
Seorang wanita muda terlihat berlari kearah Dave dan Alvin saat mereka terjebak di antara para preman-preman bertubuh kekar. Mereka semua adalah preman yang waktu itu di kalahkan oleh Dave saat mengejar wanita bernama Anisa.
Ternyata, mereka masih ada rasa dendam sampai saat ini. Mereka mengumpulkan para preman kelas kakap yang membantu menyerang Dave. Walaupun ada Alvin, tapi jumlah mereka kalah telak. Mereka berdua sedangkan para preman berjumlah delapan orang, dengan tubuh masing-masing kekar dan berotot.
" Kamvret!!! Kau tahu siapa mereka, Dave?! Kenapa mereka menyerang kita?!" ujar Alvin, penuh dengan amarah. Setelah Daisy mengandung, Alvin lebih menjauhi dunia kelamnya menjadi mafia. Ia tidak ingin membuat Daisy selalu berpikiran yang akan membuat janinnya shock.
" Saya juga tidak tahu, Tuan. Tapi, saya rasa mereka ini bukan orang suruhan Rasya."
" Kalau begitu, siapa mereka?!"
Dave tidak menjawab. Ia fokus menatap satu persatu wajah preman-preman kasar itu.
" Kalian tahu, kenapa kami seperti ini? Asal kalian tahu, kami ini adalah teman dari preman yang kalian pukuli saat tengah malam." sahut preman bertubuh tinggi besar dan berotot.
Preman itu menunjuk kearah yang di maksud. Dave memperhatikannya. Betapa terkejutnya ia saat mengenali preman itu.
" Kau! Rupanya kau masih pendendam juga. Ck ck ck! Tak kusangka kau punya nyali juga untuk mengumpulkan teman-teman seprofesimu." seru Dave. Tertawa terkekeh-kekeh.
" Cih! Bedebah! Tutup mulutmu Tuan! Aku masih dendam padamu!" hardiknya keras. Dia keras kepala sekali. Tidak pernah berfikir apa yang akan terjadi pada nyawanya saat ini.
Melawan Dave tentu bukanlah perkara yang sulit. Menurut akal fikirannya saat ini. Di mana ia melihat, postur tubuh Dave yang tidak terlihat kekar. Jadilah ia beranggapan lawannya itu akan kalah telak saat ia kumpulkan preman-preman pasar yang bengis menurut pandangannya saat ini.
Dave menyeringai saat preman itu menghardiknya. Lalu tanpa menunggu lama, akhirnya mereka bertarung. Dua lawan delapan mungkin akan kalah. Akan tetapi, Alvin dan Dave bukanlah lawan yang gampang di taklukan oleh siapapun. Bahkan saat ia melawan Rasya, mafia yang terkenal bengis pun bisa kalah telak.
☘️☘️☘️
Pertarungan di mulai. Mereka secara membabi buta mengalahkan Alvin dan Dave yang nampaknya mulai kelelahan. Wajar saja bila mereka lelah, karena mereka tidak punya tenaga ekstra untuk melawan. Saat preman-preman itu menyerang Dave, Anisa mencoba merelakan tubuhnya untuk di hajar oleh preman-preman itu.
" Aaaauw ...!" rintihnya. Berusaha mengimbangi rasa sakit yang kini menjalar di tubuhnya bagian belakang.
__ADS_1
Dave terpekik ketika melihat Anisa melindunginya. Itu artinya gadis cantik bermata belo sedang mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk melindungi orang yang tidak berhati baik pada siapapun.
" Kau?! Sedang apa di sini?!" Dave marah. Sambil berusaha memegang pundak Anisa.
" Aku melihat mereka ingin menghajarmu, Tuan. Aku putuskan untuk melindungimu." katanya merintih kesakitan.
" Bodoh!" maki Dave, lalu ia bangkit dan menyerang secara brutal para preman jalanan. Menghajarnya lalu dengan kilatan kemarahan, Dave menghajar mereka tanpa senjata, tanpa alat apapun yang membantunya. Bagi Dave, jangan membangunkan kemarahanku. Jika tidak ingin aku mengaum seperti singa yang kelaparan.
Tanpa ampun, Dave menghajar mereka hingga mereka tidak bisa berkutik lagi untuk bangkit dan menghajar Dave berulang kali. Mereka kalah telak.
" Ampuun Tuan! Ampuni kami. Kami khilaf padamu, Tuan." rengek preman yang sombong, congkak dan pongah. Bisa-bisanya dia menantang Dave dan dendam padanya.
