
Suasana malam ini nampak seperti kuburan. Baik Alvin, Daisy, Dave dan juga Anisa. Mereka berempat seakan tidak saling mengenal satu sama lain. Terutama Dave dan juga Anisa. Ada satu kecanggungan diantara mereka berdua. Sehingga membuat Daisy bertanya-tanya. Ada apa dengan mereka berdua.
" Anisa, kamu kenapa? Dari tadi aku perhatikan kamu sepertinya tidak fokus kearah makanan. Kamu sakit?" Daisy bertanya.
" Tidak Nona. Aku baik-baik saja. Mungkin karena aku rindu dengan Aisyah. Itu saja." jawabnya sambil tersenyum.
" Ooh, kalau seperti itu, makanlah. Nanti kamu sakit." ucap Daisy, tulus.
Mendengar ucapan tulus dari bibir Daisy, membuat hati Anisa terenyuh. Daisy sudah sangat baik padanya. Perhatian pula. Namun, sikapnya pada Daisy tidak bisa di benarkan.
Sedangkan Dave, ia hanya memantau gerak gerik yang dilakukan Anisa. Tak ingin terjadi sesuatu untuk Alvin dan juga Daisy.
Tak berapa lama kemudian, Anisa beranjak pergi dari duduknya. Ia hendak pergi ke dapur, mengambil sesuatu dari dapur. Untuk di sajikan di meja makan.
" Maaf Nona, aku mau ke dapur dulu."
Daisy mengangguk. Dan Anisa pun pergi dari tempatnya duduk di kursi makan.
🌲🌲🌲Desi yulia Azzahra🌲🌲🌲
Anisa menatap cairan yang tersimpan di dalam botol kecil, yang ia genggam saat ini. Ada keraguan menyeruak dalam dadanya. Melakukan sesuatu atau tidak. Jika tidak, nyawa Aisyah terancam. Jika iya, nyawa dan janin yang di kandung nona Daisy akan lenyap. Berkali-kali Anisa menghela nafasnya yang terasa berat. Lalu menghembuskan nafasnya dengan kencang.
' Bodoh! Untuk apa kamu menuruti kemauan Mawar?! Mawar itu hanya menggertakmu. Ia tidak mungkin melakukan hal itu pada gadis kecil bernama Aisyah.' gerutunya.
' Hei! Jika kau tidak mau melakukan apa yang di perintahkan oleh Kakakmu, maka kau tanggung sendiri akibatnya. Kau akan kehilangan Aisyah untuk selamanya.' hati kecil yang lain berbicara.
Bukannya menolak, Anisa malah melakukan hal itu. Ia dengan cepat mengambil semangkuk puding lembut untuk Daisy. Lalu menabur cairan dari dalam botol. Meski sedikit, efek dari obat itu ialah rasa panas yang menjalar dari perut, kemudian menjalar ke seluruh tubuh seseorang bila memakan makanan yang di campur oleh cairan itu.
...
Saat Anisa melangkah menuju meja makan. Dirinya di cegah oleh Dave. Dave memegang tangan Anisa. Membuat Anisa berhenti melangkah. Keringat dingin pun nampak di kening Anisa.
" Apa itu?" tanya Dave, tajam. Anisa berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rasa takutnya. Agar Dave tidak bisa mengetahui rencana jahatnya pada Alvin dan juga Daisy.
" I-ni pu-ding, tuan." jawab Anisa, gugup.
Meski Anisa sudah menyembunyikan rasa gugupnya, tapi Dave masih bisa melihat ketakutan dalam diri Anisa saat ia memergokinya.
" Makanlah puding itu!" ujar Dave, memerintah.
" Ta-pi tuan, aku sudah kenyang."
" Aku bilang makan!!!" bentaknya.
Kedua tangan Anisa bergetar. Tubuhnya seketika panas dingin. Dan keringat terus bermunculan dari kening Anisa.
" Kenapa ragu? Apa rasanya tidak enak? Atau di dalam makanan itu memang sudah di campur sesuatu?" Dave curiga. Ia mencibir Anisa.
" Tidak tuan. Ini hanya puding yang aku buat khusus untuk nona Daisy."
__ADS_1
" Kalau begitu, makan saja. Jika memang puding itu aman-aman saja."
Ada dua pilihan. Yang pertama, jika Anisa memakan puding yang di bawanya sendiri. Maka nyawa Anisa yang melayang. Pilihan yang kedua, jika ia menolak, maka Dave tidak akan pernah berhenti berbicara. Tidak akan berhenti menahannya. Dave pasti akan mengambil puding yang di bawanya dan memeriksakan kandungan yang ada di dalam puding itu. Matilah Anisa. Ia akan masuk penjara setelah ini.
