When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Kejutan part 2.


__ADS_3

Aku terbangun tengah malam, saat mendengar suara berbisik dari balik selimut dalam kondisi lampu mati total. Aku yang pura-pura tertidur pulas, mendengarkan apa yang mereka bicarakan melalui telepon seluler.


" Bisakah kau membereskan masalah itu sendiri?! Saat ini aku tidak bisa pergi. Daisy tidak mengijinkanku pergi malam ini. Kerahkan saja seluruh anak buah. Jangan jadi manusia pengecut Dave, aku mengandalkanmu." Suara bariton itu terdengar setengah berbisik. Dia kira aku tidak mendengar percakapannya, hi hi hi dia salah.


Kulihat Alvin menutup teleponnya, lalu membetulkan selimut yang menutupi tubuhnya yang bertelanjang dada itu. Akibat kenekatanku tadi. Membiarkan tubuhku di jamah olehnya. Mungkin caraku terlalu naif, sehingga menggunakan cara ini.


Waktu itu ...


Saat Alvin pergi selama satu minggu...


Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Kulihat pesan itu, rupanya dari nomor ibu mertuaku. Kubuka dan kubaca pesan itu baik-baik.


[ Daisy, kamu lagi di mana? Hari ini Alvin akan pergi ke kota Bandung. Tolong cegah Alvin agar tidak pergi ke Bandung. Ibu tidak ingin Alvin terluka untuk yang kesekian kalinya]. Ibu Mega.


[ Memang kenapa, Bu?] aku bertanya.


[ Alvin akan ke Bandung, dan sepertinya ada masalah di markas mafianya. Ibu sudah berkali-kali menasehati, tapi Alvin tetap pada pendiriannya. Ibu mohon lakukan cara apapun, agar Alvin tidak jadi pergi ke Bandung. Ibu percaya sepenuhnya padamu]. Bu Mega.


Aku yang sedang panik, tidak sempat berfikir lebih jauh. Akhirnya, dengan berat hati aku memakai cara yang memalukan seperti ini. Berharap Alvin mengurungkan niatnya padaku.


Dan ternyata berhasil ....


🍁🍁🍁


" Siapa yang menelepon malam-malam begini, Suamiku?" aku pura-pura terbangun dari tidurku, saat Alvin hendak beranjak dari tempat tidur.


Alvin terkejut.


" Dave," jawabnya singkat.


" Mau apa dia? Bukankah masih ada hari esok? Bisakah?" ujarku, nyeleneh.


Huft.


Alvin terlihat sedikit kikuk saat aku melarangnya. Ada sedikit kelucuan hadir di hatiku. Kukira Alvin ini seorang pria yang sangat galak dan di segani, akan tetapi, ternyata dia suami yang penurut pada perkataan isterinya.


" Iya sayang, hanya saja Dave ingin aku hadir di acara pertemuan di hotel exco."


Ku yakin Alvin berbohong.


Aku segera berbalik padanya, menggenggam tangan Alvin erat. Ku kecup kedua punggung tangan Alvinku.


" Kau kenapa?" Alvin bertanya dan nampak serius melihat sikapku yang berubah menjadi alay, lebay.


" Aku tidak ingin kau tinggalkan, suamiku. Aku masih rindu padamu." ucapku penuh manja.


Alvin menghela nafasnya, huft!


" Baiklah, isteriku tercinta. Aku tidak akan pergi jauh darimu. Aku akan tetap di sini." Alvin berusaha menenangkanku seraya memeluk tubuhku erat. Alvin mendekap tubuhku dan akhirnya kami melewati malam yang penuh kehangatan.


🍁🍁🍁


Jam di dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Saat tangan kananku tidak menyentuh tubuh Alvin. Aku terbangun dan kupulihkan nyawaku yang hampir hilang akibat bangun dari mimpi indah.


Kulihat di sekeliling kamar. Gelap, sunyi dan senyap. Hanya terdengar suara dentingan jam yang selalu setia menemani setiap hari, setiap detik, setiap menit, dan juga setiap jam.


Aku bangkit dari tidurku, menghela nafasku. Kacau, semuanya kacau. Alvin benar-benar pergi saat aku tertidur dengan nyenyak. Aku marah bercampur sedih dan bayangan buruk pun terlintas di mataku.


Kuraih ponselku yang berada di nakas. Dan menekan angka-angka yang terhubung dengan ponsel Alvin.

__ADS_1


Berkali-kali aku menghubungi ponselnya. Nihil tak ada jawaban. Seketika tubuhku bergetar. Badanku menggigil, aku takut. Aku terlalu takut dengan keadaan Alvin sekarang ini.


