When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Tragedi Pembalut.


__ADS_3

Aku duduk gelisah menahan darah yang terus keluar tanpa henti. Ini karena baru awal aku datang bulan. Tetapi, tidak biasanya yang keluar banyak seperti ini.


Mana pembalutnya tinggal satu lagi. Harus beli ke mana aku malam-malam begini? Pasti sudah pada tutup. Benar-benar gelisah. Takut bocor, dan jika sudah bocor pasti pria yang berada di sampingku panik tidak ketulungan. Aku berkali-kali menghembuskan nafas.


Alvin yang sedari tadi memperhatikanku terus, ia tidak berani mengatakan apapun padaku. Mungkin dia kira aku masih marah padanya gara-gara sudah membuang semua stok pembalut yang kusimpan di lemari. Namun, melihat aku yang sampai tengah malam belum juga tidur dan terlihat gelisah, ia langsung memeluk tubuhku dari arah belakang tubuhku. Karena aku tidur dengan posisi membelakanginya.


Alvin memelukku. Seraya mencium leherku serta rambutku. Lalu mendekapnya erat sekali. Sesekali terdengar deru nafasnya di telingaku, membuatku geli saat mendengar nafasnya.


" Kamu kenapa, Sayang?" Alvin akhirnya bertanya.


Aku diam. Tidak mau menjawab. Dia laki-laki yang over protektif sekali. Jika salah berbicara maka ia akan bertindak di luar nalar manusia.


" Kau tidak mau berbicara? Masih marah padaku gara-gara insiden pembalut itu?" tanyanya lagi.


" Hem," ku jawab dengan sebuah deheman saja. Kuharap dia mengerti aku tidak ingin di ganggu.


" Kau tahu saat aku membuka pembalut yang kau simpan di laci lemari? Waktu itu aku sangat terkejut dan takut. Ning bilang, itu adalah roti milikmu. Dengan kata lain, itu adalah makanan. Tetapi, saat aku buka. Isinya bukan seperti makanan roti pada umumnya." Alvin menjelaskan.


Ia membayangkan kejadian saat tragedi pembalutku di buang olehnya. Oh benar-benar said!


Aku masih diam. Berusaha menahan darah yang terus mengalir. Dan berusaha mendengar perkataan suamiku yang tingkahnya terlalu absurd.


" Jadi aku buang saja. Aku tidak mau isteriku yang cantik, baik, lemah lembut, pengertian dan perhatian memakan roti yang tidak jelas asal usulnya itu. Bagaimana jika nanti kau tersedak akibat roti yang kau makan itu, hem? Aku yang khawatir sekali." katanya sembari membalikkan tubuhku agar ia bisa melihat wajahku.


Ingin rasanya aku tertawa. Ternyata Ning mengatakan pembalut itu roti. Oh Ning, kau itu jangan pernah melucu di hadapan orang yang kini menjadi suamiku. Ia akan menanggapinya dengan serius, bukan candaan. Aku tersenyum.


" Kau sudah memaafkan aku?" tanyanya, mungkin karena melihatku tersenyum.

__ADS_1


" Sedikit." singkat padat jelas dan terdengar menyebalkan mungkin jawaban yang aku katakan.


" Huft. Baiklah tak masalah asal malam ini kau memuaskanku lagi, Sayang." katanya genit, menggodaku.


Aku membelalakkan mataku. Terkejut. Aku terkejut dengan ajakannya. Bagaimana bisa aku melakukan hal itu, sementara aku sedang mengalami datang bulan. Oh tidak! adakah yang bisa memberi pengetahuan tentang kewanitaan padanya? Please aku mohon sebelum aku menjadi gila karena tingkah Alvin yang seperti orang bodoh itu.


Aku mendorong tubuhnya agar ia menjauh dariku. Menolak ajakannya untuk berhubungan intim di saat aku sedang datang bulan.


" Kau, kenapa menolaknya?!!" Alvin geram. Benar-benar geram. Ia ingin memaksaku melakukannya. Akan tetapi, terdengar ketukan pintu dari luar, dan suara yang ia sering dengar. Suara Dave, sekretaris andalannya.


" Aah shit!!! Mau apa dia malam-malam mengetuk pintu?! Mengganggu kencanku saja!!!" sahutnya menggerutu. Sedangkan aku bisa bernafas lega.


Alvin bangkit lalu menuju pintu kamarnya dan membukanya. Dengan muka malas, Alvin menatap wajah Dave yang terlihat kusut dan sepertinya lebam akibat perkelahian tadi dengan preman pemabuk saat menyelamatkan wanita misterius itu yang bernama Icha.


" Ada apa? Kau tahu ini sudah malam. Lihat jam dinding, sudah pukul dua malam itu artinya apa?!" Alvin mencerca Dave yang tertunduk.


