
"Iiihh... lo berdua apaan, sih! Enggak, kok. Siapa juga yang cemburu!" Ujar Kanza. Raut wajahnya berubah menjadi ditekuk kesal.
Kayla dan Alma hanya menanggapi dengan terkikik geli. Tak lama kemudian, giliran mereka bertiga untuk mulai memilih.
"Psss..." suara desisan seseorang di samping Kanza, sontak membuat gadis itu langsung menoleh pada sumber suara.
"Alex?" Kanza memanggil nama seseorang itu yang tak lain adalah Alex dengan suara pelan. "Kok, lo di sini? Bukannya tadi di sana, ya?"
Alex berdeham seraya membenarkan posisi dasinya. "Kenapa? Gak boleh?" Tanya cowok itu yang dibalas kekehan kecil oleh Kanza.
"Terserah lo aja, sih." Kanza mulai membuka lipatan kertas yang berisi nama serta foto calon ketua dan wakil ketua OSIS yang akan segera dipilihnya.
Tentu saja gerak-gerik Kanza terus diperhatikan oleh Alex. Cowok itu dengan cool berjalan selangkah ke samping Kanza. Seberusaha mungkin Alex mengintip siapa yang akan dipilih oleh gadis itu.
Kanza refleks terkesiap ketika tahu bahwa posisi Alex kini semakin berdekatan dengannya. Gadis itu juga spontan menyembunyikan kertas itu di belakang tubuhnya.
"Ish! lo ngintip, ya?" Tuduhan Kanza yang terdengar cukup nyaring, membuat murid-murid SMA Naruna yang berada di aula spontan melirik gadis itu.
Namun, bukan Kanza namanya kalau tidak bar-bar. Selain bar-bar, Kanza juga tipe orang yang tidak melihat situasi, apalagi peduli situasi.
Alex tertawa kecil seraya terus menatap lekat kedua manik mata gadis di hadapannya. "Dikit doang," ujar Alex.
Kanza menatap cowok itu dengan tatapan tidak percaya. "Syuh, syuh! Ini tuh, dokumen negara! Gak boleh sembarangan diintip." ucapan Kanza mendapat anggukan kecil dari Alex. Cowok itu tidak kembali membalasnya, tapi bukan berarti percakapan keduanya akan berhenti sampai di situ.
"Za! Lo bakal pilih gue, kan?" Alex kembali berbisik di samping Kanza.
Gadis itu berdesis kesal mendengar bisikan dari Alex yang lebih terdengar seperti ocehan bawel menyebalkan. Padahal, Kanza baru saja selesai memilih calon ketua OSIS. Ia tinggal memilih siapa wakilnya saja.
"Suttt... diem! Bawel banget dari tadi! Udah dibilangin ini rahasia! Lo gak boleh tahu!" Perkataan Kanza, membuat Alex spontan mengulum senyumnya.
"Udah, pilih gue aja. Lo gak akan rugi kalau milih gue." Ujar Alex, seketika membuat tawa Kanza pecah.
"Yakin gak bakal rugi? Emang kalau gue milih lo, keuntungan apa yang akan gue dapatin?"
Alex terlihat berpikir sok serius. "Jadi pacar gue, gimana?" perkataan Alex, membuat raut wajah Kanza menegang. Gadis itu bahkan terlihat mulai gugup sampai kedua pipinya memerah seperti tomat.
"Gimana? Gak rugi, kan?" suara Alex sontak menyadarkan Kanza. Seberusaha mungkin Kanza tidak salting, tapi semuanya sia-sia.
Wajahnya, gerak-gerik tubuhnya, seolah mengisyaratkan bahwa dirinya sedang salah tingkah.
"Apaan, sih, lo! Sana, sanaaa! Jangan ganggu gue apalagi godain gue! Gak mempan, tahu gak!" ucapnya sarkastik, seberusaha mungkin Kanza untuk menyembunyikan senyum di wajahnya.