PoV Anisa.
Bagaimana mungkin aku akan memakan puding buatanku sendiri setelah aku campurkan obat penggugur kandungan untuk Daisy. Meski aku tidak sedang mengandung, akan tetapi efek dari obat ini sangat berbahaya untukku.
Dan saat ini tuan Dave tengah berusaha untuk mencegahku agar aku tidak memberikannya kepada nona Daisy. Jika tuan Dave tahu aku melakukan tindak kejahatan pada Nona Daisy, apa yang akan terjadi selanjutnya? Sudah pasti aku akan masuk penjara setelah ini.
Jika aku tidak melakukan ini, maka Mawar akan membawa Aisyahku, dan melenyapkannya.
Tuhan,
Aku harus bagaimana? Meminta tolong pada Dave dan Alvin? Oh tidak. Sama saja dengan mencelakakan kakak kandungku sendiri.
Aku pun menyendok puding yang aku bawa. Kemudian dengan perlahan-lahan, dan segera memasukannya ke dalam mulutku. Awalnya aku ragu, tapi cuma ini cara satu-satunya agar tidak merugikan banyak pihak.
Dan setelah aku memakannya, kutunggu selama lima menit tidak ada reaksi apa-apa, itu artinya aku aman.
" Lihatlah tuan Dave, aman bukan? Lalu kenapa Anda begitu tegang saat ini, Tuan?" kataku, sambil mencibiknya.
Untuk saat ini aku aman. Lulus dari pantauannya saat ini. Aku juga lihai bukan? Tentu saja aku memikirkan hal ini. Kubuat dua mangkuk. Dan yang kubawa saat ini, puding yang belum kucampurkan obat penggugur kandungan. Sedang yang satunya aku simpan agak tersembunyi di dapur. Kebetulan Ning tidak ada di sana.
" Ya sudah, berikan puding itu pada Nona muda." sahut tuan Dave. Ia mendekatiku. Lalu berkata, " Jika terjadi sesuatu pada Nona Daisy, ingat satu hal, aku tidak akan pernah memaafkanmu sampai kapanpun, paham?!" ia menggertakku. Aku pun mengangguk. Kemudian tuan Dave pergi meninggalkanku.
Antara bimbang dan takut, aku putuskan tidak jadi memberikan nona Daisy puding yang sudah kucampurkan obat penggugur kandungan. Biarlah aku urus puding yang sudah kucampurkan tadi yang aku sembunyikan di dapur.
Ooh tidak! Apa yang terjadi? Dari mana nona Daisy mendapatkan puding itu? Siapa yang memberikan puding itu pada Nona?
" Hei, dari mana saja kamu?" tanya Daisy, saat aku ada di hadapannya. Ia melihatku membawa semangkuk puding.
" Itu untukku?" tanya nona Daisy, lagi.
Aku mengangguk. Kemudian mendekati nona Daisy. Berdiri di hadapannya, dengan kedua tangan bergetar hebat. Apa yang tengah kulakukan? Siapa orang jahat yang tega memberikan puding yang telah aku sembunyikan di dapur?
" Hei! Kenapa kau diam saja Icha?" Daisy bertanya lagi. Senyumannya kali ini terlihat sangat manis. Tentu saja ini senyuman terakhir kalinya. Oh nona, maafkan aku. Maafkan aku.
" Tidak apa-apa nona, hanya saja aku bahagia karena nona menyukai puding." kataku bergetar.
" Ooh ini, iya tadi Ning datang lalu memberikan puding ini padaku. Rasanya enak sekali, aku suka. Apakah kamu yang buat?" katanya, dengan di bubuhi senyuman hangat untukku.
" Ning? Oh tidak!" gumamku dalam hati.
" Iya nona, itu buatanku. Tadinya puding itu tidak aku berikan karena rasanya kurang manis. Jadi aku buat lagi yang sama persis dan yang kubawa ini tadinya untuk nona, tetapi, Ning sudah memberikannya dahulu pada Nona Daisy." ucapku seramah mungkin setenang mungkin agar Dave dan Alvin tidak curiga.
" Kalau begitu, yang di tanganmu juga boleh aku cicipi? Aku begitu menyukai puding buatanmu. Sangat enaaaak sekali Icha," kata Daisy, berbinar.
Aku hanya bisa tersenyum getir saat ini. Memaksakan untuk tersenyum tetapi hati ini kacau balau.
__ADS_1
" Duduklah! Kita makan bersama puding yang kau buat, oke Anisa?" sahut Daisy. Lalu melanjutkan makan puding itu lagi.
