Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 64


__ADS_3

Dear, diary…


Ini aku.


Aku yang rapuh jika dibiarkan seorang diri.


Cinta yang kupikir akan pergi, pada kenyataannya rasa itu malah semakin membanjiri.


Aku yang hampir putus asa, nyatanya cahaya yang begitu terang datang melindungiku di tengah kegelapan yang melanda. Menuntunku untuk terus berjuang dari dunia yang tak pernah selalu berpihak pada siapa-siapa.


Penderitaan, luka, dan trauma, hampir saja membunuhku, jika saja tidak ada mereka yang tidak pernah berhenti mencintaiku.


Ibu yang paling setia menungguku, Ayah yang senantiasa bersikap paling tegar dari siapa pun, dan saudara kembar serta kekasihku yang selalu menyayangiku dan menjagaku hampir tak pernah absen.


Terima kasih.


Karena kalian semua yang selalu ada untukku, perlahan luka yang aku kira takkan pernah sembuh ini mulai memudar. Kepercayaan diri yang sempat hilang, perlahan mulai kembali lagi.


Terima kasih.


Berkat kalian, aku yang hampir tak ingin lagi membuka pintu hati, perlahan mulai bisa menerimanya. Berkat kalian juga, aku tahu apa makna dari cinta yang sesungguhnya.


“Bukan karena fisik yang harus selalu sempurna. Melainkan karena sendiri yang apa adanya.”


Terima kasih, untuk semua yang telah kalian lakukan.


Walau diri ini masih begitu kaku untuk hanya sekadar berkata, setidaknya ketika bersama orang-orang terdekat, aku baik-baik saja.


^^^Tertanda,^^^


^^^Kanza Putri Bravani^^^


...****...


“Hah?! Berhenti sekolah? Kenapa?”


“Gue … masih belum bisa kalau harus ketemu sama orang-orang. Gue masih takut! Jadi, gue akan beralih ke home schooling.” Jelas Kanza.


Alma dan Kayla yang mendengarnya tentu merasa begitu sedih. Apalagi salah satu sahabat mereka akan segera meninggalkan sekolah, dan tidak akan berkumpul lagi bersama mereka.


Tanpa diduga-duga, air mata lagi-lagi menuruni wajah cantik Alma dan Kayla. Kedua gadis itu lantas kembali berhamburan ke pelukan Kanza. Mereka berdua menangis tak rela jika Kanza harus mulai bersekolah di rumah saja.


“Pleasea, Za! Lo mau ninggalin kita lagi? Kita gak siap kalau nanti pas di sekolah gak ada lo!”


“Iya, Za! Apa lo gak bisa sekolahnya diterusin aja?”


Kanza terkekeh pelan seraya berusaha melepaskan diri dari pelukan Alma dan Kayla yang terbilang cukup erat. Sedikit membuatnya dibuat sesak akibat ulah dari kedua sahabatnya.


“Sekolah gue diterusin! Cuman, sekarang gue mampunya sekolah di rumah. Nanti pas pembagian raport, gue langsung keluar dari sekolah. Dan kalau kalian kangen sama gue, kalian bisa dateng ke rumah gue kapan pun kalian mau, karena kalian adalah sahabat terbaik gue.” Papar Kanza. Semakin membuat Alma dan Kayla tak ingin melepaskan pelukan mereka darinya.


“Cepet sembuh, ya, Za! Gue yakin, apa yang lo takuti sekarang cuma ketakutan yang gak berarti apa-apa, karena pada kenyataannya, lo gak sendirian! Lo masih ada gue sama Alma. Ada Kenzo, Alex, serta kedua orangtua lo yang akan selalu dukung lo sampai kapan pun.” Tutur Kayla, membuat Kanza tanpa sadar ikut menjatuhkan air matanya.


“Makasih support-nya. Gak salah gue pilih kalian jadi sahabat gue.” Kekeh Kanza. Ketiga gadis itu semakin mengeratkan pelukan mereka sampai rasanya benar-benar tak ingin cepat terlepas begitu saja.


...****...


“Eh, eh, lo udah tahu belom?”


