
Mencari sesuatu yang tidak tahu arah dan tujuan di mana, memang sulit. Tadinya baik Alvin dan juga Dave, seperti putus asa saat ia tak bisa mencari keberadaan Aisyah. Berkali-kali mereka bertanya pada orang-orang yang mungkin pernah melihat sosok Aisyah, bermodalkan sebuah foto yang di berikan Anisa.
Seharian penuh mereka mencari. Hingga keesokan harinya, ada titik terang muncul ke permukaan. Mereka mendapat kabar bahwa Aisyah di bawa oleh dua orang pria yang berprofesi sebagai pengepul.
Aisyah di bawa ke kota J. Di sana ia di jual lagi kepada seorang wanita tua yang memang terkenal sebagai mucikari penjual ****. Hancur hati mereka berdua mendengarnya. Aisyah jatuh ke tangan yang salah. Di jual ke wanita seperti itu sama saja masuk ke lubang buaya. Terjebak selamanya.
" Cepat katakan padaku, di mana rumah nyonya itu?! Kalau kau masih sayang nyawamu sendiri!!!" Dave mencengkeram kerah baju pria pengepul itu. Yang tak lain bernama Saepul.
" Saya tidak bisa memberitahukan padamu, Tuan. Saya pasti akan di incarnya bila memberitahu alamat tempat tinggalnya." tolak pria itu, yang bernama Saepul.
" Dasar bodoh! Jika kau berpihak pada wanita itu, kau akan mati di tanganku saat ini juga, tetapi jika kau memberitahukan pada kami di mana tempat tinggal wanita itu, kau akan selamat dari orang-orang yang akan mengincar nyawamu. Sekarang pilih yang mana? Mati di tanganku, atau mati di tangan wanita itu yang jelas-jelas kau akan kami lindungi!!" Dave menjelaskan pada Saepul.
Wajah Saepul saat ini sudah bengkak dan berdarah. Di sudut bibirnya mengalir cairan berwarna merah, ia habis di pukuli oleh Alvin dan juga Dave.
Saepul hanya bisa diam, diam dan diam. tak bisa berkata apa-apa. Baginya ketika ia sudah berjanji pada seseorang ia harus menepati janjinya.
" Cepat katakan padaku! Jangan kau sembunyikan orang jahat, Bedebah!!!" maki Dave, yang sudah tidak bisa menahan amarahnya. Dave hafal orang-orang yang mempunyai sifat seperti ini. Rela mati demi bos yang di patuhi.
" Kau punya isteri?" tanya Dave hati-hati. Ia mengambil rencana kedua dari rencana sebelumnya.
" Punya, Tuan. Isteri beserta anakku ada di kampung." jawabnya bergetar.
" Kalau kau sudah mempunyai isteri, berarti kau tahu kan rasanya jika kehilangan seseorang? Apalagi seseorang itu seorang anak kecil. Bagaimana jika anak kecil yang kau jual itu adalah anakmu? Apa kau akan mencarinya, atau diam saja saat kau mengetahui anakmu di culik oleh preman seperti dirimu? Kau tahu perasaan anak kecil saat di bawa paksa oleh orang-orang tak di kenal seperti dirimu? Kau bisa peka tidak?!!!" Dave menjabarkan sesuatu pada Saepul. Sesuatu yang nyaris membuat hatinya tersentuh.
__ADS_1
Saepul mengingat kembali anak dan isterinya saat ini. Seketika airmatanya mengalir dari sudut matanya. Saepul menangis. Ia menangis sesenggukan merindukan isteri dan anaknya.
" Nah cepat katakan padaku, di mana rumah dari nyonya yang membeli Aisyah? Jika kau benar-benar merindukan anak dan isterimu." Dave menyerang dengan kata-kata.
" Baiklah, akan aku katakan. Aku mengatakan ini karena teringat dengan anakku. Umurnya sama dengan anak yang ku jual, kemarin." Saepul menangis.
" Baiklah, cepat katakan padaku!!! Jika kau sayang pada anakmu!!!"
" Dia itu tinggal di kota J. Di komplek perumahan Y. Yang Bernama Nyonya Liem. Semua orang yang tinggal di kompleks perumahan itu, mengenal nyonya Liem. Seorang mucikari ilegal, yang menjual wanita di bawah umur untuk di pekerjakan sebagai wanita penghibur." ucapnya terbata-bata.
" Kurang ajar!" Dave mengumpat. Ia geram mendengar Saepul mengatakan jati diri nyonya Liem.
" Baiklah, untuk perlindunganmu, saat ini kau ikut dengan kami. Dan tunjukkan di mana letak rumahnya. Dan kami juga akan menjamin keselamatan isteri beserta anakmu di kampung." kata Dave, meyakinkan.
Tak lama kemudian mereka bertiga langsung meluncur ke kota J, kota di mana Nyonya Liem tinggal.
☘️☘️☘️Dessy Yuliarti Azzahra☘️☘️☘️
Sementara itu di rumah sakit.
Aku tengah tertidur sesaat sebelum salah satu perawat yang bertugas memeriksa kesehatanku datang. Sepertinya perawat itu masih baru. Karena aku tidak pernah merasa bertemu dengannya.
Dan saat aku melihat kedua matanya, rasanya aku seperti melihat seseorang yang kukenal. Tapi, aku lupa di mana aku pernah melihatnya.
__ADS_1
" Nona Daisy ya?" sapa perawat asing itu, yang kulihat di papan nama yang menempel di baju dinasnya bernama Sofia.
" Iya, suster." balasku dengan senyuman di bibir. Kubuat seramah mungkin, agar perawat itu tidak segan padaku.
" Hari ini ada penyuntikan obat ya ke dalam cairan infusan. Biar langsung masuk ke dalam tubuh."
" Silahkan, Sus. Aku tidak keberatan." kataku, padanya.
Oh iya, aku di larikan ke rumah sakit itu karena aku berpura-pura keracunan. Padahal aku tidak kenapa-napa. Lalu kenapa aku di infus? Itu karena aku masih merasakan mual dan muntah yang begitu mengganggu. Jadi Alvin berinisiatif agar aku di infus saja, biar ada asupan makanan melalui cairan infusan.
" Nona Daisy, ke mana suaminya? Apa dia sedang sibuk?" tanyanya, ramah.
" Iya, sedang sibuk bekerja, Sus. Kalau Suster sendiri, huam ... Sudah punya anak berapa?" kataku lalu bertanya.
" Kebetulan masih belum menikah. Masih jomlo nih," katanya. menatap wajahku.
" Ooh begitu." ucapku, sambil menguap. Tiba-tiba saja mataku ini terasa berat dan mengantuk. Dan setelah itu aku tidak sadarkan diri. Sepertinya aku di beri obat tidur oleh perawat wanita itu.
Setelah di rasa aku sudah tidak merespon ucapan perawat tadi. Tubuh Daisy di angkatnya. Lalu di pindahkan ke tempat ranjang beroda.
" Ha ha ha ... Kau akan kukirim ke neraka Daisy!!! Ku kirim kau ke tempat yang tidak pernah kau jamah. Tempat di mana kau menjadi wanita penjual ****." ujar perawat wanita itu. Ia tertawa lebar. Lalu membuka masker di wajahnya. Ternyata dia adalah Mawar Hanafi. Ia rupanya mempunyai mata-mata yang siap mengintai mangsa.
☘️☘️☘️Bersambung☘️☘️☘️
__ADS_1