencoba gaun pengantinnya. Walaupun aku kesusahan dalam memakai gaunnya, tampaknya sesembak Karyawati tadi paham bahwa aku sedang membutuhkan pertolongan.
Aku tidak mengira, akan secantik ini ketika diriku memakai gaun rancangan Tuan Hilda. Memang tidak di ragukan lagi, karya design buatannya, di hargai ratusan juta karena memang betul-betul indah saat di pakai.
"Baiklah, ini terlihat sempurna sekali." Suara lemah lembut penuh eksotis datang menghampiri di saat aku sedang bercermin di ruangan ganti. Semua mata berdecak kagum karena melihat diriku memakai gaun pengantin ini. Sehingga membuat lekukan tubuhku nyaris terlihat tanpa cela sedikit pun.
"Untungnya sang mempelai wanitanya memang sudah sempurna. Jadi, tidak akan ada yang kurang sedikit pun."
"Terima kasih tuan ...." Aku lupa dengan nama Sang Designer hebat ini.
"Panggil saja Hilda. Saya yang merancang gaun pengantin yang akan Anda pakai besok, Nona." ujarnya mengenalkan diri.
Aku tersenyum padanya, kuberikan senyum manisku pada tuan Hilda. Karena dia sudah membuatkan gaun terindah untukku.
__ADS_1
"Siapakah nama Anda, nona? Bolehkah saya tahu nama Nona yang cantik ini? Ya, siapa tahu nanti saya butuh model, jadi saya bisa menghubungi Anda." Tuan Hilda berceloteh.
"Ehem!" Suara deheman terdengar kencang. Rupanya, di butik ini aku tidak sendiri. Ada anak buah dari calon suamiku yang ikut masuk ke dalam butik. Mengontrol dan memastikan bahwa aku telah mencoba gaun pengantin yang di pesannya.
"Ah, ternyata Anda tuan Dave. Maafkan saya. Saya kira, saya sedang mengobrol bukan dengan calon Istri Tuan Alvin." pungkasnya, dengan nada yang lemah gemulai.
"Saya paham jika Anda seperti itu. Tapi, entahlah jika Tuan Alvin mendengar ocehan Anda tadi Tuan Hilda, Anda beserta butik ini akan lenyap." Ternyata utusan calon suamiku orangnya penuh keegoisan. Betapa tidak? Dengan seenaknya dia mengatakan seperti itu, seakan-akan dia dan tuannya itu adalah orang yang berkuasa di bumi ini.
"Mari Nona, kita pergi dari sini! Butik ini ternyata tidak cukup bagus untuk Nona!" ujarnya, menyindir.
"Maaf, Tuan Dave. Saya menyukai gaun ini. Dan saya tidak ingin pindah ke rancangan yang lain. Dan saya juga sudah memaafkan perkataan tuan Hilda tadi." Aku berusaha menolak. Tak tega jika Tuan Hilda ditolak olehnya. Aku menghargai karya orang lain.
"Tapi, saya rasa, masih banyak model gaun yang lebih cantik dari butik ini. Jadi, tolonglah Anda mengerti dan ikuti arahan dariku! Jangan Anda mempersulit pekerjaanku, Nona!" bentak Dave. Dia menarik tanganku, tetapi aku menepisnya cepat.
"Baiklah kalau Anda masih tetap ingin mencari gaun yang lain. Dengan terpaksa saya membatalkan acara pernikahan ini!" Dave murka karena aku tetap bertahan dengan gaun rancangan Tuan Hilda.
"Anda tahu Nona? Andalah wanita yang sangat pemberani menentang perintah saya! Anda tahu jika saya sudah marah, saya bisa berbuat nekat pada Anda! Demi kenyamanan Anda dan juga saya, saya mohon ikuti saya kemana pun saya pergi membawa Anda! Dengan begitu, tidak akan ada yang terluka nantinya, paham!" bentak Dave. Seketika aku terkejut, saat Dave menarik tanganku lagi dengan kasar dan membawaku pergi dari butik Tuan Hilda.
