When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Siapa dia?


__ADS_3

Aku hanya bisa menangis ketika Dave pergi meninggalkanku. Sakit yang kurasakan saat ini benar-benar menyiksa hatiku. Meskipun aku memukul dadaku, rasa sakit ini seakan tak berperi. Menjalar hingga ke sanubari. Merenggut sukmaku yang telah lama singgah di ragaku.


Antara Dave dan Sagara. Mereka sama-sama mencintaiku dengan tulus. Mereka sama-sama menginginkan diriku untuk menjadi pendamping hidupnya. Sama-sama mempunyai ikatan batin yang cukup kuat. Lalu, aku bisa apa? Aku harus memilih siapa? Dan jika kupilih Sagara, pastinya Dave akan terluka. Jika kupilih Dave, akan terjadi peperangan diantara mereka berdua. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi. Cukup aku saja yang mengalah. Aku akan pergi dari kehidupan mereka berdua. Meskipun itu rasanya sakit ketika aku harus meninggalkan Dave lagi.


Entahlah, aku tidak tahu kenapa hatiku begitu mencintai Dave. Padahal aku baru bertemu dengannya itu di bandara, dan ia pun tidak pernah menunjukkan perhatian dan rasa suka padaku. Tidak seperti Sagara, yang secara terang-terangan bicara jujur dan begitu sangat menyayangiku.


" Kay, kau mencintai Dave, bukan? Kejar dia, lalu ungkapkan perasaanmu padanya saat ini juga," hati kecilku berbisik lirih.


" Dave itu kan cinta pertamamu. Dia menerimamu apa adanya. Pergilah dan peluk tubuhnya. Biarkan cinta yang akan mengatakan pada Sagara." hatiku terus berbisik lagi. Perih.


Hatiku memang benar. Ia tak mungkin salah dalam memilih. Dave adalah cintaku. Meski ia tidak sekaya Sagara. Meski Sagara terus berusaha mengejar cintanya, Kayra harus mengungkapkan perasaannya saat ini pada Dave.


Kayra bangkit dari duduknya. Ia berjalan lalu membuka daun pintu kamar.


Dia pun terkejut, saat Dave berdiri mematung di depan pintu kamar dengan perasaan bersalah, ia langsung memelukku. Memeluk tubuhku erat. Aku tahu, inilah perasaan cinta yang ia alirkan ke tubuhku. Akupun membalas pelukannya. Kupeluk erat tubuhnya, sambil sesekali membelai rambut hitam legam milik Dave.


" Aku mencintaimu, Dave," ucapku pelan, seperti berbisik.


Dave mendengar ucapanku, ia malah memelukku erat. Erat sekali. Sesekali ia ciumi kedua pipiku, keningku dan juga bibirku berkali-kali.


" Benarkah kamu mencintaiku, Kay?" tanya Dave, memastikan penuturanku tadi.


Aku mengangguk pelan. " Iya Dave, aku sangat-sangat mencintaimu. Tapi," aku menghela nafasku. Memikirkan nasib Sagara selanjutnya.

__ADS_1


" Tapi apa, Kay?" Dave bertanya, sambil menatap wajahku.


Begitu teduh kulihat raut wajah Dave. Seketika rasa rindu ini muncul di hatiku.


" Aku tidak tega dengan Sagara, kakakmu Dave," ucapku, lirih.


" Apa yang harus aku lakukan?" tanyaku pada Dave.


" Tak ada, cukup mencintaiku saja, itu sudah cukup buatku." Dave berujar. Ia terlihat bahagia sekali saat mendengar aku mengucapkan kata cinta untuknya. Aku memang mencintainya. Apakah aku salah bila aku mencintai pria yang memang tulus mencintai diriku?


Pertanyaan itu terus saja terngiang-ngiang di kepalaku. Lalu apa yang harus aku lakukan? Sagara mungkin akan marah besar padaku jika ia tahu aku mengkhianati cinta dan ketulusan hatinya.


" Aku akan beritahu tuan Gara tentang hal ini. Biar tidak terjadi kesalahpahaman," ujarku memberikan sebuah ide yang cemerlang.


" Baiklah tuan, aku percaya padamu," kataku, kusunggingkan senyuman untuknya. Iapun membalas senyumanku.


☘️☘️☘️


Sore harinya saat di stasiun kereta bawah tanah. Sagara melangkahkan kakinya dengan cepat. Sangat cepat, karena ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Kayra.


Namun, tanpa di sengaja ia menabrak seorang gadis yang nampak kebingungan.


" Maaf, nona. Apa Anda baik-baik saja?" seru Sagara. Ia membungkukkan badannya lalu mengangkat tubuh gadis itu. Membantunya agar bisa berdiri kembali.

__ADS_1


Sayangnya gadis itu dalam kondisi tertekan dan sepertinya sedang ketakutan luar biasa. Terlihat dari cara pandangan matanya yang liar, seperti memperhatikan sekeliling, sambil kedua tangan menggenggam erat tangan Sagara.


" Tuan, tolong saya," ucapnya dengan nada bergetar.


" Anda kenapa, Nona? Ada apa?" tanya Sagara panik. Ia memperhatikan wajah gadis itu.


" Aku ... Aku di-- ,"


" Rupanya kamu disini, Sayangku. Ayo ikut aku! Mama sudah menunggumu di rumah." sahut seorang pria dengan postur badan yang tinggi besar mencoba menarik lengan gadis itu.


Akan tetapi, gadis itu mencengkeram kuat tangan Sagara. Ia membutuhkan pertolongannya. Dan Sagara sadar akan hal itu.


" Permisi tuan, sepertinya gadis ini tidak mau ikut bersama Anda." ujar Sagara. Ia menepis tangan pria itu dengan kasar. Lalu menarik gadis itu, dan melangkah berhadapan dengan pria asing yang kasar itu.


" Dia itu isteriku. Aku berhak membawanya pulang. Dirumah, kedua orangtuaku sudah menunggunya, paham!" bentak pria itu.


" Baiklah jika dia itu isterimu, silahkan bawa dia. Tapi, jangan pakai cara kasar! Perlakukan isterimu dengan lemah lembut." Sagara balas membentak.


" Itu hakku untuk bertindak kasar padanya. Kau tak perlu ikut campur, Tuan!" katanya. Lalu pria itu menarik tangan kanan gadis itu.


" Ayo pulang! Dan kau harus menurutiku, jangan membantah!" pria itu langsung membawa gadis yang tadi meminta tolong pada Sagara. Membawanya pergi dari hadapan Sagara. Ketika gadis itu pergi, Sagara sempat melihat tatapan mata dari gadis itu, yang seakan-akan meminta tolong padanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2