“Apaan? Soal si Agnes yang katanya keciduk hamil itu?”


“Wah… udah tahu juga lo ternyata? Katanya nih, ya. Pas ada razia yang diselenggarain sama Anggota OSIS kemarin, mereka nemu test pack di tas sekolahnya, parah banget gak, sih?”


“Ooh, jadi cerita keseluruhannya gitu? Gue cuma tahu kalo dia lagi hamil aja, sih.”


“Berarti udah dua dong, ya, kasus soal kehamilan yang terjadi di sekolah kita selama satu semester ini?”


“Oh, iya! Si Bianca itu, ‘kan? Padahal gue sempet gak percaya sama gosip itu, soalnya dari mukanya aja kelihatan polos-polos gitu. Tapi ternyata … kita emang gak bisa sembarangan menyimpulkan seseorang cuman dari covernya doang.”


“Eh, tapi denger-denger, Si Bianca bisa hamil gitu juga gara-gara masuk ke dalam rencananya si Agnes! Denger-denger nih, ya, awalnya si Bianca bakal ditidurin sama om-om yang udah dipesen si Agnes. Eh, tahu-tahunya malah jadi sama si Haykal. Ini alurnya kek udah takdir gitu, ya, gak, sih?”


“Hah?! Serius? Lo denger dari mana?”


“Ada yang bilang, gue juga tahu dari siswi lain soalnya.”


“Tapi kalian mikir gak, sih, kalau seandainya si Bianca bener-bener sama om-om yang dipesen sama si Agnes, bisa aja sekarang nasibnya lebih sial dari sekarang?”


“Tuhan emang maha melihat, gengs! Gak peduli seseorang mau dicelakain sedemikian rupa pun, pasti bakal ada aja yang nolongin. Ya, walaupun ujung-ujungnya tetep sama. Tapi ending-nya gak ngenes-ngenes amat. Iya, ‘kan?”


“Eeh, suttt! Orangnya dateng tuh.”


Kegiatan mengghibah yang dilakukan oleh sekumpulan siswi diharuskan berhenti, akibat orang yang tengah mereka bicarakan mulai menampakkan batang hidungnya.


Auranya tak lagi terlihat seperti dulu yang lebih ke sombong dan angkuh, seolah seluruh dunia harus bertekuk lutut di hadapannya. Auranya saat ini malah terlihat lebih ke kacau, dengan kepalanya yang terlihat sedikit menunduk, tak seperti biasa.


Para siswa maupun siswi yang melihatnya jelas memandang jijik gadis itu yang bisa-bisanya masih berani datang ke sekolah, setelah kabar tak mengenakan tersebut tersebar luas sampai keluar sekolah.


Airin, seorang siswi kelas XII Bahasa 3 yang dahulu sering menjadi objek bullying Agnes, lantas berjalan ke arah gadis itu dengan diiringi tatapan yang cukup mematikan. Jangan lupakan tawa sarkas yang ia pasang di wajahnya.


“Wah, wah! Si cewek tukang bully di sekolah kita sekarang udah mau jadi calon mama ternyata. Selamat, ya! Walaupun lo sendiri juga gak tahu siapa ayah biologis dari anak yang ada di kandungan lo itu!” Pekik Airin. Seketika membuat para siswa dan siswi yang berada di sekitar sana kembali bergosip membicarakan Agnes.


Agnes terlihat diam dan tidak melawan seperti biasanya. Gadis itu hanya balik menatap Airin dengan tatapan penuh emosi, yang malah dibalas tawa menggelegar olehnya.


“Heh! Lo pikir gue bakalan ngerasa takut sama tatapan lo itu, hah? Big no!” Tekan Airin. Ketika Agnes hendak menyela, buru-buru gadis itu kembali berucap.


“Kalau lo mau ancam gue pake ancaman yang waktu itu lagi, sorry! Itu gak akan mempan lagi buat gue. Gue udah gak peduli lagi sama keluarga gue soalnya.” Ucapnya lagi. Tak lama kemudian, seluruh siswa dan siswi yang berada di sana tergelak menertawakan nasib Agnes yang kini berputar seratus delapan puluh derajat dari sebelum-sebelumnya.


