
Alex mengurut keningnya yang terasa begitu sakit dan pusing. Laki-laki itu baru saja menyelesaikan rapatnya dengan para anggota OSIS lain semenit yang lalu.
Beberapa menit sebelumnya...
"Lex! Ini Maria gak ada kabar sama sekali. Kemana tanggung jawab dia sebagai wakil ketua?"
"Malem-malem dia ngirimin chat ke Tony, dan bilang katanya mau ngundurin diri. Gue pikir dia cuman bercanda,"
"Hari ini dia juga gak sekolah."
"Akh! Kemaren aja sok-sok an kek beneran bakal bertanggung sama kewajiban dia. Mana udah bikin orang lain pada percaya plus naruh harapan sama dia lagi!"
"Terus ini gimana?"
Alex beserta anggota OSIS inti lain yang mendengar satu-persatu keluhan dari anggota-anggota OSIS-nya, dibuat pusing sekaligus kebingungan.
Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain terus berpikir dengan harapan mendapat jalan keluar dari permasalahan saat ini.
"Oh, ya, Ton! Gue boleh lihat chattan lo sama Si Maria?" Alex membuka suara setelah cukup lama cowok itu berdiam diri.
Tony, yang menjabat sebagai wakil sekretaris OSIS, langsung memberikan ponselnya kepada Alex, seperti yang diminta laki-laki itu.
"Gue sama sekali gak ngerti sama jalan pikiran Maria. Dia ngechat gue gitu aja terus katanya mau ngundurin diri! Gue tanya kenapa, dia malah—" Tony menggantung ucapannya ketika salah satu tangan Riana, sekretaris OSIS, yang duduk di sebelahnya menyentuh bahunya pelan, seakan mengisyaratkan Tony untuk berhenti menjelaskan.
Alex mulai membaca chat obrolan Tony dan Maria dari awal. Dimulai dari Maria yang pertama kali mengirimi pesan chat pada Tony.
Maria
P
^^^Ya?^^^
Ton, tolong bilangin permintaan maaf gue ke anggota OSIS yg lain, ya
^^^Mksd?^^^
Gue mau ngundurin diri dri wakil ketua OSIS. Lo yg harus gantiin gue ya. Jgn yg lain, gue mohon
^^^Lo apa² an sih.^^^
^^^Knpa lo mau ngundurin diri?^^^
Gue gk bisa ksih tau lo penyebabnya apa
Yg jls, gue ngundurin diri
Itu aja, mksih
Bilangin sama yg lain klo gue minta maaf
^^^Maria!^^^
^^^Gue tanya sama lo!^^^
^^^Ini ada apa sebenarnya?!^^^
Tak ada balasan lain setelah Tony mengirimi chat terakhir pada Maria. Gadis itu seolah langsung mematikan ponselnya agar tidak ada siapa pun yang akan menghubunginya lagi.
Alex lantas memberikan ponsel Tony kepada pemiliknya. Isi chattingan antara Tony dan Maria begitu mencurigakan.
Jangan-jangan....
Tatapan mata Alex beralih melirik ke arah Dayana yang berada tepat disamping tempat duduk Tony.
Raut wajah gadis itu terlihat mencurigakan. Dia seakan tengah tersenyum puas, padahal satu ruangan saat ini terlihat begitu cemas sekaligus genting.
Kalau dipikir-pikir, salah satu pesan chat dari Maria ada yang membuatnya ganjil. Yang katanya "Lo yg harus gantiin gue ya. Jgn yg lain,".
Itu berarti, Maria tidak ingin jika posisinya nanti jatuh ke tangan orang yang salah. Dan perkiraan Alex, Maria baru saja diancam oleh Dayana.
Alex cukup yakin, bahwa pengunduran diri Maria yang tiba-tiba ini ada sangkut pautnya dengan Dayana.
Kemarin, Alex tidak sengaja melihat Dayana, Monika, dan Anggia pergi ke belakang sekolah. Beberapa saat kemudian, Maria seperti menyusul ketiga gadis itu ke belakang sekolah.
"Ekhem. Oke, semuanya. Bisa tenang dulu!?" Alex bersuara setelah cukup lama laki-laki itu terdiam diri bersama anggota OSIS inti yang lain.
