When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Berujung tragis.


__ADS_3

Mawar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia terus menginjakkan pedal gas hingga membuat kendaraan yang tengah ia kendarai berjalan cepat. Aisyah nampak ketakutan saat melihat Mawar mengemudikan mobilnya seperti itu. Dia peluk tubuh Anisa dengan kuat. Untungnya kejadian ini terjadi saat tengah malam. Jadi tidak ada satupun mobil yang berlalu lalang di jalan.


" Kak Icha, Ais takut kak. Ais mau kelual dali sini," ujar Aisyah, ketakutan. Begitupun dengan Anisa. Ia terlihat sangat panik, dan ingin sekali menghentikan Mawar sebelum terjadi sesuatu dengannya.


" Ais, coba Ais pasang sabuk pengaman ya? Nanti kak Icha coba ambil alih kemudi mobilnya," ucap Anisa sambil mencium pucuk rambut Aisyah. Aisyah pun mengangguk. Lalu dengan cepat ia memasang sabuk pengaman.


Anisa bergerak cepat dengan berpindah tempat duduk. Setelah itu, ia langsung mengambil alih kemudi mobil.


Namun, Mawar yang sudah di kuasai emosi, ia tetap menghalangi Anisa untuk menghentikan mobilnya. Baginya hari ini hidup ataupun mati, tidak masalah. Akan ia bawa Anisa dan Aisyah bersamanya jika ia mati.


" Kak Mawar. Tolong hentikan mobilnya, kak. Kasihan Aisyah, dia masih kecil. Jangan kau buat hatinya lemah," sahut Anisa. Dengan nada berteriak.


" Diam kamu! Aku akan membawa kamu dan juga Aisyah ke tempat yang jauh. Ke surga mungkin." ujarnya dengan tawa terkekeh-kekeh.


Mawar merebut kembali kemudi yang di pegang Anisa. Di sinilah terjadi tarik menarik kemudi. Membuat kemudinya oleng, lalu menabrak pembatas jalan dan mobil Mawar jatuh terperosok ke jurang yang terjal, penuh bebatuan.


Mobil terjatuh, membentur batu besar dan akhirnya meledak seketika. Dave yang datang belakangan, menyesal. Ia menyesal karena tidak bisa menolong Aisyah dan juga Anisa.


" Anisaaaaa!" jerit Dave. Suaranya menggema di malam hari. Anisa dan Aisyah pergi untuk selama-lamanya. Menghadap sang pencipta, serta berkumpul bersama kedua orang tuanya di akhirat.


Berkali-kali Dave mengusap wajahnya yang tidak percaya bahwa wanita yang ia benci, kini tidak bisa ia temui lagi. Dave teringat lima tahun yang lalu. Saat kekasih hati yang ia cintai meninggal dunia, dengan alasan dan kejadian yang sama.


" Sudahlah, Tuan. Ikhlaskan saja. Doakan mereka agar tenang di alamnya." ujar pria, si penjaga rumah. Sambil menepuk pundak Dave.


Dave menatap pria itu, lalu di hajarnya perut pria itu. Kemudian, Dave meraih tangannya, lalu memeluk tubuhnya. Hati Dave rapuh saat ini. Ia butuh seorang teman untuk di lampiaskan segala emosi di hatinya.


♥️♥️♥️Dessy yulia Azzahra♥️♥️♥️


Di rumah sakit, Alvin membawa tubuh Daisy yang terkulai lemas. Ia segera memanggil dokter Frans, dan menunggu di ruang tunggu, bersama Dave dan juga paman serta bibinya Daisy.


Tak lama kemudian, kedua orangtua Alvin pun datang ke rumah sakit. Tempat di mana Daisy di rawat.


" Bagaimana Dave. Apakah Aisyah dan Anisa sudah bisa kamu selamatkan?" tanya Alvin, saat ia sedang duduk di kursi tunggu.


Wajah Dave pucat pasi. Ia tidak tahu harus menceritakan ini dari awal. Karena ia sendiri tidak tahu apakah ini berita baik atau berita buruk.

__ADS_1


Alvin yang mengetahui rona wajah Dave berubah menjadi sendu, akhirnya ia sedikit mengerti dengan keadaan yang terjadi.


" Ada apa Dave? Mereka tidak selamat, bukan?" tanya Alvin, berhati-hati.


Dave mengangguk, kemudian menangis. Tumpahlah air matanya. Dan ia seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.


Alvin paham kenapa Dave sangat terpukul. Ia tahu jika Dave sudah mulai mencintai gadis itu. Namun, jika takdir sudah berkehendak lain, lalu manusia hanya bisa apa? Ia hanya bisa pasrah dan menerima semuanya.


" Ikhlaskan dia, Dave. Agar ia tenang di alamnya." hibur Alvin. Padahal ia sendiri tengah merasakan dag dig dug karena isterinya sendiri sedang berjuang melawan maut.


