When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Tidur bersama.


__ADS_3

Malam setelah kejadian tadi pagi, aku berusaha sebisaku untuk melayani Alvin. Menyiapkan makan malam untuk Alvin. Malam ini Alvin ingin makan malamnya ia habiskan di meja makan.


Semua orang terkejut saat melihat Dave datang bersama Alvin yang tengah di dorong oleh Dave ke meja makan. Pemandangan tak biasa untuk mereka. Mereka sudah tidak melihat Alvin bersedia untuk makan malam bersama selama empat tahun. Tapi hari ini, Alvin ikut bergabung dan menyantap hidangan bersama keluarganya.


Aku lupa memberitahukan, tadi sore keluarga besar Alvin. Ayah, Ibu, adik, beserta bibi dan pamannya datang ke rumah. Mereka hendak bersilahturahmi mengenal diriku dan menjenguk Alvin tentunya.


Ini suatu kehormatan untukku. Karena aku bisa menyajikan hidangan istimewa untuk mereka santap. Semoga mereka bisa menerimaku menjadi anggota keluarga besar.


Acara makan malam pun berlangsung khidmat. Tak ada suara yang keluar dari masing-masing. Mereka terlihat kaku dan tentu saja rasanya aku sedang berada di tengah-tengah manusia zombie. Sangat menakutkan.


" Apakah kamu sudah baikan, Vin?" bu Mega mengawali percakapan. Bu Mega ini wanita yang sangat cantik. Lihatlah kulitnya yang putih bersih itu, dan matanya yang Em, walaupun usianya mencapai enam puluh tahun. Namun, ia tidak terlihat seperti wanita tua.


" Seperti yang anda lihat, Ibu. Aku baik-baik saja bukan? Tak perlu anda merasa khawatir padaku." Alvin menjawab. Ia nampak tidak suka saat bu Mega bertanya kabarnya.


Bu Mega terlihat kesal. Ternyata Alvin masih menyimpan rasa tidak suka padanya. Yang aku sendiri tidak tahu apa itu.


Pak Haris, ayah kandungnya Alvin juga hanya ikut diam. Ia tahu jika Alvin sudah tidak suka pada seseorang, jangan harap dia akan memaafkan dan bersifat normal seperti biasanya.


" Kak, hari ini ada pertandingan bola basket di sekolahku." Jasmine, adik kandung Alvin berkata. Sepertinya ia ingin mencairkan suasana yang kaku dan menyeramkan.


" Lalu kau mau aku melakukan apa?" tanya Alvin, datar. Ia masih mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya.


" Aku mau kakak hadir di perlombaan." gumam Jasmine. Jasmine berhati-hati saat dia mengucapkan kata itu.


Seketika Alvin menghentikan aktifitas makannya. Seketika suasana di ruang meja itu nampak seperti neraka.


" Kau tahu Jasmine, itu permohonan yang sangat bodoh menurutku. Kau tidak bisa melihatkah, kakakmu yang sekarang wajahnya sangatlah mengerikan. Tak mungkin aku datang ke perlombaanmu. Yang ada semua orang lari ketakutan, paham!" Alvin menatap Jasmine yang tertunduk.


" Maaf kak, maafkan aku." ucap Jasmine.


" Tak apa, biar aku saja yang menghadiri perlombaan Jasmine. Itu pun jika kau ijinkan, tuan Alvin." timpalku. Mendengar perkataanku, Alvin langsung menatapku. Bahkan tatapannya seolah-olah ingin melahapku dan memakanku hidup-hidup.


" Tak perlu! Kau tidak perlu pergi ke acara itu. Tugasmu hanya untuk melayani diriku, bukan melayani mereka." kata-katanya sangat menusuk hatiku.


" Baiklah, ku rasa aku sudah cukup kenyang makan malam hari ini. Dan kamu Daisy, tolong bawa aku ke kamarku!" Alvin menyudahi makan malamnya. Lalu mengusap mulutnya dengan tisu yang ada di meja makan.


Aku segera bangkit dan membawa Alvin ke kamarnya. Makan malam kali ini merupakan makan malam yang mengerikan untukku. Ternyata bukan hanya di rumah paman Ben saja yang mengerikan, tetapi di rumah suamiku pun lebih mengerikan.


Di dalam kamar ...

__ADS_1


Aku rebahkan tubuh Alvin di atas kasur empuknya. Kemudian menggeser kursi rodanya di sudut ruangan dekat lemari baju.


" Kemarilah!" Alvin menjentikkan jarinya. Itu merupakan kode untukku agar aku mendekatinya.


Perlahan aku mendekat padanya, berdiri di hadapannya saat ia bermuka garang, membuat nyaliku menciut.


" Duduklah, leherku sakit melihatmu yang berdiri." perintah Alvin.


" Iya," jawabku terbata. Akupun duduk di sampingnya.


" Matikan lampu!" Alvin memerintah lagi.


