
Aku bergegas ke dalam kamar mandi. Tak ingin aku berbalik ke belakang, aku yakin Alvin masih menatap tubuhku yang sedang melangkah ke arah kamar mandi.
Aku membuka keran air yang terhubung ke dalam bak mandi. Mengisinya dengan campuran sabun rempah-rempah. Setelah terisi dan tercampur dengan rata, aku melangkah masuk ke dalam bak mandi. Aku merendam tubuhku.
Terasa nyaman sekali berendam air hangat di pagi hari. Membuat fikiran dan tubuhku rileks. Namun, entah kenapa aku masih memikirkan kejadian tadi pagi. Saat aku membuka mata dan terkejut melihat wajah Alvin yang buruk itu. Kalau saja yang aku lihat tadi itu benar-benar hantu, mungkin aku sudah berlari kencang meninggalkan kamar. Kacau, sepertinya aku harus membiasakan diri menerima kenyataan bahwa aku bersuamikan pria buruk rupa.
Eh, apa ini? Kenapa kisah kehidupanku mirip seperti cerita di dongeng yang melegenda itu? Kisah tentang putri Belle yang cantik lalu bertemu dengan pangeran yang buruk rupa. Apa mungkin aku sangat mengidolakan cerita itu, sampai-sampai kisahnya terjadi padaku.
Aah, sudahlah buat apa aku menyesali nasib? Lagipula tuan Alvin begitu baik padaku. Setidaknya biarkan aku membalas kebaikannya itu. Hatiku terus menerus bergumam.
🍁🍁🍁
" Daisy, kemarilah!" Alvin memanggilku saat aku keluar dari kamar mandi.
" Ya, tuan." sahutku. Kemudian mendekatinya.
" Aku mau mandi!" ujarnya.
" Mandi???" tanyaku mengulang ucapannya.
" Iya. Aku mau mandi. Siapkan handuk dan baju untukku." perintahnya.
" Tapi tuan, bagaimana anda mandi, sementara anda berada di ---,"
" Di kursi roda maksudmu?"
Aku mengangguk pelan, ku gigit bibirku kuat menahan rasa deg-degan dalam hati.
" Kau yang akan memandikan aku di kamar mandi." ujarnya. Membuatku harus terkejut.
Apa tuan Alvin itu gila ya? Aku harus memandikannya? Itu mustahil. Kenapa tidak menyuruh Dave saja yang memandikannya? Kenapa musti aku? Aaaargh...!!!
" Kamu istriku, yang seharusnya memandikanku itu kamu, bukan Dave!" Alvin berujar sinis. Sepertinya dia bisa membaca fikiranku.
" Ba, baik tuan. Akan aku lakukan." aku menyanggupinya. Aku papah Alvin menuju kursi roda kemudian aku membawanya ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi ...
Alvin nampak gusar saat melihat aku yang terus berdiri tidak melakukan apapun terhadapnya. Aku benar-benar bingung harus mulai dari bagian mana dulu. Apa aku harus membanjurkan air dari atas kepalanya? Atau...?
" Hei, kenapa kamu diam?!" bentaknya. Membuatku tersentak kaget.
" Anu, tuan. Eem, aku bingung harus bagaimana? Aku belum pernah memandikan siapa pun," jawabku gugup. Keringat dingin bercucuran dari keningku.
__ADS_1
Ya Tuhan, apa aku harus pura-pura pingsan? Sungguh aku belum mempunyai pengalaman dalam hal memandikan orang.
" Buka bajuku!" Alvin memerintah. Kegugupanku bertambah. Ia dengan lancar menyuruhku membuka bajunya.
" Hari ini tuan?" aku bertanya lagi. Polos, benar-benar polos sekali Daisy.
" Iya," jawab Alvin lembut, " Cepatlah, kau sangat lambat!" Alvin meraih tanganku lalu meletakkannya kearah dadanya.
Deg, deg, deg. Begitulah bunyi detakan jantung milik Alvin. Tanganku gemetar.
" Cepat buka kancing bajunya!"
" I, iya tuan. Saya akan buka." ujarku bergetar.
Aku menggerakkan kedua tanganku untuk membuka kancing baju yang di pakai Alvin. Kini terlihatlah bentuk badannya yang nampak kekar dan berotot itu. Pantas saja dia menjadi ketua geng mafia. Tubuhnya terlihat sangat kuat.
" Sekarang, buka bagian bawahku. Maksudku buka celana yang aku pakai!" lagi dan lagi Alvin memerintahkan hal konyol padaku.
Hah, apa?! Mentang-mentang punya kekuasaan terhadapku. Main perintah seenak udelnya sendiri. Huh, kesal! aku menggerutu.
" Kenapa diam lagi?! Pasti sedang bergumam dalam hati, ya kan?!" ujar Alvin, menebak isi hatiku. Ya walaupun itu benar.