Agnes sudah hampir kehilangan kesabarannya. Namun jika ia meledak sekarang pun tidak akan ada gunanya. Yang ada, orang-orang akan semakin menyadari soal dirinya yang tengah hamil itu. Walaupun pada kenyataannya memang begitu.


Tak ingin semakin berlama-lama lagi di tempat terkutuk itu, Agnes memutuskan melenggang tanpa mengatakan sepatah dua patah kata. Di sisi lain, hampir seluruh siswa maupun siswi meneriaki kepergiannya yang memilih diam dan pergi seperti orang bisu.


...****...


“Angkat dong, plesea! Ck, brengsek!” Agnes tak henti-hentinya terus memaki seseorang yang kini tengah berusaha untuk ia hubungi.


Sayang seribu sayang, orang di seberang sana malah mematikan ponselnya yang membuat Agnes semakin dilanda geram tak karuan.


“Aaaghhhhh!!! Angkat bego, angkattt!” Teriaknya cukup nyaring, sehingga membuat beberapa orang yang tengah berlalu-lalang di tempat tersebut refleks menoleh padanya.


Lagi-lagi tak ada jawaban lain selain seorang operator yang menjawab panggilan teleponnya. Dengan memendam berbagai emosi, gadis itu melanjutkan langkah kakinya dengan sesekali akan menghentakkan kakinya di tanah.


Kali ini, jika orang itu masih tak mau juga mengangkat teleponnya, maka Agnes akan mencarinya ke tempat ia biasa sering menghabiskan waktu seharian sampai semalaman. Ya. Apalagi kalau bukan club malam.


Dengan menaiki sebuah mobil taksi yang belum lama ini ia pesan, Agnes pun sampai di tempat tersebut tak sampai memerlukan waktu setengah jam. Walaupun waktu masih menunjukkan pukul tiga sore, tapi dirinya hafal betul dengan tabiat seseorang yang akan ia temui ini.

__ADS_1


Dan benar saja, ketika setibanya ia di dalam, cowok itu terlihat begitu senang dan damai dengan dikelilingi tiga orang wanita berpakaian kurang senonoh tengah menempel padanya. Oh! Jangan lupakan sebotol anggur wiskey yang isinya tinggal separuh diletakkan tak jauh dari posisi cowok itu.


Benar-benar sial!


“Doni!” Pekik Agnes. Tatapan matanya seolah tak dapat teralihkan dari cowok yang ia panggil dengan nama ‘Doni’ itu. Sontak sang pemilik nama yang merasa namanya tengah dipanggil itu pun menoleh dengan raut wajahnya yang langsung berubah masam.


Dengan menarik napasnya dalam-dalam, cowok bernama Doni itu pun segera mengusir ketiga wanita yang tengah menemaninya itu untuk segera pergi. Tanpa basa-basi lagi, mereka pun pergi dengan berbagai tatapan sinis yang ditujukan pada Agnes.


“Kenapa lagi, sih? Udah gue bilang berapa kali kalau anak yang ada di perut lo bukan punya gue! Lo paham gak, sih, hah?”


“Apa lo bilang? Terakhir gue berhubungan itu cuma sama lo doang! Dan, lo gak inget sama apa yang udah lo lakuin ke gue? Waktu itu lo gak pake pengaman! Gue udah ingetin berkali-kali untuk pake pengaman! Kenapa lo gak nurut, hah?” Balas Agnes menggebu. Ia bahkan sudah tidak peduli lagi dengan beberapa pelanggan di club malam tersebut yang terlihat tengah menatapnya dengan tatapan berbeda-beda.


Cowok bernama Doni itu terkekeh sarkas. “Jadi, itu salah gue?” Tanyanya, nada suaranya terdengar rendah dengan sesekali melangkahkan kakinya ke hadapan Agnes yang masih terlihat menahan amarahnya.


“No! Itu salah lo! Siapa suruh lo jadi cewek gampangan banget!? Diginiin, mau. Digituin, mau. Giliran udah hamil, nangis. Cewek emang sama aja!”


