
Aku bersimpuh di hadapan sang khalik. melalui doa-doa aku panjatkan perlindungan diri di hadapan sang pencipta. Entah sampai kapan kejadian ini berakhir. Aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya malam ini. Kota ini terlalu berbahaya buatku dan juga Aisyah.
" Ya Allah, tolong aku," ratapku dalam doa. Kulihat tubuh Aisyah yang tengah tertidur nyenyak. Kupandang wajah polosnya. Ada segetir rasa iba saat melihat raut wajah Aisyah. Seakan-akan aku ingin memilikinya walau ia bukanlah anak kandungku.
Ceklek!
Pintu masjid terdengar seperti ada yang membuka. Di luar sana kulihat ada dua orang yang tengah memandang kearah masjid. Dan dua orang itu berwujud seorang pria, dengan tinggi dan bentuk badan yang kekar. Aku mengintip dari dalam jendela masjid. Dengan cepat, kubangunkan Aisyah yang tengah tertidur pulas. Sehingga ia terkejut, memandangku dengan mata yang ia tajamkan. Aku menutup mulutnya dengan tanganku. Berusaha membuat suara sekecil mungkin.
" Sssst, jangan berisik! Di luar ada penjaga nyonya jahat. Kalau Aisyah berteriak, mereka akan menangkap kita. Dan pastinya kita tidak bisa bebas," kataku, sambil berbisik. Aisyah pun mengangguk.
Lalu aku bergegas membawa Aisyah menuju ruang mimbar. Tempat di mana para ustadz ataupun kiayai berkhutbah saat melaksanakan salat jumat atau salat ied.
" Kita diam di sini saja. Sampai kedua orang itu pergi, oke?" kataku berbisik lagi. Dan Aisyah pun mengangguk. Ia menuruti semua perintahku. Ia tahu, kalau aku ini orang baik. Dan tidak mungkin menyakiti dirinya. Berbanding terbalik dengan nyonya jahat, Aisyah takut jika berada di dekatnya.
" Lihat! Tidak ada siapa-siapa di dalam, tuan. Dan tidak ada tanda ada orang yang masuk di dalam masjid. Kalian tahukan? Pintu masjid saja tadi terkunci. Bagaimana ada orang yang bisa masuk? Lah kuncinya berada di saya." sahut seorang bapak-bapak penjaga masjid besar ini. Beliau menyalakan semua lampu yang ada di dalam masjid. Terang benderang.
' Astagfirullohaladzim! Tadi yang membukakan pintu masjid ini siapa? Jika memang benar pintu masjid dalam keadaan terkunci ...?' aku membatin. Tubuhku menegang. Aku ketakutan. Aku peluk tubuh Aisyah dengan erat.
' Terima kasih ya Allah. Engkau telah menolong hambamu yang sedang kesusahan ini. ' kataku dalam hati.
Dua orang pria itu menjelajah masjid. Dari sudut ke sudut ia cari. Namun, tak ada yang mereka cari. Mereka kehilangan jejak.
" Baiklah, jika memang mereka tidak ada di dalam masjid. Tapi, jika ada, tolong beritahu kami. Kedua orang itu berbahaya. Mereka pengedar obat-obatan. Meski mereka perempuan, tapi mereka sadis. Ingat jangan terlalu percaya ucapannya, karena Anda di tipu olehnya," ujar salah satu pria yang mencariku.
' Ya Allah, mereka tega sekali. Mengatakan aku dan Aisyah pengedar obat-obatan. ' kataku dalam hati.
__ADS_1
" Ya, akan saya ingat. Kalau begitu mari kita keluar lagi. Saya tidak mau masjid ini di kotori oleh orang-orang seperti kalian," kata sesebapak penjaga masjid.
Membuat kedua laki-laki itu marah. Mereka bisa saja memberi pelajaran pada sesebapak itu, tapi niatnya mencari diriku sangatlah besar. Jadi, mereka urungkan niat untuk memberi pelajaran pada sesebapak marbot masjid itu.
Mereka bertiga keluar dari dalam masjid, setelah sesebapak marbot tadi mematikan seluruh lampu masjid.
