
" Bagaimana Dave, apa dia sudah di penjara?" suaraku menggema di ruang perawatan saat Dave datang pagi-pagi buta. Jam di dinding menunjukkan pukul lima pagi, saat Dave datang dengan wajah sembabnya.
" Kau habis nangis?" tanya Alvin. Ia memegang wajah Dave, lalu memperhatikannya.
Dave langsung menepis tangan Alvin. Mencoba bersikap ramah terhadapnya. Ia malu kalau ketahuan menangisi wanita seperti Anisa.
" Kenapa denganmu, Dave? Apa kau mulai mencintai Anisa?" tanyaku, seraya menunjuk arahnya.
" Sudahlah tidak usah di bahas. Yang penting kalian sudah tahu siapa Anisa itu. Ternyata dia orang suruhan Mawar. Dan lebih parahnya lagi, dia itu saudara kembar Mawar." Dave berkata. Memberitahukan siapa Anisa sebenarnya.
" Dari mana kau tahu itu?" tanya Alvin.
" Aku menelusurinya sejak pemukulan tempo hari yang menyebabkan dia di rawat di rumah sakit. Dia orang baik, hanya saja terpaksa melakukan itu, karena Aisyah." Dave menunduk. Ada rasa bersalah di hatinya saat ini. Karena tidak bisa menolong Aisyah.
" Siapa itu Aisyah? Dan kenapa dengan Aisyah?" tanyaku semakin penasaran.
Aku yakin, Anisa itu orang yang baik. Sangat baik. Walau berusaha berkali-kali ingin membunuhku, aku yakin itu ada penyebabnya.
Dave menghela nafasnya. Raut wajahnya berubah sendu. Dan yang kulihat, kedua matanya mengembun. Tapi, ia bisa mengalihkan perasaan sedihnya. Dave memang pria luar biasa hebatnya.
" Aisyah itu adik kandung Anisa. Sengaja di pisahkan oleh Mawar, karena ia tidak ingin cinta kasih orangtuanya terhadapnya berubah. Makanya, Mawar mengambil dan membawa serta Aisyah tepat di saat Aisyah di lahirkan. Dan dia malah menuduh Anisa yang melakukannya."
Alvin mengusap wajahnya yang penuh keringat dengan tangan kanannya. Antara percaya dan tidak percaya akan yang di katakan Dave itu padanya. Mantan tunangannya berani bertindak berlebihan. Dan yang di lihat olehnya saat masih menjadi tunangannya, sifat Mawar itu lembut dan tidak menampakkan sisi jahatnya.
Mawar wanita yang perfect di mata semua laki-laki. Namun, setelah ia memutuskan hubungan pertunangan, kini terlihat jelas kelakuan buruk yang di miliki Mawar Hanafi.
" Sekarang di mana Aisyah? Kau tahu itu?" Alvin bertanya, ia bangkit dan menuju tempat tidur di mana aku duduk bersandar.
Dave menggelengkan kepalanya, " Entahlah tuan, aku tidak tahu."
" Setidaknya kau harus tahu di mana Aisyah. Jangan sampai anak sekecil itu, menjadi bahan percobaan Mawar dan Anisa."
" Iya tuan, Tapi ...." belum sempat Dave berkata, telepon selular miliknya berbunyi. Dave menatap tulisan di layar ponselnya, ' Anisa'. Lalu kedua matanya menatap kearahku dan juga Alvin. Menunjukkan siapa yang menghubunginya.
" Angkatlah, siapa tahu penting." kataku, menyuruhnya mengangkat telepon dari Anisa.
__ADS_1
Dave tampak ragu, namun hati kecilnya berusaha menekan padanya bahwa ini berita penting.
" Halo, ada apa?" Dave menyapa, mengawali pembicaraan.
" Halo tuan, ini aku Anisa. Tuan tolong aku. Bantu aku menyelamatkan Aisyahku. Ia ... Ia di jual ke luar negeri oleh Mawar. Tolonglah tuan, jangan sampai Aisyah di jual ke pengepul penjualan organ tubuh manusia." sahutnya, merengek. Terdengar isak tangis dari bibirnya. Dan suaranya yang serak seakan-akan ia tidak sedang bercanda saat ini.
Dave menatap padaku dan juga Alvin. Lalu kami berdua mengiyakan dengan isyarat anggukan kepala.
" Baiklah, aku akan membantumu. Di mana kau sekarang?" Dave menyahut lagi.