" Alvin, kau di mana," ucapku lirih. Dalam ketidakberdayaan diriku, aku sampai tidak bisa tidur. Memikirkan Alvin yang sedang bergulat di luar sana.


Keesokan harinya ...


Matahari tengah menjulang tinggi. Cahayanya yang terik menyinari bumi. Burung-burung pun berkicau bersahutan, menambah indahnya pagi ini.


Sebuah mobil berwarna silver masuk ke dalam halaman rumah. Seluruh pengawal dan pelayan yang ada di sekitar rumah segera menyambutnya. Dan setelah kulihat, ternyata itu mobil milik Alvin. Alvin dan Dave turun bersamaan dari dalam mobil. Mereka masuk ke dalam rumah.


Saat Alvin memasuki rumah, ia melihatku sedang menonton televisi. Aku sama sekali tidak menyambut kedatangannya, aku marah. Benar-benar marah.


" Pagi sayangku," Alvin mendekatiku, lalu duduk di sampingku. Aku tidak menggubris ucapannya. Hanya melirik sekilas, lalu memfokuskan pandanganku ke layar televisi.


Alvin sadar, aku sedang marah padanya. Jika tidak, mana mungkin aku berekspresi seperti itu, acuh dan sangat cuek.


Dave yang sedang berdiri di samping tuannya hanya mengulum senyum.


" Sayang, kamu sudah makan belum? Kalau belum makan, kita makan sama-sama ya, kau mau kan?" Alvin terus berkata.


Aku tetap diam.


" Kamu marah padaku, hem?" Alvin bertanya padaku lagi. Dan aku tetap marah.


" Oke, kalau masih marah. Aku akan pergi lagi," sungut Alvin. Tapi, aku masih tetap diam.


Alvin pun bangkit, lalu ia pergi meninggalkan aku yang terus diam seperti patung.


Aku yang sedang emosi saat itu, hanya bisa menahan emosi kemudian aku masuk ke dalam kamar. Menunggu sesuatu yang tidak pasti.


Sesaat kemudian, pintu kamar terbuka. Ning masuk ke dalam kamar. Ia memintaku untuk segera bersiap-siap, karena Alvin sudah menyiapkan kejutan besar padaku.


Kakiku berpijak, memasuki ruangan yang luas dan megah. Di dalam ruangan itu, rupanya sudah di hias dengan rapih dan seindah mungkin. Agar aku bisa tersenyum kembali.


" Silahkan Anda masuk, Nona. Tuan sudah menunggu nona di dalam." ucap Ning, seraya membungkukkan badannya. Lalu ia pergi dari ruangan itu.


Aku membuka engsel pintu, saat kedua mataku terkagum-kagum karena di dalam ruangan rahasia itu, sosok Alvin tengah berdiri menyambut kedatanganku dengan senyuman manis di bibirnya.


" Masuklah kemari sayang, aku sudah lama menunggumu." Alvin mendekatiku, lalu mengamit kedua tanganku, mengajak aku masuk, dengan tatapan kosong tak percaya.


Alvin tahu bahwa aku benar-benar marah saat mengetahui dirinya pergi meninggalkan Daisy seorang diri.


" Duduklah sayang." ucap Alvin penuh kehangatan.


Aku pun menuruti perintahnya. Masih menunjukkan raut wajah yang kesal. Ia menyuruhku untuk menuruti perintahnya, sedangkan dia tidak menuruti kemauanku.


" Kau masih marah padaku, hem?" Alvin bertanya, seraya membungkukkan badannya. Lalu berbisik lagi, " Aku bawa hadiah ini untukmu." Alvin menyerahkan bunga tepat di sampingku. Aku menoleh kearahnya. Ia tersenyum.


" Jangan Anda kira aku akan luluh hanya dengan di beri bunga dan kejutan semewah ini, Tuan. Aku masih marah padamu." kataku, ketus.


" Lalu, kamu akan terus merajuk sampai kapan?"


" Entahlah, Tuan. Aku tidak tahu." jawabku, menatap dalam matanya.


Alvin menghela nafasnya. Berat dan sesak, sungguh ia tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk merayuku agar tidak merajuk lagi. Ini adalah kesalahannya, ia akui itu, namun, ia tidak bisa menolak gencatan senjata dari musuh terbesarnya, Raysa. Yang secara membabi buta menahan para warga yang berpihak padaku.


" Kau tidak tahu alasanku pergi malam itu. Jika kau tahu, pasti kau akan mendukungku pergi." ucapnya lirih.


" Jika aku tidak menginginkan Anda berhenti menjadi mafia, Tuan? Apakah Anda akan menuruti permintaanku?" tanyaku, menatap nanar mata indahnya.

__ADS_1


" Aku tidak bisa menjawabnya."