"Kau sangat kasar Tuan! Apakah kau tidak dididik untuk menghormati wanita? Apakah perbuatan tadi itu baik menurut Anda pribadi? Ingat tuan, wanita itu bukan barang yang dengan seenaknya dipakai lalu dibuang dan diperlakukan semena-mena.
Mereka punya hati tuan! Tidak seperti kau yang terlihat tidak mempunyai hati!" Aku memakinya.
"Diam! Kalau masih banyak bicara, aku turunkan Anda di jalan raya!" ancamnya.
"Lebih baik Tuan turunkan saya, daripada Tuan mengancam saya terus-menerus. Harus Anda ingat tuan, saya sudah tidak mempan diancam. Karena Paman dan Bibi selalu mengancam saya dengan kata-kata yang sama seperti Anda ucapkan tadi. Turunkan saya di sini!" perintahku pada Dave.
Dave menatap tajam ke arahku. Tatapan matanya seakan-akan ingin menghabisiku, tetapi ia urungkan niatnya tentu jika dia melakukan itu, dia akan menanggung akibat dari perbuatannya.
Dave menghentikan mobil yang ia kendarai. Kemudian membuka kunci otomatis dari tombol yang berada di kemudi stir mobil.
"Turunlah, Anda bebas sekarang! Tapi ingat, besok Anda beserta keluarga Paman Anda, akan menderita. Ingat selalu kata-kata saya, saya tidak main-main, Nona!" ancam Dave.
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai Dave, melaju dengan cepat. Lalu menghilang tak nampak lagi di hadapanku.
__ADS_1
Apa ini? Kenapa aku begitu berani padanya tadi? Apa yang akan terjadi pada Paman dan Bibi di rumah? Mereka pasti akan menghukum aku.
Betapa bodohnya aku ini. Tidak memikirkan akibat yang akan di tanggung oleh Paman Ben. Meskipun ia selalu bertindak kasar padaku, tapi dia adalah keluargaku satu-satunya. Yang rela memberikan perlindungan padaku.
Ah entahlah, apapun yang terjadi, aku akan siap menerima perlakuan dan hukuman dari Paman dan Bibi di rumah.
"Paman, maafkan aku," lirihku.
🍁🍁🍁
"Ini dia anak yang tidak tahu diri itu." Bibi May menyeringai. Ia nampak kesal saat aku datang ke rumah. Di sana juga ada Paman, Razak dan juga Alea yang siap menyerangku.
Aku tertunduk.
"Dasar tak tahu di untung! Beraninya kamu menolak perintah tuan Dave untuk mengikuti perintahnya. Memangnya kamu ini siapa? Bicara dengan nada seperti itu pada tuan Dave, hah!" Bibi May terus saja berkata kasar padaku, dan kali ini tangan besarnya akan mendarat di pipiku.
"Hentikan! Jangan kau tampar dia, May! Dia tidak bersalah!" Paman Ben membelaku.
"Apa kamu bilang, Pa? Dia tidak bersalah? Kamu tidak dengar tuan Dave bercerita tentang kelakuan konyolnya tadi?"
"Dia hanya mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini dia simpan. Jika posisi ini Razak yang hadapi, mungkin anak kita sudah jadi pelayan di sana."
Bibi May, diam. Ia cukup terkejut dengan ucapan suaminya. Bagaimana jika Razak ataupun Alea yang menghadapi ini, mereka pasti tidak akan sekuat diriku. Melawan seseorang yang memegang penuh kekuasaan. Apalagi, calon suami yang akan ia nikahi berwajah buruk rupa. Tentu Razak dan dirinya akan malu mempunyai suami dan menantu buruk rupa.
"Ya sudah, masuk ke kamarmu sana! Istirahatlah, kau pasti lelah seharian ini melawan Tuan Dave yang galaknya enggak ketulungan itu." Bibi May berkata lembut. Mungkin dia mencerna ucapan Paman Ben tadi.
Aku mengangguk. Aku tinggalkan mereka yang sedang memperhatikan setiap gerak-gerikku yang berjalan ke kamar pribadiku.
Lalu menutup pintu dengan kasar. Membuat Paman dan bibiku terkejut.
"Sialan!" umpat Bibi May. []
🍁🍁🍁
__ADS_1