When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Gadis misterius.


__ADS_3

Keesokan paginya.


Dave menikmati sarapan pagi buatan ibu barunya. Yang ternyata masakannya jauh di atas rata-rata ibundanya.


" Bagaimana, Dave? Masakan ibu barumu sangat enak bukan?" Ayahanda Dave memuji masakan isteri barunya. Di genggam tangan kirinya lalu di kecupnya. Sungguh pemandangan tidak pantas sekali. Dave melirik ke arah ibundanya, dan menangkap perasaan tidak enak. Karena ibunda Dave bermuka masam.


" Aku sepertinya hafal rasa masakan ini." Dave mengecap-ngecap rasa masakan yang begitu familiar di lidah Dave.


Seketika raut wajah isteri baru ayahnya itu tiba-tiba kaku. Dan tidak lagi menampakkan kebahagiaan. Dan ia menarik tangannya yang tadi sempat tergenggam oleh ayah Dave. Dave tersenyum, ia berhasil membuat si empunya sadar.


" Sepertinya ini masakan khas dari restoran yang terkenal itu ya? eeum ... Di mana ya, bentar aku ingat-ingat dulu ya," ujar Dave yang mulai jahil kepada ibu barunya. Ibunda Dave yang sedari tadi diam, kini bisa tersenyum.


" Jangan mengada-ngada kamu, Dave! Ini benar-benar masakan buatanku! Jika ada yang mirip rasanya dengan yang kubuat, berarti itu hanya satu kebetulan saja," sela istri muda ayah Dave. Ia buru-buru menyela karena ingin di akui kelezatan masakan buatannya.


Dave tersenyum. Skak matt ibu tiri, Anda terpojok sekarang. Dave sedang membayangkan perubahan wajah ibu tirinya itu. Yang semakin kaku saja di padang mata.


" Tapi, apakah struk pembelanjaan dari restorannya ini bisa berbohong, bibi?" tanya Dave, ia menunjukkan bukti pembelian yang ia ambil di tong sampah, saat ibu tirinya membuang struk itu dengan cepat.


" Dua box steak daging sapi rasa barbeque. Dua box kentang balado. Dua box ayam pedas manis. Dan satu box telur balado. Di pesan pada hari ini, pukul enam tiga puluh. Itu artinya tiga puluh menit yang lalu bukan?" timpal Dave, dengan santun. Tak lupa ia sisipkan senyuman devilnya pada sang ibu tiri.


Satu ...


Dua ...


Tiga ...


" Itu bohong! Kau tahu kan sayang, jika Dave selalu berbohong?! Mana mungkin aku memesan makanan sepagi ini," kata isteri baru ayah Dave.


Dave tertawa terbahak-bahak. Ia tak kuat menahan tawanya saat isteri baru dari ayahnya seperti cacing kepanasan karena terpojok olehnya.


' Kena kau sekarang, ' batin Dave. Ia bersorak sorai penuh kemenangan.


" Sudahlah, bibi. Mengaku saja dan jangan di buat seolah-olah aku sedang berbohong." Dave tersenyum lagi.


" Kau ini, baru saja datang ke dalam rumah ini, sudah bikin ulah. Aku jadi tidak berselera makan! Aku mau istirahat saja di kamar," gerutunya, lalu pergi dari hadapan Dave. Dengan kaki yang ia hentakkan.


" Aku menang bukan, bibi tiri." sahut Dave dengan suara lantang. Di sambut suara cekikikan dari mulutnya saat ini.


" Dave! Jaga sopan santunmu. Dia ibumu Dave!" bentak ayah Dave. Sambil membersihkan makanan yang menempel di mulutnya.


" Ibuku hanya satu, Ayah. Dan dia adalah mommyku, Mommy Arsyila. Bukan bibi Kania," sahut Dave, sambil menggenggam tangan ibundanya.


Ayah Dave, tuan William Abraham tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ia merasa Dave bukanlah pria sembarangan. Dan Dave begitu sangat mencintai ibu kandungnya.