Aku memperhatikan sekelilingku. Menatap satu persatu wajah orang-orang yang berada di meja makan saat ini. Tuan Alvin, Dave, nona Daisy dan juga Ning. Mereka begitu terlihat santai. Hingga akhirnya kejadian itu terjadi. Nona Daisy seperti sedang meringis kesakitan. Sambil memegangi perutnya dengan kedua tangannya. Ia remas perutnya dan keringat dingin keluar dari tubuhnya.
" Aduh, perutku kenapa tiba-tiba mules ya?" ringisnya. Aku terkejut. Tuan Alvin dan Dave pun sama terkejutnya.
" Apa yang terjadi?!" tanya tuan Alvin, panik. Dave dan juga Ning ikut panik.
" Nona, ada apa?" Ning bertanya. Sementara diriku hanya diam tak banyak komentar apapun.
Dave segera meraih puding itu, lalu menciumi bau pada rasa puding yang kubuat. Membandingkannya dengan puding yang kubawa yang tanpa obat penggugur kandungan.
Dave mulai curiga denganku. Ia langsung mengambil puding yang kubuat, menyimpannya keatas meja makan. Lalu menatapku tajam.
" Jangan ke mana-mana, kau terciduk!" gertaknya. Membuatku diam tak bergeming. Takut. Aku ketakutan sangat. Melihat tatapannya yang begitu tajam. Aku tahu, jika ia sudah marah, maka yang ia lakukan adalah memberikan pembalasan untuk orang yang telah berbuat buruk padanya dan pada tuan Alvin dan nona Daisy.
" Sayangku, perutku sakit. Aku takut terjadi sesuatu pada janinku." rintihnya. Keringat dingin mulai bercucuran.
" Iya sayang, tidak akan terjadi sesuatu padamu. Percayalah!" hibur tuan Alvin saat ini.
Matanya mengarah padaku, ia marah sangat marah.
" Apa yang kau lakukan pada isteriku, nona Anisa?! Apa yang kau masukan ke dalam puding itu, hah?!!!" tanyanya sambil membentak diriku.
Aku diam, tidak bisa mengatakan apapun. Lututku lemas, semuanya lemas saat melihat nona Daisy meraung kesakitan. Kak Mawar kau sangat kejam. Melukai satu nyawa orang, demi ambisimu. Aku menyesal karena tidak pernah berani menentangmu.
" Jawab Anisa!!! Apa yang kau masukkan pada puding yang kau masak?!!" bentak tuan Alvin. Dan aku langsung terjatuh, duduk di lantai. Kedua kakiku tidak kuat menahan beban dari tubuhku yang tiba-tiba melemas.
" Maaf tuan, aku tidak ingin melakukan itu. Aku tidak berniat melakukan itu." ratapku menahan tangis.
" Tidak katamu? Kau ini benar-benar tidak waras ya?! Kalau kau tidak ingin melakukan ini, kenapa isteriku jadi begini?"
" Puding itu seharusnya aku buang, tapi Ning malah memberikannya untuk nona." Anisa menjawab.
" Mana aku tahu puding itu beracun atau tidak. Yang kulihat ada puding enak di pojok tempat penyimpanan panci, ya Ku bawa." sahut Ning, tak kalah sinis memojokkanku.
" Kau! Sudah aku katakan jangan berbuat macam-macam pada mereka! Kau tidak pernah menuruti kata-kataku!" hardik Dave.
Sekali lagi, aku telah berhasil mencelakai nona Daisy. Dan aku yang menang. Mawar pasti membebaskan Aisyahku.
🌲🌲🌲Dessy yulia Azzahra🌲🌲🌲
Mobil Ambulance datang, saat nona Daisy merintih kesakitan. Ia seperti sedang menahan sesuatu yang menyakiti perutnya. Dua orang perawat sibuk mengangkat tubuh Daisy. Setelah itu, mereka membawa Nona Daisy pergi menuju rumah sakit. Tuan Alvin pun ikut mengantar isteri tercintanya ke rumah sakit.
" Tidak kusangka. Cepat sekali gerakanmu. Membunuh dua orang nyawa sekaligus dalam satu hari, beberapa menit dan detik. Duarr!!! Mati." ujar Dave, dengan tatapan tajam. Saat mobil Ambulance sudah membawa Daisy pergi menuju rumah sakit.
Dave mendekatiku, kemudian berjongkok. Meraih pipiku menggunakan tangan kanannya.
" Kau pembunuh, Anisa Wulandari Hanafiah. Kau pembunuh!" desis Dave.
__ADS_1
Kata-katanya menusuk hatiku. Aku sadar. Aku sekarang adalah pembunuh berdarah dingin.
🌲🌲🌲 Bersambung 🌲🌲🌲