When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Siapa dia.


__ADS_3

Kata-kata gadis itu selalu terngiang-ngiang di telinga Dave. Bahkan saat dirinya berada di kantor pun, ia masih teringat akan suara gadis itu. Suaranya lembut, dan syahdu. Ada rasa yang masih mengganjal di fikiran gadis itu. Ia ingin ibunya selamat dan bisa hidup sehat, normal seperti biasa.


Gadis itu begitu sempurna. Lekukan tubuhnya, senyum manisnya, mata indahnya yang berwarna biru. Hem, begitu menambah kesan daya tarik luar biasa yang bisa ia pancarkan pada semua lelaki.


Gadis bernama Kayra. Seorang gadis yang berusia jauuh di bawah Dave. Terpaut usia dua belas tahun. Dave yang berusia tiga puluh tahu, sedangkan Kayra berusia delapan belas tahun. Namun, jika di lihat dari raut wajahnya, seperti wanita dewasa pada umumnya. Bahkan lebih dari wanita dewasa. Ia cantik.


Hati Dave gundah gulana, mengingat Kayra yang ramai di juluki simpanan om-om, lebih tepatnya sugar daddy. Ingin rasanya ia menghajar om-om yang sudah menyetubuhi Kayra. Yang jelas-jelas masih terbilang muda. Belum siap jika dirinya di paksa melakukan hubungan badan dengan pria dewasa. Untuk menikah pun, Kayra masih terbilang cukup jauh. Mengingat pemerintah sudah mengeluarkan pernyataan bahwa, umur yang layak menikah itu perempuan di umur dua puluh satu, dan lelaki berumur dua puluh lima.


" Tuan yakin?" Flo bertanya dengan tatapan mata tidak percaya saat Dave mengatakan menyukai gadis itu.


Dave mengangguk. Anggukannya itu Flo anggap sebagai sebuah kata mengiyakan.


" Dia itu sugar daddy, Tuan." kata Flo tegas.


" Kenapa? Apa sugar daddy itu sebegitu menjijikan buat di jadikan istri?" Dave bertanya.


" Setidaknya pilih kualitas wanita jika tuan ingin menjadikannya istri," sahut Flo. Berdiri dan berlalu sambil mengambil air mineral di dalam lemari pendingin di ruangan Dave.


" Seperti apa contohnya," Dave bertanya. " Yang masih sucikah menurutmu, Flo?"


" Iya," sahut Flo, di iringi dengan tegukan air di dalam tenggorokannya.


" Lalu definisi suci menurutmu apa? Apa jauh dari kata zina? Apa bedanya jika ia masih suci namun, ia berbuat zina dengan calon suaminya sendiri dan sampai sekarang masih dengan status tunangan," kata Dave, lalu mencibir.


Flo diam. Ia merasa terpojok mendengar penuturan Dave yang menyindir dirinya yang sok suci.


Dave tersenyum, diiringi suara tawaan yang menggelegar. Ia seperti sedang mentertawakan Flo, sekretarisnya yang bahenol nerkom itu.


" Maaf, Tuan. Anda terlalu lancang." katanya menunduk.


" Lah, seharusnya kamu berkaca pada diri sendiri, Flo. Kamu dan dia sama, tak jauh berbeda. Yang jelas aku menyukainya, dan ia harus selalu aku lindungi. Karena aku tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya.


" Maaf, Tuan. Kalau saya lancang mengomentari calon isteri tuan Dave," ujarnya, lirih.


" Aku maafkan." kata Dave, kemudian pergi meninggalkan Flo yang sendirian di ruang kerja Dave.


Ini bukan kisah beauty and the beast. Pasangan si buruk rupa. Tapi ini kisah perjuangan seorang Mafia yang jatuh cinta pada gadis yang tidak memiliki skill yang sama. Namun, bisa merubah jati diri dari kedua para mafia itu sendiri.


🍁🍁🍁


Alvin melangkah gontai sekali. Dirinya lelah, penat, letih setelah dua hari ini ia gunakan untuk membuat anak lagi. Agar Aisyah ada teman baru lagi.


Disaat ia sedang menuju dapur, Alvin melihat Kayra sedang bersedih. Dan sebagai tuan rumah yang baik, ia harus menolong gadis itu. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


" Kamu kenapa," Alvin bertanya. Dengan derai air mata, Kay menatap wajah Alvin. Lalu ia alihkan lagi, dan menangis lagi.


