When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Bukan Pernikahan Impian 2.


__ADS_3

Pernikahan ini bukanlah pernikahan impian untukku. Gaun pengantin dan seluruh aksesoris yang menjadi penghias diri agar terlihat cantik saat orang memandangku. Tak ubahnya aku anggap sebagai perlengkapan badut.


Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan, kali ini sangat berbeda. Aku menerimanya karena Paman menjual diriku hanya untuk mendapatkan uang dari calon suamiku. Sungguh, betapa bodohnya diriku sehingga aku mau menerima pernikahan ini.


Apakah aku bahagia? Jelas tidak. Aku marah dan aku kesal pada diriku sendiri. Kenapa aku tidak bisa memilih pernikahanku sendiri dengan pria yang aku cintai?


Tubuhku lunglai tak berdaya. Aku ambruk sehingga tak sadar aku duduk di sudut ranjang. Menangis hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Mungkin dengan cara ini aku bisa mengurangi beban yang menumpuk beberapa hari ini.


Aku berharap Tuan Alvin memutuskan hubungan pernikahan ini. Akan tetapi, jika tuan Alvin membatalkan pernikahan ini, itu artinya Paman akan menanggung semua akibat dari kecerobohanku ini.


🍁🍁🍁


"Pakailah!" Bibi May tiba-tiba masuk ke kamarku. Menyerahkan gaun pengantin rancangan Tuan Hilda padaku.


Aku tertunduk. Tidak mengira Tuan Alvin tetap melanjutkan pernikahan ini. Padahal tadi siang, utusannya sudah aku maki-maki, dan sudah memberiku ultimatum yang cukup dahsyat. Namun, Tuan Alvin tetap melanjutkan pernikahan ini.


"Tuan Alvin tetap melanjutkan pernikahan ini. Jadi besok, bersikaplah seperti biasa. Jadilah wanita yang penurut. Jangan membantah perkataannya!" Seperti biasa, Bibi May mengancamku. Saat ia kehabisan kata-kata untuk menasehatiku.


Aku mengangguk pelan.


"Bibi, terima kasih," ucapku pelan.


"Terima kasih untuk apa?" Bibi May terkejut mendengar ucapanku yang seolah-olah ini hari terakhir ia akan bertemu denganku.


"Untuk kebaikan Bibi May dan Paman Ben tentunya. Aku tahu, Bibi dan Paman sebenarnya sayang padaku. Hanya saja, aku yang terlalu membangkang pada kalian, sehingga membuat kalian murka padaku," tuturku.


"Ah, kau ini. Justru aku yang harusnya berterima kasih padamu. Jika bukan karena jasamu, entah apa yang akan terjadi pada kami. Mungkin kami akan menjadi gembel di jalanan," pungkasnya.


"Bibi May, bolehkah aku memelukmu hanya untuk kali ini saja. Saat ini, aku rindu Ibu." pintaku, tak terasa air mata menetes di pelupuk mataku dan juga mata Bibi May.


Bibi May memeluk tubuhku erat. Malam ini, aku merasakan betapa hangatnya cinta yang bibi May berikan untukku melalui pelukannya. Malam ini, adalah malam terakhir aku berada di rumah ini. Besok, aku sudah berada di rumah orang asing yang sebelumnya tidak pernah aku jumpai.


Dan orang asing itu yang akan menjadi suamiku, besok dan seterusnya.


🍁🍁🍁


Keesokan harinya.


Pernikahan benar-benar terjadi.


"Saya terima nikah dan kawinnya Daisy Rosalina binti Johan Efendi dengan mas kawin emas dengan berat dua puluh tiga karat dan rumah mewah dibayar tunai." Suara pria asing terdengar begitu lantang saat mengucapkan ijab kabul di bapak penghulu. Dengan satu tarikan nafas dan itu lulus.


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Pak Penghulu.


"Sah."


"Sah ...."


"Aamiin ...."


Mereka pun berdoa agar pernikahanku langgeng. Akan tetapi, ada yang aneh dalam pernikahan ini. Tuan Alvin mengucapkan ijab kabulnya melalui video call yang di hubungkan oleh asisten bernama Dave.

__ADS_1


Lalu, apakah pernikahan ini sah? Tentunya menurut mereka sah-sah saja. Hanya saja caranya yang berbeda. Entahlah, yang terpenting aku sekarang resmi menjadi Nyonya Alvin Media Utomo.


