
Kegaduhan yang nyata terjadi di luar masjid. Masjid ini terletak di depan jalan raya. Jadi setiap ada acara atau apapun selalu terdengar. Dan malam ini merupakan malam yang mencekam bagi warga yang tinggal di daerah dekat dengan rumah nyonya Liem.
Pak Arif dengan sigap memberikan peringatan dari dalam masjid dengan menggunakan microfon. Yang di pakai untuk mengumandangkan azan. Setelah itu, ia dengan sigap mencari nona yang mensedekahkan uangnya kepadanya. Ia hendak menolongnya, namun baru saja ia hendak melangkahkan kakinya, pak Arif melihat dua orang pria bertubuh kekar hendak memasuki masjid. Dengan sigap ia menutup pintu masjid, menguncinya dari luar.
" Maaf tuan-tuan, masjid saya tutup!" kata pak Arif. Sambil menyimpan kunci di dalam kantung celana panjang yang ia kenakan.
" Kenapa bapak tutup? Ada apa di dalam?!" tanya pria berbadan kekar, serta berjanggut. Dengan wajah yang di buat garang.
" Ini masjid. Bukan rumah," kata pak Arif lagi, mengambil ancang-ancang. Ia sudah siap jika memang keadaan memaksanya ikut bertarung.
" Saya tahu di dalam ada dua orang wanita kan? Cepat berikan kunci masjid pada kami. Kami hanya menginginkan mereka, jika bapak mau bekerja sama dengan kami."
" Tidak ada! Di dalam sepi. Pergilah kalian! Jangan datang lagi kemari!" hardiknya.
" Ooh, berarti bapak memilih melawan kami. Oke, berarti harus kami ambil paksa kalau begitu. Gus, lawan dia. Buat dia tidak berkutik!" perintah pria berbadan kekar berjanggut. Dan pria kekar yang di panggil Gus itu bergerak melawan pak Arif yang sedari tadi sudah siap dengan segala konsekuensinya.
Jangan sebut dia pak Arif kalau dia kalah. Pak Arif adalah mantan guru karate dan taekwondo. Dia juga pernah belajar ilmu persilatan yang menggunakan ilmu tenaga dalam. Jadi jangan salah, bila di usia senjanya ia masih terlihat segar bugar.
Perkelahian sengit antara pak Arif dan pria bernama Gus itu berlangsung sengit. Baik pak Arif dan Gus, sama-sama kuat. Hingga akhirnya, pak Arif bisa menjatuhkan Gus dengan satu kali pukulan di dada. Gus jatuh terjerembab. Membuat pria kekar yang menyuruh Gus untuk melawan pak Arif, berangsur mundur.
Pak Arif menatap tajam wajah pria kekar itu. Dengan tatapan mata hendak menerkam.
" Masih berani melawan saya?! Asal Anda tahu tuan, saya dulu jawara di daerah sini. Dan nyonya Liem juga tahu siapa saya. Kalau kamu belum tahu siapa saya, baik saya akan beritahukan. Saya biasa di sebut Abah Zambrong." kata pak Arif, menjelaskan.
Sontak saja pria itu membelalakkan matanya. Ia yang dulu menantang seseorang yang di juluki abah Zambrong, kini di hadapannya muncul. Dan ia pun memundurkan langkahnya.
" Dulu, saya terkenal dengan kebengisan. Saya adalah orang suruhan nyonya Liem. Membawa perempuan dari tiap daerah untuk di jual dan di jadikan wanita penghibur. Bahkan saya juga sering merampok, macam kalian. Tapi hari ini, saya insaf. Dan memilih untuk menjadi penjaga masjid dengan tujuan agar saya selalu dekat dengan Allah subhanahu wata'ala."
Pak Arif terus melangkah, mengikuti langkah kaki dari pria yang tadinya berlagak kuat, tapi mundur saat mendengar nama abah Zambrong.
Sementara itu, di jalan raya.
Para polisi dan juga anak buah yang di turunkan ke lapangan oleh Alvin, mereka segera mencari keberadaan nyonya Liem. Mereka menangkap anak buah nyonya Liem yang di tugaskan oleh nyonya Liem, serta menggerebek tempat persembunyian nyonya Liem.
Anisa yang sedari tadi ikut bertarung, tiba-tiba ia berdiri tegap saat melihat Dave berdiri tegap di depannya. Ia pun langsung memeluk tubuh Dave, menghiraukan segala hiruk pikuk keramaian suara tembakan. Ia tumpahkan segala perasaan yang ada di dalam hatinya.
Namun, Dave segera melepaskan pelukan Anisa dan bertanya padanya di mana Daisy dan juga Aisyah.
" Aisyah dan nona Daisy baik-baik saja tuan. Mereka berada di dalam masjid. Mereka aman." sahut Anisa.
" Antarkan aku ke sana!" perintah Dave, lalu Anisa membawa Dave menemui pak Arif. Akan tetapi, di mana pak Arif saat ini? Jangan-jangan ia sudah pulang. Anisa mencari keberadaan pak Arif, penjaga masjid besar di kota ini.
__ADS_1
Setelah beberapa menit mencari, akhirnya Anisa menemukan pak Arif yang sedang duduk di kursi panjang, dengan seorang pria berbadan kekar yang tadi membawa anjing pelacak.
" Assalamu'alaikum pak," Anisa mengucapkan salam. Pak Arif menoleh, lalu tersenyum.
" Wa'alaikumsalam, ada apa ya neng?" tanya pak Arif, seperti orang linglung.
