When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Tragedi Pembalut.


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul empat sore. Saat Dave memasuki rumah besar milik Alvin. Ia setengah berlari untuk bisa sampai ke ruang kerja di mana Alvin sedang di rumah.


" Tuan Dave, anda di tunggu di ruang kerja oleh tuan muda." ucap Ning saat berpapasan dengan Dave. Dave mengiyakan. Kepalanya di anggukkan dua kali, kemudian berjalan lagi. Jalan dengan cepat.


Dave sampai di depan ruangan kerja. Ia mengetuk pintunya, kemudian masuk ke dalam ruang kerja.


" Bagaimana tadi rapatnya? Apa ada kendala yang kau temukan saat rapat tadi?" Alvin bertanya.


" Tidak ada tuan, semua baik-baik saja." Dave menjawab.


" Baiklah, aku lega sekarang." tutur Alvin, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. Dave melihat tuannya yang sedang gusar. Gelisah dan sedang tidak fokus.


Tak lama kemudian, Ning tiba-tiba mengetuk pintu ruang kerja. Lalu masuk ke dalam setelah Alvin menyuruhnya masuk.


" Ada apa, Ning? Apa ada hal penting sehingga kau datang kemari menemuiku?" Alvin bertanya.


" Maaf, Tuan. Nona seperti sedang mencari sesuatu di kamar. Dia ... Dia seperti mencari pembalut, Tuan." ujar Ning, gugup.


" Dia masih mencari benda itu?!" Alvin bertanya, ia terlihat bingung. Begitu juga dengan Dave. Yang tidak tahu telah terjadi insiden apa di rumah ini. Pembalut. Apa itu pembalut?


" Iya Tuan, nona muda masih mencarinya. Dia sepertinya sedang datang bulan. Sebaiknya tuan membelikannya pembalut." entah apa yang terjadi pada Ning, sehingga ia seperti sedang memerintahkan Alvin agar membelikan pembalut untuk nona Daisy.


" Eeh, lancang sekali kamu ya?!" Dave menegur Ning. Sorotan matanya berkilau tajam.


Namun, Alvin segera menepuk lengan Dave dan memberikan kode kepada Dave agar tidak berkata kasar lagi pada Ning. Dave pun menurut.


" Ning, kau boleh keluar. Aku sedang ada sesuatu yang penting pada Dave. Nanti aku memanggilmu kembali." ucap Alvin memerintah.


Ning menganggukkan kepalanya, " Baik tuan, saya permisi dulu, Tuan." Ning membungkukkan badannya. Setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan Alvin dan juga Dave.


" Ada apa sebenarnya, Tuan? Apa yang terjadi seharian ini di rumah.


Alvin menghela nafasnya. Bingung harus memulainya dari bagian mana. Jikalau menceritakan ini pada Dave, ia pasti tidak bisa memberikan penjelasan apapun tentang datang bulan dan pembalut.

__ADS_1


Tapi ..., apa salahnya jika bertanya? Bisa saja Dave juga tahu bentuk pembalut seperti apa.


" Dave. Kau tahu datang bulan?" Alvin mulai bertanya.


Dave menggelengkan kepala.


" Kau tahu pembalut itu bentuknya seperti apa? Pernah kau menggunakannya?" tanya Alvin kemudian.


Dave hanya bisa diam. Dan tidak mengatakan apapun pada Alvin. Ia berfikir keras. Mungkin jika Alvin bertanya selain dari dua pertanyaan di atas tadi. Ia akan bisa menjawabnya dengan lancar.


Namun, apa itu? Datang bulan? Pembalut? Aaargh!!! Semuanya nampak membingungkan sekali. Kenapa perempuan ditakdirkan seribet ini?


" Kenapa kau diam?! Aku butuh jawabannya sekarang, Dave!" Alvin berkata, ia marah.


" Maaf tuan, saya pun tidak tahu apa yang tuan tanyakan pada saya tadi. Apa itu datang bulan, apa itu pembalut. Saya benar-benar tidak tahu, Tuan." Dave berusaha berkata jujur. Meski itu sangat membuat tuannya marah.