"Karena Maria memutuskan untuk keluar dari jabatan, kita gak bisa maksa apalagi menuntut dia untuk menjelaskan kenapa dia mengundurkan diri. Jadi, sekarang kita akan mengadakan pemilihan calon wakil ketua yang baru. Gimana?"
Seluruh anggota OSIS tampak terdiam setelah mendengar penuturan dari Alex. Mereka berpikir seraya menimbang, apakah usulan dari Alex benar-benar bisa memacahkan masalah mereka saat ini!?
"Kita ngadain pemilihan ulang kayak kemarin?" Salah seorang anggota OSIS mengangkat tangannya seraya menyuarakan isi pikirannya.
"Lebih tepatnya, gue yang akan memilih orang itu untuk dijadikan wakil ketua OSIS. Kalian gak keberatan, kan, kalau gue yang langsung pilih?" Pertanyaan Alex, langsung disambut seru oleh semua anggota OSIS.
"Kenapa harus keberatan? Kita semua percaya sama Alex. Iya, kan?"
"Alex selain pinter, dia juga hebat dalam mengambil keputusan cepat. Kenapa kita harus keberatan?"
"Gue masuk OSIS biar bisa ketemu Alex dari deket. Terserah dia aja mau gimana-gimana juga. Gue sebagai bawahan dia tetep dukung, kok."
"Duh... Alex makin jadi idaman gak, sih?!"
"Setuju, Lex! Lo yang pilih pasti gak akan ngecewain!
Alex tersenyum kecil, membuat beberapa anggota OSIS yang terdiri dari kaum hawa, langsung terpaku dengan tatapan mata mereka hanya tertuju kepada Alex seorang.
"Oke, kalau gitu. Rapat kita sampai di sini dulu. Pemilihan wakil ketua yang baru, kita tunda sampai besok. Sekarang kalian semua boleh kembali ke kelas masing-masing."
...****...
"Wuihh... Cepet juga lo, Lex! Serius lo habis rapat?" Kenzo menyeletuk, ketika Alex baru saja tiba di depan pintu masuk kelas.
"Kok, kelas kosong? Gurunya pada ke mana?" Sahut Alex, yang dibalas gendikan bahu oleh Kenzo.
"Pada rapat keknya. Ini ngasih tugas!" Azka mengangkat buku paket Bahasa Inggris yang berada di atas mejanya.
__ADS_1
"Ah, males gue! Bahasa Inggris kagak ngarti. Sorry aja, ye," ucapan Juna spontan mendapat pukulan telak dari Rio menggunakan buku catatannya.
"Buset, Yo! Salah gue apa, sampe lo mukulin gue, hah!?"
Rio berdecak seraya berkacak pinggang. "Ya, elo! Katanya gak ngerti Bahasa Inggris, tapi barusan lo bilang 'sorry', gimana, sih."
"Lo pikir kata 'sorry' bahasa apaan?" Haykal terkikik di mejanya.
"Bahasa Ukraina!" Celetuk Juna. Membuat teman-temannya tertawa.
"Terus, kenapa lo pada gak ngerjain tugas?" Pertanyaan Alex, ketika setibanya cowok itu di kursinya, spontan dibalas cengiran oleh Kenzo, Juna, Azka, Haykal, dan Rio.
"Kan nungguin elo, Lex! Kita tuh, tipe temen yang solid, gitu lho! Sebelum lo selesai sama rapat lo, kita gak akan ngerjain tugas. Kita akan setia nungguin lo, sampai akhirnya kita semua ngerjain tugas ini bareng-bareng!" Ujar Haykal panjang lebar. Membuat teman-temannya refleks tertawa seraya menyeru cowok itu heboh.
"Alah! Apanya yang bareng-bareng? Palingan si Alex doang yang ngerjain tugas!" Juna menyahut.
"Panjang amat alesan lo, Kal! Bilang aja mau nyontek sama si Alex. Gitu aja ribet," Azka menyela. Dan yang lainnya masih setia tertawa.
"Yeeh. Gak usah sok suci lo berdua! Entar aja pas si Alex ngerjain tugas, lo berdua juga bakalan ikutan nyontek kek gue!" Balas Haykal. Azka dan Juna refleks saling pandang, kemudian saling menyeru.
"Jiaaahhh... ngapain gue nyontek. Mbah Google, kan ada. Ye, gak, Jun?" Ucap Azka. Membuat Haykal dibuat kesal luar biasa.