Alex tersenyum bangga melihat reaksi yang dikeluarkan oleh Kanza. Walaupun mulutnya berkata begitu, tapi sepertinya hatinya berkata lain.
Tidak ingin terus menggoda Kanza, Alex memutuskan untuk kembali ke posisinya semula, yaitu berada di samping calon-calon ketua dan wakil ketua OSIS lain.
Beberapa siswa yang sedari tadi menyaksikan adegan manis yang dilakoni oleh Alex dan Kanza mendadak syirik sekaligus kesal. Termasuk Dayana yang mulai menanamkan rasa kebencian yang teramat kepada Kanza.
Sialan lo Anak Baru! Awas Aja Lo!
...****...
"Jadi pacar gue, gimana?"
"Aaaaarghhh!!! Gue gak bisa tiduuurrr!" Kanza berteriak seraya mencak-mencak di atas tempat tidurnya.
Perkataan Alex tadi siang ketika di aula sekolah membuatnya tidak bisa fokus seharian, bahkan membuatnya tidak bisa tidur.
Lihatlah! Sekarang sudah pukul 02.24 pagi! Dan Kanza masih terjaga, padahal paginya ia masih harus pergi ke sekolah.
Kanza lantas merengek seperti seseorang yang tengah menangis. Di otaknya saat ini hanya ada Alex, Alex, Alex, dan Alex!
Hanya karena cowok itu menggodanya sedikit, Kanza sudah dibuat seperti ini oleh Alex.
"Lo kenapa harus ngomong begitu ke gue, hah?! Dasar Alex ngeselliiinnnnn!" Kanza memukuli bantalnya sebagai alat pelampiasan.
Gadis itu sesekali merengek, tertawa, bahkan salting sendiri seperti seseorang yang mengidap gangguan mental.
Tidak! Ia tidak boleh menjadi gila diusia muda! Ia masih harus pergi ke Korea untuk bertemu dengan idol dan aktor kesayangannya!
"Pokoknya, gue harus bisa tidur malam ini! HARUS!" Ucapnya penuh semangat.
...****...
Pagi harinya, tepat pukul 7 pagi, Kenzo beserta kelima teman-temannya tiba di sekolah. Sebelum masuk ke kelas, mereka menyempatkan diri untuk mampir sebentar di kantin.
"Jadi... sekarang lo udah resmi jadi Ketua OSIS, nih, Lex?" Azka menyahut, membuat perhatian teman-teman satu kumpulannya beralih melirik ke arahnya.
__ADS_1
"Yo'iiii!" timpal Juna, seraya merangkul bahu Alex.
Alex yang tidak begitu suka dirangkul, apalagi oleh sesama jenis, langsung menepis lengan Juna. Raut wajah cowok itu pun berubah dingin menatap salah satu sahabatnya itu.
Bukannya takut ditatap dingin oleh Alex, Juna malah menyengir seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Terus yang jadi Wakil Ketuanya siapa?" Sahut Rio. Yang lainnya tampak berpikir sejenak. "Si Maria, anak kelas XI IPA 2." jawab Alex. Kelima temannya tampak mengangguk bersamaan.
"Eh, si Dayana kagak kepilih?" Kini Haykal yang buka suara.
"Apanya yang kepilih? Yang milih dia aja dikit. Lo pikir cewek modelan dia bakal banyak yang milih?" Juna menyela sembari menyindir.
"By the way, lo semua pada milih siapa buat jadi wakil ketua OSIS kemaren? Gue sih, si Tony." Pernyataan Kenzo, membuat teman-temannya kembali melayangkan ingatannya pada pemilihan OSIS kemarin.
"Gue sih, Si Maria! Tuh, anak selain pinter di kelas, dia orangnya juga pendiem gitu. Bukan tukang cari gara-gara kek si Dayana," Azka menimpal.
"Setuju! Gue juga pilih dia kemaren!" Haykal menyeru sambil menggebrak meja kantin, membuat teman-temannya termasuk anak-anak yang berada di sekitar kantin, menatap ke arahnya.
