
" Hei Nona, siapa namamu?" seru Dave, saat gadis cantik itu pergi. Gadis cantik bermata biru itu menoleh, dan tersenyum padanya.
" Namaku Kayra. Kayra Anisa Maria." balasnya, menyahut. Melambaikan tangan kemudian pergi meninggalkan Dave yang terus memperhatikan gadis cantik bermata biru itu. Hingga wujudnya menghilang di pelupuk mata Dave yang berwarna cokelat terang. Senyum manis nan indah terukir di wajah Dave. Ia seperti sedang melihat seseorang yang ia cintai, namun belum sempat ia nyatakan cinta. Gadis yang tomboy, kurus tinggi langsing dada rata. Dave biasa memanggilnya Kutilang darat.
Icha, ia mampu mengubah kegelisahan hati Dave yang menutup pintu rapat-rapat untuk hatinya. Hanya karena ia telah di khianati oleh seseorang yang mungkin jika terjadi, mereka akan segera mereka. Namun, kebusukan akhirnya terbongkar. Shania, berselingkuh dengan pria lain yang jauh lebih lembut daripada Dave. Dan membuat Dave patah hati.
Akan tetapi, takdir berkehendak lain. Icha, panggilan akrab dirinya, telah meninggal secara tragis saat kejadian yang menimpanya dulu, setahun yang lalu. Akibat tragedi penculikan yang dilakukan oleh Mawar Hanafi.
🍁🍁🍁
Pagi itu, matahari menyinari bumi dengan sinarnya yang hangat. Daun-daun dan tanah yang basah akibat hujan deras yang mengguyur bumi ini tadi malam, nampak jelas sekali terlihat. Hari ini seperti biasa Dave, bangun pagi lebih awal. Hal ini dilakukannya ketika dirinya masih berusia enam tahun. Didikan ayahnya yang selalu disiplin membuat Dave menjadi lebih mandiri.
Awalnya Dave sangat membenci sikap ayahnya yang sangat keras dan seperti mengekang kebebasannya dalam menikmati waktu. Akan tetapi, setelah ia dewasa, ternyata didikan ayahnya bermanfaat sekali. Terbukti hari ini ia menjadi orang yang sangat sukses menghargai waktu. Mungkin ia akan menerapkan cara didikan ayahnya kepada anak-anaknya kelak. Hem, anak-anak? Menikah saja belum, kenapa harus memikirkan anak?
" Huft!" Dave mendengkus kasar. Hatinya gundah gulana. Ia merana. Iri dengan sahabatnya sekaligus bosnya yang hari ini sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik.
Dave menikmati suasana pagi hari ini sambil memandang langit biru, di temani secangkir kopi hitam pahit. Bagi Dave, kopi hitam ini adalah teman. Di saat hatinya sedang merasakan rindu yang luar biasa pada Anisa.
" Tuan, sudah berapa banyak Anda minum kopi pagi ini?" tegur bibi Ruth, pembantu kesayangan Dave yang usianya sudah sepuh. Bagi Dave, bibi Ruth ini adalah pengganti ibundanya. Karena Dave telah mengembara sendirian, tanpa ibu ataupun ayahnya.
" Lihat, sudah lima gelas! Itu artinya, tuan tidak boleh minum kopi ini lagi. Jika terlalu banyak minum, Anda bisa sakit tuan!" timpal bibi Ruth. Ia mengambil sisa kopi pahit di meja.
Namun, Dave segera menangkap tangan bibi Ruth. Hendak menahannya agar tidak di bawa oleh bibi Ruth.
" Letakkan kembali, Bi! Aku sedang menikmatinya. Dan tolong buatkan secangkir lagi. Rasanya nikmat dari pada aku harus lari ke minuman haram lagi," kata Dave, tatapannya tajam saat bibi Ruth mengambil sisa kopi di meja.
" Ambil saja minumannya, Bi. Jangan biarkan keegoisannya mengalahkan bibi." sahut seseorang dari balik pintu rumah Dave.
__ADS_1
Dave dan bibi Ruth menoleh kearah pintu. Dan mereka terkejut karena di sana telah berdiri seorang wanita cantik. Yang usianya sudah lebih tua daripada usia Dave. Mungkin sekitar enam puluh tahun, akan tetapi wajah serta tubuhnya masih seperti wanita usia tiga puluh tahun.
Dialah ibunda dari Dave Abraham. Yang beberapa tahun ini tidak mengunjungi Dave, karena dilarang oleh suaminya yang sedang berseteru dengan Dave, akibat Dave tidak mau di jodohkan lagi. Kok lagi? Iya, sebelumnya Dave telah di jodohkan dengan wanita bernama Shania. Padahal Dave tadinya menolak perjodohan itu. Namun, karena ayahnya terus menerus memaksanya, akhirnya Dave menerima perjodohan itu.