Plak!


“Brengsek!” Gerutu Agnes, tanpa sadar air matanya mulai berderai selepas ia berhasil melayangkan tamparan pada Doni.


Doni sempat terdiam beberapa saat merasakan panas di area pipi dan rahangnya. Tak berapa lama kemudian, cowok itu terkekeh dengan perhatian yang kembali pada Agnes.


“Udah tahu gue brengsek, kenapa lo masih mau aja tidur sama gue? Emang cewek bego lo! Udahlah, gue males ladenin lo. Gue cabut!” Ujar cowok itu, seraya melenggang dari hadapan Agnes yang tak dapat berbuat apa-apa selain hanya terdiam dengan mulutnya yang menganga lebar.


Kebaikan dibalas kebaikan, dan begitupun sebaliknya. Saat ini, gadis itu telah menuai buah pahit yang telah begitu lama ia tanam dalam jiwanya.


Karma itu benar-benar nyata! Apa yang pernah ia lakukan pada Bianca dulu, kini berbalik terjadi padanya. Jika sudah seperti ini, ‘penyesalan’ adalah kata yang tepat untuk mewakili segalanya.


...****...


“Nah, seperti yang kita tahu, hari ini adalah hari di mana kalian selaku murid-murid SMA Naruna menerima hasil nilai kerja keras kalian selama kurang lebih satu semester ini. Bagi yang namanya disebut silakan ke depan untuk ambil raport-nya masing-masing. Paham?” Suara Pak Ucup yang begitu menggelegar di seluruh penjuru kelas XI IPS 4 mendapat sambutan meriah sekaligus tidak sabar dari para murid-murid setianya.


“Paham!” Sahut seluruh murid XI IPS 4 yang semakin membuat Pak Ucup bersemangat untuk mulai menyebeutkan satu demi satu nama murid-muridnya.


“Ekhem. Ini yang Bapak sebut sesuai urutan ranking, ya?” Ujarnya lagi. Membuat murid-muridnya semakin dibuat gugup gemetar.


“Untuk yang pertama, Alexi Erza Adhitama!” Sahut Pak Ucup. Satu kelas dibuat bertepuk tangan mendengar nama Alex lagi-lagi selalu disebut paling awal disetiap kali pembagian raport sekolah.


“Untuk yang kedua, Denisa Akmilia!”


“Yang ketiga …” Pak Ucup lantas menghentikan ucapannya dengan sesekali melepas kacamata minusnya untuk memeriksa apakah yang barusan ia lihat benar-benar nama siswa yang masuk di kategori juara ketiga, atau bukan?


“Ini kayaknya ada yang salah ini! Pasti ini ada yang salah sama penilaian guru-guru di sini!” Pak Ucup menggerutu pelan yang sanggup membuat murid-muridnya saling pandang bertanya-tanya.


“Salah gimana maksudnya, Pak?” Juna yang sedari tadi mencoba menahan rasa keingintahuannya pun bertanya.


“Ini! Masa juara ketiga jatuh ke si Kenzo, sih? ‘Kan, saya jadi curiga! Jangan-jangan kamu nyontek lagi!”


“Astagfirullah haladzim, Pak! Saya ini murid baik hati, sopan, santun, serta berbakti kepada guru dan orangtua. Kalaupun nilai saya bagus semua, bukan berarti saya nyontek dong! Bisa aja, ‘kan, karena hasil kerja keras saya sendiri? Apalagi ‘kan, saya mau jadi penerus utama FJ Corps. Masa di sekolah gak dapet peringkat tiga besar, sih? Malu dong, Pak, sama calon karyawan-karyawan saya nanti? Ya, ‘kan?” Celoteh Kenzo panjang lebar. Membuat teman-teman satu kelasnya hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala atas penuturan dari cowok itu.


“Udahlah, Pak, terima aja! Si Kenzo walaupun kadang orangnya nyebelin, otaknya gak ngelag-ngelag amat, kok, saya jamin, deh!” Azka menyahut cepat, sehingga membuat Pak Ucup yang tadinya hendak kembali komplain memilih mengurungkan niatnya.


