
Aku bersandar di tubuh suamiku. Tepatnya berada di dada bidang milik Alvin. Hem, ada aroma harum tercium olehku saat Alvinku sedang mendekap erat tubuhku. Malam ini, kami habiskan waktu bersama. Cukup antara aku dan Alvin. Tidak ada Dave atau siapapun itu.
" Sayang, terima kasih telah menungguku untuk waktu yang lama." kataku, pada Alvin. Alvin menatapku. Lalu tersenyum sambil membelai rambut panjangku.
" Iya. Aku juga ingin meminta maaf padamu. Jika beberapa hari ke belakang memasang muka kesal padamu. Semata-mata aku ingin cepat-cepat kamu mengandung anakku. Aku sudah rindu ingin mendengar suara tangisan bayi, Sayang." ujarnya, lalu mencium keningku.
" Tapi, aku takut nanti keguguran lagi." kataku, pesimis.
" Jangan bicara seperti itu sayang. Kita harus sama-sama optimis. Aku yakin, kali ini kita akan di karuniai seorang anak." ujarnya mantap.
Aku mengangguk. Tak kusangka, aku mempunyai suami berhati besar. Walau kadang aku sendiri bingung, jika menjelaskan padanya. Takut salah tanggap seperti kejadian pembalut.
Jika sudah begini, aku ingin rasanya cepat-cepat mempunyai anak. Agar Alvin selalu, selalu, selalu mencintaiku.
🍁🍁🍁
Seperti biasanya, baik Alvin dan juga Dave. Bekerja di kantor. Bahkan pagi ini pun mereka sepertinya sudah siap untuk memulai aktifitas di kantor.
" Dave, hari ini jadwalku apa saja? Coba kau tengok di laptop kerjaku." sahut Alvin. Dave segera membuka laptop kerjanya di ruang kerja Alvin. Sedangkan Alvin, membuka berkas-berkas yang harus di tanda tangani.
Namun, Dave sangat terkejut saat membuka laptop. Ada laporan yang masuk. Laporan berita tentang kehamilan Mawar Hanafi. Di jelaskan dalam berita itu, bahwa Mawar Hanafi telah mengandung. Dan yang lebih parahnya, berita itu malah menyeret Alvin ke dalamnya. Mawar Hanafi menyebutkan bahwa ayah dari janin yang di kandungnya adalah buah cintanya bersama Alvin. Suamiku.
" Kamvret!!! Dasar wanita tak tahu diri!!" maki Dave. Ia mengepalkan tangannya. Menahan amarah yang menggelora di dalam dada.
Alvin yang terkejut langsung menoleh kearah suara Dave. Ia pun cukup terkejut saat Dave terlihat marah.
" Kamu kenapa, Tuan Dave? Kesambat setan apa, pagi-pagi sudah emosi?" Alvin bertanya. Sambil menandatangani berkas.
" Tuan, coba lihat berita di televisi deh. Mawar Hanafi bikin ulah lagi." sahut Dave. Membuat Alvin menghentikan pekerjaannya.
Tak lama kemudian ...
Tok ... Tok ... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar. Seorang wanita muda mengetuk pintu saat Alvin dan Dave sedang bermuka tegang.
" Masuk!" perintah Alvin. Wanita muda itu masuk ke dalam ruangan kerja Alvin. Dan membungkukkan tubuhnya tanda hormat padanya.
" Ada apa?" Alvin bertanya.
" Di luar ada banyak wartawan, Tuan." jawabnya dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
" Wartawan? Mau apa mereka kemari?" tanya Alvin. Wanita muda itu menggeleng. Ia juga tidak tahu jika wartawan-wartawan itu datang ke kantor.
Dave tidak membuang waktu. Ia segera keluar dari ruangan Alvin. Menemui para wartawan yang butuh berita hangat.
" Tuan, kalau boleh saya tahu. Di mana Tuan Alvin berada? Saya hanya ingin menanyakan perihal pernyataan dari nona Mawar Hanafi. Soal janin yang ada di kandungannya itu." seorang wartawan muda, berjenis kelamin laki-laki, menghadang Dave di depan pintu kantor utama Media Utomo grup.
Dave mendelik kasar. Menatap wajah wartawan muda itu. Sekali lagi, Dave marah. Dan ingin sekali ******* habis tubuh wartawan itu.
" Semua itu tidak benar. Alvin sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sama Mawar Hanafi. So, tidak ada lagi kaitannya dengan tuan Alvin. Karena Tuan Alvin sudah menikah. Dan kalian pun tahu itu, bukan?" Dave menjelaskan.
" Tapi tuan, Mawar bilang tuan Alvin lah ayah biologis dari janin yang di kandungnya." tanya wartawan itu, ngotot.
" Jika saya sudah mengatakan tidak. Harusnya anda tahu itu. Jangan membantah ataupun bertindak tak logis. Saya bisa berbuat lebih dari sekedar penjelasan." hardik Dave. Marah. Dan mengambil ancang-ancang untuk memberikan pelajaran berharga pada wartawan muda itu.
Dave melangkahkan kedua kakinya, mendekat kearah wartawan itu. Lalu mencengkram kerah baju milik wartawan muda yang ngeyelnya tidak ketulungan.
Di tatapnya kedua manik milik wartawan muda itu. Dengan tatapan mata yang tajam sekali. Dave tidak dapat membendung kemurkaannya terhadap para wartawan.
