Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 9


__ADS_3

...Attention!!! 17+...


...Baca part ini dimohon setelah berbuka puasa, ya! Atau malem-malem deh, atau subuh sebelum imsyak!(Bagi yang menjalankan. Bagi yang tidak, silakan!)...


.......


.......


.......


Waktu telah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Puluhan manusia dari berbagai gender dan usia semakin berkumpul dan memenuhi ruangan club malam. Sorakan serta dentuman musik DJ membuat mereka semakin gencar untuk sekedar minum, menari, maupun yang minum sambil menari.


Tak ayal banyak juga yang melancarkan aksinya dengan saling bercumbu, walaupun ada banyak orang di satu tempat yang sama dengan mereka.


Kenzo, Haykal, Juna, Rio, Azka, dan juga Alex,  keenamnya tengah berada di ruangan VVIP. Mereka menghabiskan waktu dengan bersantai, minum dan berbagai hal menyenangkan lainnya.


Di tempat tertutup dan cukup kedap suara itu tersedia beberapa sofa panjang yang berwarna merah menyala. Keenamnya sibuk memainkan permainan kartu. Yang kalah, minum sampai mabuk.


Ya. Begitulah mereka. Mereka berenam bukanlah anak-anak baik apalagi suci. Tak banyak orang yang tahu bahwa keenamnya sama saja.


"Anjaaay! Lo kalah, Lex! Habisin! Kita-kita kagak mau tahu! Ye, gak, Bro!" Juna berseloroh, setelah sekian kali Alex yang selalu menang, kalah juga.


"Eh, jangan! Nanti dia gak kuat! Biar Abang Kenzo aja!" Perkataan Kenzo, terdengar seperti tengah mengejek Alex.


Cowok itu lantas mengambil segelas penuh beer, lalu menghabiskannya persekian detik.


"Segini doang." Ucap Alex, lalu berdecih. Semua teman-temannya refleks berseru dengan tatapan kagum.


"Nanti pas pulang lo harus nyetir, Lex! Awas aja lo oleng! Gue masih harus memperjuangkan cinta gue! Gue kagak mau mati muda Lex, seriuusss!!!" Azka mengomel, membuat yang lainnya refleks tertawa.


"Tiduran dulu lah sana! Biar entar pas pulang, kepala lo gak pusing!" Haykal berucap perhatian pada Alex.


Ya. Bisa dibilang kalau Alex dan Haykal adalah sohib. Setiap Haykal down karena masalahnya, Alex selalu ada dan mendengarkan. Cowok itu juga sering memberinya petuah seperti Alex-lah yang paling tua. Padahal, Haykal empat bulan lebih tua dari Alex.


Memang, ya. Usia seseorang tidak menjamin seberapa besar kedewasaan mereka.


"Hm." Balas Alex singkat. Kemudian berjalan ke arah sofa panjang lain dan merebahkan dirinya seperti apa yang disuruh Haykal.


"Demen banget dah, kalo liat Alex patuh kek gini. Berasa dunia itu milik mereka aja gitu loh!" Perkataan Kenzo, spontan mendapat tatapan tajam dari Alex dan pukulan keras dari Haykal. Sedangkan yang lainnya tertawa.


"Bac*t lo! Lo pikir gue sama Alex, homo? Alex sohib gue dari SD, taik!"


Kenzo menyengir tanpa dosa. Sedangkan Alex hanya diam dan memejamkan kedua matanya dengan perasaan dongkol.


"Bercanda, Kal! Sensitif banget,"


"Dah, dah, dah! Main lagi laah, lanjooottt!" Seru Rio, yang mulai kehilangan kesadarannya akibat terlalu banyak minum.


Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 00:30 malam. Tapi geng Kenzo masih belum juga pulang dari club malam. Tak ada satu orang pun dari keluarga mereka menjemput karena khawatir, atau apalah itu.


Keenamnya yang kesadarannya mulai kembali, memutuskan untuk pulang. Besok pagi-pagi sekali mereka masih harus sekolah. Tapi, tidak dengan Haykal. Cowok itu masih betah berlama-lama di ruangan VVIP tersebut.


"Udah gak pusing. Balik kuy!" Alex bersuara seraya memakai kembali jaket kulit berwarna hitam yang sebelumnya ia lepas dan sampirkan di bahu sofa.


"Kuy!" Juna, Azka, dan Rio, kompak menyahut. Sedangkan Kenzo sibuk mengecek ponselnya, berharap ada satu orang pun yang menelpon maupun mengiriminya pesan.