"Yo'iiii!"
"Lo—"
"Dah, dah, dah! Ribet amat masalah nyontek, kagak nyontek doang. Kalem dong, kayak Aa Kenzo! Ye, gak, everybody?" Ucapan Kenzo, membuat satu kelas refleks meneriakinya.
Bukannya merasa malu atau apa, Kenzo malah semakin menjadi dengan menaikkan satu kakinya ke atas kakinya yang lain.
"Ya udah sini, mana buku paketnya? Gue kerjain sendiri, dan lo semua gak ada yang boleh nyontek!" Ucap Alex. Senyum di wajah kelima teman-temannya langsung luntur dan digantikan dengan raut wajah kasihan.
...****...
"Za! Ma! Kalian mau pesen apa?" Kayla menyahut kedua sahabatnya, ketika mereka bertiga berada di dalam kantin.
Oh, ya. Jam istirahat pertama baru saja dimulai beberapa menit yang lalu.
"Emm... Gue pengen sosis bakar!" Ucapan Alma, mendapat tatapan memelas dari Kayla.
"Di sini mana ada sosis bakar, Alma! Lo kalau mau pesen makanan jangan yang gak ada di kantin, lah!" Cerocos Kayla. Raut wajah Alma seketika berubah menjadi masam.
"Bakso aja lah. Biar gak ribet," ujar Kanza.
Alma malah menghela napasnya seraya melipat kedua tangannya. "Ya udahlah, terserah! Yang penting bisa kenyang." Ucap Alma pada akhirnya.
"Ya udah, samain. Bentar, ya," Dengan senyum sumringah, Kayla pun pergi memesan makanan seperti yang dikatakan oleh Alma dan Kanza.
Sedangkan Alma dan Kanza, kedua gadis itu memutuskan untuk mencari tempat duduk kosong yang akan menjadi tempat duduk mereka.
"Di sini aja, gimana?" Tanya Kanza, dan Alma pun mengangguk. Keduanya lantas menduduki bangku kosong tersebut.
Tak lama kemudian, Kayla datang ke arah keduanya dengan sebuah nampan berisi tiga mangkuk bakso pesanan ketiganya.
Melihat kedatangan Kayla yang secepat kilat, membuat Kanza bertanya-tanya. "Tumben, cepet!"
"Tadinya sih baru semangkok! Tapi...," ucapan Kayla menggantung. Tatapan matanya pun beralih menatap ke arah gerobak bakso di depan sana.
Kanza dan Alma refleks menatap ke arah mana tatapan Kayla saat ini. Dan, di depan sana, sudah ada Alex dan Rio dengan gelagat anehnya, berdiri di depan gerobak bakso seraya berdeham.
"Za, ini dari Alex. Dan ini dari Rio, buat lo, Ma!" Kayla menyerahkan masing-masing satu mangkuk bakso untuk Kanza dan Alma.
Perhatian kedua gadis itu langsung beralih menatap Kayla. "Ini dari..." Kanza sengaja menggantung ucapannya. Jari telunjuknya menunjuk Alex yang masih setia berdiri di sana bersama Rio.
"Iya. Katanya, jangan lupa dimakan, ya. Gitu katanya," ucap Kayla seraya tersenyum menggoda.
Kanza mulai salting. Kedua pipinya terasa memanas, dengan jantungnya yang berdegup sangat kencang.
Diliriknya Alex diam-diam, cowok itu terlihat berdiri memunggunginya. Tak selang berapa lama, Alex membalikkan tubuhnya dengan sebuah nampan berisi dua mangkuk bakso pesanannya dan Rio.
"Alex! Makasih," Kanza menyahuti Alex sedikit keras.
Mendengar Kanza mengucapkan terima kasih padanya, membuat senyum di wajah Alex merekah. Cowok itu tidak mengatakan apa-apa, dan malah melenggang menuju meja dan bangku yang ditempati kelima teman-temannya.
Kanza memegangi kedua pipinya yang memerah. Gadis itu benar-benar dibuat salting oleh cowok bernama Alex.
Sedangkan Alma, ia merasa tidak enak ketika tahu bahwa bakso di hadapannya adalah pemberian dari Rio. Bukan apa-apa. Hanya saja, Alma sempat tidak menjawab pernyataan cinta dari cowok itu.