" Carilah keluar! Cari yang namanya datang bulan dan pembalut! Sekarang juga !!!"


Dave segera keluar dari ruang kerja tuannya. Dan segera pergi untuk mencari wujud dari datang bulan dan juga pembalut. Kira-kira wujudnya seperti apa ya???


🍁🍁🍁


Suasana tampak menegangkan.Tidak ada percakapan mesra atau percakapan biasa yang menemani mereka di saat makan di mulai. Daisy, terlihat sedang kesal malam ini. Karena semua pembalut yang ia simpan untuk stok bulan ini, sudah di buang oleh Alvin. Ia mengira bahwa pembalut itu adalah barang yang berbahaya yang tidak bisa di makan oleh Daisy, istrinya.


" Ning. Kau masih punya stok pembalut tidak?" aku bertanya pada Ning, saat ia menyajikan minuman ke dalam gelasku.


Ning mengangkat kepalanya, memandang aku, sang majikan yang baik hati. Tak pernah marah ataupun kesal padanya.


" Ada, tapi, cuma ada empat Nona. Maaf ya?" Ning berkata padaku.


" Boleh aku meminjamnya? Nanti jika aku sudah membeli pembalut baru, aku ganti." aku melakukan negosiasi pada Ning.


" Tapi, nona aku ...,"

__ADS_1


" Kau mau menolongku tidak? Aku butuh pembalut." kataku, mulai kesal.


" Iya, nona. Baik. Akan aku ambilkan dulu pembalutnya." ucap Ning, kemudian pergi menuju kamar tidurnya.


Alvin duduk tak tenang, kedua matanya tidak berani menatap mata istrinya. Ia merasa bersalah karena telah membuang semua pembalut yang berada di laci lemari khusus menyimpan pembalut milik Daisy.


Alvin melirik sekilas ke arahku.


" Apa?!" aku ketus.


Satu detik kemudian, ia mengalihkan pandangannya. Namun, berusaha mencuri-curi pandang kearahku.


Sore itu ...


" Ning, ini apa?" Alvin memberikan satu bungkus plastik berbentuk persegi panjang pada Ning.


" Itu, eem, itu adalah roti kepunyaan Nona Daisy, Tuan." jawab Ning. Entah apa yang merasuki Ning. Sehingga ia berbicara seperti itu pada tuannya.


" Roti? Sebanyak ini? Dan di simpan tertutup. Apa isinya tidak basi?" Kening Alvin berkerut.


Lalu tanpa mendengar penjelasan Ning lagi. Alvin segera membuka sesuatu yang ia pegang dan yang di katakan Ning sebagai roti.


Alvin membelalakkan kedua matanya. Ia tercengang, ternyata isinya bukan roti yang di kira Ning. Kalau bukan Roti, lalu ini apa?


" Ning, cepat buang semua benda yang kau sebut roti ini?! Aku tidak ingin istri kesayanganku konsumsi makan seperti ini. Ini sangat berbahaya untuknya bila ia memakannya." ujar Alvin. Lalu mengeluarkan semua pembalut yang ada di dalam laci. Menyerahkannya kepada Ning. Untuk segera membuang pembalut itu.


🍁🍁🍁


Ning datang sambil membawa pembalut di tangannya. Dengan jumlah empat pembalut. Memberikannya padaku. Dan aku pun menyudahi acara makan malam di rumah.


Aku bangkit lalu, aku pergi menuju kamar yang letaknya berada di atas dengan menaiki beberapa anak tangga. Sebenarnya aku malas ke kamar dalam keadaan sedang datang bulan, suka mengalir deras darahnya bila naik tangga. Tapi, aku paksakan saja. Toh kamarku memang berada di sana.


Setelah aku tidak ada di ruang makan, Alvin segera menanyakan pada Ning, kenapa aku sangat membutuhkan pembalut. Tapi, Ning tidak bisa menjawab apapun. Ia malu dan merasa kurang terpuji bila harus menjelaskan serinci mungkin pada tuannya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2