When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Sebuah perjalanan panjang.


__ADS_3

Kayra memasuki sebuah rumah yang megah nan mewah. Yang di sana terdapat beberapa barang mewah dan mahal. Tidak di ragukan lagi, tuan Gara ini adalah pria tampan dan juga tajir. Pemandangan yang seperti itu, mampu membuat kedua netra Kayra berwarna biru muda tak mampu berkedip.


Rumah mewah dengan halaman luas terbentang, pastilah membuat dirinya susah untuk berusaha kabur dari cengkeraman tuan Gara. Belum juga ia sampai di pintu gerbang, tentu saja, langkah kakinya tidak kuat untuk melangkah. Apalagi berlari. Sungguh hari ini, hari sial untuk Kayra.


Gara menggenggam tangan Kayra. Sentuhan lembut di rasakan oleh Kayra saat ini. Kadang ia sendiri bingung jika berhadapan dengan Gara, pria tampan yang haus belaian. Gara begitu liar di saat berada di atas ranjang. Dengan deru nafas yang cepat. Kadang juga ia bersikap lembut. Membuat Kayra kebingungan ia harus pergi dari sini ataukah menetap dan menunggu perintah dari Gara.


" Kamarmu bersebelahan dengan kamarku. Jika kau butuh sesuatu, maka jangan segan-segan untuk menyuruh para pelayan di rumah ini. Sekarang kau adalah nyonya rumah, di rumahku ini. So, tidak akan ada yang berani menentang perintahmu!" Gara menatap tajam pada Kayra. Kata-katanya bak orang gila yang baru keluar dari rumah sakit.


Betapa tidak, jelas-jelas Kayra dan Gara belum pernah terikat pernikahan, tapi Gara2 sudah mengklaim Kayra adalah istrinya. Ini perbuatan yang salah bukan?


" Maaf tuan, aku ini bukan istrimu," ujar Kayra, lirih. Ia tundukkan pandangan matanya. Tidak berani menatap wajah Gara. Pastinya akan berubah menjadi iron man.


" Ikuti saja perintahku! Kau milikku sekarang, Nona! Aku tertarik padamu saat pertama kali kita bertemu. Jadilah perempuan yang baik. Menuruti perintahku, dan jangan membantah!" ujarnya ketus. Lalu pergi meninggalkan Kayra di depan pintu kamarnya.


' Dia memang sakit. Pria tidak waras!' gerutu Kayra dalam hati.


☘️☘️☘️


Sementara itu di Indonesia.


" Kau berada di mana, kak Gara?" ujar Dave saat sedang menerima panggilan telepon untuknya.


" Ada apa menanyakan keberadaanku? Apa pedulimu, Dave?!" bentak seseorang dari sebrang sana.


" Aku peduli Kak. Dan aku akan mengunjungimu ke Singapore esok lusa. Kebetulan juga aku ada keperluan mendadak disana. Menemui seseorang."


" Up to you, Dave."


Dan telepon pun terputus.


Dave menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia begitu geram akan tingkah laku kakak laki-lakinya itu. Yang selalu berusaha menjauh dari keluarga besarnya.

__ADS_1


Dave dan Gara, ibarat anak kembar. Beda usia satu tahun. Lebih tua Gara tentunya.


" Mom, esok lusa aku akan pergi mengunjungi kakak di Singapore. Mommy mau ikut?" Dave mengawali pembicaraan saat berada di meja makan.


" Buat apa? Toh jika kalian ke Singapore, pasti yang rugi ayah kamu, Dave!" ujar ibu tiri Dave.


" Tak perlu risau tante, aku punya harta banyak. Tak perlulah aku mengemis pada ayahku sendiri. Haram untukku, Tante!" balas Dave tak kalah sadisnya.


" Baguslah, aku juga akan bahagia sekali saat kalian benar-benar pergi dari rumah ini," katanya dengan mata yang di kerlingkan. Dan nada suara yang terdengar mengusir.


Mendengar kata-kata ibu tirinya, Dave hanya bisa tersenyum kecut sambil menggeleng kepalanya.


