
Dua orang pria terlihat seperti orang kebingungan saat melintas di depan Daisy yang sedang duduk di kursi panjang, yang berada di ruang tunggu. Daisy tidak curiga dengan dua pria itu. Dia asik bercengkrama dengan baby Aisyah yang sudah bangun beberapa menit yang lalu.
" Aisyah sayang, sudah bangun ya nak? Aisyah lapar ya?" ujar Daisy sambil mencium kedua pipi Aisyah yang tembem.
Lalu.
" Nyonya, apakah Anda melihat seorang perempuan melintas melewatimu?" tanya pria pertama, pria yang bertubuh kurus tapi, berotot. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan.
" Tidak. Aku bahkan tidak melihat seseorang melintas di depanku dari tadi kecuali kalian berdua," sahut Daisy, sambil mendekap Aisyah erat. Takut terjadi sesuatu pada Aisyah.
" Baiklah kalau begitu, kami mohon pamit. Terima kasih Nyonya atas waktu yang di berikan nyonya untuk menjawab pertanyaan kami. Selamat siang," ujar pria satunya sambil menarik lengan pria kurus berotot. Mereka pun pergi meninggalkan Daisy dan Aisyah.
Beberapa menit kemudian, Alvin datang dengan menarik lengan seorang gadis. Dan gadis itu nampak sedang kesakitan saat Alvin memegang tangannya.
Alvin berdiri di hadapan Daisy. Memandang wajah isterinya seperti hendak meminta kepastian kenapa baju pemberiannya di berikan cuma-cuma pada seseorang yang belum di kenalnya.
" Kenapa?" tanya Daisy, dengan mata polosnya.
" Mulai deh, jangan tiba-tiba polos di hadapan orang ya," sungut Alvin. Ia cemberut.
" Nanti saja, ia sedang tidak aman di sini. Sebaiknya kau lindungi dia." kata Daisy. Sambil memberikan susu botol pada Aisyah.
" Lalu, siapa yang akan melindungimu nona Daisy?"
" Kamu Sayangku,"
__ADS_1
Mendengar penuturan Daisy, Alvin hanya bisa pasrah sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Daisy memang cantik, tapi ia benar-benar polos. Ini yang Alvin suka darinya.
" Tuan, Nyonya, mari kita pergi dari sini. Aku masih belum aman jika berada di bandara ini." Gadis itu menyahut. Ia seperti ketakutan sekali. Sebelum ia bisa bebas dari belenggu kedua pria yang mengejarnya itu.
" Kau tenang saja, Nona. Kau berada di orang yang tepat. Suamiku ini seorang Mafia sejati," sahut Daisy, sambil menaik turunkan alisnya ke atas dan ke bawah, di selingi senyuman khasnya.
" Tapi, Nyonya aku masih takut jika mereka curiga padaku," ia ketakutan.
" Tenang. Kita tunggu asistenku datang. Dia yang akan melindungimu nanti," tukas Alvin. Ia berkali-kali mengecek ponselnya. Berharap Dave segera datang untuk menjemputnya.
" Iya, semoga saja ia cepat datang." ujarnya ragu.
Dua puluh menit kemudian. Saat jam menunjukkan pukul empat belas siang. Dave datang dengan wajah sumringah menyambut tuan dan nona muda sambil membayangkan bisa bertemu dengan Alvin junior. Walaupun ia berjenis kelamin perempuan. Dave segera mendekati tuannya. Menyapa mereka berdua.
" Tuan, maaf menunggu lama. Tadi ada acara mendadak yang tidak bisa di tinggal," ujar Dave, sambil menarik koper milik tuannya itu. Namun, kedua matanya tertuju pada baby Aisyah.
" Sudahlah, kau belum ahli meraih hati anak-anak. Lihat, Aisyah pun sampai menangis karena kamu," sahut Alvin, terkekeh.
" Belajar dulu meraih hati wanita. Baru kau bisa meraih hati Aisyah," timpalnya lagi. Membuat Dave cemberut beberapa senti.
" Tuan, baru beberapa menit saja bertemu, Anda sudah pandai bermain kata padaku. Belajar darimana kah Anda, Tuan? Apakah Nona yang mengajarimu?" cibir Dave.
" Hahaha, kau pun sudah bisa menebaknya bukan," ledek Alvin. Ia melirik kearah Daisy.
" Tidak lucu!" sahut Daisy, kemudian pergi meninggalkan mereka. Karena marah.
__ADS_1
" Hem rupanya belum berubah ya, Tuan?" tanya Dave, saat melihat sikap Daisy yang masih sama seperti dulu.
" Ya, bahkan lebih parah dari itu. Dia berubah jadi wanita yang sungguh cerewet sekali,"
" Benarkah? Hem, saya jadi tidak sabar untuk menggoda Nona Daisy,"
" Eeh, tidak boleh! Hanya aku yang boleh menggodanya. Kau tidak berhak menggoda istri orang!"
" Hahaha, tuan, Anda lucu sekali."
" Jika mau menggoda wanita, tuh goda saja gadis yang berada di belakangmu, Dave. Dia sangat membutuhkan kehangatan seseorang. "
Dave melirik ke belakang, saat Alvin mengatakan hal itu. Lalu mendekati kearah wanita yang di bicarakan Alvin. Wanita itu sepertinya dia mengenalnya, tapi entah di mana ia pun tak tahu.
" Nona, siapa Anda?" tanya Dave, lalu membuka kacamata yang di pakai wanita itu.
Dave terkejut. Sangat-sangat terkejut saat melihat gadis yang berada di hadapannya itu adalah Kayra.
" Kau," pekik Dave.
" Tuan, tolonglah saya. Saya mohon lindungi saya dari kejaran dua pria pesuruh yang akan membawa saya ke Singapore hari ini," rengek gadis itu.
" Baiklah. Ikut denganku. Dan kau akan aman." kata Dave, berusaha meraih tangan gadis itu, lalu menggenggam tangan gadis itu erat. Sambil menarik tas koper milik Alvin dan juga Daisy.
Gadis yang bernama Kayra itu hanya bisa diam saat Dave menggenggam tangan milik gadis itu. Sebuah genggaman yang memberikan rasa nyaman di dalam hatinya. Dan ia sangat menyukainya. Menyukai dalam artian ia telah menemukan seseorang yang bisa ia jadikan sandaran hatinya dan pelindung baginya, dari incaran para om-om hidung belang dan mata keranjang. Dan ia berharap Dave akan menjadi kekasihnya bahkan suaminya, belahan jiwanya.
__ADS_1
Bersambung.
🍁🍁🍁