Tanpa berkata apa-apa, aku mematikan lampu di kamar. Aku beranjak darinya menuju kursi empuk yang berada di kamar. Alvin menatapku saat aku merebahkan tubuhku di kursi empuk miliknya.


" Ada apa tuan? Apakah anda memerlukan sesuatu?" aku bertanya dengan dahi yang sedikit aku kerutkan.


" Sedang apa kamu di kursi?!"


" Eh, aku ... Mau tidur, tuan." jawabku gelagapan.


" Jangan tidur di kursi!"


" Di sini, di sampingku." kata Alvin sambil menepuk kasur di sampingnya.


Aku diam. Bukan tanpa alasan aku diam. Itu karena aku gugup, bingung secara aku belum pernah tidur satu ranjang dengan laki-laki.


Lama aku tak beranjak, Alvin mulai gerah dengan kesunyian yang aku ciptakan.


" Kamu tidak mau tidur satu ranjang denganku karena kamu takut melihat wajahku kan?!" Alvin bertanya.


" Bu ... kan itu, tuan. Hanya saja aku belum terbiasa tidur satu ranjang dengan laki-laki." jawabku polos.


Alvin tertawa terkekeh-kekeh saat mendengar jawaban polosku. Apa katanya? Aku belum terbiasa? Aduh Daisy, betapa bodohnya kamu.


" Tuan kenapa anda tertawa?" aku balik bertanya. Kesal, tentu saja. Aku kan tidak salah bicara.


" Mulai hari ini kau harus membiasakan diri tidur satu ranjang denganku. Kemarilah!" ujarnya memerintah.


Dengan berat hati, aku tidur di sampingnya. Dia masih tertawa saat aku sudah merebahkan tubuhku berdekatan dengannya.

__ADS_1


Alvin menoleh kearahku. Membelai pipiku lembut. Ada satu kehangatan yang aku rasakan saat tangannya menyentuh kulitku. Hingga pada akhirnya, ia dengan cepat menyudahi membelai wajahku. Lalu mengalihkan pandangannya.


" Cepat tidur! Jangan kau fikir aku akan berbuat mesum padamu!" ujarnya sambil membalikkan badannya membelakangiku.


" Dan satu hal lagi. Jangan coba-coba tidur membelakangi tubuhku! Aku tak suka!" Alvin berkata lagi.


Mataku terbelalak. Dia menyebalkan. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu, sedangkan dia sendiri tidur dengan posisi membelakangiku. Apa dia benar-benar waras, ataukah ...? Uuh Alvin, kau sangat menyebalkan.


🍁🍁🍁


Pagi itu aku terbangun dari tidurku dan tanpa aku sadari, ada sesuatu yang memelukku dengan erat. Saat aku membuka mataku, perlahan aku melihat sesosok mengerikan dengan posisi kedua matanya menatap kearahku.


" Astaga!" pekikku. Aku menutup mulutku agar tidak berteriak.


Sosok mengerikan itu tersenyum, lalu tertawa terbahak-bahak melihatku yang sedang ketakutan. Ingin rasanya aku menjerit memanggil nama suamiku, namun lidah ini begitu kelu. Sungguh pagi ini aku mengalami mimpi buruk.


" Hei, kenapa kamu ketakutan begitu? Aku ini suamimu Daisy." ujar sosok mengerikan itu.


" Ah, iya aku lupa tuan, he he he. Maafkan aku sudah menunjukkan rasa takut padamu." Ucapku berbohong. Walaupun sebenarnya aku ketakutan.


" Aku rasa kamu masih takut saat melihat wajahku ini. Katakan padaku, seburuk itukah wajahku? Hingga istriku sendiri merasa aku seperti makhluk yang mengerikan?"


" Tidak tuan, Anda tidak mengerikan. Tadi aku baru membuka mata saja, dan nyawaku belum sepenuhnya hadir di tubuhku, jadi saat aku membuka mata dan yang pertama aku lihat adalah tuan, maka aku kira aku sedang bermimpi buruk." jawabku asal. Upst, aku bodoh!


Alvin tertawa lagi, kali ini dengan suara dan nada yang berbeda. Terdengar sangat getir sekali.


" Sudahlah memang aku ini manusia buruk rupa. Kau pun takut melihat diriku." ujarnya lirih. Lalu menghela nafasnya.


" Sudahlah bersihkan badanmu! Hidungku mencium aroma tak sedap dari tubuhmu." Alvin mencibir.


Aku merengut kesal. Apaan aku ini wangi tuan. Anda terlalu berlebihan padaku.


" Cepatlah!" sahutnya lagi.


" Bagaimana aku akan beranjak dari tempat tidur, jika anda masih memeluk erat tubuhku." sungutku. Alvin sadar, kemudian dia melepaskan pelukannya. Membiarkanku pergi ke kamar mandi.


" Kau benar-benar lugu, Daisy. Dan aku mulai menyukai keluguanmu." gumamnya, kemudian tersenyum.


Bersambung....

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2