
Malam begitu sunyi. Hanya suara-suara hewan yang terdengar nyaring di halaman rumah milik Alvin. Malam ini kulihat Alvin sudah tertidur nyenyak. Sepertinya ia lelah sekali.
Aku bangkit dari tempat tidur. Lalu menuruni anak tangga menuju ruangan dapur. Rasa lapar kini datang. Namun, tak ada makanan yang mengugah rasa di lidahku.
" Uuuh. Isi di kulkas ini banyak. Tapi, tidak ada satupun makanan yang bisa aku nikmati." sungutku, kesal.
" Apa aku harus membangunkan suamiku, agar ia membelikanku sesuatu agar bisa kumakan?" pikirku. Kemudian aku berjalan memasuki kamar di mana Alvin sedang tertidur nyenyak.
Author PoV.
Sesampainya di kamar ....
" Suamiku, ayo bangun!" Daisy menggoyang-goyangkan tubuh Alvin. Agar Alvin bangun dari tidurnya.
" Hem," gumamnya, sambil menggeliat.
" Ada apa, Sayang?" tanya Alvin, setelah ia membuka matanya lalu melirik kearah Daisy.
" Aku lapar. Aku ingin makan sesuatu, tapi di dapur tidak ada makanan yang menggugah selera makanku." rajuk Daisy pada Alvin dengan manja.
" Memangnya kamu ingin makan apa sih, Yang?" tanya Alvin lagi. Menggeliat lalu meraih pinggang Daisy. Sehingga Daisy jatuh di pelukan Alvin.
" Aku mau rujak mangga, suamiku tersayang." Daisy berbisik.
" Yakin?" tanyanya bingung.
" Malam-malam begini???"
Daisy mengangguk cepat, lalu tersenyum.
" Pingin rujak mangga yang asem terus pedes. Itu bikin air liurku terus menerus keluar."
Alvin menghembuskan nafasnya. Bingung karena ia sendiri tidak pernah tahu jika ada yang berjualan mangga saat tengah malam. Siapa yang akan membelinya?
" Di mana aku bisa dapatkan mangganya, Sayang. Ini sudah malam, tidak akan ada yang berjualan tengah malam begini." gerutu Alvin.
" Pokoknya aku pengen makan rujak mangga sekarang juga! Aku tidak mau yang lain, hanya rujak mangga, titik!!!" sungut Daisy, marah. Daisy palingkan mukanya. Entah kenapa Daisy jadi lebih emosian di banding hari-hari sebelumnya.
Huft!!!
Alvin mendengkus kesal. Nampaknya ini bukan kali pertama kejadian seperti ini akan terjadi. Kejadian ini membuatnya ingin salto bolak balik seratus kali.
" Tapi, Sayang. Aku cari buah mangga asemnya di mana, Honey, cantik, cinta?" rayu Alvin, meredam emosinya.
" Di halaman rumah ini kan ada pohon mangga."
" Iya terus,"
" Ambil saja buah mangganya di pohon. Gimana?" Daisy memberikan ide pada Alvin.
" Oke, boleh. Sekarang?"
" Iya, sekarang. Masa bulan depan. Nanti keburu ileran anaknya nanti." sahut Daisy, semangat. Kemudian bangun dari pelukan Alvin.
' Ileran? Apa itu? Apa ini suatu penyakit bawaan atau gimana? Aaargh... wanita memang bikin bingung. Batinnya.
Alvin pun bangun mengikuti Daisy yang lebih dulu sudah berada di pintu utama rumah mewah milik Alvin.
__ADS_1
Para penjaga yang berada di pos penjagaan langsung berdatangan setelah Alvin dan Daisy keluar dari dalam rumah. Mereka bergegas dengan cepat mendekati tuannya.
" Cepat ikut aku ke halaman kebun mangga! Oh iya, apakah pohon mangganya sudah ada yang berbuah?" Alvin bertanya sekaligus memerintah.
