
" Maafkan aku Tuan. Maafkan aku." isak Anisa dalam tangisnya. Ia memohon kepada Dave agar perbuatan yang dilakukannya termaafkan oleh Dave.
Dave diam, mematung di tempatnya berdiri saat ini. Menatap kearah Anisa yang tengah menangis pilu menyesali perbuatannya.
" Kenapa kau lakukan itu? Sudah lama aku mencurigaimu, Hanafiah. Saat kutahu nama panjanganmu Hanafiah. Aku teringat seseorang yang kukenal. Dan setelah kuselidiki, ternyata benar dugaanku. Kau adalah anak dari mendiang tuan Hanafi." kata Dave.
" Itu artinya, kau dan Mawar adalah saudara kandung. Lebih parahnya lagi, sifatmu sama jahatnya dengan Mawar! Kau pembunuh!" maki Dave.
Anisa menggenggam tangan Dave. Erat sekali, sambil menatap kedua bola mata Dave. Seolah-olah ia mengatakan maafkan aku Dave.
" Tuan Dave, aku melakukannya karena terpaksa. Demi melindungi Aisyah yang di bawa paksa oleh Mawar." jawab Anisa, terbata.
" Kenapa tidak menceritakan semuanya padaku? Mungkin aku akan membantumu menolong Aisyah. Dan kejadian ini tidak akan terjadi." ujar Dave. Ia marah, kesal dan geram.
Selanjutnya, Dave bertingkah seperti orang kehilangan akal. Lalu pergi meninggalkan Anisa sendirian di sana. Kalau sudah begini, sangat susah sekali meraih kepercayaan Dave. Sekali membenci, Dave tidak akan berpaling lagi ke orang yang sudah di bencinya. Anisa hanya bisa merutuki dirinya sendiri, tanpa bisa memaafkan apa yang telah ia lakukan pada Daisy.
π²π²π²Desi yulia Azzahraπ²π²π²
Di bar.
Dave meneguk segelas wine putih. Sudah empat botol wine yang ia minum. Tetapi, tidak bisa menghilangkan fikirannya dari kejadian tadi pagi. Mengingat Anisa yang membuatnya telah menyadari arti cinta. Namun, sekali lagi ia harus meneguk kepahitan dari cintanya.
Dave melemparkan gelas yang sudah tidak ada isinya lagi. Kedua tangannya terkepal menahan emosi.
Brak!!!
Dave menggebrak meja bar. Orang-orang yang ada di dalam bar itu menoleh kearahnya.
" Ada apa?!" hardik Dave, seakan ia tahu kenapa orang-orang itu menatap padanya.
Mereka yang masih sadar, segera tidak menanggapi ucapan Dave. Membiarkan Dave dalam keadaannya yang marah.
" Perempuan bodoh! Buat apa dia melakukan itu?" umpatnya.
" Jika aku mau, aku akan menolongnya. Andai saja dia berkata jujur padaku." ujar Dave, dalam keadaan mabuk.
__ADS_1
PoV Anisa.
Aku tidak bisa memaafkan diriku. Jalan satu-satunya aku harus menemui Dave, lalu pergi menghadap Mawar, membawa Aisyah pergi dan menyerahkan diri ke kantor polisi. Menebus semua kejahatanku pada Nona Daisy. Kulangkahkan kedua kakiku, dan pergi meninggalkan rumah Alvin.
Aku pergi menuju bar, di mana Dave berada saat ini. Aku mengetahui keberadaan Dave saat ini karena seseorang memberitahukanku lewat ponsel.
[ Nona. Kemarilah, tuan Dave nampak sedang mabuk. Dia ada di Bar wine.] pesan itu masuk ke ponselku. Pesan dari penjaga di rumah Alvin.
Sesampainya di Bar.
Aku melihat Dave yang sedang duduk. Sambil menyandarkan kepalanya di meja. Tubuhnya bergetar. Ia menangis.
" Tuan," ujarku. Tangan kananku memegang pundaknya. Ia pun berhenti menangis. Lalu menoleh kearahku.
