When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Terlambat.


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi, saat dering ponsel milik Dave berbunyi. Alvin, suamiku menelepon Dave selama satu jam penuh. Tak ada kabar apapun darinya. Bahkan ia pun tidak masuk kerja hari ini. Entahlah, hanya Dave yang tahu alasannya kenapa.


Drrrt... Drrrt... Drrrt...


Suara getar ponsel berbunyi. Dave yang sedang tertidur menelungkup, pun tangannya meraba ke nakas meja. Meraih ponselnya lalu mengangkat telepon yang masuk ke ponselnya.


" Halo, dengan Dave yang tampan dan baik hati... " Dave berkata mengawali pembicaraan kepada seseorang di seberang sana.


Bukannya pujian dan ucapan lembut, Dave malah di marahin habis-habisan sama Alvin. Karena sudah jam 10.00 lewat ia tidak masuk kerja, di telpon pun tidak di angkat.


" Dave, kau ke mana saja?! Pekerjaan numpuk ini!!!" Alvin berteriak. Membuat telinga Dave langsung bernguing riang. Senut-senut.


" Iya, tuan. Saya akan berangkat. Maaf, kalau telat." jawab Dave dengan suara serak-serak basah gimana gitu.


" Cepat! Ini hampir jam sebelas loh. Waktunya jam makan siang. Jangan lupa bawa map merah yang sudah saya tanda tangani ya?!"


" Iya, tuan." sahut Dave, lalu menutup teleponnya.


Dave terbangun dari tidurnya. Sambil mengucek kedua matanya dan menggaruk-garuk kepalanya yang terasa gatal. Lalu ia pun menguap.


" Apaan jam sebelas? Kan masih jam enam ini." Dave menggerutu. Ia merutuki ocehan tuannya.


Dave turun dari ranjang tidurnya.Lalu menuju kamar mandi pribadinya. Setelah itu, ia membersihkan tubuhnya, agar bersih dan harum.


Dave, sebenarnya adalah pria yang manja. Saat kedua orangtuanya masih ada, dia terhitung anak mami. Apa-apa, selalu maminya yang menyediakan. Namun, setelah ada insiden pengusiran itu. Saat ia di usir oleh ayahnya karena telah memutuskan secara sepihak pertunangan yang di rancang oleh ayahnya. Dave menjadi pria yang pemarah dan pembenci. Ia pun akhirnya menjadi pria yang mandiri. Di dalam hatinya tak ingin lagi mencintai wanita.


Dave, melihat jam di dindingnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat jam telah menunjukkan pukul dua belas siang. Ia pun segera meluncur ke kantor. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


🍁🍁🍁


Sesampainya di kantor...


Dave masuk, ke dalam kantor. Menaiki lift menuju lantai tiga belas di mana ruangan tuannya berada.


" Selamat pagi, Tuan. Maaf saya terlambat. " Dave mengetuk pintu, lalu memberikan sapa kepada Alvin. Ia tidak berani untuk melihat wajah tuannya.


" Pagi? Apa di rumahmu tidak ada jam? Jam tangan yang kau pakai itu mahal bukan? Mana mungkin jamnya eror!!!" Alvin menyerocos. Memarahi Dave yang datang kesiangan.

__ADS_1


" Maaf tuan, saya baru bisa tidur sekitar jam lima subuh, Tuan. Badan saya kecapekan. Jadi tidak mendengar suara telepon masuk ke ponsel saya. Sekali lagi maafkan saya, Tuan." ujar Dave, sambil membungkukkan badannya berkali-kali. Agar Alvin mau memaafkan kesalahannya.


Alvin pun tidak bisa memarahinya lagi. Karena itu juga merupakan kesalahannya, yang menyuruh Dave mencari tahu tentang pembalut dan datang bulan.


" Huft! Baiklah, aku maafkan. Tapi, aku ada tugas untukmu." akhirnya Alvin memaafkan.


" Apa itu, Tuan? Kalau soal datang bulan dan pembalut, saya nyerah. Angkat tangan, Tuan." Dave menyela, sambil tersenyum.


" Justru itu. Ini masih tentang pembalut. Kau tahu di mana bisa mendapatkannya. Daisyku menyuruh aku untuk membeli pembalut. Tapi, aku tidak tahu harus membelinya di mana. Kau ada ide?" tanya Alvin, setengah berbisik.


Dave mendadak linglung. Ia sudah mengatakan bahwa, ia telah menyerah jika berurusan dengan hal itu. Akan tetapi, Alvin malah memperpanjang kejadian kemarin.


" Kenapa tuan tidak membeli pabriknya saja. Coba tanam saham di sana, kalau perlu beli saja semua pabrik yang memproduksi pembalut. Jadi jika Nona muda memerlukan pembalut, bisa di pesan dan Anda tidak usah bingung di buatnya." jelas Dave, dengan pemikiran yang konyol. Tak terperi.