" Sudah tuan. Ada beberapa pohon yang sudah berbunga dan berbuah. Tapi, nampaknya masih asam buahnya." jawab penjaga yang bernama pak Udin.
" Justru itu, Nona muda ingin buah yang masam. Cepat bangunkan Ning. Suruh Ning membuatkan sambal untuk rujaknya! Nona muda sedang ingin makan rujak manis." perintahnya, dengan segera.
" Baik, Tuan. Saya akan panggil yang lain untuk menjaga tuan dan nona muda."
" Hem, terserah kalian saja." sahut Alvin datar. Tak lama kemudian, Alvin dan Daisy bergegas pergi menuju halaman kebun.
Dengan di temani cahaya lampu dari senter yang di sorot oleh beberapa penjaga. Akhirnya Daisy bisa melihat buah mangga yang menggantung di pohonnya. Seakan memanggil Daisy agar cepat memetik lalu memakan buahnya. Sehingga Daisy nampak menelan salivanya sendiri ketika membayangkan memakan buah mangga yang asam di cocol dengan sambal rujak manisnya yang pedas.
" Ssssssst." desis Daisy. Menelan salivanya.
" Kau kenapa?" tanya Alvin heran.
" Membayangkan sedang makan rujak mangga." jawabnya, terkekeh-kekeh.
" Baiklah, cepat kalian panjat pohonnya. Lalu petik buah yang kira-kira masih mentah, asam." Alvin memerintah. Tanpa berlama-lama, para penjaga itu menaiki pohon mangga dalam keadaan gelap gulita.
Namun, tiba-tiba saja Daisy, isteri kesayangan tuan Alvin berkata lantang.
" Tunggu! Jangan naik dulu ke pohon!"
Semua mata tertuju pada Daisy. Alvin pun bingung di buatnya. Bukankah dia yang menyuruh di ambilkan mangga muda, tapi sekarang malah di cegah.
Daisy yang tahu maksud dari raut wajah Alvin yang tiba-tiba saja bingung, dengan senyuman hangatnya dia menjelaskan.
" Aku hanya ingin makan rujak mangga kalau buahnya suamiku sendiri yang memetiknya." kata Daisy dengan wajah polosnya.
Oh tuan, Anda benar-benar bisa di taklukan oleh nona Daisy. pekik Ning dalam hati.
" Kau yakin, Sayang?" tanya Alvin berulang kali.
" Iya. Aku yakin sekali. Ini juga kan permintaan anakmu yang berada di rahimku sekarang." jawab Daisy, sambil tersenyum kecil. Lalu mengelus-elus perutnya yang masih terlihat ramping dan seksi.
Alvin melirik sekilas kearah para penjaga dan juga Ning. Mereka nampak tersenyum geli saat Daisy menyuruh Alvin untuk menaiki pohon mangga yang lumayan tinggi agar bisa memetik buahnya dan langsung memberikannya pada isteri tercinta.
' Awas ya kalian. ' Alvin menggerutu.
☘️☘️☘️
Dave datang di saat yang tepat. Ia memang sering datang ke rumah tuannya jika di rasanya ada hal penting ataupun jika hatinya ingin ke rumah besar Alvin.
" Ada apa ini? Di mana tuan Alvin berada?" tanya Dave saat berada di halaman kebun. Yang ternyata ramai sekali.
" Itu." jawab pak Udin singkat sambil menunjuk kearah di mana Alvin berada saat ini.
Betapa terkejutnya Dave saat Alvin berada di atas pohon sambil meraih satu ranting pohon mangga. Dave melihat dan ia pun marah.
" Siapa yang berani menyuruh tuan muda mengambil mangga dari pohonnya? Jawab!!!" tanya Dave membentak.
" Aku. Memangnya kenapa?" kata Daisy, ucapannya seperti menantang.
" Anda?!" desisnya, menahan amarah di hati.
