When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Kisah Dave.


__ADS_3

Dave ikut terbaring lemah di kamarnya. Rasanya menyebalkan sekali jika ia harus berada di atas kasur seharian penuh tanpa aktifitas apapun. Bisa-bisa tuan Alvin marah besar padanya.


Ingin rasanya Dave pergi. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, perutnya sudah memanggil dirinya untuk segera melepas sesuatu dari dalam perutnya yang melilit.


" Ini semua karena nona muda. Tengah malam mengajakku makan mangga. Ugh menyebalkan!" gerutu Dave.


" Eh tapi, nona muda kan tidak pernah memaksa aku untuk ikutan makan mangga. Aku yang penasaran ikut makan." jawabnya lagi. Begitulah keseharian Dave. Berbicara tak jelas sendirian. Tidak ada teman ataupun lawan bicara saat dirinya berada di rumah.


Jika sudah begini, dia harus rela di ledek oleh Daisy karena kejomloannya yang terkadang jadi topik baru untuk Daisy.


" Aaah, lega. Sekarang perutku sudah tidak sakit lagi. Aku harus cepat-cepat pergi ke rumah sakit. Aku ingin menemui seseorang di sana." katanya berbicara sendiri. Lagi.


🌲🌲🌲


Dave melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruangan bougenvill. Tempat di mana Anisa di rawat. Apa? Anisa? Loh ada apa dengan Anisa ya? Kenapa Anisa di rawat? Bukankah yang tengah sakit saat ini adalah Dave. Lalu hubungannya dengan Anisa itu apa?


Rasa penasaran Dave kuat saat ia di selamatkan oleh Anisa. wanita si kutilang darat itu. Wanita bodoh itu telah merelakan tubuhnya untuk menjadi sasak para preman saat tragedi pemukulan tengah malam berlangsung. Rasa penyesalan muncul di benak Dave. Sikapnya yang arogan itu, telah membuatnya masuk di kehidupan gadis tomboy dan menyebalkan itu.


Dave memasuki ruangan bougenvill. Akan tetapi, ia tidak melihat Anisa di tempat tidurnya. Lalu ke mana Anisa pergi? Apa Anisa sudah keluar dari rumah sakit ini? Hati Dave bertanya-tanya.


" Ke mana ini orang? Kalau mau pergi mestinya kan bicara dulu sama aku. Ini tidak sopan sekali, main pergi-pergi saja! Dasar si kutilang darat!" umpat Dave. Tangannya terkepal menahan amarah. Entah amarah apa itu, yang jelas hatinya terasa remuk saat dirinya tidak bisa melihat Anisa di ranjang pesakitan.


Ceklek!


Pintu kamar mandi di buka. Kini berdiri sesosok wanita yang di umpat olehnya. Sambil memperlihatkan senyuman manisnya. Menatap penuh pada Dave. Dave pun di buat canggung olehnya.


" Sial! Ternyata dia masih berada di rumah sakit ini." gerutunya.


" Tahu gitu, aku tadi buru-buru pergi dari ruangan ini." lanjut Dave. Panik.


Anisa mendekati Dave sambil membawa alat infusan yang terpasang di pergelangan tangan kanannya.


" Kau habis ke mana?" tanya Dave, tak jelas.


" Ke kamar mandi, tuan." jawabnya.


" Kenapa sendirian? Kenapa tidak menungguku datang?"


" Kalau aku menunggu tuan Dave datang, aku nanti pipis di kasur, tuaan."

__ADS_1


" Ya kan setidaknya ada seseorang yang memegangi alat infusanmu. Lihat sendiri kan? Kau begitu ribet memegang infusan itu." Dave terlihat panik. Kata-katanya itu bagaikan boomerang untuknya.


Bagaimana mungkin Anisa mengajak Dave ke kamar mandi sambil memegangi alat infusan. Bisa-bisa kena pasal pelecehan.


" Otak mesum." gumam Anisa.


Dave menganga. Ia tidak terima di katakan otak mesum oleh Anisa. Jelas-jelas ia tadi mengkhawatirkan dirinya. Malah di katain otak mesum oleh Anisa.


" Apa-apaan kamu? Aku justru mengkhawatirkan dirimu. Makanya aku kemari." gerutu Dave.


" Khawatir pada siapa tuan? Padaku? Memangnya aku ini siapanya tuan?" Anisa bertanya.


" Kau. Di nasihati bukannya menurut malah membangkang. Kau sama persisnya dengan nona muda." Dave masih menggerutu.


" Siapa nona muda? Istrimu? Jangan pernah membandingkan aku dengan nona mudamu ya, Tuan Dave?"


Pletak!


Sebuah sentilan mendarat di kening Anisa. Begitu kuat dan juga terasa sakit saat mendarat di keningnya. Anisa meringis kesakitan.