Pernah juga sekali ia menolaknya, namun cowok itu bukannya menyerah, ia malah semakin memperlihatkan ketulusannya. Bukan dengan gombalan manis seperti kebanyakan cowok. Rio malah memperlihatkannya dengan tindakan-tindakan kecil yang sanggup membuat jantung Alma berdegup kencang.
"Ekhem. Lo gak mau bilang apa-apa gituh, Ma?" Kayla menyahuti Alma, setelah sekian lama gadis itu terdiam.
"Hah!? Emm... bilangin, makasih." Ucap Alma cepat.
Kayla mengembuskan napasnya seraya mencebikkan bibirnya. Gadis itu merasa iri melihat Kanza dan Alma diperlakukan manis oleh laki-laki yang menyukai mereka.
Kayla kapan digituin?
Yang ada, dirinya malah sibuk mengejar Juna yang bahkan sedikitpun tidak pernah memikirkannya.
...****...
"Eh, eh, eh! Denger-denger, si Alex baru aja ngasih sesuatu sama cewek, nih! Jiaaahhhh..." Juna menyeru heboh, ketika Alex baru saja tiba di bangku kantin yang ditempati oleh teman-temannya.
"Serius? Eh, katanya si Rio juga habis ngasih sesuatu juga sama cewek yang pernah nolak dia!" Azka Ikut menyeru, dengan membawa-bawa nama Rio.
"Kata siapa anj*r, kenapa gue belum denger?" Haykal sewot, merasa dirinya sedari tadi tidak mendengar gosip apa pun.
"Ya elah, gue lihat barusan nih dua orang diem di sono lama amat, padahal mesen bakso gak selama nungguin si do'i peka!" Azka semakin heboh. Sedangkan Rio dan Alex yang tengah digosipi hanya diam dan tidak peduli.
"Positive thingking, nape, Ka! Curigaan mulu lo, sama temen sendiri." Kenzo menyela. Raut wajahnya terlihat sedikit ditekuk masam.
"Eh, Zo! Bukan si Azka doang yang lihat! Gue juga!" Ujar Juna, mencoba membenarkan apa yang dikatakan olehnya dan Azka.
"Kenapa emang? Sirik lo?!" Celetukan Alex, langsung dibalas seruan heboh oleh Juna, Azka dan Haykal. Tidak dengan Rio dan Kenzo.
__ADS_1
Rio sedang sibuk memikirkan Alma. Sedangkan Kenzo, ia merasa dirinya muak dengan kehidupannya saat ini. Apalagi, ketika dirinya membayangkan suatu hari nanti Alex akan menjadi saudara iparnya.
Ya! Kenzo juga melihatnya!
Ketika Alex dan Rio memberikan masing-masing semangkuk bakso untuk Kanza dan Alma lewat perantara Kayla.
Masa bodo dengan Rio dan Alma. Ia lebih mementingkan Alex yang mulai tergoda oleh Kanza, kembarannya.
Jika mereka suatu saat benar-benar menjadi— Aaghhh! Kenzo tidak rela jika saudara iparnya nanti adalah teman satu gengnya.
"Disaat begini, gue malah kangen sama Wanda." Gumaman Kenzo, membuat kelima teman-temannya yang tengah menikmati makanan mereka, refleks tersedak secara berjamaah.
Kelimanya spontan berebut air minum yang cuma ada tiga gelas, padahal jumlah mereka ada lima.
Kenzo refleks tersadar dari lamunannya, dan menatap heran kelima temannya yang bisa-bisanya tersedak diwaktu yang bersamaan.
"Kenapa lo pada? Kebanyakan pake cabe, hah?"
"Ekhem. Lo bilang apa barusan?" Rio berdeham seraya menyahut.
"Bilang apa?" Kenzo yang kebingungan, balik bertanya.
"Barusan lo bilang kangen, Zo!" Pekik Juna. Membuat seisi kantin langsung menatap ke arah meja mereka.
"Bilang, Zo! Cewek mana lagi yang bakalan jadi target lo selanjutnya!?" Azka menatap lekat-lekat Kenzo. Sedangkan yang ditatap, malah kebingungan.
"Zo! Sama si Monika aja lo belum selesai, sekarang lo mau nyari yang baru lagi?! Awas aja lo setelah ini masih berani gangguin adek gue!" Alex ikut bersuara.