" Tuan," kerongkonganku seperti tercekat. Sakit. Mendengar ucapannya yang terdengar mengambang itu.


" Pergilah! Aku tidak membutuhkanmu lagi! Pergilah sebebas mungkin! Aku menikahimu hanya untuk membebaskanmu dari kungkungan pamanmu. Dan aku jamin, setelah kau pergi dari sini, paman dan bibimu tidak akan mengusik hidupmu lagi. Kau bebas sekarang, Daisy." kata-kata itu, menusuk hatiku. Dia lebih memilih pekerjaannya sebagai Mafia, ketimbang menuruti permintaanku agar mundur dari pekerjaan beratnya itu. Yang bertaruh nyawa sepanjang waktu.


" Tuan, kau." suaraku tercekat mendengar kata-katanya. Aku memandang matanya. Sekali lagi aku yakinkan hatiku saat ini. Cinta yang hadir saat ini, harus merelakan pergi terampas.


Aku bangkit, tak lama kemudian pergi berlari meninggalkannya. Meninggalkan cintaku, dan aku tak dapat merubah pendiriannya.


Aku berlari menaiki anak tangga. Memasuki kamar, lalu aku membereskan semua pakaianku. Memasukkannya dalam koperku. Kemudian aku pergi, meninggalkan seluruh kenangan bersamanya.


" Nona, Anda mau pergi ke mana? Apakah tuan muda mengetahui kalau Anda pergi?" Ning menghampiriku. Melihatku melangkah menuju pintu utama rumah ini.


" Aku bukan Nonamu lagi, Ning. Aku bukan istri tuanmu lagi. Jadi biarkan aku pergi." ucapku lirih.


" Tapi, Nona Anda ..."


Belum selesai Ning berkata, Alvin dengan cepat memotong pembicaraan Ning.


" Biarkan dia pergi dari sini, Ning! Dia bukan isteriku lagi! Aku sudah membebaskan dia!" Ujar Alvin, setengah berteriak.


Perkataan Alvin saat ini membuat Ning dan seluruh pelayan di rumah ini terkejut. Termasuk Dave.


Mereka tidak bisa berbuat banyak saat ini. Hanya bisa memandangi tubuh Nona mudanya pergi meninggalkan mereka dan tuannya.


Untuk saat ini, mereka hanya bisa diam dan menerima keputusan tuannya mengusir nona mudanya dari rumah.


" Pergilah bekerja! Dan jangan ada yang menyela keputusanku!" bentak Alvin.


Ning dan seluruh pelayan di rumahnya pergi meninggalkan Alvin yang sedang emosi.


" Brengsek!!!" Alvin memaki. Ia menendang apa saja yang berada dalam jangkauannya. Ia marah, dan sangat marah saat dirinya tidak bisa mencegah kepergianku.


Kedua bola matanya mengembun, ia menangis.


Namun, beberapa saat kemudian ...


" Hei! Lepaskan nona muda!" pekik seorang pengawal berbadan tinggi kekar, saat melihat ada mobil melintas lalu menarik paksa tubuhku.


Suara tembakan meletus di udara, sesaat Alvin menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres di luar.


Ia menyadari aku baru saja pergi meninggalkannya, pergi dari rumah ini.


" Daisy!" suara Alvin terkecekat.


" Tuaaaan ..., tolong aku!!! Mmmmmmph ...!"


Alvin segera berlari dari dalam rumahnya, berlari sekencang mungkin, namun ia tidak bisa mencegah mobil asing itu membawaku pergi.


Alvin melihat pengawal setianya tersungkur ke tanah. Matanya merah menyala, ia marah. Mengutuk kebodohannya mengusirku dari rumahnya. Yang tidak ia fikirkan, orang-orang terdekatnya saat ini sedang dalam ancaman dari para musuh bebuyutannya. Termasuk juga Daisy. Kenapa ia bisa teledor seperti ini?


" Dave, cepat kau bawa dia ke rumah sakit. Cepat tolong dia!!" Alvin memerintah.


" Sementara itu, aku akan mengejar mobil yang membawa Daisy pergi. Oh iya, hubungi anak buah kita yang berada di perbatasan kota. Suruh mereka menghadang mobil yang melintas keluar masuk perbatasan kota. Jika ada kabar tentang mobil itu cepat hubungi aku." sambung Alvin, berlari memasuki mobil sportnya. Lalu melajukan mobil sporty dengan kecepatan tinggi.


" Daisy, maafkan aku." gumam Alvin. Ia menyesal membiarkanku pergi. Hingga tak sadar nyawaku terancam. Fikirannya melanglang buana, untuk sesaat Alvin menepis fikiran buruknya terhadapku.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2