
" Sayang, kamu dimana?" Alvinku terbangun. Yang dilakukannya pertama kali adalah memeriksa tubuhku, apakah masih berada di tempat tidur atau sudah mulai beraktifitas seperti biasa.
Sejak Aisyah lahir ke dunia, ternyata Alvinku masih romantis seperti dulu. Tingkat kebucinannya lebih besar bahkan ia tergolong over protektif padaku dan juga Aisyah.
" Bangunlah suamiku, ini sudah siang. Apakah kamu tidak mau berangkat ke kantor, hem?" kataku sambil menyambut kedua tangan Alvin yang masih tergeletak di atas tempat tidur. Kulihat ia masih menggeliat.
Bukannya dia yang ikut bangun, malah aku yang terjatuh di atas badannya. Rupanya Alvin menarik tanganku. Ia sengaja melakukan itu agar bisa memelukku.
" Sayang, ini masih pagi," tuturku sambil berusaha bangun dari tubuh kekarnya. Alvin tersenyum manja, lalu mencium bibirku berkali-kali.
" Biarkan saja, mau pagi, siang, ataupun sore, tidak masalah bukan? Aku ini kan suamimu, suami halalmu," ucapnya, sambil mengecup bibirku lagi.
Aku mencubit dadanya, kutarik bulu dadanya yang lebat itu. Alvinku meringis kesakitan.
" Kamu nakal, Sayang," katanya, lalu dengan gerakan kilat, tubuhku sudah berada di ranjang. Dengan senyuman nakalnya, Alvin mulai menggodaku. Dia hendak menunaikan hajatnya padaku. Namun, mendadak Aisyah terbangun lalu menangis sekencang-kencangnya. Alvin menoleh ke Box bayi, dimana Aisyah tidur dengan nyenyak. Lalu menatap wajahku. Sejenak kami berdua berpandangan, dan ... Kami pun tertawa terbahak-bahak.
" Hari ini kamu bisa lolos dariku, tapi, nanti malam tidak akan bisa lagi, oke?" katanya genit. Ia mencolek hidungku dengan mesra.
" Kita lihat saja nanti. Jika itu bisa," celotehku, yang mendorong tubuhnya hingga jatuh ke ranjang empuknya. Alvin tertawa geli karena ulahku.
Sebelum ia menarik kembali tanganku, aku dengan cepat pergi meninggalkan suamiku, dan menggendong Aisyah yang mulai mengamuk karena aku lama mendekatinya.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Pagi ini, pagi yang cukup cerah. Pagi ini Alvin akan berangkat ke kantor. Menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda akibat beberapa tahun tidak sempat ia kerjakan.
Aku dengan suka cita, membuatkannya sarapan untuk Alvin. Agar nanti ketika ia berangkat ke kantor, tubuhnya kuat untuk beraktifitas.
.
.
" Yang, aku berangkat dulu ya? Oh iya, kamu mau nitip di beliin apa?" Alvinku berkata. Ia segera mengambil tas kantornya. Sambil berdiri di hadapanku.
Aku diam sejenak memikirkan apa yang akan aku beli. Aku tak pernah ingin merepotkan Alvinku dengan menyuruhnya membelikan sesuatu untukku. Bagiku ia sudah pulang dalam keadaan sehat wal'afiat saja, aku rasanya sudah senang.
" Loh kok? Kamu tidak mau aku belikan oleh-oleh ya?" Alvin bertanya. Dengan kedua tangannya memeluk pinggang rampingku. Matanya terpejam, sepertinya ia mencium aroma tubuhku.
" Tidak ada sayang. Sudah sana pergi, nanti kesiangan." Aku memerintah. Mendorong tubuhnya pelan.
" Oke, kalau gitu aku berangkat dulu ya? Dah sayang, I love you, honey," ucapnya mesra. Mencium keningku lalu ia pergi dari hadapanku. Dengan senyuman manisnya. Ia pun tak lupa mencium pipi Aisyah yang sedang bermain di ruang keluarga.
Alvinku memang seperti itu. Meski ia sudah mempunyai seorang anak, akan tetapi rasa cinta dan kemesraannya itu masih ia perlihatkan padaku.
__ADS_1
Oh iya.
Setelah kejadian mengerikan itu. Alvin memutuskan untuk tidak terlibat lagi dengan hal-hal yang berbau mafia. Istilahnya sih ia sudah taubat. Dan karena waktu itu ada rasa trauma dalam hatiku, akhirnya Alvin memboyongku ke Singapore. Ia mengajakku tinggal di sana, agar fikiranku yang masih trauma hilang karena mengganti suasana baru yang menyenangkan. Hingga Aisyahku berusia dua tahun. Lalu kami pulang lagi ke Indonesia. Mengingat akupun sudah rindu dengan kampungku, kampung halamanku dan juga mama mertuaku.
☘️☘️☘️
" Ning, nona Kayra kemana? Kok dia tidak ada di rumah?" tanyaku pagi itu, saat Alvin berangkat bekerja.
" Loh nona muda tidak tahu ya? Kan non Kayra sudah ke Singapore." jawab Ning, pembantu kece yang kecantikannya masih kentara.
" Masa? Kok aku tidak tahu ya?" kataku sambil bertanya.
" Kemarin berangkatnya, Nona. Dia sempat datang ke rumah, lalu menyerahkan selembar kertas pada tuan."
" Kertas apa? Kok Alvin tidak bilang sama aku sih, Ning? Uuh gumush deh,"
" Mungkin tuan lupa non, maklum tuan kan orang yang sibuk, hehehe,"
" Uuuh, kau ini, Ning." sahutku, dengan bibir mengerucut ke depan. Dan jahatnya, dia tertawa geli melihat tingkah polaku.
' Awas kau ya, Ning ... !'
__ADS_1
🍁🍁🍁