Tuan Dave mendekatiku lalu mengucapkan selamat padaku karena aku telah resmi menjadi istri tuannya.


"Terima kasih Tuan Dave, ternyata Anda sekretaris yang baik hati," cibirku.


Kulihat ia tersenyum getir padaku.


"Mari nona, kita pergi ke rumah di mana tuan Alvin menunggu kedatangan Anda."


"Baiklah, aku menurutimu Tuan Dave," jawabku menyeringai. Ingin sekali aku mencakar wajahnya yang tengil itu. Akan tetapi, aku teringat ucapan Bibi May yang mengatakan aku harus selalu mematuhi ucapan pria itu.


Aku mengikuti ke mana pria itu melangkah. Di saat semua perlengkapan bajuku di masukkan ke dalam bagasi mobil. Aku hanya diam saja. Percuma aku berontak, pada akhirnya aku akan kalah juga.


"Nona, ingatlah. Saat Anda berada di rumah Tuan. Bersikaplah dengan sewajarnya dan saya harap, Anda bisa menjaga sikap di depan Tuan Alvin." Sekretaris itu kembali mengingatkanku akan tugasku nanti ketika aku sampai di rumah suamiku.


"Baiklah tuan Dave, aku sudah mengerti apa yang Anda ucapkan. Selebihnya jika saya lupa, mohon ingatkan saya kembali."


"Hem ...." Hanya itu yang bisa di ucapkan sekertaris Dave. Jika ia mengatakan satu kalimat lagi, maka jawabannya akan sangat panjang sekali.


Tak lama kemudian, deru suara mobil terdengar. Dave pun melajukan mobilnya menuju rumah di mana Tuan Alvin sudah menunggunya beserta diriku.


🍁🍁🍁


Mobil memasuki gerbang utama. Masuk ke halaman rumah yang luasnya tak terkira. Sungguh ini bukan sebuah rumah, tetapi istana kerajaan. Lihat, ada halaman yang di tanami tumbuhan bunga warna-warni. Ada bunga mawar, bunga melati, bunga teratai, bunga dahlia pokoknya semua tanaman bunga ada di sini.


Mobil pun terus melaju. Memasuki halaman utama di rumah itu. Kemudian berhenti. Perjalananku rupanya cukup singkat. Sekretaris Dave keluar dari dalam mobil, dengan sigap ia langkahkan kakinya menuju pintu mobil di sebelah kiri, dia hendak membuka pintu mobil di mana aku akan keluar.


"Lain kali biar saya saja yang membuka pintu untuk Anda, Nona." katanya sambil membungkukkan badan.


"Tidak apa-apa, Dave. Saya tidak terbiasa untuk merepotkan orang lain. Saya sudah terbiasa mandiri," ujarku ketus.


"Baiklah saya paham sifat Anda untuk saat ini Nona. Silahkan, Nona masuk ke dalam. Di sana sudah ada para pelayan yang akan melayani anda selama anda tinggal di rumah ini." Sekretaris Dave menjelaskan.


"Oke," kataku singkat, kemudian aku masuk ke dalam rumah mewah nan megah milik Alvin.


Rumah ini ternyata mirip seperti istana di negeri dongeng. Saat pertama kali masuk ke dalam rumah, yang aku lihat pertama kali adalah furniture yang tertata rapih di setiap sudut ruangan. Lalu, mataku tertuju pada lampu-lampu hias yang menggantung di langit-langit. Serta ukiran dan pemilihan warna di rumah ini, terbilang sangat elegan dan berkharismatik. Tak heran juga karena yang tinggal mungkin seorang pria yang wajahnya mirip pengeran kerajaan di negeri antah berantah.


"Selamat datang di rumah Tuan Alvin, Nona. Mari saya antar ke kamar pribadi, Nona." Salah satu pelayan di sana menyapaku dengan hangat. Aku tersenyum. Ternyata masih ada orang yang ramah padaku. Jelas harus ramah, kalau mereka tidak ramah, mereka pasti sudah dipecat.


"Terima kasih atas penyambutannya. Oh, iya, di manakah Tuan Alvin berada? Saya ingin bertemu dengannya. Sekaligus ingin mengucapkan rasa terima kasih karena ia sudah mau membebaskan aku dari kekejaman Bibi May." Aku tersenyum dengan ramah.


