
Matahari mulai meredupkan sinarnya. Langit berubah menjadi gelap, di tambah angin yang berhembus dengan kencang. Suasana yang amat sangat di tunggu-tunggu oleh semua orang, terutama para petani karena menandakan akan turun hujan.
Akan tetapi, tidak bagi Anisa. Ia tampak sangat begitu bahagia saat langit menampakkan kemendungan. Sejak kecil, Anisa sangat menyukai hujan. Ia pun di sebut oleh kebanyakan orang, gadis penyuka hujan.
Awan hitam pekat kini menurunkan bulir-bulir airnya. Membasahi bumi dan sekitarnya. Membuat basah tanah, pohon, dan bunga-bunga yang berada di bumi. Suara katak terdengar bersahut-sahutan. Mereka pun bergembira merayakan turunya air hujan.
Begitu juga dengan Anisa. Ia langsung saja berdiri di luar halaman. Merasakan bulir-bulir air hujan yang menetes dari langit dan menyentuh kulit-kulitnya yang putih bersih.
Jika hujan turun, Anisa memejamkan matanya. Merasakan tetesan air. Tak terasa, ia pun akhirnya menangis. Itulah alasannya kenapa Anisa sangat menyukai hujan. Menurutnya, air hujan bisa menyembunyikan airmatanya yang terus menerus mengalir dari kelopak matanya. Sakit, bila ia terus menahan perasaan sedihnya. Mengenang kedua orangtuanya yang sudah tiada.
.
.
.
" Hei kutilang darat. Sedang apa kamu di sana!!" suara sahutan keluar dari mulut Dave. Dave sedari tadi mencari keberadaan Anisa. Yang ternyata ada di halaman rumah Alvin.
Yang di sahutnya pun tidak menjawab. Ia lebih fokus pada tetesan air hujan yang mengalir dari langit. Dengan mata terpejam.
Dengan hati terpaksa, Dave akhirnya mendekati Anisa. Menariknya suatu tempat yang tidak bisa di jangkau oleh air hujan.
" Kalau kena air hujan, kau akan sakit." kata Dave. Sambil memberikan handuk kecil, untuk mengeringkan tubuh Anisa yang sedari tadi basah kuyup kena hujan.
Anisa hanya bisa menatap Dave yang penuh perhatian padanya. Ia tidak bisa membohongi perasaannya saat ini. Anisa telah jatuh cinta pada Dave. Pria aneh yang ia temui di minimarket. Pria yang setia dengan tuannya. Pria dingin, yang ia sebut beruang kutub.
Dave sadar, ia telah di perhatikan oleh Anisa. Lalu menatap balik kearah Anisa.
" Kenapa? Aku tampan bukan?" tanya Dave, menggoda. Dengan mengangkat alis kirinya yang ia turun naikan.
" Jiiih, percaya diri amat sih? Makin ilfeel aku." cibir Anisa.
" Terus, kenapa?"
" Apanya?"
" Dirimu?"
Anisa berkerut kening. Tidak mengerti apa yang Dave tanyakan.
" Aku bingung, kamu itu sebenarnya pria baik atau beruang kutub ya? Kadang baik, kadang nyebeliiiiin!!!" ujar Anisa, penuh penekanan.
__ADS_1
" Maunya apa? Apa kamu mau aku menjadi singa?"
" Singa?"
" Iyes! Singa. Aaaauuum...!" ujar Dave, sambil menggoda Anisa. Hingga ia tergelak tawanya, pecah.
Awalnya Anisa berusaha tertawa lepas. Namun, setelah beberapa menit, tawa itu berubah menjadi tangisan. Membuat Dave tiba-tiba langsung memeluk tubuh Anisa. Membelai rambutnya yang basah. Mendekap erat tubuh Anisa. Hingga Anisa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya bisa menangis. Mengeluarkan semua kesedihannya saat ini.
" Keluarkanlah jika memang membuat hatimu bahagia." ucap Dave, lembut.
☘️☘️☘️ Desi Yulia ☘️☘️☘️
[ Bagaimana kabarmu, adikku? Kau sehat bukan? ] Mawar mengirimkan pesan untuk Anisa.
Lama tak di jawabnya, Mawar mengirim pesan lagi.
[ Jangan lupa, rencana awal kita. Hancurkan rumah tangga Alvinku. Dan buat ia bertekuk lutut memohon cinta padaku.] pesannya lagi.
Gundah gulana hati Anisa saat ini. Ia segera melempar ponselnya ke dinding kamar. Retak. Pecah dan hancur berkeping-keping. Ponsel yang di berikan oleh Dave, beberapa hari yang lalu.
Kondisi tubuh Anisa pun sudah lebih membaik dari hari kemarin. Tulang punggung Anisa sudah kuat dan bisa berjalan dengan jarak yang lumayan jauh, sehingga tidak di papah lagi oleh Ning.