" Aku sekarang berada di kantor polisi."
" Jangan gila!!! Jangan secepat itu kau menyerahkan diri, bodoh!!!"
Hening.
Tak ada jawaban dari Anisa.
Aku, Alvin dan juga Dave hanya bisa pasrah menunggu jawaban Anisa. Dan telepon pun terputus.
" Cepat kau kesana, Dave! Tolonglah juga Aisyah. Suruh semua anak buah kita berjaga-jaga di perbatasan kota. Dan hubungi juga semua anak buah yang berada di luar negara! Perintahkan mereka agar mencari Aisyah, sekarang juga!!!" ujar Alvin memerintah.
" Kau juga harus ikut serta, Suamiku. Temani Dave. Ini tugas terberat untuknya." sahutku.
" Tapi, jika aku tinggalkan kamu sendirian di rumah sakit, lalu Mawar datang ke mari ...,"
" Di sini ada berapa banyak penjaga? Ada dokter, perawat, dan staf pegawai rumah sakit. Tak usah di hiraukan. Aku akan baik-baik saja." kataku pada Alvin. Seraya membuat hatinya tenang.
" Baiklah jika itu maumu, aku dan Dave pergi dulu. Selalu kabarkan lewat ponsel, jika ada sesuatu oke?"
Aku mengangguk.
Tak lama kemudian, Alvin dan Dave pergi meninggalkanku sendiri di kamar rumah sakit.
🌲🌲🌲Dessy yulia Azzahra🌲🌲🌲
__ADS_1
Seorang anak kecil berusia sekitar empat tahun di paksa menyeretkan kakinya dengan kasar oleh dua orang pria tidak di kenalnya. Ia di bawa ke tempat asing. Dan memaksanya mengikuti langkah mereka yang begitu cepat. Ia begitu ketakutan berharap ada seseorang yang membantunya saat ini.
" Dia siapa?" tanya seorang wanita, bertubuh besar, dengan wajah yang terlihat sangar. Tampak memegang wajah Aisyah yang sedang ketakutan.
" Namanya Aisyah. Dia di serahkan pada kami melalui Mawar. Kau tahu Mawar Hanafi?" jawab pemuda bertubuh kekar, berotot dan berjanggut lebat.
" Hem, wanita serakah dan sombong itu. Mau diapakan anak ini?" tanyanya lagi, sambil menjilati kelima tangannya.
" Terserah Anda, nyonya. Dia hanya mengatakan bawa jauh anak ini. Karena dia tidak ingin melihatnya lagi."
Wanita bertubuh besar dan menyeramkan itu tertawa terbahak-bahak. Ia tertawa lepas seakan-akan ada hal lucu yang ia dengar. Membuat Aisyah menjadi semakin ketakutan.
" Oke. Bawa anak itu kemari! Cepat!" perintahnya. Dan Aisyah pun telah berpindah tangan.
" Ada apa?!"
" Mana bayaran untuk kami?!"
" Kalau soal uang, kalian pasti cepat!" rutuknya sambil merogoh dompet besar miliknya. Dan menyerahkan segepok uang berwarna merah pada dua orang pemuda tadi yang membawa Aisyah.
" Pergilah! Dan bawakan lagi yang seperti ini!"
" Baiklah nyonya. Terima kasih, kami permisi." pamit mereka. Dan pergi setelah menerima bayaran yang cukup besar.
Wanita tua itu memandang wajah Aisyah yang sedang ketakutan saat wanita itu menatap wajahnya.
Entah ada perasaan iba dari mana, tiba-tiba muncul dan menyentuh relung hati wanita tua bertubuh besar itu. Saat menatap bening bulir indah mata Aisyah yang polos dan ketakutan.
" Tenang saja, Nak. Aku tidak akan melukaimu. Aku ini wanita yang baik. Kau aman bersamaku." bisiknya, seraya mendudukan Aisyah di pangkuannya. Lalu menciumi kedua pipi Aisyah.
" Akan aku jadikan kau anakku. Tapi, setelah kau besar nanti, kau harus menghasilkanku uang yang banyak. Kau akan aku pekerjakan di sebuah tempat lokalisasi wanita malam." bisiknya lagi lalu tertawa terkekeh-kekeh.
Kini nyawa Aisyah benar-benar terselamatkan, namun, kedepannya ia harus rela menjadi wanita pemuas ****. Bila kelak ia beranjak remaja.
🌲🌲🌲Bersambung🌲🌲🌲
__ADS_1