
Hari menjelang sore saat aku duduk di balkon kamar. Memandang langit berwarna jingga. Di tambah desiran angin yang cukup kencang, membuat tubuhku merasakan kesejukan.
Di gerbang utama, aku melihat mobil suamiku yang bergerak maju menuju rumah. Semua pengawal yang ada di pos penjagaan, mereka bergerak cepat menuju gerbang utama. Membuka pintu gerbang lalu menyambut kedatangan tuannya.
Saat Alvin turun pun mereka selalu membungkukkan badan. Tanda menghormati tuannya.
Alvin segera melangkah memasuki rumah, sementara Dave berdiri sambil menunggu sesuatu yang sedang di ambil oleh beberapa orang pelayan di rumah ini. Aku terus memperhatikan gerak gerik mereka dari atas balkon kamar.
Ceklek!
Pintu kamar di buka oleh Alvin. Hal yang paling utama dilakukan seorang Alvin adalah mencari diriku jika ia sudah pulang dari kantornya. Dia selalu menyimpan rasa rindu padaku.
" Sayang, kau di mana?" Alvin melangkah, mencari diriku.
" Di balkon sayang, kemarilah aku menunggumu."
" Sedang apa di sana, hem?" tanya Alvin begitu mendekat padaku.
" Sedang bersantai saja. Memangnya kenapa, Sayang?"
" Aku merindukanmu, Sayangku." ucapnya lembut seraya mencium keningku.
" Setiap hari kita kan selalu bertemu."
" Iya. Tapi, rasa rinduku padamu ini besar. Jadi bolehkah aku merindukanmu, tuan puteri?" katanya manja, mencubit kecil hidungku.
Aku tersenyum.
" Ah iya, aku punya sesuatu untukmu. Kau tahu hadiah ini, hadiah yang sangat spesial untukmu." ujar Alvin, seraya memberikan bungkusan kecil padaku.
Aku pun membuka bungkusan itu. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat hadiah terindah darinya.
__ADS_1
" Testpack? Untuk apa ini?" tanyaku, berkerut keningku.
" Bukankah sayangku ini membutuhkan testpack?" tanyanya.
" Benarkah? Kapan aku bilang?"
" Bukan kamu, tapi Ning yang mengatakan."
Hampir saja aku mati penasaran saat suamiku memberikan testpack. Rupanya Ning mengira aku sedang hamil. Karena sedari tadi aku mual muntah terus.
" Coba kau cek. Siapa tahu kamu memang tengah mengandung buah hati kita." pintanya.
Meski agak kesal. Aku menuruti perintahnya. Jika aku menolaknya, sama saja aku membangunkan singa yang sedang tertidur pulas. Tentunya akan mengaum dan memangsa.
Aku langkahkan kedua kakiku menuju kamar mandi. Akupun berharap sama dengan pemikiran Ning. Yang beranggapan aku ini tengah mengandung.
Namun, aku ragu akan hasilnya nanti. Jelas-jelas kami berhubungan badan baru dua hari. Masa bisa secepat itu?
Dua garis merah muncul di tengah-tengah. Aku bingung ini artinya apa. Karena aku juga baru memakai alat mengecek kehamilan ini.
" Bagaimana? Apa hasilnya sayang?" tanya Alvin saat mendapati diriku keluar dari dalam kamar mandi.
" Ini, aku bingung." kataku polos. Sambil menyerahkan testpack yang telah di gunakan.
Alvin melihat hasilnya. Ada dua garis merah itu tandanya apa? Kenapa tidak ada tulisan negatif positif? Kenapa harus memakai garis merah? Mungkin itu yang ada di benak Alvin saat ini.
" Sebentar, aku telepon dokter Frans dulu. Oke?"
Aku mengangguk.
Alvin pun menelepon dokter Frans. Ia menyuruh dokter Frans agar datang ke rumahnya. Dokter Frans pun menyetujuinya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Alvin. Dokter Frans segera masuk lalu menuju kamar di mana Alvin dan diriku berada.
" Ada apa, Vin? Apa yang sebenarnya terjadi? Daisy sakit lagi kah?" suara bariton milik Dokter Frans terdengar. Sehingga membuat Alvin segera mendekatinya lalu menyerahkan testpack kepadanya.
Raut wajah dokter Frans berubah. Ia begitu bahagia saat melihat hasilnya. Rupanya, ponakan kesayangannya ini telah berhasil menjadi seorang suami siaga. Dan penuh rasa cinta.
" Selamat kalian akan menjadi orangtua baru." katanya, tersenyum bahagia.
" Daisy hamil, Vin." sambungnya.
Pernyataan dokter Frans segera di sambut oleh Alvin dengan penuh suka cita. Ia tidak menyangka bahwa keinginannya untuk bisa mempunyai anak, terkabul. Alvin segera memelukku erat. Pelukannya penuh dengan kehangatan.
" Jaga kesehatan Daisy. Dia pernah keguguran dan kau tahu, wanita yang pernah keguguran rentan sekali. Jadi jaga kesehatannya, jaga juga rahimnya. Buat Daisy selalu bahagia." pesan dokter Frans.
" Tenang saja, Dokter Frans. Aku akan selalu menjaga Daisy. Oh iya, langkah apa saja yang harus aku lakukan agar kandungan Daisy sehat?"
" Berikan makanan yang penuh gizi. Hindari stress yang berlebihan."
" Oh iya. Periksakan juga kandungannya setiap satu bulan sekali. Agar terpantau perkembangan janinnya. Ini aku resepkan obat penguat kandungan. Jika ada keluhan mual muntah, tak masalah. Itu lumrah bagi wanita yang hamil muda." Dokter Frans terus saja memberi nasihat pada Alvin. Tak lupa juga menuliskan resep obat untukku.
" Ini resepnya, silahkan tebus di apotik terdekat. Oh iya Vin, hati-hati ya?"
" Hati-hati kenapa, Dokter?"
" Jika Daisy mengidam."
" Maksudnya?"
" Hati-hati saja. Pasti permintaannya aneh. Dan tidak logis." bisiknya di selingi tawa canda yang menyebalkan.
Aku hanya tersenyum. Melihat tingkah mereka. Dokter Frans yang jahil, suamiku yang tercengang kaget karena kata-kata dokter Frans.
__ADS_1
Tamat