"Bukannya kemaren lo bilang pilih si Tony, Kal?" Pertanyaan Rio, membuat Haykal sontak mengerutkan dahinya seraya berpikir.
"Hah!? Emang iya?" Tanyanya, membuat teman-temannya sontak tertawa.
"Heuh! Dasar pikun lo!" Celetuk Juna.
"Wah... belom ada 24 jam setelah acara pemilihan kemaren, lo udah lupa aja, Kal. Jangan-jangan lo pilih si Dayana, lagi!?" Azka menyela yang langsung diangguki Kenzo dan yang lain.
"Dah, dah! Ribet amat cuman masalah pilih siapa-pilih siapa doang. Ke kelas, ah! Gue pengin merebahkan diri, nih!" Ucapan Kenzo langsung mendapat persetujuan dari kelima teman-temannya.
"Ah, lo emang yang paling tahu, dah, Zo!" Cetus Juna. Kenzo langsung menatap salah satu sahabatnya dengan tatapan kebingungan.
"Tahu apaan?"
"Tahu sumedang! Anjaaai!" Seloroh Juna, yang disambut riuh oleh teman-temannya.
Tidak dengan Alex yang sedari tadi hanya diam dan memerhatikan. Cowok itu hanya menanggapinya dengan tertawa kecil seraya geleng-geleng kepala. Tingkah ajaib teman-temannya benar-benar tidak pernah ada habisnya.
...****...
Pukul 7 lebih 15 menit, Kanza tiba di depan kelasnya dengan tubuh yang lesu dan raut wajah pucat. Kedua kantung matanya pun tampak menghitam. Seperti seekor beruang panda.
Dan, yah. Ini semua gara-gara ucapan Alex waktu pemilihan anggota OSIS kemarin. Membuat Kanza jadi tidak bisa bisa tidur semalaman.
Tanpa ia sadari, gerak-geriknya terus diperhatikan oleh gengnya Kenzo, termasuk Alex yang sedari kedatangan Kanza memasuki ruang kelas, tersenyum kecil melihatnya yang menguap kelelahan.
"Kenapa lo? Gadang lagi?" Kenzo menyeletuk yang ditujukan pada Kanza, kembarannya.
Gengnya Kenzo tentu saja dibuat terheran-heran oleh pernyataan salah satu sahabat mereka itu. Mereka berpikir, *k*napa Kenzo terlihat begitu akrab dengan Kanza?!
Termasuk Alex yang terlihat mulai jealous melihat keakraban Kenzo ketika bertanya pada Kanza.
"Berisik lo! Jangan bikin gue bad mood, deh! Ini tuh, masih pagi." Kanza membalas celetukan Kenzo.
Kenzo tidak membalasnya lagi. Ia hanya berdecih kemudian memainkan ponselnya yang ia ambil dari dalam saku blazer yang ia kenakan.
Sama halnya seperti Kenzo, Alex pun mulai jengah dengan membuka ponselnya yang terus berdering karena banyaknya notifikasi dari grup WhatsApp baru.
"Berisik banget hape lo, Lex." Juna yang posisi mejanya berada tepat di belakang Alex menyahut.
Alex tidak langsung menjawabnya. Ia malah membaca satu-persatu chat dari anggota grupnya yang sepertinya akan mengadakan rapat OSIS dadakan.
Alex mengembuskan napasnya seraya mulai bangkit dari kursinya. Cowok itu mulai mengeluarkan sebuah buku catatan yang mungkin akan diperlukan nanti ketika rapat OSIS.
Melihat gerak-gerik Alex yang cukup mencurigakan, membuat fokus kelima teman-temannya langsung beralih menatap cowok itu.
"Mau ke mana, Lex?" Rio dan Kenzo menyahut bersamaan. Kedua cowok itu tampak kaget, namun sedetik kemudian mereka tertawa kecil lalu bertos ria ala cowok gentle.