" Huh, cengeng!" hardik Alvin. Sambil mencibir Kayra yang sedang bersedih.

__ADS_1


" Aku tidak cengeng, Tuan. Hanya saja aku bingung harus ke mana lagi aku mencari uang."


" Memangnya kamu butuh berapa?" tanya Alvin kemudian.


" Lima puluh juta, Pak." sahut Kayra, dengan nada datar.


" Banyak sekali. Untuk apa uang itu? Untuk di pakai foya-foya."


" Bukan, Tuan. Aku butuh karena ibuku sakit."


" Sakit???" tanya Alvin tak percaya.


Gadis itu memang terlihat seperti biasa. Tidak pernah ngomel ataupun yang lain. Disaat Alvin tahu ibunya sakit, dia cukup terkejut.


" Ia tuan, ibuku sedang sakit. Beliau di rawat di sebuah rumah sakit besar. Tetapi, aku tak sanggup untuk membiayai ibuku lagi," ia terisak.


" Sakit apa ibumu," Alvin bertanya.


" Gegar otak, Tuan. Ada yang mencelakai ibuku." jawabnya, tertunduk.


" Baiklah, aku akan menolongmu. Akan tetapi, kau harus terus diam dirumah ini. Temani istriku. Mungkin aku akan bekerja lagi di sini. Kamu siap?"


" Benarkah tuan? Itu artinya aku bekerja di rumahmu, Tuan?" kata Kayra. Ia terlihat senang sekali.


" Iya. Nanti aku akan mengambil cek dulu. Agar kau tidak membawa uang tunai secara langsung. Aku takut nanti kamu jadi incaran orang jahat di jalan."


" Tidak usah terlalu berlebihan padaku. Aku seperti melihat adikku sendiri. Hanya saja sekarang, ia sedang menyelesaikan studinya di Australia." kata Alvin, lalu bergegas pergi meninggalkan Kayra. Hendak mengambil buku cek miliknya.


Kayra bahagia begitu mendengar Alvin akan memberikan uang padanya. Akhirnya ia bisa membayar administrasi untuk ibunya yang sekarang masih belum sadar. Kayra jadi teringat kembali saat ibunya masih sehat.


" Ini, ceknya sudah kutulis nominalnya. Jadi tinggal di berikan langsung pada kasir di loket pembayaran. Mulai sekarang kau jadi pengasuh anakku. Semoga kau betah ya?" Alvin menyerahkan selembar cek pada Kayra.


Kayra mengangguk, dan menerima langsung cek dari Alvin. Dan ia meminta pada Alvin untuk bisa pergi ke rumah sakit dan langsung membayarkan tunggakan pembiayaan untuk ibunya.


🍁🍁🍁


" Maaf Nona, tagihan pembayaran pengobatan ibu Anda, telah di bayar lunas. Dan pasien akan di rujuk ke rumah sakit besar. Mungkin akan di pindahkan ke rumah sakit besar di luar negeri," kata seorang perawat yang bertugas di bagian administrasi.


Kening Kayra berkerut. Ia merasa heran, siapa yang telah membayar semua tunggakan pengobatan ibunya. Dan saat di tanya pun, perawat itu tidak memberi tahu siapa namanya. Karena Kayra hanya ingin mengucapkan rasa terima kasih atas kebaikan yang dilakukan oleh orang misterius itu.


Tetapi tunggu, perawat itu bilang ibunya akan di pindahkan? Ke luar negeri?


" Astaga," pekik Kayra. Suaranya tertahan di tenggorokan. Ia bergegas pergi dari ruangan itu, menuju ruangan ICU tempat di mana ibunya di rawat.


Kayra berlari. Agar ia cepat di ruangan ICU. Hatinya berdebar-debar tidak karuan. Ia ingin bertemu ibu.


Di ruang ICU.

__ADS_1


Tubuh Kayra lemas. Ia seperti orang linglung manakala saat berada di ruang ICU, dirinya tidak bisa bertemu dengan ibunda tersayang. Kayra berjalan mundur, dan tubuhnya bersandar pada tembok. Ia menangis. Karena tidak bisa bertemu untuk yang terakhir kalinya.