__ADS_1
Tidak mungkin kan jika Dave berani menampar wajah Daisy. Bisa-bisa ia malah di ajak duel oleh Alvin.
" Tuan. Turunlah! Biar aku saja yang mengambilkan mangga muda untuk nona." sahut Dave dari bawah.
" Biar saja Dave. Aku suka kok mengambil mangga untuk isteriku. Kasihan, nanti anakku ileran. Katanya." sahut Alvin, lantang.
" Tapi tuan. Aku takut tuan akan jatuh."
" Tidak akan, Dave. Percayalah. Dulu aku pemanjat pohon profesional bukan? Kau ingat tidak?!"
Dave diam. Ia mengingat kejadian di mana saat dirinya dan Alvin berusia tiga belas tahun.
" Jika kau ingin menggantikan tuanmu, menikahlah dulu, Tuan Dave. Baru nanti kau bisa menggantikan tuan Alvin naik keatas pohon mangga, karena isterimu sedang mengidam rujak mangga." cibir Daisy. Dave geram. Sangat geram.
Tak lama kemudian, Alvin berhasil juga mengambil mangga dari ranting pohon mangga.
" Sayang, buahnya sudah berhasil kupetik." ujarnya kegirangan.
" Baiklah. Kalau begitu aku akan naik keatas. Tunggu aku jangan turun dulu." Daisy menyahut.
" Jangan!" ucap semua orang yang hadir di halaman kebun. Daisy terkejut. Sebegitu kompaknya mereka sampai-sampai mengucapkan kata jangan pun mereka kompak.
" Pokoknya aku mau naik ke atas! Ini permintaan anakmu, Sayang." Daisy merajuk.
" Tapi, Sayang, pohon ini terlalu tinggi untukmu. Aku takut kamu terjatuh."
" Begini saja, Nona. Naiklah ke pohon mangga yang dahannya bisa di capai dan tidak terlalu tinggi. Bagaimana? Anda mau kan?" Dave memberi saran.
Daisy berfikir. Ia menyetujui saran Dave kali ini. Demi keselamatannya dan keselamatan janinnya.
" Baik. Aku akan menyetujui saranmu kali ini, Tuan Dave. Suamiku, turunlah! Kita naik ke pohon yang rindang itu saja." seruku.
" Baiklah. Aku segera turun. Tunggu aku ya, Honey?"
Daisy balas dengan anggukkan kepala.
Alvin segera menuruni pohon mangga yang buahnya ia petik tadi. Tiga buah mangga masam sudah di petik Alvin. Lalu ia mengupas kulit mangga yang ia petik tadi.
Buahnya besar-besar dan semua yang berada di kebun, ikut menikmati rasa buah yang segar dan manis dengan di cocol sambal rujaknya.
" Huhah! Pedas!" pekik Dave. Ia merasa panas. Bibirnya panas, tenggorokannya panas.
Semua yang hadir di kebun pun merasa kepedasan saat mencicipi sambal rujak buatan Ning.
" Ning, kenapa pedas sekali?" Alvin menegur Ning.
" Maaf tuan. Aku kira tidak pedas. Soalnya cabainya hanya satu." jawab Ning, menunduk.
" Kalian lebay! Ini tidak terasa pedas. Ini nikmat sekali. Aku suka sambal rujak buatanmu, Ning." sahut Daisy, membela Ning.
" Benarkah? Terima kasih nona muda."
" Hem." kata Daisy sambil menikmati makan buah di atas pohon mangga. Menikmatinya sampai terasa bunyinya di telinga Alvin.
Alvin menatap Daisy dengan tatapan mata tak percaya. Hingga akhirnya ia ingat perkataan Dokter Frans.
" Hati-hati saat istrimu mulai mengidam. Permintaannya bakalan aneh dan terdengar seperti hal konyol."
__ADS_1
Bersambung....
☘️☘️☘️