"Zo! Mendingan lo jadiin si Haykal contoh, deh! Dia dulu sering mainin cewek, tapi sekarang dia setia sama satu cewek! Lo kapan insaf, Zo!?" Juna kembali menyahut, membuat Kenzo spontan berdecak sebal seraya menatap dingin kelima temannya.
"Kok, lo bawa-bawa gue, Jun? Btw, Zo, kalau dia cantik, ya udah! Lo kan paling demen tuh, sama cewek-cewek cantik!" Perkataan Haykal, mendapat pelototan tajam dari Juna, Azka, Haykal, dan Rio.
"Kal, lo gak bisa berubah, ya! Giliran cewek cantik aja lo paling semangat ngomongin! Gue bilangin Bianca, tahu rasa lo!" Ancaman Rio, langsung dibalas cepat oleh Haykal.
"Eh, jangan dong! Bini gue marah entar," ucap Haykal sambil terkikik.
Berbeda dengan Kenzo yang mulai menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ocehan, ledekan, serta ancaman teman-temannya, membuat Kenzo ingin meledak saat itu juga.
"Zo! Kalau dia beneran target lo selanjutnya, ajak gue dong, Zo! Gue jomblo, nih!" Seolah masih ingin membahas hal itu, Azka kembali mengungkit soal gadis yang katanya sedang dirindukan oleh Kenzo.
"Sembarangan target selanjutnya! Sekarang gue serius! Pokoknya, dia cewek gue! Gak akan gue biarin lo apalagi lo berani gangguin dia!" Ucap Kenzo penuh penekanan. Ia menunjuk Azka, kemudian Juna, agar kedua cowok fakboy itu tidak akan berani mengganggu miliknya.
Kelimanya spontan tertawa melihat reaksi Kenzo. Apalagi Azka dan Juna yang ditunjuk-tunjuk oleh cowok itu.
"Dulu juga bilangnya gitu. Tapi apa? Tetep aja jiwa playboy-nya gak bisa diobatin. Ye, gak?" Ucap Haykal. Disambut setuju oleh kelima teman-temannya.
"Eh, bangs*t! Gue seriuuussss!" Kenzo gemas sekaligus mencak-mencak di tempat duduknya. Cowok itu terlihat begitu frustasi, karena keseriusannya saat ini tidak dianggap apalagi dipercaya oleh teman-temannya.
"Iya, dah, iya. Yang penting lo bahagia, Zo!" Ujar Juna, seraya menepuk-nepuk bahu Kenzo pelan. Kemudian tertawa.
"Dahlah. Gue mau nyamperin cewek gue. Takutnya entar dia kangen lagi, gak disamperin sama gue sampai berjam-jam. Iye, gak?" Haykal bangkit dari posisinya. Kedua alisnya sengaja dinaik-turunkan dengan genit.
"Pamer aja terus, gak pa-pa." Azka menyahut.
"Tenang, Brother! Tungguin bulan depan gue nyusul!" Ucapan Alex, mampu membuat teman-temannya menganga, menatap tidak percaya pada cowok itu yang biasanya terlihat dingin, kini malah ikut bercanda bersama yang lain.
"Lex! Kesurupan si Juna lo?" Haykal menyeletuk.
"Kok, gue sih, anj*r!"
"Fix! Si Alex kesurupan! Mak! Help meee!!!" Pekik Azka. Spontan Alex langsung berlari mengejar cowok itu yang berani-beraninya mengatai dirinya kesurupan.
Beda halnya dengan Kenzo. Cowok itu terlihat mendengus, dengan tatapan matanya yang tertuju pada semangkuk mie ayam yang baru setengahnya ia nikmati.
Rasa lapar yang sebelumnya menggerogotinya, mendadak hilang setelah mendapat ejekan oleh kelima teman-temannya.
Padahal gue bilang gitu serius! Tungguin aja entar gue nongki bawa Wanda ke hadapan lo semua!
^^^To be continue....^^^
...Kenzo...
...Kanza...
...Alex...
...Haykal...
...Juna...
...Azka...
...Rio...
...Alma...
...Kayla...
__ADS_1
Sudah aku update yaaa! 1 eps dulu:) tpi dipanjangin kok. 2500 kata besok insya Allah klo gk ada hambatan update:* ya udah, klo bgitu smpai jmpa di next eps:*