“Ya sudah. Peringkat ketiga, Kenzo Jiran Bagaskara!” Ucap Pak Ucup pada akhirnya.


“Mantap!”


“Untuk peringkat selanjutnya, Rio Guinanda!”


“Aaakkk!!! My honey sweety Rio ternyata masuk juara empat dooonggg!!! Ululuuu… bikin makin sayang aja, deh!” Celetuk Alma, yang spontan mendapat selorohan jijik dari teman-teman sekelasnya. Terkecuali Rio yang merasa sangat bahagia akibat Alma yang semakin klepek-klepek dibuatnya.


“Ngapa lo? Mual-mual kek orang ngidam. Hamil anaknya si Juna, ya?” Celetuknya, membuat Kayla refleks menabok mulut Alma yang bisa-bisanya kalau bicara tidak pernah difilter terlebih dahulu.


“Lama-lama gue geprek juga, ya, mulut julid lo! Sembarangan aja kalau ngomong!”


“Peringkat ketujuh, Arjuna Wiratmaja!” Sahut Pak Ucup, seketika mengalihkan fokus Alma dan Kayla yang bisa dibilang telah ketinggalan banyak informasi.


“Eeh, kok udah nyebutin peringkat ketujuh aja? Kelima sama keenam siapa, jir?” Alma sewot di tempatnya, berbeda halnya dengan Kayla yang diam-diam menelan ludahnya susah payah ketika mendengar nama Juna yang biasanya tidak pernah disebut lebih awal dalam pembagian raport, kini malah sebaliknya.


“Sial! Gue kalah.” Gumam Kayla. Tanpa gadis itu sadari, Juna mulai melangkahkan kakinya ke hadapan Kayla yang terlihat masih saja bengong di tempatnya.


Ketika setibanya cowok itu di samping Kayla, buru-buru ia menyerahkan raport-nya tepat ke hadapan Kayla sampai membuat gadis itu dibuat terperanjat karenanya.


“Sesuai kesepakatan. Kalau ranking gue berada di atas lo, berarti lo jadi pacar gue. Mau lo terima atau enggak, lo harus jadi pacar gue!” Ucap Juna tiba-tiba. Refleks Alma yang posisinya bersebelahan dengan Kayla langsung membekap mulutnya yang menganga lebar.


“Kesepakatan? Kesepakatan apa? Kenapa gue gak tahu?” Gumam Alma. Spontan Kayla mendesis.


“Ini-”


“Gue gak mau tahu, habis sekolah lo ceritain semuanya sama gue! Kalau engga-”


“Peringkat kedelapan, Alma Susanti!” Sahut Pak Ucup selanjutnya, seketika memotong perkataan sang empunya nama.


Dengan tergesa-gesa, Alma pun bangkit dari posisi duduknya. Namun sebelum ia benar-benar melenggang untuk mengambil raportnya, perhatiannya kembali pada Kayla yang terlihat memejamkan kedua matanya dengam alis yang mengerut dalam.


“Inget! Lo punya hutang cerita sama gue!”


...****...


“La, tunggu, La! Lo punya hutang perjanjian sama gue! Lo gak boleh pergi gitu aja dong!” Kayla spontan menghentikan langkah kakinya sesaat ketika salah satu tangannya dicekal oleh seseoran dari belakang.


Dengan menarik napasnya dalam-dalam, gadis itu lantas membalikkan tubuhnya seraya menepis kasar tangan seseorang yang masih setia mencengkram pergelangan tangannya tersebut. Siapa lagi kalau bukan Juna?


“La! Lo gak lupa soal kesepakatan kita waktu itu-”


“Iya, iya, gue gak lupa! Gue cuma lagi berusaha nenangin diri gue aja. Dan lagi, gue belum siap jadi pacar lo.” Sela Kayla. Sontak Juna terkekeh pelan dengan perhatian yang belum jaga beralih dari gadis itu.