Alvin diam. Ia nampak seperti memikirkan penjelasan Dave yang menurutnya cara mudah. Membeli pabrik pembalut. Tapi buat apa? Akan menjadi gengsi untuknya, karena bos mafia malah memproduksi pabrik pembalut. Apa kata dunia?


" No no no!!! Aku tidak mau. Harga diriku bisa jatuh, Dave!!! Ada ide yang brillian tidak?"


Dave diam. Ia berfikir. Makin lama otaknya makin pusing karena memikirkan hal ini. Lalu, ia teringat di mana terakhir kalinya dia menemukan pembalut.


" Aha!!! Aku tahu, Tuan!!" Seru Dave. Sambil menjentikkan jemarinya.


Membuat Alvin tersenyum lalu bangkit dari tempat duduknya, " Kita berangkat sekarang!!" ujarnya, dengan cepat melangkah keluar dari kantornya. Di ikuti oleh Dave yang berjalan di belakangnya.


' Tuan, selamat bersenang-senang. Anda akan di permalukan di depan umum, akibat membeli pembalut wanita . batin Dave, ia tersenyum jahat pada tuannya.


🍁🍁🍁


Di dalam minimarket ...


Alvin melangkahkan kedua kakinya memasuki ruangan mini market. Baru kali ini ia menginjakkan kakinya ke tempat yang belum ia jamah. Seluruh mata yang ada di dalam ruangan minimarket tertuju padanya. Jarang-jarang ada laki-laki tampan bak model terkenal, rela berbelanja di minimarket kecil seperti sekarang ini. Dave yang mengikutinya dari belakang, hanya bisa mengulum senyumnya, menahan tawanya agar tidak terdengar oleh Alvin.


Alvin melirik kearah Dave. Dan segera menarik lengan Dave,seraya berbisik padanya.


" Dave, di mana pembalutnya?" bisik Alvin.


Sambil kedua matanya melirik ke sana ke mari, mencari mangsa, eh salah mencari pembalut.

__ADS_1


" Yang itu, Tuan." ucap Dave, sambil menunjuk ke arah pembalut.


Alvin segera mengambil pembalut yang tersimpan di rak. Mengambil semua pembalut yang ada di rak itu, lalu memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan.


" Oke tuan, Anda ingin belanja apalagi?" bisik Dave. Alvin melihat keselilingnya. Mencari sesuatu untuk ia beli.


" Jika kau mau, ambillah. Nanti satukan dengan bon pembelian ini."


Dave mengangguk. Ia segera mencari minuman yang di inginkannya.


Di kasir.


Setelah selesai membeli semua pembalut, kini saatnya Alvin membayar semua total belanjaan yang ia bayar ke sesembak kasir.


" Totalnya jadi tiga ratus tujuh puluh rupiah pak." sahut sesembak kasir.


Alvin mengangguk. Lalu ia mengeluarkan dompetnya, kemudian mengambil kartu Atm nya dan di serahkan ke sesembak kasir.


Ketika sedang membayar. Tiba-tiba saja, ada sesembak yang tidak di kenal, menyahut pada sesembak kasir. Bertanya tentang pembalut juga.


" Mba, maaf pembalutnya habis ya?" tanyanya lembut. Seketika Alvin dan Dave diam. Ia tidak mau menjawabnya, malu.


" Oh iya, mba. Sudah di borong sama bapak ini, mba. Maaf." sahut sesembak kasir.


" Yah, padahal saya butuh. Kalau saja semalam pembalut saya tidak diambil paksa, saya tidak akan mencarinya lagi." ujarnya memelas. Sambil melirik kearah Alvin dan Dave.


" Coba bilang dulu ke bapak ini, mba. Barangkali bisa di beli satu." ujarnya.


Sambil tersenyum, sesembak yang ingin membeli pembalut itupun segera mendekati Alvin.


" Tuan, bolehkah saya membeli satu pembalutnya? Saya butuh untuk saya pakai. Karena saya sedang datang bulan." Ia berbicara sangat lembut. Ingin di kasihani. Agar Alvin memberikan ijin untuk di beli pembalut.


Setelah menimang-nimang, akhirnya Alvin berkata.


" Baiklah, saya akan memberikanmu pembalut. Tapi, beri saya penjelasan mengapa wanita itu memakai pembalut. Dan jelaskan juga, apa itu datang bulan padaku. Bagaimana, deal??!" sahutnya. Ia ulurkan tangannya. Berharap sesembak tadi mau menyetujui permintaan Alvin.


" Hem," sesembak itu nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Baru kali ini ia akan memberi edukasi kewanitaan pada lelaki yang terlihat perfeksionis namun tampak konyol.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2