" Tidak apa-apa, Tuan. Aku sudah bisa mengikhlaskan kepergiannya. Lagi pula nona Daisy selamat. Dan itu sudah menjadi prioritas saya sebagai ajudan Anda dan nona, Tuan." ujarnya, lirih.


Alvin menghela nafasnya, lalu menghembuskannya lewat mulut, ' Huft .'


" Terima kasih Dave. Mudah-mudahan, suatu hari nanti akan ada wanita yang akan menggantikan posisi Anisa di luar sana."


" Iya, Tuan. Mudah-mudahan saja."


♥️♥️♥️ Dessy yulia Azzahra♥️♥️♥️


Tujuh bulan kemudian.


Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga. Kini saatnya aku melahirkan seorang anak. Calon penerus di keluarga media utomo. Seorang bayi perempuan yang cantik. Dengan bulu mata yang lentik, rambutnya yang tebal dan juga senyumannya yang menawan membuatku jatuh cinta. Kuciumi pipi anak perempuanku. Aku sangat bahagia, begitu juga dengan Alvin. Walaupun anaknya adalah perempuan, tapi Alvin tidak pernah menuntut ingin anak laki-laki.


" Selamat ya, pak, bu. Anaknya perempuan." seru Perawat, sambil membawa bayiku dan meletakkannya di samping tubuhku.


" Iya, suster. Terima kasih."


" Oh iya, ngomong-ngomong mau di beri nama apa ya anaknya?" sahutnya lagi, dengan lembut.


" Aisyah. Akan kuberikan nama dengan nama Aisyah Nahla Hamidah." kataku, dengan suara yang lantang.


Alvin pun terkejut. Seolah tidak percaya, dengan penuturan diriku. Alvin juga ingin menamai anaknya dengan nama Aisyah.


" Nama yang bagus dan sangat cantik. Semoga jadi anak yang sholeha ya, bu. Oh iya , saya pamit undur diri dulu ya?" pamitnya, lalu keluar dari ruangan.

__ADS_1


Aku menatap wajah suamiku. Ia membelai dan mencium keningku. " Sayang, terima kasih. Sudah memberikanku seorang anak yang cantik."


" Iya, suamiku. Maaf kuberikan nama Aisyah untuk puteri kecil kita."


" Tak masalah. Aku juga menyukainya."


Mendengar penuturan Alvin, membuat hatiku bahagia. Sangat-sangat bahagia.


♥️♥️♥️ Dessy yulia Azzahra♥️♥️♥️


Siang itu begitu terik. Panas matahari membuat Dave segera melangkahkan kedua kakinya dengan cepat. Hari ini, Alvin tidak masuk ke kantor. Jadi, Dave yang mengurusi pekerjaan Alvin. Dave memaklumi karena hari ini, nona Daisy telah melahirkan seorang anak perempuan. Itu katanya.


Dave berniat mengunjungi Daisy. Serta ingin bertemu dengan jagoan cilik. Walaupun ia tahu, jenis kelaminnya perempuan.


Dave melangkahkan kedua kakinya memasuki ruangan perawatan ibu melahirkan. Karena ia terburu-buru, Dave jadi menabrak seseorang yang sedang berada di rumah sakit tersebut. Awal pertemuan yang cukup manis.


" Maaf, maafkan saya." sahut Dave. Ia berbalik badan. Lalu menolong orang yang di tabraknya tadi. Dave mengulurkan tangan kanannya. Seseorang itu, meraih tangan Dave, kemudian berdiri. Saat keduanya saling berpandangan, Dave seperti sedang melihat seseorang yang amat sangat di cintainya. Sosok itu adalah Anisa.


" Anisa?!" pekik Dave, seraya menyebut nama Anisa dengan lantang.


" Maaf, siapa Anisa? Aku bukan Anisa, Tuan. Anda salah orang." ujar wanita itu. Wanita yang di kira Anisa oleh Dave.


" Eh maaf, salah orang." ujar Dave, cengengesan.


" Tak apa, Tuan. Saya paham. Baiklah saya permisi dulu tuan, saya harus pergi ke ruang pengambilan obat." pamitnya, tanpa menyebutkan nama.


Dave hanya mengangguk. Wanita itu pun pergi dari hadapannya. Lima detik kemudian, Dave teringat akan sesuatu. Sesuatu yang mengawali harinya.


" Nona, tunggu! Siapa namamu?!" tanya Dave setengah berteriak.


Wanita itu menoleh kemudian menjawab, " Namaku Kayra. Kayra Anisa Puteri." jawabnya, sambil tersenyum dan tak lupa kedipan mata di mata kanannya. Membuat Dave terpesona. Kemudian tersenyum.


" Nona, Kayra. Selamat datang di dunia hatiku. Aku akan mengejarmu di manapun kau berada." ujar Dave mantap. Tak lama kemudian, Dave pun pergi menuju ruangan ibu melahirkan. Menemui Alvin dan juga Daisy.


TAMAT.

__ADS_1


♥️♥️♥️ TAMAT ♥️♥️♥️


__ADS_2