" Aku tidak bisa melakukan itu. Tidak bisa." ucapnya pelan, dengan kedua kaki yang ia tekukkan. Lalu kedua tangannya memeluk lututnya. Pedih, sakit itulah yang di rasakan Anisa saat ini.
" Baiklah, jika itu maumu kak Mawar. Aku akan menuruti kemauanmu. Aku akan membuat rumah tangga Alvin dan Daisy berantakan. Ini janjiku untuk menebus Aisyah. Nyawa Aisyah yang terancam bila Anisa tidak melakukan apa yang Mawar perintahnya.
🌷🌷🌷 Desi Yulia Zahra 🌷🌷🌷
Rencana pertama.
" Hai Nona, sedang apa?" sapa Anisa, saat Daisy sedang melakukan olahraga yoga di teras rumah. Dekat dengan kolam renang. Sengaja ia lakukan agar fikiran dan tubuhnya rileks.
" Hei. Sini! Kita yoga bareng yuk?" ajak Daisy, melambaikan tangan. Anisa mengangguk. Mendekati Daisy.
Usia kehamilan Daisy, sudah menginjak usia 3 bulan. perutnya pun mulai agak membesar.
" Kayaknya asik nih. Mari kita mulai nona. Aku ingin sekali berolah raga yoga." Anisa tersenyum.
Daisy membalas dengan senyuman. Lalu berdiri sambil mengangkat kaki kanannya yang ia tumpangkan ke kaki kanannya.
" Inilah saatnya." gumam Anisa dalam hati. Niat jahatnya keluar. Anisa lalu mendorong tubuh Daisy yang tengah berdiri di tepi kolam renang.
__ADS_1
Byur!!!
..
Daisy terjatuh dan masuk ke kolam renang. Kedua tangannya melambai-lambai. Meminta tolong pada Anisa. Karena Daisy tidak bisa berenang. Sebuah senyuman tersungging di bibir Anisa.
" Berhasil!" pekiknya dalam hati.
Tak lama kemudian, Ning datang. Karena mendengar kegaduhan di kolam renang. Ning terkejut melihat nona muda terjatuh di kolam renang
" Nona Anisa, kenapa Nona muda terjatuh di kolam renang?" tanya Ning panik.
" Tolooong...!!! Tolong ...!!!" Ning berteriak kencang. Membuat seluruh penjaga di rumah, bergerak serempak. Dan mendekati kolam. Mereka terjun ke dalam kolam renang. Menggapai tubuh Daisy yang sudah mulai melemas. Satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh Daisy ialah, berenang.
Alvin dan juga Dave segera bergegas mendekati Daisy. Segera meraih tubuh Daisy dan menidurkanya di tepi kolam renang. Alvin menepuk-nepuk pipi Daisy, sementara Dave mengusap-usap telapak tangan serta telapak kaki Daisy. Hingga pada akhirnya Daisy sadar, lalu membuka kedua matanya. Dan menatap lekat wajah Anisa.
Dave menyadari ada yang janggal dari kejadian ini. Saat kedua matanya menangkap sorotan mata yang Daisy lakukan tadi.
" Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Alvin, sambil memegang kedua pipi Daisy.
" Tidak apa-apa." jawab Daisy, singkat.
" Lalu kenapa kamu bisa terjatuh ke kolam renang?" Alvin bertanya.
" Eh itu tadi aku pusing terus terpeleset jatuh ke dalam kolam renang." jawab Daisy mengada-ngada. Ia berbohong pada Alvin mengenai kejadian yang sebenarnya terjadi. Jika Alvin tahu, maka habislah nyawa Anisa saat ini juga.
" Lain kali, jangan beryoga di tepi kolam renang, paham? Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu." katanya panik.
" Iya sayang. Maafkan aku." ucapnya lirih.
" Ya sudah, sekarang aku akan menggendongmu hingga ke kamar. Lalu gantilah bajumu. Kau basah kuyup sayang. Nanti kau bisa masuk angin." kata Alvin, lalu menggendong tubuh Daisy. Dan segera membawanya ke kamar.
Ning dan seluruh penjaga di rumah Alvin membubarkan diri. Yang tersisa hanyalah Dave dan juga Anisa. Dave segera mendekati Anisa. Ia menatap tajam wajah Anisa.
" Jangan ada kebohongan diantara kita. Jika memang ada niat jahat, katakan dari sekarang maumu apa. Jangan sampai aku membenci dirimu." Dave berkata, tajam saat ini.
" Tidak ada kebohongan apapun. Aku tidak melakukan niat jahat pada siapapun. Kau salah perkiraan tuan Dave." ujar Anisa, terkekeh-kekeh.
" Kita lihat saja. Jika memang kau berniat jahat pada Nona Daisy dan juga Alvin. Jangan harap aku akan memaafkanmu! Paham?!" gertaknya. Membuat nyali Anisa menciut. Kemudian pergi meninggalkan Anisa sendirian di kolam renang.
Bersambung...
__ADS_1
🌲🌲🌲