When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Pijat memijat.


__ADS_3

Gara menyerahkan dua buah botol yang berisi lulur dan minyak zaitun. Lalu dengan tenang dan santainya dia merebahkan tubuhnya hingga tertelungkup di atas ranjang empuknya. Ia menepuk punggungnya tiga kali, memerintah Kayra untuk membalurkan lulur yang ia serahkan pada Kayra.


" Tuan," desis Kayra. Ia nampak bingung harus melakukan apa.


" Ada apa, Kayra?" tanya Gara.


" Aku harus apa?" tanyanya balik.


" Tugasmu hari ini melulurkan tubuhku." jawab Gara, dengan santainya.


" Tapi, bukankah aku-"


" Apa? Kau berfikir bahwa aku akan melakukan hal itu?" katanya, berbalik dan berhadapan langsung pada Kayra.


" Eh itu anu- bukan itu maksudku, Tuan," kata Kayra gugup.


Gara tertawa lepas saat mendengar penuturan Kayra yang benar-benar polos itu. Gara sudah bisa menebak maksud dari perkataan Kayra dan sikap yang di tunjukan padanya.


" Kenapa Anda tertawa, Tuan? Apa ada yang lucu," tanya Kayra, dengan mimik wajah bingung.


" Iya. Wajahmu dan kata-katamu barusan. Itu yang membuatku tertawa," ujarnya sambil terkekeh.


Tanpa sadar, Kayra menyunggingkan senyuman manisnya. Hatinya tenang untuk saat ini. Ternyata seseorang yang membookingnya hari ini tidak akan melampiaskan hasrat padanya.


" Jika kau tersenyum, kau nampak sangat manis sekali, Nona Kayra." Gara memuji. Ada semburat merah merona yang terpancar dari kedua pipi Kayra saat Gara memuji senyuman Kayra yang sangat manis.


" Jadi, tugasku hari ini seperti karyawan salon kecantikan, begitu?" tanya Kayra.

__ADS_1


" Ya, kurang lebih seperti itu. Apa kau bisa melakukannya?" tanya Gara, sambil menelungkupkan kembali tubuhnya.


Kayra membuka botol berisi luluran, lalu membalurkannya ke tubuh Gara dengan lembut dan hati-hati.


Tubuh Gara sangatlah lembut. Halus seperti tubuh bayi yang baru lahir. Terasa sekali kelembutannya saat Kayra memijit tubuh Gara.


" Aku, bisa sih tuan, tapi belum mahir benar," ujar Kayra. Tangannya dengan cekatan memijit tubuh Gara. Dan Gara pun terlihat menikmatinya. Itu artinya, Kayra lulus jadi tukang pijat.


" Pijatanmu ternyata tidak kalah dengan tukang pijat yang terkenal," ujar Gara. Suaranya terasa berat.


" Aah, Tuan, terlalu banyak memuji."


" Sungguh, aku tidak bohong, Kayra."


" Baiklah terima kasih tuan atas pujianmu hari ini," sahut Kayra, terkekeh. Sambil terus melakukan pijatan lembut di tubuh Gara. Sukses membuat Gara nyaman dengannya.


Setelah tiga puluh menit berlalu, Kayra menyudahi tugasnya membalur lulur di tubuh Gara. Bergegas ke kamar mandi dan mencuci kedua tangannya. Setelah itu, ia mendekati Gara dan duduk di sampingnya. Memberikan handuk kecil yang sebelumnya sudah di rendam di air hangat pada Gara.


" Tuan, bolehkah aku bertanya pada Anda," Kayra bertanya. Tadinya ia ragu, namun, sikap Gara yang tiba-tiba lembut padanya, membuatnya menjadi semangat untuk berkata pada Gara.


" Apa itu? Coba katakan saja. Aku tidak akan memarahimu," sahutnya. Sambil mengelap handuk ke tubuhnya.


" Anda berbeda, Tuan. Kemarin Anda terlihat arogan sekali. Tapi, hari ini ... Anda terlihat lembut," ujar Kayra, lirih.


Gara tersenyum. Lalu meraih dagu Kayra agar bisa saling bertatap mata. Gara menatap kedua bola mata Kayra yang indah itu. Dengan warna biru. Lalu mengecup kelopak mata Kayra dengan lembut.


" Matamu cantik, Nona. Aku suka warna matamu, biru." bisik Gara.

__ADS_1


" Tuan," Kayra mendesah. Hatinya risau saat ini. Ia tidak boleh terenyuh begitu saja dengan perkataan Gara. Bisa jadi ini hanya taktiknya Gara saja.


" Kenapa? Apakah aku tidak boleh menyukai matamu? Ataukah kau risih dengan sikapku padamu, katakan saja aku tidak akan marah," katanya dengan lembut.


" Bukan itu, Tuan. Sikapmu terlalu berlebihan. Aku ini hanya gadis hina. Tak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini," lirih Kayra. Kedua bola matanya mengembun.


" Dimataku kau ini gadis suci. Bukan gadis hina seperti yang kau tuduhkan tadi. Aku benar-benar menyukaimu saat pertama kali bertemu di rumah sakit. Hari itu aku melihatmu sedang sendirian duduk di ruang tunggu. Aku selalu mengikuti dirimu kemana pun kamu pergi. Dan saat kau di bawa paksa oleh madam Ellen, aku ingin membebaskanmu dari tempat itu, tapi sangat susah sekali. Karena madam Ellen terkenal dimana-mana, dan pasti banyak yang membantunya.


" Jadi, aku putuskan untuk berpura-pura sebagai pelanggan di tempat madam Ellen. Lalu aku membayarmu selama satu bulan penuh pada madam Ellen." tutur Gara, memberikan penjelasan pada Kayra.


" Benarkah, Tuan? Kalau begitu, aku bisa bebas hari ini?" Kayra bertanya. Wajahnya begitu bahagia. Mendengar penuturan Gara tadi.


" Iya, akan tetapi, kau tidak boleh sembarangan keluar dari rumahku. Di luaran sana, banyak sekali mata-mata madam Ellen. Aku takut jika kau nanti malah di bawa paksa lagi olehnya,"


" Baiklah, Tuan. Aku mengerti sekarang." ujar Kayra. Ia meraih tangan Gara, menggenggamnya erat, " Terima kasih tuan. Entah aku membalas dengan cara apa, aku tidak tahu. Tapi, yang jelas aku benar-benar mengucapkan terima kasih padamu. Kau penolongku, pahlawanku," tuturnya penuh semangat.


" Kau sangat berlebihan. Sudah jadi kewajibanku untuk menolongmu. Kau wanita yang ku cintai, sudah sepantasnya aku melindungi orang yang aku cintai." katanya dengan penuh wibawa.


" Sudah ya, aku ingin membersihkan tubuh dulu. Apakah kau sudah menyiapkan air hangat untukku, Nona?"


" Sudah, Tuan." jawab Kayra dengan tersenyum manis.


" Tetaplah seperti itu. Senyumanmu membuatku jadi semakin mencintaimu,"


" Tuan," desis Kayra. Ia nampak jengah karena Gara terus saja memujiku berkali-kali.


Bersambung.

__ADS_1


💃💃💃


__ADS_2