"Gue rapat OSIS dulu!" Ujar Alex, membuat teman-temannya hanya bisa mengangguk seraya ber-oh ria.
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Alex langsung melenggang keluar dari dalam kelas.
...****...
Ruangan seni yang dijadikan sebagai ruangan untuk rapat sementara kini sudah dipenuhi oleh anggota-anggota keosisan yang saling menggosip sana-sini.
Mereka semua sedang membicarakan salah satu anggota OSIS yang mendadak keluar dari anggota keosisan, yang menyebabkan sedikit kekacauan dan berkurangnya anggota OSIS inti.
Alex selaku Ketua OSIS baru, tiba di dalam ruangan tersebut. Satu ruangan pun mendadak hening. Sebelum mengucapkan sepatah, dua patah kata, Alex menyempatkan diri untuk menarik napasnya dalam-dalam.
__ADS_1
Gosip soal Maria yang mendadak keluar atau lebih tepatnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Ketua OSIS membuat Alex bingung harus bagaimana. Dikirimi puluhan chat oleh Alex pun gadis itu tidak membalasnya.
Sebenarnya, apa yang sudah terjadi?
"Lex! Kita mulai rapatnya sekarang aja, gimana?" Tony menepuk pelan bahu Alex, membuat cowok itu seketika terbangun dari lamunan kecilnya.
Alex mengangguk setuju. Dan setelahnya, rapat dadakan pun dimulai.
...****...
Satu hari yang lalu...
"Maria selamat, ya..."
"Aaaa... Pilihan gue emang gak pernah salah! Untung gue pilih lo, Mar!"
"Cieee... Yang sekarang jadi Wakil Ketua OSIS. Gimana rasanya bersanding sama si Cogan Alex?"
Mendengar berbagai ucapan selamat yang ia dapatkan dari teman-temannya membuat wajah Maria memerah. Apalagi ketika salah satu temannya yang baru saja menyebutkan nama Alex.
"Iih, apaan, sih! Btw, makasih ucapan selamatnyaaa..." balasan Maria yang cukup sopan membuat teman-teman di sekelilingnya semakin menyukai gadis itu.
Selain karena Maria itu anaknya pendiam, ia juga adalah murid kebanggaan No. 2 setelah Alex. Ia juga memiliki sifat santun yang membuat siapa saja akan merasa nyaman ketika berada di dekatnya.
Mendengar berbagai ucapan selamat yang ditujukan untuk Maria, membuat seseorang yang baru saja mengalami kekalahan dalam pemilihan OSIS cemburu sekaligus iri hati.
Siapa lagi kalau bukan Dayana. Anak satu gengnya Monika.
Gadis itu terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan deru napas menggebu. Tatapan matanya tak lepas dari punggung Maria yang berada di depannya.
"Kita ke kelas aja, yuk! Kaki gue pegel, nih." Ucapan Anggia, yang juga teman satu geng Monika dan Dayana, mendapat pelototan tajam dari Dayana.
"Diem di sini dulu, napa!" Dayana membalas ngegas. Spontan Anggia mengerucutkan bibirnya sebal.
"Posisi lo direbut, tuh. Lo gak mau balas dendam, gituh?" Bisikan dari Monika yang berada di sebelah Dayana, membangkitkan sedikit perasaan gadis itu.
"Lo bener! Gue harus balas dendam! Punya apa dia, sampai terpilih jadi Wakil Ketua OSIS!? Dasar cewek miskin! Masuk sekolah ini karena beasiswa aja bangga!" Desis Dayana. Refleks membuat Anggia mengerutkan keningnya.
"Ih, padahal banyak banget yang milih si Maria, lho! Kalau dibandingin sama yang milih lo, kalah jauh banget. Kek 1 berbanding 10.000," penuturan Anggia yang terlalu jujur, kembali mendapat pelototan tajam dari Dayana. Tidak dengan Monika yang hanya tertawa sinis.
"Lo temen gue bukan, sih?"