Namun hasilnya, tidak ada sama sekali.


"Ck. Gak asik." Gumam Kenzo, lalu bangkit seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket.


Semuanya sudah berdiri hendak pergi. Hanya tinggal Haykal yang masih duduk seraya memainkan gelasnya sambil bengong.


"Kal! Gak balik?" Azka menyahuti salah satu sahabatnya. Haykal yang semula bengong, mulai mengalihkan tatapannya pada Azka, lalu pada yang lain.


"Kalian aja! Gua lagi gak mau balik." Jawab Haykal, tersenyum samar.


"Lo gak pa-pa?" Alex sudah curiga. Dia tahu betul, bahwa sahabatnya yang satu ini pasti sedang dalam masalah.


Haykal tertawa seraya menatap satu-persatu sahabatnya. "Gua kagak pa-pa. Gua lagi males aja,"


"Serius, nih, kita pulang? Entar lo baliknya gimana?" Juna ikut menyela.


"Di parkiran club ada motor gua yang sengaja gua tinggalin kemaren. Kalian tenang aja,"


"Ya udah. Kalo gitu kita balik. Jaga diri lo, Kal! Besok pagi masih harus sekolah." Perkataan Kenzo, mendapat tempelengan cukup keras dari Rio. Kenzo tentu saja tidak terima, dan membalasnya kontan.

__ADS_1


"Buset, Zo! Ini udah besok!" Ujar Rio, dan Kenzo pun tampak berpikir sejenak, lalu menyengir.


"Oh, iya. Pantesan tangan lo galak! Ngasih tahunya jan pake kekerasan dong!"


"Ya udah, ya! Kita balik. Jangan terlambat lagi lo, Kal, entar bisa-bisa kita dihukum beramai-ramai. Iya, gak?" Kenzo dan yang lainnya mulai melenggang keluar dari ruangan tersebut.


"Yeeh... bukannya elo, Zo, yang sering banget bikin satu kelas kena amuk?" Juna berjalan di samping Kenzo.


"Itu, kan, cuma kena kena amuk! Bukan dihukum lari di lapangan juga,"


"Cuma, lo bilang? Lo gak liat mukanya Pak Ucup udah kek orang mau perang?" Azka, si bawel, masuk di tengah-tengah tubuh Kenzo dan Juna.


"Udah kek mau lempar granat, ye gak, Ka?" Ucap Rio yang berjalan di belakang ketiganya. Keempat cowok itu sudah sepenuhnya meninggalkan ruangan tersebut. Hanya tinggal Alex yang masih enggan meninggalkan Haykal.


"Kalo ada apa-apa, lo jangan sungkan kasih tahu gue!" Ucap Alex, lalu melenggang menyusul keempat teman-temannya.


Kini, hanya tinggal Haykal sendiri yang tersisa. Cowok itu lantas mengambil sebotol wine yang masih penuh, lalu menenggaknya langsung dari botolnya.


Setelah menghabiskan hampir setengah botol wine, raut wajah cowok itu terlihat kusam dengan kedua bola matanya yang merah berair seperti tengah menahan tangis. Terlihat jelas bahwa dirinya tengah memiliki masalah saat ini.


"Gue butuh pelampiasan!" Gumam Haykal, seraya membuka resleting jaketnya.


...****...


Haykal berjalan tertatih keluar dari ruangan VVIP tadi. Wajahnya sudah memerah dan kesadarannya tinggal separuh. Cowok itu berjalan tidak pasti dengan pandangan mata yang mulai kabur.


Orang-orang yang berada di sekitarnya tidak ada yang memedulikannya. Mereka semua sibuk minum dan berkencan dengan beberapa wanita bar.


Haykal menghentikan langkah kakinya ketika suara tangisan yang amat dia kenali memasuki pendengarannya.


Perlahan, kesadarannya mulai kembali, walau belum sepenuhnya. Cowok itu berjalan sesuai naluri pendengarannya.


Sesampainya di tempat di mana suara tangisan itu terdengar, Haykal memelotot dengan raut wajah tidak percaya.


Seseorang yang dahulunya adalah cinta pertama sekaligus cinta masa kecilnya, tengah diganggu beberapa gadis berpakaian minim yang Haykal tahu, siapa saja orang-orang itu.


"BIANCA!" Haykal berjalan menghampiri gadis bernama Bianca yang terlihat sedang terduduk lemas di lantai dengan pakaian yang super minim.


