
PoV Dave.
Bila kukatakan jika Kayra memang benar-benar cantik, itu memang benar. Ia gadis yang sangat cantik. Kecantikannya ibarat aktris telenovela terkenal yang sering memerankan peran protagonis dalam serialnya yang berjudul Maria.
Ia berkulit putih, bersih, dan juga merah merona. Warna matanya yang biru muda, di tambah dengan bentuk mata yang kecil menyeripit, membuatku tak henti memandang wajahnya. Bentuk tubuhnya yang ideal, dengan tinggi badan yang ideal pula, mampu membuat dia di juluki si model seksi. Dan itulah daya tarik dirinya.
Kulihat dia sedang duduk di sampingku, memainkan jari jemarinya yang lentik dan sungguh membuatku ingin menyentuhnya sekali lagi. Jemarinya sangat lembut bila kusentuh. Wajahnya mengingatkanku pada Anisa. Anisa oh Anisa. Kenapa namamu selalu ada dalam ingatanku.
" Dasar beruang kutub!" umpat Anisa kala itu. Saat aku pertama kali mencium bibir tipisnya.
Waktu itu, aku hanya iseng padanya. Sebab dia mengatai aku beruang kutub, padahal memang benar. Aku terkekeh geli. Sumpah, saat itu aku juga baru merasakan indahnya berciuman walau hanya sekecap saja.
Meski ia telah mengkhianati kepercayaanku. Aku tetap mencintainya sampai kapanpun. Namun, Kayra, ia mampu membuatku melupakan Anisa, sedikit demi sedikit.
" Kau khawatir?" aku bertanya padanya. Saat itu ia melirikku tanpa berkata apapun padaku. Dan di saat kulihat matanya. Ooh, bulu matanya yang lentik. Aku sungguh menyukai itu. Matanya cantik.
Kudengar ia menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Ia mungkin khawatir karena tidak bisa menemani ibunya saat menjalani pengobatan di rumah sakit di Singapore. Rasanya ingin sekali aku terus menemaninya. Apa aku harus melamarnya?
" Tuan, bisakah aku ikut menemani ibuku disana? Aku takut, jika nanti terjadi sesuatu pada ibuku." katanya, dengan desahan suara yang begitu lembut. Membuatku tak kuasa ingin segera memeluknya. Tapi, jika tanpa alasan, ia pun enggan untuk aku peluk.
" Sungguh kau mau ikut? Tidakkah kau sabar menunggunya di sini? Di Indonesia?" kataku, dengan nada yang sedikit takut. Takut jika dia tahu maksudku agar dirinya tidak ikut ke Australia.
" Untuk apa aku di Indonesia, Tuan? Aku tidak punya siapa-siapa lagi disini. Aku hanya punya ibuku." lirihnya dengan tertunduk sedih.
" Kan ada aku," jawabanku. Saat itu aku benar-benar bodoh. Dia pasti mengira jika aku benar-benar sedang mengejar cintanya.
__ADS_1
Sedetik kemudian, dia menoleh kearahku. Lalu tersenyum dan tawanya pecah, diiringi dengan tawa yang di tekan. Akhirnya ia menangis. Lah, kenapa?
" Anda terlalu berlebihan, Tuan. Aku tak pantas untukmu, apalagi untuk lelaki yang sifatnya sebaik dirimu." ucapnya lirih. Lagi-lagi ia tertunduk.
Kuhentikan mobil yang sedang melaju. Menoleh kearahnya dan meraih pundaknya agar aku dan dia saling bertatapan. Dengan perlahan, ia menatapku. Netranya basah.
" Kau menangis lagi, kenapa?" tanyaku, panik. Itulah aku, jika wanitaku sedih.
" Kau pria yang baik, Tuan. Aku tak pantas untukmu," ujarnya. Kali ini aku paham kata-katanya. Ia menangkap perasaan yang aku rasakan padanya.
Hening.
Dan kecewa.
Marah?
Aku pria yang tidak terbiasa dengan penolakan. Dan rasanya sungguh menyakitkan hatiku.
" Tuan, antarkan aku ke bandara. Aku ingin menemui ibuku. Menemaninya selama ia di Singapore." pintanya, tak mampu kupandang wajahnya. Aku marah padanya.
" Terserah," kataku acuh. Kulaju mobil yang sedari tadi berhenti. Lalu kupacu dengan kecepatan tinggi.
" Dia menolakku," batinku menggerutu kesal.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Cinta itu tak bisa di paksakan Dave, tidak bisa. Meski kau bayar berapapun, cinta tak bisa kau beli dengan uang. Sebab, cinta yang sejati itu berawal dari perasaan dua hati manusia yang bertemu, lalu mengikat sumpah setia. Dan saat itulah cinta sejati akan datang dengan sendirinya. Meski ia juga mencintaimu, mungkin ayah dan ibumu, mereka tidak akan setuju dengan hubungan itu. Mengingat Kayra hanyalah gadis penghibur. Dan tubuhnya juga mungkin telah di jamah oleh semua lelaki yang biasa membooking dirinya. Dan kau Dave, kau juga tidak ingin bukan mendapatkan istri bekas orang?
Kutatap fotonya saat terakhir kali ia pergi meninggalkan Indonesia. Sengaja kufoto dirinya yang sedang membelakangi diriku. Aku hanya ingin melihat fotonya dari arah belakang.
Namun, getar cinta di hatiku saat ini belum juga menghilang. Dan rasanya aku ingin selalu berada di dekatnya. Ooh Tuhan, kenapa perasaan ini begitu menyakitkan. Jika ini sakit, tolong berikan obat penawar rasa sakitnya. Agar aku bisa seperti biasa, beraktifitas normal, layaknya orang-orang yang tidak mengenal cinta.
" Dave," suara lembut seorang wanita membuyarkan lamunanku. Dia ibuku, ibu yang selalu mendukung apapun yang kulakukan.
" Iya, mom. Ada apa?" tanyaku sambil berbenah, aku menggeser tubuhku agar ibuku bisa duduk di sebelahku.
" Kau sedang apa? Ibu lihat dua hari belakangan ini, kau nampak murung, gundah gulana. Ada apa? Coba ceritakan pada ibumu ini," katanya membelai rambutku.
" Dave sedang jatuh cinta, mom." kataku tanpa basa basi pada ibuku
Ibuku terkejut. Mulutnya menganga lebar. Dengan kedua tanganku, kututup mulutnya agar hewan terbang seperti serangga tidak masuk kedalam mulutnya saat ini.
" Dengan siapa?" tanya ibuku, dengan suara bahagia.
" Ini orangnya, Mom." kataku, lalu kuserahkan fotonya yang berada di layar ponselku.
Ibuku meraih ponsel milikku. Ia mengamati foto gadisku itu. Ia nampak berkerut kening dan terus memperhatikan foto gadisku.
" Cantik, namanya siapa Dave?" tanya ibuku lagi.
" Kayra. Kayra Anisa Maria."
__ADS_1
Bersambung.