Acara makan pagi kali ini ternyata tidak harmonis. Dan Dave sangat menyukainya.


🍁🍁🍁


" Dave, tadi sikapmu sangat keterlaluan sekali," ujar sang ibunda, sambil menyentil telinga Dave.

__ADS_1


" Biarlah mom, memang itu yang aku mau. Mempermalukan dia di depan ayah dan orang-orang saat sedang makan." sahut Dave, sambil bergelayut manja pada ibundanya.


" Kau ini, selalu saja begitu." sentil ibunda Dave. Ia membelai rambut anaknya yang sedang memeluk tubuhnya dari belakang.


" Mommy, Dave sayang Mommy, " ucap Dave. Masih dengan ucapan manjanya.


" Hem, kamu ini. Makanya cepat menikah! Biar bisa bermanja-manja dengan isterimu, bukan ibumu,"


" Tidak! Jika aku menikah, lalu siapa yang akan menjagamu, Mom?"


" Kan Mommy bisa ikut sama kamu,"


" Ide yang sangat brillian ya?" ujarnya terkekeh.


Sepuluh menit kemudian, ia teringat bahwa ia harus pergi ke kantor. Dan bergegas pergi dari rumah ayahnya. Untuk bekerja.


 


 


Sesampainya di tempat kerja, ia mendapat laporan bahwa tuan Alvin beserta isterinya akan tiba hari ini di Indonesia. Bukankah itu merupakan kabar yang baik untuknya. Karena bisa melihat baby Aisyah yang lucu dan menggemaskan itu.


" Kira-kira, mereka tiba di Indonesia jam berapa, Flo?" Dave bertanya pada sekretarisnya.


" Pukul empat belas tiga puluh, Tuan. Apakah tuan Dave akan menjemput mereka?" jawab Flo, kemudian bertanya.


" Baik tuan, aku akan mengecek dulu jadwal meeting untuk Anda hari ini. Semoga tidak sepadat tiga hari yang lalu," ujarnya, terkekeh.


" Ya, semoga saja," sahut Dave. Yang kemudian duduk di kursi kerjanya.


🍁🍁🍁


Jam menunjukkan pukul dua belas siang, saat Alvin Daisy dan baby Aisyah sampai di bandara Indonesia. Mereka melangkahkan kakinya menuju arah pintu keluar. Hari ini, Daisy nampak bahagia sekali karena bisa menginjakkan kakinya lagi di negara yang di cintainya. Yaitu negara Indonesia.


Daisy, yang tengah menggendong baby Aisyah. Ia terlihat seperti kesusahan ketika menenteng tas koper miliknya. Sebagai seorang suami, Alvin dengan sigap membawa koper baju yang di tenteng oleh Daisy.


" Sayang, tunggulah di sini. Aku akan pergi ke toilet sebentar. Dan menelepon Dave agar menjemput kita di bandara." Alvin berkata, lalu ia bergegas pergi dari hadapan isterinya yang berdiri tegap sambil menggendong baby Aisyah yang kini berusia genap dua tahun.


Namun, tiba-tiba saja. Setelah Alvin pergi, ada seorang gadis cantik menghampirinya. Ia nampak seperti terengah-engah. Nafasnya tidak beraturan.


" Nyonya tolonglah aku," ujarnya panik namun memelas. Tampak dari wajahnya yang seperti ketakutan.


Daisy yang mudah iba akhirnya ia menolong gadis itu.


" Ada apa? Dan kau kenapa?" tanya Daisy sambil menggendong baby Aisyah.


" Aku sedang di kejar oleh pria tinggi berbadan kekar, Nyonya. Aku takut akan di bawa keluar negeri dan di jual olehnya," ratapnya pada Daisy.


" Kau di culik?" pekiknya. Pelan sambil menutup mulutnya dengan tangan kirinya.

__ADS_1


" Tolong aku Nyonya, aku mohon." katanya lagi. Kali ini menghiba.


