
Dave meluncurkan mobil yang di kendarainya. Dengan kecepatan yang tidak tinggi. Ia terlihat fokus saat mengendarai mobil. Terlihat jelas dari kedua matanya yang menatap tajam arah sekitarnya.
Setelah mengantarkan Alvin ke rumah. Dave pun segera mengantarkan gadis cantik misterius yang sudah menjelaskan asal muasal datang bulan.
Gadis cantik. Itulah gambaran untuknya saat ini. Di mana gadis itu belum ia juluki ataupun ia ketahui nama aslinya. Gadis dengan rambut pendek sebahu, dengan volume rambut yang bergelombang dan cokelat pekat. Membuat gadis cantik itu terlihat sangat menonjol dan mudah di kenali oleh Dave.
Gadis itu, ia pernah bertemu dengannya sekali. Itupun dalam keadaan terpaksa akibat di pertemukan oleh pembalut. Jika di ingat-ingat, kejadian itu membuat orang yang mengalaminya bisa menyebabkan penyakit gila. Sebab melihat tingkah Dave yang absurd. Dengan mengatakan akan menggunakan juga pembalut yang di bawa gadis cantik itu.
Kedua bola mata cokelat nan cantik itu terus mengalihkan pandangannya. Sepertinya ia canggung jika harus bersitatap dengan Dave. Secara, lelaki yang berada di sampingnya itu adalah lelaki tertampan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Seketika jantungnya berhenti berdetak. Dug ... Dug ... Dug ...!!!
Desiran darah yang mengalir di dalam tubuhnya mulai menghangat, terasa di tubuhnya. Saat kedua matanya menatap mata lawan jenisnya yang tiba-tiba mendekat padanya. Dekat sekali, seakan-akan ingin mengecup bibir manisnya. Gadis itu terkejut.
" Aku hanya ingin membuka sabuk pengamanmu. Kita sudah sampai." ucap Dave, membuyarkan lamunan gadis cantik itu.
" Eeh...," ucap gadis itu. Saat Dave membuka sabuk pengaman.
Antara malu dan takut, akhirnya gadis itu tersenyum malu. Seketika rona wajahnya memerah, persis tomat merah yang merekah.
" Jangan kira aku berniat buruk padamu, Nona. Saya ini masih waras." celetuk Dave.
Merasa di tantang dengan ucapan Dave, gadis cantik berambut cokelat bergelombang itu segera menyahutnya.
" Ya. Siapa tahu saja kan? Isi hati manusia hanya Tuhan yang tahu." sahutnya, sinis. Sambil membetulkan dress yang di pakainya. Nampaklah bagian tubuhnya yang terlihat mulus, bersih, cantik rahayu.
Merasa kesal dengan ucapan gadis misterius itu. Dave segera melancarkan serangan dadakan. Sehingga membuat gadis itu diam seribu bahasa.
" Maaf Nona, Anda memang cantik. Kulit putih bersih merona. Namun, saya masih terbilang waras karena selera saya bukanlah Anda." timpal Dave, sinis dan kekanak-kanakan.
__ADS_1
Gadis itu menyipitkan matanya. Ia tampak bingung apa yang di katakan pria tampan yang ada di dekatnya saat ini.
" Maksud Anda, Tuan?" tanyanya dengan hati yang bertanya-tanya. Berharap dia mendapat jawaban yang melegakan.
" Begini Nona. Sejauh pemikiran Anda saat ini. Saya ini pria yang tampan, betul bukan? Tapi, saya juga punya selera yang tinggi terhadap wanita yang nantinya akan saya nikahi. Bukan seperti Anda, yang kurus, tinggi, langsing. Dada rata." ketus. Sangat ketus dan menjengkelkan ucapan Dave.
Benar-benar pria yang kejam dan tak berperikelakuan baik. Semena-mena, seperti menginjak kotoran yang sangat menjijikan. Melirik tajam mata bulat cokelat indah milik gadis cantik. Dave keluar dari dalam mobil. Menutup pintu mobil, menghela nafasnya, Huft!!!
Lega. Sungguh amat lega. Fikirnya.
Dave melangkahkan kakinya, ingin segera membuka pintu mobil bagian kiri. Agar gadis cantik itu segera keluar dari mobil yang ia bawa.
Belum juga Dave membuka pintunya. Gadis cantik bermata bulat cokelat itu membuka pintu mobil sendiri. Ia terlihat kesal saat Dave berbicara seperti itu padanya. Tidak bisakah pria tampan di dekatnya itu bicara baik-baik. Tanpa harus body shaming padanya. Apa salahnya pada Dave? Kenapa Dave bertingkah sangat kejam. Sedangkan ia sendiri tidak tahu, gadis itu tertarik dengan Dave ataukah tidak.