"Lho, Haykal? Hai! Lo pelanggan di sini juga ternyata!" Sahutan dari salah seorang perempuan yang menyakiti Bianca, membuat Haykal refleks melirik ke belakang.


"Lo Agnes, kan? Ngapain lo gangguin Bianca? Punya dendam apa lo, sampai buat dia jadi kayak gini?"


Gadis yang dipanggil Agnes itu tertawa bersama kedua temannya yang lain, Alia dan Saras.


"Haykal! Kok, lo bisa seganteng ini, sih? Lo player, kan? Lo pasti mau dong service sama gue malem ini? Body gue gak kalah kok, sama mantan-mantan pacar lo yang udah lo buang itu. Gimana? Tertarik?" Agnes berjalan menghampiri Haykal, seraya mengelus-elus dada Haykal sensual.


Gadis yang masih duduk di bangku kelas 3 SMA ini berperilaku layaknya seorang jal*ng yang sudah berpengalaman.


"Pergi lo!" Haykal menepis kasar tangan Agnes yang dengan berani menyentuh dirinya. "Gue emang player. Tapi selera gue bukan pel*cur kayak lo!" Tambah Haykal, membuat Agnes langsung terdiam membeku. Lalu persekian detik kemudian, ia tertawa sinis.


"Oh, ya? Gimana kalo sama si B*tch yang di samping lo itu? Dia juga sering ke bar, lho, padahal! Cowok-cowoknya rata-rata yang udah dewasa!" Ujar Agnes.


Haykal tentu saja terkejut. Tatapan mata cowok itu langsung beralih menatap Bianca yang terlihat menunduk sambil menyembunyikan wajahnya.


"Lo punya bukti, kalo Bianca sering ke bar?" Tatapan Haykal berubah dingin menatap Agnes.


Dan, yah. Haykal sudah masuk ke dalam perangkap Agnes. Gadis itu dan kedua temannya tertawa dalam hati.


"Bukti? Lo mau bukti?" Haykal tak menjawab. Raut wajahnya malah semakin dingin dan membuat Agnes berdecih, kemudian meminta salah satu temannya, Alia, untuk memberikan ponsel miliknya.


"Nih! Semua pengikut instagram dia aja tahu, kalo Si B*tch ini sering ke bar! Liat nih postingan IG dia! Dia sendiri lho, yang upload!" Agnes memberikan ponselnya pada Haykal, sambil terus mengompor-ngompori.


Terlihat jelas kedua alis cowok itu mengerut dalam. Kepalan tangannya di bawah sana juga sudah mengeras. Napasnya memburu melihat sebuah foto yang gadis itu posting sendiri, dan itu memang bar. Ada foto seorang bartender yang entah sengaja terpotret atau tidak, berdiri menyamping di belakang.



Dan yang membuat Haykal semakin panas ialah, Bianca terlihat tersenyum walaupun sedikit dengan pakaian yang cukup untuk menggoda iman seseorang.


Haykal lalu beralih melihat kolom komentar. Dan, yah. Haykal semakin marah saat melihat puluhan komentar kurang sopan yang sudah pasti ditujukan pada Bianca.


Sudah muak. Haykal melempar ponsel mahal milik Agnes hampai hancur lebur tak tersisa. Pemilik ponsel itu tentu saja terkejut. Ponselnya yang baru beberapa hari ia beli, kini sudah hancur di tangan cowok player bernama Haykal.


"Sama siapa lo ke bar?" Pertanyaan Haykal ditujukan pada Bianca. Gadis itu langsung mendongakkan kepalanya menatap Haykal dengan tatapan kecewa. Ternyata, lelaki yang dulunya sangat cinta mati padanya juga tidak mempercayainya.


Benar juga. Siapa juga yang akan percaya jika bukti kuat sudah ada di depan mata? Dan lagi, foto unggahannya itu asli. Bukan editan.

__ADS_1


"Kalaupun gue jelasin, lo gak akan percaya sama gue!" Ucap Bianca pelan, sembari membuang tatapannya dari Haykal.


Kesabaran Haykal sudah habis. Cowok itu dengan kasar menarik pergelangan tangan Bianca menuju ruangan VVIP yang sebelumnya ia tinggalkan.


Cowok itu mendorong tubuh Bianca ke atas sofa, lalu mengunci pintu ruangan tersebut dari dalam.


Sedangkan Bianca, gadis itu sudah ketakutan melihat ekspresi wajah Haykal yang terlihat menyeramkan. Gadis itu meringkuk di atas sofa sembari terus memundurkan posisi duduknya, berharap bisa menjauh dari cowok itu.