Sayangnya, setelah Dave merasakan jatuh cinta pertama kalinya dengan Shania. Dave harus merasakan sakit yang luar biasa karena di khianati oleh Shania. Dan tertutuplah lagi hatinya.
" Hem, kau lagi," gerutu Dave, saat melihat ibundanya tengah berdiri tegap di pintu utama rumah Dave.
" Taraaaaa ... Kejutan bukan?" seru wanita sepuh itu. Ia menghambur dari pintu utama menuju balkon rumah di mana Dave duduk di sana. Dan bibi Ruth yang sedang berdiri tegap. Lalu tersenyum. Ia tersenyum karena tak perlu repot lagi menceramahi majikannya.
Wanita sepuh itu memeluk tubuh putera keduanya. Lalu mengecup kedua pipi Dave dengan sangat manjanya. Tetapi Dave sangat menyukainya. Ia merasa seperti anak kecil saat ibundanya datang dan bersikap seperti itu padanya. Berbeda terbalik dengan kakak sulungnya yang seperti mayat hidup. Entah bagaimana kakaknya itu menikmati hidup. Ia pun kabur sama seperti Dave saat ingin di jodohkan oleh ayah mereka.
" Mom, jangan seperti ini lagi. Aku sudah dewasa. Malulah jika Mom bertingkah macam begini padaku." sungut Dave, melepaskan pelukan ibundanya.
" Ish, ish, ish, puteraku yang satu ini sudah tidak mau aku peluk lagi rupanya. Bibi Ruth, apakah ia sudah punya kekasih?" kata wanita itu, melirik kearah bibi Ruth yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku keduanya.
" Iyalah, karena aku belum mengajak siapa pun kerumah ini. Karena memang belum sempat menyatakan lamaran untuknya." gerutu Dave.
" Nah loh. Kenapa kau menunda-nunda Daveku? Nanti ke buru di ambil lelaki lain loh." ujar ibunda Dave, ia mengambil kursi yang berada di samping Dave. Lalu mensejajarkan diri untuk duduk di dekat anak kesayangannya.
Dave menatap lekat wajah ibundanya. Ada kesedihan di dalam mata anaknya itu. Ia merasakan betul bahwa saat ini anak keduanya sedang menderita TBC, Tekanan batin cinta.
" Sudah di ambil kok, Mom," ujar Dave sendu. Matanya mengembun.
" Oleh siapa? Kenapa tidak kau ambil alih, Nak? Kalau aku jadi kau, sudah kuambil paksa gadis itu." ujar ibunda Dave, berapi-api.
" Sayangnya aku tidak punya kuasa mengambil yang bukan hakku."
__ADS_1
" Memangnya siapa sih yang berani mengambil calon mantu Mommy? Hem?!" ujarnya geram.
" Tuhan," jawab Dave singkat. Membuat ibundanya terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena saking terkejutnya.
Begitupun bibi Ruth. Ia terkejut bukan main. Pantas saja sikap tuan mudanya sangat aneh. Itu sebabnya tiap kali tuannya merasa rindu, selalu meminum kopi pahit.
" Maafkan, mommy ya Dave? Mom tidak tahu jika gadis itu telah tiada."
" Hem. Aku tahu itu, Mom. Karena Mommy tidak pernah bisa meraba hati putera-puteranya. Mommy hanya bisa meminta tanpa bisa peka pada perasaan aku dan juga kak Sagara." ujar Dave, dengan menusuk tajam hati ibundanya. Perkataannya benar-benar telah menampar hati ibundanya. Dan ucapannya itu benar.
Dave meninggalkan ibundanya yang masih diam karena di skak mat oleh perkataan Dave.
Dave berhenti sejenak, menoleh kebelakang menatap sosok ibundanya yang masih duduk di balkon.
" Sebaiknya Mommy memasak. Daripada harus diam seperti itu. Sebentar lagi aku berangkat kerja. Aku ingin mencicipi masakan Mommy yang lezat itu," sahut Dave, tersenyum. Lalu melangkahkan kakinya menuju kamar utamanya yang berada di lantai atas.
Sang ibunda akhirnya tersenyum. Menyambut ucapan anak bungsunya. Yang meminta dirinya membuatkan sarapan untuknya. Tak terasa air matanya turun dari pelupuk matanya, mengalir deras meluncur ke pipinya.
" Bibi, anakku itu keras wataknya. Akan tetapi, hatinya lembut." ujarnya lirih. Ia menyeka airmata yang jatuh di pipinya yang putih mulus.
" Iya nyonya, bibi juga merasakan itu." sahut bibi Ruth dalam hati. Ia tersenyum melihat kebahagiaan hadir diantara kedua majikannya itu.
Bersambung ....
🍁🍁🍁
Kisah ini lanjutan dari Bukan beauty and the beast.
__ADS_1