“Belum siap? Kok, belum siap, sih? Di kesepakatan yang kita buat waktu itu, siap gak siap, mau gak mau, lo harus terima dengan lapang dada. Dan lagi, mau sampai kapan lo berpura-pura gak punya perasaan sama gue? Lo gak capek apa? Mending lo nurut jadi pacar gue, biar kita sama-sama enak. Oke?” Cerocos Juna. Ketika Kayla hendak kembali menyela, Alma yang entah datang dari mana menyahut dengan suara yang cukup melengking, dengan sesekali bertepuk tangan.


“Ooh, jadi lo berdua ada kesepakatan yang enggak gue tahu, gitu? Bener-bener, ya, lo berdua! Lo juga, La! Udah tahu lo kalah, masih aja gak nerima si Juna! Lo kalau emang bener-bener udah gak ada rasa, lo jangan asal gantungin perasaan dia gitu aja. Udahlah balas dendamnya. Entar kalau tiba-tiba si Juna pergi lagi gara-gara sikap lo, gue jamin lo akan nyesel seumur hidup!”


“Noh, dengerin kata temen lo!” Timpal Juna. Semakin membuat Kayla tersudut apalagi ketika mendapat celotehan panjang lebar dari Alma.


Namun, apa yang dikatakan Alma padanya barusan memang tidak ada yang salah. Tetapi, bisakah Kayla kembali membuka pintu hatinya lebar-lebar seperti dulu, dan kepada orang yang sama?


“La, inget! Gak ada salahnya lo mencoba hal yang sama, sama orang yang sama juga. Mungkin, waktu itu kalian lagi gak beruntung. Tapi sekarang, mungkin udah saatnya untuk kalian saling membuka hati dan perasaan. Gue tahu dulu lo yang paling terluka. Tapi, bukannya sekarang si Juna juga lagi terluka karena lo? Gue di sini bukan mau menghakimi urusan percintaan kalian. Gue cuma gak mau lo ngerasain penyesalan yang teramat dalam hanya karena ego tinggi lo! Gue cuma mau lo bahagia.” Terang Alma, membuat suasana di antara mereka mendadak sunyi.


“Sorry, kalau gue terkesan ikut campur. Gue kayak gini karena gue sahabat lo, La!” Lanjut Alma. Setelah gadis itu dirasa selesai, ia mulai melenggang meninggalkan Kayla dan Juna yang masih berada dalam keheningan.


“Jun!” Panggil Kayla. Refleks Juna menyahut dengan kepalanya yang sedikit terangkat.


“Gue … minta maaf atas sikap gue ke elo selama ini. Tapi, bisa gak, lo kasih gue sedikit waktu lagi buat pikirin ini semua matang-matang? Gue janji, setelah hati gue udah mulai tenang, gue akan dateng ke elo dan bilang kalau gue mau jadi pacar lo. Gimana?”


Juna sempat terdiam sejenak menimbang perkataan gadis itu. Selang berapa lama, cowok itu pun mengangguk lemah diiringi helaan napas panjang. “Oke. Tapi-”

__ADS_1


“Makasih. Gue pergi dulu!” Sela Kayla, kemudian buru-buru pergi. Tanpa berniat menunggu Juna melanjutkan perkataannya.


Di sisi lain, Juna terkekeh pelan menyaksikan nasib cintanya yang selalu jauh dari kata mulus. Namun, bukankah ini adalah karma telak yang Tuhan berikan padanya? Siapa suruh ia terlambat menyukai Kayla sehingga membuat gadis itu terluka begitu dalam.


...****...


“Jadi … hasilnya udah keluar? Terus, katanya jenis kelaminnya apa?” Kanza bersidekap di atas ayunan kayu di sebuah halaman luas di kediaman Bianca.


Ya. Saat ini gadis itu tengah berada di kediaman rumah Haykal dan Bianca untuk sekadar bersilaturahmi. Sekalian menjenguk keadaan Bianca yang katanya akhir-akhir ini sering sekali mual.