Haykal berjalan mengambil sebotol wine yang tinggal setengahnya itu lalu menenggaknya hingga habis. Raut wajahnya semakin menggila, apalagi setelah meminum minuman beralkohol itu.


"Lo sering ke bar, kan? Nemenin laki-laki bejat minum? Nih, habisin! Gua juga salah satu laki-laki bejat, asal lo tahu!" Haykal memberikan segelas penuh beer ke hadapan Bianca. Gadis itu terlihat memeluk tubuhnya seraya menangis.


Perlakuan Haykal padanya saat ini benar-benar menakuti Bianca. Haykal yang saat ini bukanlah Haykal yang dulu teramat mencintainya. Tetapi, Haykal yang memperlihatkan sisi gelap dan terburuk laki-laki itu yang tidak pernah sekalipun gadis itu bayangkan.


"MINUM!" Bentak Haykal. Gadis itu semakin memeluk tubuhnya dan ketakutan. Dia ingin menjelaskan, tapi sepertinya sudah terlambat. Haykal sudah tersulut emosi, dan akan sulit bagi siapa pun orang yang hendak menjelaskan padanya.


"Gue gak nyangka ternyata lo serendah ini! Perempuan yang selalu gue lindungi dan gue cintai, ternyata begini! Berarti selama ini sifat polos lo itu palsu?"


Mendengar kalimat Haykal yang mengatai dirinya rendah dan juga palsu, membuat Bianca spontan menatap raut wajah cowok itu. "Rendah? Lo bilang gue rendah? Terus lo apa yang sering nidurin cewek-cewek, terus setelah lo puas, lo buang gitu aja? Lo pikir, lo gak rendah? Lo bahkan lebih parah!" Ucapnya lantang, walaupun nada suaranya terdengar sedikit bergetar.


"Masih gak nyadar? Menurut lo, gue kayak gini gara-gara siapa?" Haykal menekan kuat kedua pipi Bianca, membuat gadis itu meringis seraya menatapnya nanar.


"Karena lo sering nemenin laki-laki di bar, gimana kalo lo malam ini temenin gue? Sering, kan?" Haykal tersenyum bak iblis, seraya melepas sabuk yang melilit di pinggangnya. Cowok itu juga mulai melepaskan kaus putih yang dia kenakan, kemudian melemparnya sembarangan.


Bianca sudah was-was. Gadis itu juga sudah ketakutan, apalagi ketika melihat Haykal sudah kembali mendorong tubuhnya, dan berdiri di atas tubuhnya.


"Lo mau apa!?" Bianca berteriak seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Seperti yang otak lo pikirkan!" Balas Haykal, cowok itu lalu menenggak wine yang sebelumnya ia hidangkan untuk Bianca, kemudian menyalurkannya ke mulut gadis itu lewat mulutnya sendiri.


Bianca tentu saja memberontak. Gadis itu mendorong kuat tubuh Haykal yang semakin dekat dengan tubuhnya. Namun, bukannya lolos, Bianca semakin tidak bisa bergerak, ketika tangan cowok itu mengikat kedua tangannya di atas kepala menggunakan sabuk pinggangnya.


Haykal melepaskan ciuman kasarnya. Kedua matanya menatap gadis di bawah tubuhnya yang terlihat bernapas dengan terengah-tengah.


Namun, seolah sudah dirasuki, cowok itu dengan brutal merobek pakaian minim Bianca, hingga menyisakan pakaian dalamnya saja. Gadis itu berteriak seraya terus memohon ampun, berharap Haykal akan menghentikan aksi gilanya itu.


"Haykal, jangan! Gue mohon, lo jangan kayak gini! Gue akan jelasin semuanya, tapi lo jangan kayak gini, gue mohonnnn... Gue takut...."


Terlambat. Haykal sudah dikuasai oleh amarah dan juga nafsu. Cowok itu seolah tuli akan teriakan gadis di bawahnya.


Tanpa aba-aba, Haykal langsung melancarkan aksi bejatnya. Bianca yang sedari tadi memberontak, perlahan perlawanannya mulai melemah.


Air mata mengucur deras dari pelupuk matanya.


Malam ini, Bianca Anatasya Pradini, bukan lagi seorang perempuan suci.


^^^To be continue....^^^


...Haykal...



...Bianca...



...Kenzo...



...Alex...



...Juna...



...Rio...



...Azka...


__ADS_1


__ADS_2