" Ada apa? Mau mencoba membunuhku sekarang?" tanyanya, dengan nada mabuk.
" Tuan, kita pulang. Ikutlah denganku, dan kita lanjutkan masalah ini di rumah." ucapku, lembut.
" Buat apa? Toh kamu itu pembunuh." katanya, tajam.
" Tuan, tolonglah maafkan aku. Aku janji setelah ini, aku akan menyerahkan diri ke kantor polisi. Asal tuan mau ikut denganku pergi. Aku tidak ingin tuan mabuk seperti ini." kataku meyakinkan Dave. Sambil menggenggam tangan Dave.
Aku meraih tangan Dave lagi. Lalu berdiri sejajar dengannya. Menatap wajah pokoknya saat mabuk. Ada rasa kecewa dari sorot matanya.
" Tuan Dave, maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukan hal ini lagi. Tolong maafkan aku, Tuan." pintaku pada Dave.
" Lepaskan!!!" Dave berontak. Namun, aku tetap menggenggam tangannya. Kuputuskan memeluk tubuhnya erat. Sangat erat. Aku menangis dalam pelukannya.
Hingga beberapa menit kemudian Dave melepaskan pelukanku. Namun, dengan sigap aku berlutut di kakinya, memohon maaf padanya. Melihatku seperti itu, Dave segera membangunkanku.
" Kau tahu Anisa. Kau adalah wanita pertama yang sudah membuka hatiku. Aku mulai menyukaimu. Kutelusuri kehidupanmu, ternyata kau adalah saudara kandung Mawar." ucapnya.
" Aku salah sudah mencintaimu." sambungnya lagi.
" Maafkan aku Tuan. Maaf sudah membuat hatimu terluka." kataku, mencoba tegar.
__ADS_1
" Aku akan pergi menemui Mawar. Dan selepas itu, aku akan menyerahkan diri kepolisi."
" Untuk apa? Untuk mengatakan padanya bahwa tugasmu sudah beres? Hah!!! Lalu setelah itu Mawar berpesta pora? Kau bodoh Icha. Sangat bodoh!"
" Setidaknya aku bisa menyelamatkan nyawa seorang anak kecil."
" Tapi kau malah membunuh dua nyawa sekaligus!" umpatnya.
" Tuan,"
" Apa?! Berharap maaf dariku. Cih! Tidak akan!"
Dave menatapku. Lalu ia pergi meninggalkanku. Dalam keadaan marah dan mabuk.
π²π²π²Desi yulia Azzahra π²π²π²
" Mawar! Keluarlah kau!!!" suara teriakan Anisa yang lantang, membuat Mawar keluar dari dalam kamarnya.
" Ada apa? Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?"
" Ya! Dan sesuai perjanjian kita, tolong lepaskan Aisyah. Mana anak itu?!" Anisa berkata.
" Tidak ada. Anak itu sudah kujual ke luar negeri. Untuk di ambil ginjalnya." ujar Mawar, sambil tertawa lebar.
" Bedebah kau, Mawar! Kau membohongiku!"
" Ya, karena kamu itu bodoh! Ha ha ha...," ledek Mawar.
" Brengsek kamu! Aku tidak akan sudi menganggapmu kakakku! Dasar wanita tidak tahu diri!"
" Apa? Kau mau membunuhku sekarang? Lakukanlah pembunuh! Apa kau tidak ingat, ayah dan ibu meninggal itu gara-gara siapa? Kamu bukan?!"
" Cukuuup!! Aku muak jika kau ungkit masa lalu. Aku tidak sengaja melakukan itu!"
" Tidak sengaja katamu?! Jelas-jelas kamu sengaja melakukannya, Anisa."
__ADS_1
" Tidak! Aku tidak sengaja melakukan itu!" Anisa berteriak. Ia mengingat kejadian empat tahun yang lalu. Saat kedua orangtuanya meninggal dunia. Dan ini terjadi karena ulahnya.
π²π²π² Bersambung π²π²π²