“Hm … janinnya masih muda, jadi jenis kelaminnya belum kelihatan jelas. Tapi katanya kemungkinan perempuan.” Ujar Bianca. Seulas senyum tipis terbit di wajah cantiknya. Salah satu tangannya pun terangkat memeluk perutnya yang tak lagi terlihat rata.


“Selamat, ya. Oh, iya! Katanya lo sering mual? Terus kata dokter gimana?” Tanya Kanza lagi, seraya mendekatkan posisi duduknya di samping Bianca.


“Gak ada masalah serius, kok. Cuman, ya, harus rajin makan dan minum yang sehat aja, sama istirahatnya jangan lupa. Itu doang.” Balas Bianca, yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Kanza.


Setelahnya, suasana di antara kedua gadis itu mendadak hening. Masing-masing dari keduanya sama-sama sibuk dengan pemikiran mereka.


Helaan napas panjang lantas Bianca embuskan. Sontak membuat Kanza yang tadinya tengah melamunkan sesuatu lantas menoleh padanya.


“Gue … kangen suasana sekolah, Za!” Ucap Bianca tiba-tiba. Hal itu lantas mengingatkan Kanza akan dirnya yang sebentar lagi tidak akan melanjutkan sekolah di SMA Naruna, dan akan beralih pada home schooling.


Salah!


Selama ini Kanza sudah tidak pernah lagi datang ke sekolah. Saat tengah ujian pun ia melaksanakannya di rumahnya. Dan di hari pembagian raport yang diselenggarakan hari ini pun, ia tidak datang. Gadis itu malah pergi ke rumah Bianca untuk mencoba menghilangkan rasa irinya.


Kanza sangat ingin pergi ke acara pembagian raport itu, sungguh! Hanya saja, ia terlalu takut. Bersitatap dengan satpam rumahnya saja sudah membuat Kanza sedikit gemetaran. Apalagi jika dirinya harus berhadapan dengan orang-orang di sekolah?


Kanza menghela napas gusar seraya menyandarkan punggungnya di ayunan kayu berbentuk kursi panjang tersebut. “Sebenernya, gue juga rindu bercanda bareng temen-temen di sekolah. Tapi, gue terlalu takut untuk balik ke sana.”


“Sabar, ya, Za! Mungkin ini yang terbaik buat lo.” Bianca menyentuh pelan lengan Kanza, mencoba memberikan sedikit kekuatan padanya untuk menghadapi hidup yang tidak pernah berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan.


Kanza tak lagi membalas ucapan Bianca. Gadis itu hanya mengangguk dengan balas menyentuh tangan Bianca yang masih setia menyentuh lengannya.


“Makasih, ya, Bi! Dan, semangat juga buat lo! Kita jalanin hidup kita dengan mengandalkan alur yang udah terlihat.”


“Anyway, ini udah mau sore. Gue balik duluan, ya. Gue udah janji sama Mami buat gak pergi lama-lama. Dia masih khawatir sama kejadian penculikan gue waktu itu soalnya.” Lanjut Kanza, membuat Bianca hanya dapat mengangguk mengiyakan.


“Ya udah. Anyway, makasih, ya udah mau mampir. Padahal tadi gue bingung banget pengen ngobrol sama seseorang, tapi gue lupa kalau temen-temen gue semuanya lagi pada sekolah. Tapi tiba-tiba lo ngasih kabar kalau lo mau dateng. Gue benar-benar seneng banget.”


“Iya, sama-sama. Em, mulai besok, kita sekolahnya bisa bareng-bareng. Soalnya, gue udah memutuskan untuk benar-benar beralih ke home schooling.”


“Jadi, itu beneran? Sayang banget,”


Kanza lagi-lagi menghela napas panjang, kemudian bangkit dari posisinya yang juga diikuti oleh Bianca. “Mau gimana lagi? Gue masih gak bisa kontrol diri gue sendiri saat ini. Gue bisa ngobrol tenang kayak gini cuman sama keluarga dan sahabat gue doang. Sama orang selain itu gue masih gak bisa.” Ujar Kanza. Kepalanya menunduk dalam dengan kepalan di kedua tangannya yang kian mengerat.