Melihat Dave, sekretaris sekaligus kaki tangan Alvin sedang terlihat marah. para wartawan yang menyaksikan adegan tak biasa itu malah dengan sengaja merekam kejadian gratis itu. Tanpa rekayasa dan settingan.
" Matikan semua kamera yang ada di tangan kalian!!! Kalau tidak, aku akan menghabisi orang yang berada di hadapanku saat ini!!!" katanya dengan nada ancaman. Sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah para wartawan.
Semua diam. Tak ada yang membantah ataupun melawan perintah Dave. Mereka mengurungkan niat untuk merekam aksi luar biasa yang di tunjukan Dave.
" Ada apa ini? Kenapa banyak keributan di sini? Di kantorku?!!" Alvin datang. Ia melerai pertengkaran yang dilakukan Dave pada wartawan muda yang kerah bajunya di tarik oleh Dave secara paksa.
" Tuan, mumpung tuan Alvin ada di sini. Coba jelaskan pada kami, benarkah Mawar Hanafi mengandung anakmu?" tanya wartawan muda.
" Seperti yang sudah tuan Dave katakan tadi. Aku sama sekali tidak pernah menghamili siapapun. Dan berita kehamilan yang di rancang oleh Hana itu semua bohong!" Alvin menjawab.
Tiba-tiba saja, dari arah belakang...
" Bohong!!! Alvin berkata bohong!!!" teriak Mawar. Dia muncul di saat Alvin ikut muncul di tengah-tengah para wartawan. Sungguh licik akal bulusnya. Ia menggunakan cara yang begitu licik pada Alvin. Agar bisa mendapatkan cintanya Alvin kembali.
" Hana ...!!!" Alvin memaki.
Dengan derai airmata buaya, Mawar menangis meratapi kesedihannya yang mendalam. Mawar merupakan artis film terkenal di Indonesia. Aktingnya dalam bermain seni peran memang tak di ragukan lagi kualitasnya. Pantas saja jika kali ini aktingnya bisa di katakan murni. Tanpa rekayasa.
" Apa?! Kau sudah menodaiku, Vin. Sekarang kau malah mengingkari janin yang berada di dalam rahimku ini? Hah?!!!"
" Kau jahat, kejam!" maki Mawar. Menangis buaya di depan para pencari berita.
__ADS_1
Alvin tersenyum. Namun senyumannya kali ini di sertai senyuman sinis.
" Aku tahu kamu, Hana. Dan ini semua hanyalah akal-akalanmu saja. Ingat tidak akan semudah itu bila ingin mendapatkan lagi cintaku. Aku hanya mencintai isteriku, Daisy. Tidak ada yang lain!"
" Brengsek kamu, Alvin!!!" maki Mawar. Sambil memukul dada bidang milik Alvin.
" Nona!!! Hentikan! Jangan bertindak lebih dari ini!" Dave berteriak.
" Apa?! Kau pun sama jahatnya dengan Alvin. Tega sekali kau membayar janinku agar aku menggugurkannya. Membayarnya sebesar tiga milyar rupiah." ucap Mawar bohong.
Mendengar pernyataan Mawar, semua wartawan yang hadir terkejut. Sungguh kejam sekali Dave, sehingga menyuruh Mawar melakukan aborsi.
" Mawar!!!" Dave mengeram. Ia segera mendekati Mawar yang tengah berdiri di hadapan tuannya.
Kemudian, tangan kanan Dave menampar pipi kiri milik Mawar. Namun, bukannya menampar wajah Mawar, malah menampar wajah gadis lain. Yang tak lain adalah wajah Icha. Ia datang dengan tiba-tiba. Bertindak sebagai pahlawan kesiangan untuk Mawar. Tanpa di sadari, Mawar tersenyum penuh kemenangan.
" Kau!!" pekik Dave. Saat tangannya menempel di wajah Icha.
" Dia perempuan, Tuan Dave! Anda tidak berhak menamparnya." kata Icha, dengan nada marah.
Dan berusaha menahan perih akibat tamparan dari tangan Dave.
" Kau tidak usah ikut campur, nona! Kau pun tidak tahu siapa wanita ini sesungguhnya."
" Aku tak perlu tahu siapa dia. Aku hanya ingin Anda tahu, menghadapi wanita itu bukan seperti ini."
Dave,
Lagi-lagi, ia harus menahan amarahnya saat berhadapan dengan Icha. Seperti tidak ada kekuatan untuk melawannya. Berbeda sekali saat ia melawan Mawar. Amarahnya membludak.
" Aaaaaaaaargh... !!!" makinya. Kemudian pergi meninggalkan semua orang yang berada di sekitar halaman kantor Media Utomo grup.
🍁🍁🍁🍁
" Sekarang kalian tahu kan siapa yang benar dan siapa yang salah?" Mawar berspekulasi.
" Sekarang, kau harus melamarku, Sayang. Aku membutuhkanmu agar anakku mempunyai seorang bapak." katanya, dengan seringaian senyumnya. Membuat Alvin semakin gerah.
" Cih!!! Aku tak sudi!" ujar Alvin. Kemudian pergi meninggalkan Mawar bersama Icha dan beberapa wartawan yang sedang meliput berita.
Icha yang sedang mengelus-elus pipinya akibat rasa panas yang timbul dari tamparan tangan Dave, hanya bisa tercengang melihat kejadian siang itu.
__ADS_1
Icha pun bingung. Mana yang harus dia bela saat ini. Tuan Alvin, ataukah artis idolanya, Mawar Hanafi.
🍁🍁🍁