" Khilaf katamu?!" kata Dave, mengepalkan tangan kanannya. Hendak memukul preman itu.
" Jangan, Tuan! Biarkan dia hidup!" seru Anisa, secara tiba-tiba. Dave menoleh kearahnya.
" Mereka punya keluarga, Tuan. Jika tuan terus menganiaya mereka, itu sama saja tuan zolim pada keluarga mereka di rumah."
" Baiklah. Kali ini kalian aku bebaskan. Tapi dengan satu sarat."
" Apa itu, Tuan? Kami akan mengikuti sarat yang tuan ajukan pada kami." rengek salah satu preman.
" Kalian tinggalkan dunia kelam yang kalian geluti saat ini. Bergabunglah dengan tuan Alvin. Di kelompok mafia cinta damai. Di sana, kalian bertugas melindungi warga yang di tindas oleh sekelompok orang yang haus akan kekuasaan. Jika kalian setuju, aku akan melepaskan kalian semua. Jika tidak, kalian terpaksa kuseret ke dalam jeruji besi!" perintah Dave. Para preman-preman itu menyanggupinya.
Malam itu, Alvin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia bisa melihat perubahan yang terjadi pada Dave. Asistennya, sekaligus teman seperjuangannya dari mereka berusia tiga tahun hingga sekarang, mereka berusia dua puluh delapan tahun.
☘️☘️☘️
Di rumah Alvin.
__ADS_1
Dave terus saja meringis kesakitan saat Ning mengobati luka memar yang ada di tubuh Dave. Aku pun sampai terheran-heran saat kedua makhluk yang berjenis kelamin laki-laki itu pulang dalam keadaan babak belur, lebam tak beraturan.
" Kalian kenapa sih? Pulang-pulang kok pada lebam begitu? Kan aku sudah mewanti-wanti agar tidak berkelahi lagi. Kenapa ingkar?!" tanyaku mencecar.
" Aduh sakit, Sayang." ringis Alvin. Ia meringis kesakitan. Dan sengaja aku obati lebamnya dengan kasar.
" Mana mungkin kami diam saja, Nona. Mereka delapan orang, menyerang kami yang berjumlah hanya dua orang." Dave menjawab Sambil meringis kesakitan.
" Kalau kalian tidak berbuat ulah duluan, mana mungkin mereka menyerang. Pasti kamu nih yang bikin ulah!" kataku, kesal. Lalu menuduh Alvin yang memulainya duluan.
Alvin melotot. Ia tidak terima di tuduh sebagai biang kerok dari insiden luka lebam ini.
Enak saja aku yang mulai duluan. Jelas-jelas mereka dendam sama Dave. batin Alvin menggerutu.
" Bukan Nona, mereka dendam padaku. Hanya karena aku menolong seorang wanita saat mereka akan berbuat hal yang tak senonoh pada wanita itu." sahut Dave. Ia melirik Ning yang sedang mengobati dirinya. Menepis kedua tangan Ning, kemudian menyuruh Ning berhenti melakukannya.
" Sudah Ning, cukup aku sudah agak baikan." ucap Dave, bernada lembut.
" Baik, Tuan. Saya permisi dulu melanjutkan pekerjaan saya di dapur." jawab Ning sopan, lalu pergi meninggalkan aku, Alvin dan juga Dave.
" Makanya jangan asal nuduh dulu, Sayang. Aku kan sudah berhenti memukuli orang." sahut Alvin, dengan bibir mengerucut geli.
" Lalu apa yang terjadi pada wanita itu, Dave?" tanyaku lagi.
Dave teringat sesuatu. Gadis itu.
" Ya Tuhan! Aku lupa membawanya ke rumah sakit!" pekik Dave, menepuk keningnya. Lalu meraih kunci mobil miliknya dan pergi meninggalkan aku dan juga Alvin yang melihat kelakuannya yang tiba-tiba berubah seperti orang linglung.
" Sayang, kenapa dengannya? Dia tidak sedang amnesia kan? Ataukah ...???" tanyaku. Sambil melirik kearah Alvin yang sama-sama diam tak bergeming melihat kelakuan Dave seperti itu.
__ADS_1
" Entahlah. Aku juga bingung akhir-akhir ini dia berubah." jawab Alvin, sambil mengangkat tangan sehingga kedua pundaknya ikut bergerak.
☘️☘️☘️