Gelap.
Pengap.
Itu yang aku rasakan. Mengumpat di dalam kolong mimbar yang luasnya tidak seluas lemari pakaian. Aisyah pun sudah tidak kuat berada di kolong mimbar itu. Ia berkeringat dingin sambil menatap diriku yang tengah mendengar pintu masjid terkunci.
" Kurasa kita sudah aman, sayang. Kamu mau keluar dulu?" kataku sambil mendorong pelan tubuh Aisyah.
" Aisyah lapal, Bibi. Apa bibi punya sesuatu untuk di makan?" tanya Aisyah lembut. Suaranya pelan sehingga hanya aku yang mendengarnya.
" Maafkan bibi, nak. Bibi tidak punya makanan apapun." ucapku, sambil membelai wajah Aisyah.
Aisyah tersenyum, " Engga apa-apa deh, yang penting kita selamat. Oh iya, apakah bibi sudah menelepon seseolang?" tanya Aisyah, dengan semangat.
" Belum, sekarang bibi mau menelepon dulu ya? Siapa tahu di angkat." aku menghibur diriku sendiri dan juga Aisyah. Tak tahu di mana keberadaan suamiku dan asistennya. Aku berharap mereka segera mencari diriku dan juga Aisyah.
Aku menelepon Alvin. Ponselnya terhubung, tapi tidak ia angkat. Berkali-kali kuhubungi, tetap tidak ada jawaban juga. Rasa kesal dan kecewa kini mendera hatiku.
Sial, sial, sial, sial! Itulah umpatanku dalam hati. Di saat genting begini, Alvin tidak menerima satu kalipun panggilan dari ponselku.
__ADS_1
Di saat aku sedang merutuki suamiku, pintu masjid terbuka lagi untuk yang kedua kalinya. Kini seseorang masuk ke dalam masjid. Aku pun kembali menarik tubuh Aisyah dan bersembunyi di kolong mimbar.
" Silahkan Nona, ini sajadah dan mukenanya. Kiblatnya menghadap kearah sana." ujar sesebapak penjaga masjid dengan ramah. Ternyata yang masuk ke dalam masjid itu adalah seorang wanita.
Ada perasaan lega saat mengetahui bahwa ada wanita yang masuk ke dalam masjid. Tadinya aku mau keluar bersama Aisyah, Namun sekali lagi, otakku mencegah aku untuk tidak keluar dari tempat persembunyian saat ini. Bisa jadi, wanita itu adalah Nyonya Liem. Yang sengaja berpura-pura untuk melaksanakan salat.
Sepuluh menit kemudian.
Terdengar isak tangis dari luar sana. Tangisan ratapan dalam doa. Yang sedang memohon perlindungan agar di selamatkan dari orang-orang jahat. Dan saat Aisyah mendengar suara itu, Aisyah sepertinya mengenal suara wanita yang sedang berdoa itu. Suaranya tidak asing di telinga Aisyah.
" Bibi Daisy, itu kan suala," kata Aisyah seperti tercekat di tenggorokan.
" Kau mengenalnya? Siapa dia, Aisyah?" tanyaku, berbisik.
" Suala itu sepelti suala kak Icha," katanya. Sambil memastikan bahwa yang ia dengar memang suara milik Anisa.
" Kau yakin, Sayang?" tanyaku, sambil memegang pipinya yang chubi.
Aisyah mengangguk, " Iya, itu suala kak Icha."
Aisyah mengintip dari celah mimbar. Dan matanya terkejut saat melihat sesosok wanita yang tengah berdiri di hadapannya. Dalam kegelapan malam, dan suasana yang mencekam, membuatku terkejut dan terjerembab ke lantai saat sosok itu berdiri tegap di hadapanku. Jantungku berdebar kencang. Ia ... Ia ... Siapakah ia?
Kulihat Aisyah pun sangat ketakutan,
" Ya Allah, selamatkanlah kami berdua!" pekikku dalam hati.
__ADS_1
☘️☘️☘️Bersambung☘️☘️☘️