" Maaf, Tuan. Saya bisa sendiri. Tak perlu Anda capek-capek membuka pintu mobil untuk saya. Saya terbiasa hidup tanpa di perlakukan seperti ratu. " ucapnya sengit. Melirik Dave, kemudian ia banting pintu mobil Dave dengan kencang. Itulah akibat perbuatan Dave yang tidak pernah menyaring kata-kata dalam berbicara.
Gadis itu berbalik arah. Mendekati wajah Dave. Dan menatap tajam bola mata indah milik Dave. Seketika ada perasaan entah dari mana datangnya. Perasaan tabu untuk memulai sesuatu yang indah. Menggelitik hati keduanya.
Senyuman sinis tersungging di wajah gadis itu. Ia marah, kesal dan kecewa dengan sikap Dave. Berharap dapat pujian dan ucapan terima kasih, ia justru mendapatkan hinaan.
Gadis itu merogoh dompetnya. Ia keluarkan lima lembar uang kertas berwarna merah pemberian Dave dua hari yang lalu. Kemudian menempelkannya di dada Dave yang kotak-kotak bidang.
" Ini, saya ganti ongkos kerusakan pintu mobil Anda, Tuan! Jangan harap kita bertemu kembali. Ingat jika kita bertemu kembali, berpura-puralah seakan-akan kita tidak pernah bertemu!!!" hardik gadis itu, sinis.
Darah Dave mendidih. Ia ingin sekali menampar gadis yang ada di depannya itu. Namun, otaknya berkali-kali menolak keinginan untuk melukai gadis itu.
Dave, membiarkan gadis itu pergi dengan membawa seonggok perasaan yang entah darimana asalnya, perasaan lembut menyapanya hadir di relung jiwanya. Gadis itu sanggup melawan, memberontak pada lelaki kuat macam Dave. Sungguh, Dave saat ini sedang dalam kebimbangan nyata. Bimbang akan sosok gadis bermata bulat, berambut gelombang itu.
🍁🍁🍁
__ADS_1
" Sial ... Sial ... Sial...!!! Siapa sih sebenarnya gadis itu?! Dan maunya apa sih?! Kenapa wajah dia, ucapannya itu selalu terngiang-ngiang di otak?!!! Aaaaaargh...!!! Vangke!!!" Dave berkali-kali memaki dirinya sendiri. Memukul kepalanya berkali-kali pula. Lalu ia hempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya.
" Dia fikir, dia kuat melawan diriku? Andai saja tadi aku tidak menahan diriku untuk menghajarnya, mungkin dia saat ini sedang berada di rumah sakit." Dave terus menggerutu. Kesal, sebal, dan marah bercampur aduk jadi satu. Sehingga ia tidak sadar. Ia sudah berkali-kali berkata menyebut gadis cantik itu.
🍁🍁🍁
Di kediaman rumah Alvin.
" Sayang, sudah di pakai belum pembalutnya?" Alvin memeluk lalu mencium tengkuk leher Daisy, dengan penuh kelembutan. Ia ingin sekali bermanja-manja denganku malam ini. Namun, aku berhasil menolak sentuhannya.
" Jangan!!!" aku menolak. Alvin mengerucut sebal.
" Kenapa?" tanya Alvin, manja.
" Aku sedang datang bulan. Tidak boleh di dekati dulu, Sayang." kataku, canggung.
" Loh kok? Kenapa?"
Seperti anak kecil yang belum paham artinya, Alvin memasang wajah innocentnya itu.
Aku menghela nafasku, lalu menghembuskannya pelan. Menatap mata biru milik Alvin, kesayanganku.
" Wanita yang sedang datang bulan itu, ibaratnya ia sedang kesakitan. Organ dalamnya itu luka. Dan tidak boleh di paksa melakukannya. Jika di paksa, maka akan mengakibatkan kejadian yang fatal. Dimana, salah satu organ intim baik yang perempuan ataupun laki-laki, akan di jangkiti virus atau bakteri jahat. Dan bisa menghilangkan nyawa juga." aku melihat dengan seksama wajah lucu milik Alvin. Ia menyimak betul ucapanku.
" Apa suami tersayangku begitu kejam? Melihat isteri tercintanya kesakitan?" tanyaku kemudian. Tak lama kemudian, Alvin memeluk tubuhku. Ia mencium pipiku berkali-kali.
" Maaf, maafkan aku sayang. Aku akan menunggu hingga datang bulanmu selesai." katanya, sambil mencium keningku lalu tertidur di dalam dekapanku.
🍁🍁🍁
__ADS_1