"Tuan Alvin ada di kamarnya, Nona. Tapi, bukankah nona ingin melihat kamar Nona terlebih dahulu? Kelihatannya Nona butuh istirahat. Mari saya antar nona ke kamar Nona," ujar pelayan itu. Dia sengaja mengalihkan perhatianku agar aku lupa ingin bertemu Alvin.


Aku mengiyakan saja ucapannya, lalu mengikutinya dari belakang.


"Nah, ini kamar Nona, ya? Segeralah nona berganti pakaian! Tuan Alvin sudah menunggu Anda di ruang makan, Nona." ujar pelayan yang lain saat berada di depan kamar pribadiku.


"Baiklah, terima kasih," ucapku sambil membungkukkan badan.


Detik berikutnya, kedua pelayan itu pergi meninggalkan aku sendirian masuk ke dalam kamar tidur.

__ADS_1


Segera aku langkahkan kakiku masuk ke dalam kamar. Kemudian, aku membereskan baju-baju ke dalam almari besar yang memang sudah di persiapkan untukku.


Aku memperhatikan seluruh isi ruangan kamar. Ternyata isi dan perabotannya tidak jauh beda dengan yang berada di luar tadi.


Aku mengendus-enduskan indra penciumanku. Lumayan bau ternyata dan juga lengket kulitku. Dengan terpaksa, aku membersihkan tubuhku di dalam kamar mandi.


Hem, benar-benar nyaman sekali rumah ini. Pastinya aku betah tinggal di rumah Alvin. batinku.


🍁🍁🍁


"Bagaimana, apakah dia suka dengan sambutan dari rumah ini, Dave?" Seorang pria yang sedang duduk, berkata pada Dave. Nada bicaranya sungguh bersahaja. Terdengar agak kaku dan juga dingin.


"Sangat suka, Tuan. Dia pun hari ini terlalu banyak bicara padaku tentang suasana di rumah ini. Bagaimana, apakah Tuan Alvin menyukai?" Dave menjawab.


"Baiklah untuk saat ini, biarkan dia beristirahat. Oh, iya Dave, nanti malam buatkan makan malam spesial untuk menyambutnya," perintah Alvin.


"Siap tuan, laksanakan." sahut Dave. Kemudian pergi begitu saja.


...


"Silahkan Nona. Tuan Alvin sudah menunggu nona di meja makan." ujar pelayan di rumah itu.


"Baiklah aku akan segera ke sana." sahutku lalu pergi menuju meja makan di mana Alvin sudah menungguku.


Satu langkah ...


Dua langkah ...


Tiga langkah ...


Aku sudah berdiri tepat di belakang tubuh suamiku. Apa ini? Kenapa Alvin menggunakan kursi roda? Hatiku bertanya-tanya.


Dengan spontan, aku menepuk pundaknya lalu berjalan ke arah depan memperhatikan sosok Alvin suamiku.


Alangkah terkejutnya aku, saat melihat wajah Alvin yang sesungguhnya. Dia berwajah buruk rupa. Penuh bekasan luka di kedua pipi dan di pelipis matanya.


Aku memutuskan mulutku yang tiba-tiba terkejut saat melihat wajah suamiku. Aku membalas senyuman Alvin dan ...


"Maaf Nona, tuan Alvin tidak bisa menemanimu makan. Silahkan Nona makan sepuasnya. Apapun permintaan nona, akan kami kabulkan, terima kasih." seseorang menepuk pundakku dari belakang.


Betapa terkejutnya aku saat seseorang itu mengagetkan ku. Buyar sudah khayalan imajinasiku tentang sosok tuan Alvin.


" Kenapa tuanmu tidak ingin menemui aku yang jelas-jelas aku ini isterinya?" tanyaku pada pelayan itu.


" Saya tidak tahu Nona, maaf saya hanya menuruti perintah saja, Nona. Permisi." ucapnya pamit.


Dengan berat hati aku menikmati acara makan malam dengan kesendirianku di meja makan.


' Apa alasannya tidak pernah menemui aku di sini? Apa aku kurang cantik. Ataukah ia malu karena dirinya cacat? Aah sudahlah mungkin dia memang sedang sibuk hari ini.' gumamku membatin.


Bersambung....

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2