Anggia mengulum bibirnya rapat-rapat setelah diteriaki oleh Dayana. Gadis itu memilih mengambil ponselnya yang berada di dalam saku roknya dan memainkannya sebagai alasan. Padahal, ia seperti itu untuk menutup mulutnya yang kelewat seperti ember bocor ini rapat-rapat.
"Suruh dia ke belakang sekolah!" Ucapan Monika dibalas senyum jahat oleh Dayana. Dengan angkuh, gadis itu mulai mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Maria.
Sepuluh menit berlalu setelah Dayana yang menghubungi Maria untuk menyuruhnya datang ke gedung belakang sekolah yang jarang sekali dilalui.
Ketiga gadis itu, Monika, Dayana, dan Anggia, tampak menunggu dengan raut wajah menahan kekesalan.
"Si Maria-nya mana, sih?" Monika mulai mengibaskan kipas tangannya di sekitar area leher. Gadis itu mulai kepanasan.
"Tahu, tuh. Bikin orang nunggu aja, hahaha!" Anggia ikut berkomentar, namun fokus kedua matanya tertuju pada ponselnya yang menampilkan sebuah video lucu.
"Anggia! Bisa serius dikit gak, sih?" Dayana kembali membentak Anggia. Gadis itu yang tadinya masih bisa tertawa lepas, lantas menghilangkan tawanya itu yang diganti dengan raut wajah dongkol.
Tak lama setelah itu, Maria datang menemui Dayana. Gadis itu terlihat kebingungan ketika melihat Monika dan juga Anggia berada di satu tempat sama dengan Dayana.
"Lo manggil gue ke sini ada apa ya, Na?" Maria mulai bertanya baik-baik. Sedangkan Dayana yang ditanya baik-baik malah tertawa sinis.
"Gak usah sok lemah lembut, lo! Gue to the point aja, deh, ya! Lo mending menyerahkan diri dari jabatan lo sebagai Wakil Ketua OSIS! Biar gue yang akan gantiin lo!"
Maria menatap Dayana dengan tatapan keberatan. Dalam hati, memangnya Dayana siapa sampai menyuruhnya untuk mengundurkan diri dari jabatan barunya itu?
"Kenapa? Keberatan?" Pertanyaan dari Monika, tentu saja Maria sangat keberatan. Namun, gadis itu tidak bisa langsung mengatakan demikian.
Ia masih tahu betul, seperti apa gadis-gadis di hadapannya ini. Kalau tidak berhasil memaksa seperti tadi, mungkin hal lain diluar dugaan akan terjadi.
"Sorry! Gue gak bisa menyerahkan jabatan gue begitu aja. Ini udah keinginan gue dari lama untuk masuk anggota OSIS. Seenggaknya, walaupun gue gak jadi ketuanya, gue masih jadi wakilnya."
Raut wajah Dayana yang angkuh, langsung berubah kecut. Gadis itu dengan langkah kaki yang cukup lebar, menghampiri Maria, kemudian menarik kerah seragam gadis itu.
Maria tentu saja dibuat terkejut! Tidak pernah sedikitpun terpikirkan olehnya bahwa Dayana akan bersikap tidak sopan seperti sekarang ini.
"KELUAR DARI JABATAN LO! ATAU GUE SEBARIN AIB KELUARGA LO!"
^^^To be continue....^^^
__ADS_1
Maaf, baru bisa up! Dan maaf, kalo upnya dikit banget! Aku sekarang gk bisa up cepet, apalagi upnya lebih dari 1 eps! Sekarang di daerah aku sekolah udah dibuka lagi. Ditambah SMK pulangnya agak sorean, jadi pas pulang ke rumah tuh suka cape. Kadang juga harus ngerjain tugas, jadinya gak sempet ngetik. Walaupun begitu, aku ttp diusahain ngetik buat up! Dan bergadang adalah jalan ninjaku😁 yodah kalau begitu, sampai jumpa di next eps manteman:* btw, cover novelnya aku ganti sesuai instruksi dari pihak Mangatoon-nya yak! Mhee:v