Tanpa berfikir panjang Daisy menerima. Lalu menolongnya. Ia segera mengambil baju miliknya dan kacamata hitam dari dalam koper baju miliknya.


" Pakailah ini. Bersikaplah seperti tidak terjadi apa-apa. Cepat ganti pakaianmu, dan akan aku alihkan mereka yang mengejarmu itu," Daisy berkata, ia dengan cepat mendorong tubuh gadis cantik bermata belo itu.


Gadis itu mengangguk, lalu ia bergegas ke arah kamar mandi yang berada di bandara. Segera memakai baju pemberian Daisy. Dan tak lupa memakai kacamata yang Daisy berikan untuknya.


Namun, dari arah belakang. Ia di kejutkan oleh seorang pria yang tidak di kenalnya yang berusaha mendekap tubuhnya, lalu membenamkan wajahnya ke tengkuk leher miliknya itu. Berkali-kali lehernya di cium oleh pria yang kini sukses memeluk erat pinggang rampingnya.


" Aroma tubuhmu kenapa berbeda sekali sayang?" tanya pria itu. Sambil membenamkan wajahnya di leher gadis itu.


Siapa pria ini? Kenapa dia tiba-tiba seperti ini? batin gadis itu bertanya-tanya. Jantungnya berhenti berdetak. Ia pun terlihat sangat menikmatinya. Sentuhan ini yang ia inginkan. Bukan sentuhan keterpaksaan.


" Sayang, ke mana baby Aisyah? Anak kita? Kau titipkan pada siapa, hem?" tanya pria nakal itu, yang tak lain adalah Alvin. Suami dari seorang wanita bernama Daisy.


" Aisyah? Siapa Aisyah? Aku tidak tahu," ujar gadis itu. Membuat Alvin tercengang lalu melepaskan pelukannya. Dan dengan tangan yang bergetar, ia balikkan tubuh gadis itu.


" Siapa kau? Dan kenapa memakai baju istriku, hah?!!" tanya Alvin marah. Ia mendorong tubuh gadis itu.


" Maafkan saya, Tuan. Ini saya dapatkan dari nyonya yang sedang menggendong seorang bayi di luar," ujar gadis itu dengan gemetar. Karena melihat pria yang tadi bersikap manis, ternyata marah.


" Lalu kenapa kau berada di toilet pria? Kau mengincarku, hah?!"


Gadis itu melirik tulisan yang tidak ia baca sebelumnya. " Astaga," pekiknya sambil menutup mulutnya.


" Aku salah memasuki toilet, Tuan. Tolong maafkan aku," ucapnya sambil meminta maaf. Ia bungkukkan badannya.


" Terserah! Oh iya. Untuk kejadian tadi, aku harap kau melupakannya. Karena aku tidak tahu jika kau ini bukanlah isteriku. Sebab kau memakai baju isteriku, yang jelas-jelas aku mengenalnya, karena itu pemberianku saat isteriku berulang tahun di Singapura."


Gadis itu mengangguk. " Tenang saja, Tuan. Saya bisa menjaga rahasia. Hanya saja, saya ingin meminta tolong padamu."


" Apa itu,"


" Tolong bawa aku pergi dari sini. Aku sedang di kejar-kejar oleh pria bertubuh besar dan kekar. Aku akan di jual di Singapore. Dan aku takut tuan."


Alvin melihat kesungguhan dari gadis itu. Ia rupanya tidak sedang main-main saat mengatakannya. Dan ada sedikit rasa iba yang muncul di hatinya. Untuk bisa menolong gadis manis itu.


" Baiklah, ikut saya sekarang. Nanti akan ada asistenku yang menjemput. Dan kau bisa ikut bersamaku,"


" Sekali lagi, terima kasih tuan, Anda baik sekali."


" Tak perlu memuji. Cukup patuhi apa yang aku katakan, dan kau akan selamat."


Kemudian Alvin keluar sambil menarik lengan gadis itu. Menuju tempat dimana Daisy dan baby Aisyah menunggunya.


Bersambung.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2