" Nih," ucap seseorang sambil menyerahkan sekotak tisu pada Kayra yang sedang menangis sesenggukan.


Kayra menoleh, dan ia pun terkejut. Sosok itu ternyata Dave Abraham William.


PoV Kayra.


Aku berada di titik yang paling menyedihkan ketika aku tahu bahwa ibuku telah di pindahkan oleh orang asing. Orang asing yang dengan beraninya membayar semua biaya pengobatan ibuku. Aku pun tidak tahu pasti, siapa orangnya. Hanya saja, aku tidak ingin orang itu bertindak berlebihan padaku. Apalah aku ini hanya seonggok manusia hina. Tak perlulah di tolong, cukup di kasihani lalu di buang begitu saja, itu pun sudah cukup bahagia untukku.


Disaat ibuku sudah tak kulihat lagi sosoknya yang berbaring di tempat tidur, di ruang ICU. Aku sungguh tidak ada alasan untuk lebih lama disini. Ada perasaan sesak saat mengetahui ibuku di pindahkan ke rumah sakit besar di Singapore. Sementara aku, aku masih berada disini, di Indonesia. Meratapi ibuku yang entah kapan aku bisa bertemu dengannya lagi. Akupun tak kuasa menahan tangis.


Lalu, laki-laki itu datang. Ia pelindungku, anak tiri dari kakakku yang bernama Kania. Dialah Dave Abraham William. Dia datang bak pahlawan kesiangan saat aku terkulai lemah, terduduk di lantai.


" Nih," ucapnya, sambil menyerahkan sekotak tisu padaku. Aku menoleh lalu memandangnya dengan tatapan nanarku.


" Tuan, Dave. Kau sedang apa disini," aku bertanya dalam kekalutan yang nyata.


" Aku menunggumu," jawabnya singkat.


Itulah Dave, yang kebanyakan orang bilang dia itu lelaki sedingin salju di kutub. Dan di juluki beruang kutub. Jangankan berbicara, tersenyum pun tidak. Namun, saat bersamaku, kenapa dia mudah sekali berkata dan tersenyum.


" Untuk apa, Tuan?" tanyaku, sambil menghapus air mata yang masih mengalir dari pelupuk mataku.


" Ibumu telah di pindahkan ke rumah sakit besar di Singapore. Kau akan ikut atau masih tetap di Indonesia?" katanya, dengan gaya dingin sedingin salju.


Aku terkejut. Sangat-sangat terkejut. Laki-laki yang baru kutemui dua kali ternyata ia begitu peduli padaku. Ada apa ini? Apa yang terjadi pada otaknya?


Mungkin baginya, uang senilai lima puluh juta rupiah dan biaya besar lainnya nanti di Singapore itu sangat kecil. Jadi sangatlah mudah untuknya di keluarkan begitu saja.


" Jika aku di Indonesia, apakah ibuku ada yang mengurusnya, Tuan?" kataku, lalu aku berdiri, di hadapannya.


" Iya, ada. Dan kau tidak usah khawatir. Disana, ibumu di jaga oleh orang-orang yang sudah di percaya. Yang di pilih oleh dokter-dokter terkenal di sana," lagi-lagi pria itu menunjukkan sikap dinginnya. Dia berkata tanpa melihat kedua mataku. Dan perhatiannya tidak tahu ke mana. Sambil berjalan, ia berbalik kearahku.


" Kita pulang. Dan kembalikan uang Alvin sekarang juga!" ia memerintah tanpa memandangku.


Lalu, kenapa ia menolongku, jika ia tidak melihat wajahku? Kenapa Dave. Kenapa?


" Baiklah tuan. Aku akan mengembalikan uang itu. Dan aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Karena kau begitu baik padaku, Tuan." kataku, lalu kubungkukkan tubuhku.


Dave menarik tanganku, dan membawaku pergi. " Kau lama sekali. Bersikaplah seperti biasa. Tidak usah formal padaku, paham?" Dave menghardik.


Aku hanya bisa diam saat tangannya menggenggam tanganku dengan erat. Dave begitu hangat bahkan kehangatannya itu melebihi rasa antara adik dan kakak. Eh, tapi dia bukanlah kakakku. Lalu aku harus memanggilnya apa?


Om? Aa? Atau keponakanku?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2