
Satu hal yang ada di dalam benakku saat ini adalah berusaha untuk kabur dari sini. Namun, tidak ada tanda-tanda kesempatan yang tepat untukku. Sementara aku di sekap, aku akan mengumpulkan tenaga ekstra, agar jika nanti aku benar-benar dapat kesempatan untuk kabur dari sini, aku bisa berlari kencang dalam keadaan di mana perutku berisi janin. Buah hati yang sedang terbentuk. Dan juga membawa serta Aisyah. Ini bukanlah suatu hal yang mudah. Bisa di pastikan, aku harus kuat.
Malam hari pun tiba. Nyonya Liem beserta para penjaga yang bersamanya sedang pergi ke tempat yang di mana nanti aku akan di pekerjakan di sana. Demi apapun, aku harus pergi dari sini. Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi aku dapat kesempatan ini. Untungnya Aisyah sedang bersamaku. Ia menemaniku dari saat aku tiba di kediaman Nyonya Liem.
" Aisyah sini deh." aku berbisik pada Aisyah yang tengah asik mewarnai gambar. Sengaja nyonya Liem memberikan semua fasilitas mewah pada Aisyah. Agar Aisyah betah tinggal bersamanya.
Anak kecil yang cantik itupun menoleh. Ia tersenyum, kemudian mendekatiku. Memperlihatkan gambar yang ia buat padaku.
" Nyonya, gambal Aisyah bagus engga?" tanya Aisyah. Dengan wajah polosnya.
" Wah bagus sekali. Kamu berbakat sayang," kataku, lalu memberikan kecupan sayang di pipinya.
" Telima kasih, nyonya."
" Sama-sama."
.
__ADS_1
.
Sejenak kami berdua diam. Aisyah lebih banyak menghabiskan waktu dengan bergambar. Dan aku memikirkan cara untuk bisa keluar dari sini.
” Aisyah, apa kau tidak rindu pada kak Icha?" aku bertanya. Dan pertanyaanku sukses membuat Aisyah diam.
" Ais sebenalnya lindu, tapi engga tahu calanya pelgi dali sini." katanya sendu. Dengan suara cadelnya aku pun mengerti.
" Kalau begitu, kita pergi saja dari sini. Kamu mau kan?"
" Mau, nyonya. Ais mau banget kelual dali lumah ini." sahut Aisyah, girang.
" Ssst!!! Jangan berisik! Nanti ketahuan penjaga kita engga bisa kabur."
Aisyah mendadak menutup mulutnya dengan cepat, dengan kedua mata yang dia belalakkan. " Ais lupa," pekiknya, cengengesan.
" Baiklah, dengarkan aku ya? Sekarang Aisyah cari obat tidur di kamar Nyonya Liem. Lalu buat kan minuman untuk para penjaga yang ada di rumah ini, bilang sama mereka kalau nyonya Liem yang menyuruh Ais untuk membuatkan minuman, oke? Rencana ini tidak boleh bocor pada siapapun." kataku, menjelaskan pada Aisyah. Kuharap dia mengerti tentang rencana ini. Aisyah mengangguk, kemudian langsung pergi meninggalkanku sendirian di kamar.
__ADS_1
Aisyah segera memasuki kamar Nyonya Liem. Ia dengan cekatan mencari obat tidur yang aku maksudkan. Kukira, anak kecil seperti Aisyah, belum tentu paham akan obat-obatan, namun, aku salah. Ia lebih paham walau aku hanya menyebutkan nama saja. Aisyah ini anak yang cerdas. Sangat cerdas.
Satu jam kemudian.
Aisyah membuka pintu kamar, di mana ada aku di dalamnya. Dan mendekatiku.
" Nyonya semuanya beles! Ais sudah membuat semua penjaga teltidul dengan nyenyak, wus!!!" katanya berbisik sambil memperagakan bagaimana para penjaga itu pingsan. Aku tersenyum puas. Selanjutnya aku menyuruh Aisyah mengambil gunting ataupun pisau yang paling tajam untuk membuka ikatan yang mengikat pergelangan tangan dan kakiku.
Aisyah pun langsung mengambil benda tajam di atas nakas. Dan langsung memotong tali yang mengikat tangan dan kakiku.
Aku merasakan kebas dan sakit saat ikatan di kedua tangan dan kakiku terlepas. Dan tanpa membuanf waktu lagi, aku kabur dari rumah nyonya Liem. Menuruni anak tangga, dengan pelan. Takut masih ada satu penjaga rumah yang belum pingsan.
Dengan cepat, aku membuka gerbang pagar rumah nyonya Liem yang cukup besar.
" Alhamdulillah, berhasil!" pekikku. Kutatap wajah Aisyah yang ku gendong, lalu kami berdua pun kabur dari rumah itu.
☘️☘️☘️Dessy Yulia Azzahra☘️☘️☘️
__ADS_1