Tak mau berlama-lama, aku segera menuruti perintahnya. Tentunya dengan mata yang sengaja aku pejamkan. Mataku masih suci ya tuan, aku tidak mau mengotori mataku dengan melihat kepunyaanmu.
Aku memulai siraman pertama ke tubuh Alvin. Air yang tidak begitu panas dan yang tidak begitu dingin. Dengan pelan aku siram tubuhnya. Setelah itu, aku gosok badannya dengan menggunakan sabun.
Hentikan Daisy! Kau lancang sekali. batinku memberontak keras.
Aku lanjutkan lagi menyiram air ke tubuh Alvin hingga tubuhnya bersih dari sabun dan sisa kotoran yang menempel di tubuhnya.
--
----
" Lain kali, kalau aku suruh kamu memandikan aku. Jangan pakai drama konyol seperti tadi. Tanpa aku suruh, kamu harus sigap melakukannya, paham?!" Alvin menegurku. Sambil memperhatikan aku yang sedang mengancingkan kemeja di tubuhnya.
" Baik, tuan. Apakah ada hal lain tuan?" tanyaku, setelah selesai memakaikan Alvin baju.
" Tidak ada. Gantilah bajumu. Baju kamu basah. Cepat ganti, aku tidak mau kamu demam."
" Baik tuan," ucapku terbata. Menuruti ucapannya.
Aku bangkit, kemudian aku segera menuju ke ruang ganti pakaian yang berada di dalam kamar Alvin yang luas.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Jam menunjukkan pukul delapan pagi saat aku selesai melakukan rutinitas pagiku. Melayani tuan Alvin terlebih dahulu. Rutinitas yang menyebalkan.
" Pagi ibu, pagi ayah, pagi paman, pagi bibi." aku menyapa keluarga besar tuan Alvin. Pa Haris dan bu Mega terlihat tersenyum padaku, tapi, bibinya tuan Alvin terlihat begitu sinis padaku.
Aku mendekati mereka sambil mendorong kursi roda. Mereka semua menatap wajah Alvin yang terlihat bahagia.
" Pagi juga sayang," bu Mega membalas sapaanku. Ia tersenyum.
" Apakah suamimu sudah sarapan?" tanya bu Mega, dengan suara lembutnya.
" Belum bu. Sekarang aku mau membuatkannya sarapan." aku menjawab dengan senyuman.
" Oh iya, apa kalian sudah sarapan?" sambungku lagi.
" Kami tadi baru saja minum kopi." sahut pak Haris.
" Baiklah kalau begitu, aku akan membuatkan sarapan pagi untuk kalian semua. Kalau begitu aku pamit ke dapur dulu ya bu,"
Bu Mega mengangguk. Kemudian tersenyum padaku. Senyuman yang begitu manis sekali ibu.
Aku pergi meninggalkan Alvin bersama keluarganya.
" Dia istri yang baik bukan?" pak Haris memulai pembicaraan.
" Ya, bahkan lebih baik dari yang kemarin. Aku lebih bersyukur jika dulu Jodohku adalah Daisy." sahut Alvin.
" Iya, apa bedanya dengan sekarang? Toh kamu dan Daisy sudah berjodoh." bu Mega menimpali.
" Beda, sangat beda. Jika aku berjodoh dengannya dulu, pasti dia akan menerimaku apa adanya. Bahkan saat wajahku buruk rupa seperti ini. Dia tidak akan seperti Mawar, pergi begitu saja dan memutuskan hubungan pertunangan denganku."
" Tapi, dia seperti gadis desa yang kampungan menurutku loh, Alvin." bibi Ruth menyelutuk.
Pak Haris, bu Mega dan paman Kim menatap tajam bibi Ruth. Mereka segera memperingati ucapannya tadi. Bisa membuat Alvin marah besar.
" Jaga ucapanmu, Ruth! Kau tak boleh menilai orang serendah itu di hadapan Alvin!" bu Mega menegur bibi Ruth.
Alvin tersenyum sinis saat bibi Ruth berkata buruk tentang diriku.
" Kau tahu bibi, dia memang gadis desa dan menurutmu itu kampungan. Tapi, asal kau tahu bibi Ruth, dia bukan gadis miskin yang kau fikirkan. Dia berasal dari keluarga terpandang. Hanya saja sikapnya yang luar biasa sederhana, bisa menutupi bahwa dia orang terpandang di kampungnya." Alvin menohok bibi Ruth dengan kata-katanya.
" Aah, iya bibi. Jika bibi merasa tidak suka pada Daisy, tolong nanti jika dia menyajikan makanan di meja, bibi jangan memakannya. Karena nanti akan membuat bibi tersedak jika bibi tetap memakanya." sambung Alvin, kemudian pergi meninggalkan keluarganya.
__ADS_1
Bersambung....
🍁🍁🍁