Tak heran memang, ibu tiri Dave hanya memikirkan harta saja. Dia juga rakus sekali dan juga jahat. Dave yakin, tujuan ibu tirinya menikah dengan ayahnya semata hanya karena harta. Dan menurut informasi yang di dapat oleh Dave, Kania tadinya hanyalah bawahan yang bekerja di kantor ayahnya saja.


" Habiskan sarapanmu, Dave." ibunda Dave berkata. Dave mengangguk, sambil tersenyum manis. Kemudian menghabiskan masakan buatan ibundanya dengan lahap.


" Terima kasih, Mom. Masakan buatanmu itu lezat sekali. Mengalahkan chef-chef ternama. Dan bukan abal-abal," kata Dave, melirik kearah Kania. Ia sedikit menyindir ibu tirinya itu.


" Mom, aku berangkat dulu ya? Jika Mom butuh sesuatu, telepon Dave ya?" lanjut Dave, lalu mencium kedua pipi ibundanya.


" Ya .... " sahut Dave lalu pergi meninggalkan ibundanya di rumah.


☘️☘️☘️


Di dalam perjalanan, entah mengapa hatinya resah saat ini. Di dalam fikirannya saat ini, ia merasa ada yang tidak beres. Ia teringat gadis cantik bermata biru. Yang saat ini sedang berada di Singapore.


Kayra.


Gadis itu yang membuat hati Dave selalu risau. Gundah gulana dan tidak tenang. Bayang-bayang wajahnya, selalu hadir di dalam ingatan Dave. Hingga ia berfikir untuk pergi berkunjung ke Singapore. Berbohong sedikit pada orang tuanya tujuan dia ke Singapore.


.

__ADS_1


.


" Tuan, besok lusa aku izin kerja. Aku akan pergi ke Singapore untuk mengunjungi Kayra. Dan juga kakakku Sagara." ujar Dave siang itu. Saat ia bersama Alvin.


" Pergilah, jika itu membuatmu tenang. Kulihat fikiranmu tidak tenang. Ragamu di sini, tapi fikiranmu menyangkut di Singapore," sindir Alvin. Membuat Dave cengengesan.


" Terima kasih, Tuan. Kau baik sekali. Perhatian dan juga solid," puji Dave.


" Kau butuh uang bukan," Alvin bertanya.


" Aaah, tidak-tidak tuan. Aku masih ada uang, aku hanya memujimu saja, he he he ...," tukas Dave.


" Ya ya ya ... I know it Dave," ujar Alvin terkekeh.


Begitulah mereka. Terkadang sifat mereka sama. Dan saling memahami satu sama lain. Hanya saja Alvin bisa berfikir dengan jernih sedangkan Dave, akan bertindak di luar batas kesabaran bila itu menyangkut harga diri orang-orang yang di cintai dan dilindunginya.


☘️☘️☘️


Di Singapore.


Di ruang khusus. Tepatnya di kamar Gara. Kayra menunggu di sana. Ia duduk di ranjang empuk milik Gara, dengan balutan dress berwarna merah. Sungguh cantik sekali Kayra malam ini. Tak bisa di pungkiri, tak akan mungkin para lelaki tidak akan jatuh cinta saat melihat Kayra. Pastilah mereka akan rela merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa memboking Kayra bersama mereka. Tak terkecuali dengan Gara. Ia pun rela membayar mahal pada madam Ellen, agar bisa membawa Kayra pergi dari tempat haram itu.


Kedua netra dengan bulu mata lentik itu menatap tajam kearah Gara yang saat ini sedang berdiri di hadapannya dengan memakai handuk yang terlilit di pinggang. Sehingga menimbulkan efek tak biasa di hati Kayra.


' Oh Tuhan, aku harus bagaimana?' batin Kayra. Ia menelan salivanya. Terasa pahit. Ini bukan kemauannya. Namun, ia harus menuruti apa yang di perintahkan oleh Gara.


" Kenapa? Kau takjub bukan melihat tubuhku ketika aku bertelanjang dada," ujar Gara dengan badan setengah menunduk.


" Kau cantik sekali, Nona. Apakah kau sudah siap?" tanya kemudian.


Kayra membelalakkan kedua matanya. Kini sudah saatnya ia melakukan tugasnya. Dan ia harus mau melakukannya.

__ADS_1


Bersambung.


☘️☘️☘️


__ADS_2