" Maaf tuan, aku mengganggu karena ingin memberikan pembalut untuk nona muda." jawabnya sambil menundukkan wajah lebamnya.


" Benarkah itu, tuan Dave?" tanyaku, saat langkah kakiku mendekatinya.


Dave menganggukkan kepalanya, lalu merogok saku jasnya, mengeluarkan pembalut dari saku jas yang ia kenakan.


Kedua mataku berbinar indah sekali malam ini. Meski pembalut itu hanya lima bungkus, tetapi bisa menyelamatkanku dari kebocoran kanan kiri depan belakang.


Alvin melihat perubahan emosi saat melihat ekspresi ceria di mataku. Ia ikut tersenyum. Tak sia-sia menyuruh sekretaris andalannya untuk menemukan datang bulan dan pembalut. Alvin langsung menepuk pundak Dave, sebagai penghargaan atas kerja kerasnya malam ini.


Aku segera mengambil pembalut yang berada di tangan Dave. Membawanya dan menyimpan sisanya. Lalu aku menuju ke kamar mandi untuk mengganti pembalut yang baru Dave beli.

__ADS_1


" Terima kasih Dave, kau membantuku malam ini. Kau membuat nona muda kembali tersenyum. Sekali lagi terima kasih." ucapnya sambil menyerahkan beberapa uang kertas berwarna merah sebagai ungkapan terima kasih.


" Tidak usah, Tuan. Saya ikhlas menolong tuan. Hanya saja yang saya fikirkan sedari tadi. Mengapa wanita bisa seribet itu ya?" Dave menolak, kemudian berkata.


" Ribet? Maksud ucapanmu apa? Kau kan belum pernah merasakan jatuh cinta dan belum pernah pacaran, jadi aku maklum saja jika kau bilang wanita itu ribet sekali." Alvin berkata sambil tersenyum.


" Benar tuan, wanita itu ribet. Tidak seperti pria pada umumnya. Dia harus memakai pembalut yang tadi aku bawa. Untuk apa coba? Silahkan anda fikirkan. Untuk di makan? Tidak mungkin kan? Lalu jika di gunakan, dia pakai di mana?" Dave berusaha menjelaskan hal yang membuatnya penasaran dan sekali lagi terdengar sangat bodoh di telingaku.


Aku tertawa geli mendengarnya. Meski air di kran kamar mandi mengalir. Dasar memang dua pria yang tampannya tidak ketulungan ini, benar-benar seperti orang bodoh. Harus mendapatkan edukasi tentang kewanitaan ini. Agar mengerti wanita itu seperti apa. Karena wanita bukan hanya ingin di mengerti akan tetapi ah sudahlah nanti jadi syair sebuah lagu.


Aku keluar dari dalam kamar mandi dengan perasaan dan hati yang tenang. Kupasang wajah seinnocent mungkin. Kusunggingkan senyuman di bibir manisku. Aku lega.


" Dave terima kasih sudah membawakan pembalut untukku. Akan tetapi, kenapa cuma lima?" aku bertanya.


" Itu karena aku berebut dengan seorang wanita misterius, Nona. Gara-gara dia mengambil pembalut yang ingin aku beli, aku jadi harus mengalahkan para preman jalanan yang sedang mabuk. Lihat wajahku, Nona. Lebam tak beraturan." jawabnya dengan wajah memelas.


Aku mendekatinya. Memegang wajahnya agar bisa melihat luka lebam di wajahnya. Benar juga, wajahnya penuh luka lebam.


Segera kuambil kotak P3K dari dalam lemari laci. Kubawa dan kubuka kotak itu. Mengambil salep penghilang rasa sakit agar luka lebamnya bisa pudar.


Alvin nampak gerah saat aku mengobati wajah Dave. Dan Dave pun seperti orang yang kaku. Ia ingin menolak, tetapi aku tetap memaksanya agar diam dan tidak menolak saat aku mengobati luka di wajahnya.


" Aku mengobatimu karena aku bertanggung jawab. Kau sudah membawakan pembalut untukku. Aku berhak mengobatimu, bukan?" kataku sambil mengolesi salep ke luka lebam milik Dave.


Terdengar suara ringisan dari bibir Dave. Ia menahan sakit yang luar biasa. Di sudut bibirnya, terdapat goresan luka kecil. Mungkin. Ikut tergores saat berkelahi tadi.


" Makanya, cari pendamping. Jangan menjomlo terus!!!" sindirku. Membuatnya diam tak bergeming.

__ADS_1


Alvin yang sedari tadi nampak marah saat melihatku mengobati wajah Dave, seketika marahnya hilang saat aku berkata mencari pendamping pada Dave. Ia lalu tertawa bahagia. Membuat Dave seperti ingin marah kepadaku, namun ia urungkan karena aku isteri tercinta dari tuannya, tuan Alvin Media Utomo. Pemilik perusahaan Media Utomo grup.


🍁🍁🍁


__ADS_2