" Mau minta di buka pintu masjid pak. Ini saya bawa seseorang yang mau menjemput wanita yang ada di dalam masjid. Boleh pak di buka sekarang?" Anisa bertanya. Saat Anisa melihat kedua mata pak Arif, ia seperti habis di hipnotis.
" Tuan, masuklah ke dalam masjid. Terjadi sesuatu di dalam. Cepat!" Anisa memerintah. Karena ia yakin, pak Arif telah di hipnotis oleh pria yang berada di dekatnya.
Dave bergerak cepat. Sedangkan Anisa mencengkeram kerah baju pria itu. Menatapnya tajam lalu menonjok perut pria itu.
" Hahaha, kau telat nona! Kedua wanita itu sudah di bawa paksa oleh nona Mawar. Mungkin sekarang sudah berada jauh dari sini." ujarnya santai.
" Brengsek! *******! Cuih, kau tak ubahnya seperti lelaki biadab!" Anisa memaki. Berkali-kali ia menghajar pria itu yang nampak pasrah kehabisan tenaga.
Rupanya, saat pak Arif hendak menghajar pria itu, Mawar datang dan langsung menepuk pundak pak Arif. Otomatis pak Arif menoleh kearah orang yang menepuk pundaknya.
Dan Mawar berhasil melakukan hipnotis kepada pak Arif.
" Di mana dua wanita itu? Berikan kuncinya sekarang!" ujar Mawar, sambil menatap mata pak Arif dan langsung mengambil kunci saat pak Arif merogoh kunci masjid dan ia serahkan kepada Mawar.
" Lepasin Aisyah!" pekik Daisy dari arah parkiran mobil. Rupanya ia belum pergi jauh dari kota ini.
Anisa yang mendengar itu, langsung bergegas kearah suara Daisy yang sedang berusaha menarik tangan mungil milik Aisyah.
" Ais engga mau ikut sama kak Mawal lagi! Aisyah engga mau!"
Mendengar rengekan Aisyah, Daisy sekuat tenaga menarik tangan Aisyah. Namun, tubuhnya segera di dorong oleh Mawar dan ia jatuh terpental hingga menyebabkan perutnya terbentur ke tanah.
" Aaaaah!" pekik Daisy. Ia merintih kesakitan.
Anisa yang tengah berlari kearahnya, langsung menolong Daisy. Dave pun ikut berlari kearah suara Daisy.
" Mawar! Lepaskan Aisyah! Cukup sampai di sini kau membawanya pergi dengan paksa!" Anisa berkata, lantang.
" Diam kamu Anisa! Tidak usah sok pahlawan. Ia milikku, dan aku berhak membawanya pergi ke manapun aku suka," kata Mawar. Sambil tertawa terkekeh-kekeh.
" Tega kamu Mawar! Dia itu adik kita! Ingat itu Mawar!" ujar Anisa.
" Kak Icha, Ais takut kak, tolong Ais," rengek Aisyah. Menghiba.
__ADS_1
" Nona Mawar, tolong lepaskan Aisyah. Jangan kau siksa lagi anak yang tak berdosa itu." sambung Dave. Sambil melangkahkan kakinya kearah Mawar berdiri saat ini.
Dari arah belakang, Alvin yang melihat isterinya sedang duduk di tanah, akibat keletihan. Dengan segera ia menuju Daisy.
" Sayang, kau tidak apa-apa kan?" tanya Alvin panik. Daisy tersenyum.
" Tidak apa-apa, hanya saja aku lelah," ucap Daisy, kemudian pingsan saat Alvin memeluk tubuhnya.
" Sayang, kamu kenapa? Sayang?" tanya Alvin panik.
Lalu ia bawa tubuh isterinya ke dalam mobil dengan cara menggendong tubuh isterinya.
" Dave, urus perempuan itu. Daisy pingsan, dan aku harus membawanya ke rumah sakit terdekat." sahut Alvin. Dengan lantang.
Dave mengangguk. Dan akhirnya, Daisy selamat. Tinggal satu lagi yang belum terselamatkan, yaitu Aisyah.
Mawar masih berusaha membawa kabur Aisyah. Namun, rencananya gagal karena Anisa menarik lengan Aisyah saat Mawar membuka pintu mobil, Anisa bergerak cepat memasuki mobil milik Mawar. Bersamaan dengan Aisyah di dalamnya.
" Dasar adik tidak tahu diri! Kamu itu pembawa sial!" umpat Mawar. Karena terdesak, Mawar akhirnya pergi dari kota ini.
Ia melajukan mobil miliknya dengan kecepatan penuh. Sementara Dave, ikut mengejar mobil Mawar memakai mobil milik Anisa yang kunci mobilnya masih berada di kunci kontak mobil.
" Mmmmph," suara lantang milik penjaga rumah Anisa terdengar. Dave menoleh, lalu terkejut.
Ia langsung membuka ikatan yang mengikat kedua tangan dan juga mulut yang di lakban oleh Anisa.
" Siapa kamu?" Dave bertanya.
" Saya penjaga rumah nona Mawar, tuan. Saya di sekap oleh nona Anisa. Dan di bawa kesini."
" Loh kok bisa?"
" Karena saya yang tahu ke mana nona Mawar pergi membawa Nona Daisy, Tuan."
Dave geram, lalu menampar pipi penjaga itu.
" Seharusnya aku menguliti kulitmu, tapi saat ini aku harus cepat-cepat mengejar mobil yang di kendarai Mawar. Diamlah di dalam sini. Dan temani aku menyetir." kata Dave.
Dave langsung menancapkan gas. Dan meluncurkan mobilnya dengan kencang. Mengejar mobil Mawar yang sudah lebih dulu melaju.
🌲🌲🌲 Bersambung 🌲🌲🌲
__ADS_1