" Hei, siapa yang mengatakan nona muda itu isteriku? Dia itu isteri tuan Alvin."


" Ya kali tidak usah di sentil juga. Sakit nih keningku!" gerutu Anisa. Dave tertawa geli.


" Dasar si beruang kutub. Dingin, sadis. Tidak peka pada perasaan seseorang. Merasa tinggi padahal dia hanyalah beruang kutub yang hidupnya menyendiri di dalam gua yang tertutup salju es." Anisa terus saja berbicara.


Dave diam. Ia membenarkan kata-kata Anisa. Dirinya memang seperti itu. Dingin dan berhati batu seperti es batu. Akan tetapi, jika telah mencair, maka akan membuat sejuk semua orang yang meminumnya. Begitu pula dengan sikapnya saat ini. Acuh, dan tidak peduli pada perasaan semua orang yang di kenalnya. Ia lebih memilih mengabdi pada Alvin ketimbang mencari seseorang untuk diajaknya berbagi cerita selama seharian penuh bekerja.


Dave jadi teringat oleh ucapan nona mudanya. Yang selalu saja terngiang-ngiang di dalam ingatannya.


" Makanya cari isteri. Jangan menjomlo terus. Biar ada yang ngurus!"


🌲🌲🌲


Setelah di rasa cukup menjenguk Anisa. Dave pun pamit. Sebenarnya ia masih ingin menemani wanita itu seharian, tapi, Dave tidak ingin Anisa berfikiran jauh tentangnya. Ia juga terkadang suka sekali menepis perasaan di hatinya saat bertemu dengan Anisa. Ada bulir-bulir cinta di hatinya saat ini. Namun, ia tepis kuat-kuat. Membuang jauh perasaannya saat ini terhadap Anisa.


Saat Dave melangkahkan kakinya pun, Anisa langsung memegang tangan Dave yang hangat. Dave berbalik arah, menatap mata wanita yang ia sebut kutilang darat itu. Bola mata indahnya yang meneduhkan hati Dave, tak kuasa Dave menahan perasaannya saat ini.


" Ada apa? Kenapa kau jadi manja seperti ini?" tanya Dave. Di pasangnya wajah dengan gaya cool nya. Sambil terus menatap mata indah milik Anisa.

__ADS_1


" Terima kasih." ucap Anisa lembut.


" Untuk apa?" tanya Dave.


" Untuk semua perhatian yang kau berikan padaku, Tuan Dave."


Dave terenyuh. Hatinya mulai mencair. Hingga ia tidak sadar, kedua kakinya melangkah mendekat kearah Anisa. Sangat dekat, hingga mereka merasakan hembusan nafas yang terbuang dari masing-masing hidung.


" Hanya itu? Tidak lebih?" tanya Dave lembut.


Walaupun Anisa sosok perempuan yang tomboy dan pemberani, namun, di saat seperti ini nyalinya tidak cukup kuat untuk menahan perasaan seperti ini.


" I-iya, Tuan. Hanya itu." desah Anisa. Dengan terbata-bata.


Dave tersenyum. Ia tersenyum karena melihat ketakutan di wajah Anisa. Dan juga mencium aroma harum nafas Anisa. Ingin rasanya Dave mengulum bibir Anisa saat itu juga. Saat ia melihat Anisa sedang menggigit bibir bawah miliknya.


Cup!


Sebuah kecupan kecil mendarat di bibir Anisa. Pelan dan lembut. Ia rasakan saat bibir Dave menyentuh kulit bibirnya.


" Hangat." gumamnya dalam hati.


" Manis." gumam Dave dalam hati.


Badan Anisa panas dingin. Ia merasa seperti bukan pada tempatnya bersandar. Seperti sedang melayang jauuuh di atas awan biru.


Akan tetapi.


" Kenapa nafasmu itu bau sekali sih?! Kau belum sikat gigi ya pagi ini?! Jorok!" gerutu Dave. Membuyarkan imajinasi Anisa yang sedang berada di atas awan. Lalu menjatuhkan tubuhnya dari atas awan.


Gubrak!!!


" Ish! Dasar beruang kutub...!!! Aku membencimu! I Hate You!!!" umpat Anisa. Sedangkan Dave tertawa terbahak-bahak. Ia telah sukses membuat Anisa tidak jadi menyimpan rasa untuknya. Ia takut jika suatu saat ia jatuh cinta pada Anisa. Ataupun sebaliknya. Karena ia tidak ingin kejadian masa lalu hadir kembali dalam kehidupannya sekarang ini.


Dave segera meninggalkan Anisa dari ruangannya. Meninggalkan dalam keadaan terus memaki Dave yang telah bertindak konyol padanya.


Jauh di lubuk hati yang paling dalam, baik Dave maupun Anisa. Saat ini mereka bahagia. Sangat-sangat bahagia.


Bersambung ....

__ADS_1


🌲🌲🌲


__ADS_2