“Semoga cepet sembuh, ya, Za! Gue yakin, lo pasti bisa mengahadapi ini semua.” Ujar Bianca. Seulas senyuman tulus terbit di wajah cantiknya.


“Sekali lagi makasih, Bi! Kalau gitu gue pulang dulu, ya,”


“Eeh, mau gue anter sampe depan?” Kanza menggeleng. “Gak usah. Kasian nanti dede bayinya kecapekan. Lo di sini aja.” Ucap Kanza.


Ketika gadis itu hendak benar-benar pergi, sudut hatinya tiba-tiba ragu. Kepalanya lantas kembali menoleh pada Bianca yang terlihat memasang raut kebingungan.


“Kenapa, Za? Ada yang ketinggalan?”


“Em, gini. Gue … boleh gak, sentuh bentar perut lo? Gue dari dulu udah penasaran banget soalnya, hehe.” Mendengar hal yang diucapkan oleh Kanza barusan, refleks Bianca membulatkan matanya dengan sesekali mengerjap.


“Penasaran soal apa?” Tanya Bianca. Sontak Kanza mendesis.


“Soal apa, ya? Gak tahu, intinya gue pengin nyentuh aja gitu. Tapi kalau gak boleh-”


“Boleh, kok!” Sela Bianca. Salah satu tangannya dengan cepat meraih salah satu tangan Kanza, dan menuntunnya untuk menyentuh perutnya seperti apa yang diinginkan oleh gadis itu.


Kanza lantas terdiam beberapa saat. Jantungnya mendadak berdegup kencang dengan perasaan aneh yang seolah mengalir masuk ke dalam hatinya.


Ya, sangat aneh! Kanza belum pernah merasakan hal semacam ini dalam hidupnya. Perasaan haru saat merasakan ada makhluk hidup lain yang tumbuh di janin seorang perempuan, membuatnya tanpa sadar mengembangkan senyumannya.


“Jadi, seperti ini rasanya jadi perempuan yang sebenarnya?” Gumam Kanza yang hampir tak terdengar oleh Bianca.


“Ya? Lo bilang apa, Za?” Sontak Kanza melepaskan tangannya yang masih menyentuh perut Bianca. Tak lama kemudian, gadis itu menggeleng pelan dengan masih memasang senyumannya.


“Enggak. Gue cuma … apa, ya? Merasa terharu aja.”


“Terharu?”


“I-ya, hehe. Kalau gitu gue duluan, ya, daah!” Pamit Kanza terburu-buru. Bianca yang melihat hal itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kanza, Kanza. Jangankan lo yang orang lain merasa terharu, apalagi gue yang ngalamin?”


...****...


Kanza mengembuskan napas lega ketika ia telah sepenuhnya meninggalkan area luas halaman rumah Bianca. Saat ia baru saja keluar melalui pintu gerbang, sebuah motor sport berwarna merah menyala terparkir tepat di depan gerbang tersebut seolah tengah menyambut kehadirannya.


Saat Kanza menolehkan kepalanya ke segala arah, netranya menangkap sosok laki-laki berseragam lengkap khas SMA Naruna dengan mengenakan jaket hoodie berwarna hitam dan abu-abu, tersenyum ramah padanya.


Tubuhnya yang terlampau tinggi dengan parasnya yang begitu rupawan sungguh menjadi pemandangan indah tersendiri. Apalagi lingkungan bersih nan asri yang berada di belakang tubuh laki-laki itu. Semakin menambah kesan aestetika.


Perlahan namun pasti, Kanza melangkahkan kakinya ke arah laki-laki itu yang tak lain ialah Alex. Seulas senyuman hangat seolah tak pernah berhenti ia berikan di sela langkah kakinya menghampiri laki-laki itu.


“Kok, kamu ada di sini?” Kanza menyahut lembut, ketika gadis itu telah sepenuhnya berdiri tepat di hadapan Alex.


Cowok itu tak langsung menjawabnya. Ia hanya tersenyum dengan salah satu tangannya meraih tangan Kanza, sementara tangannya yang satu lagi terulur mengusap lembut puncak kepalanya.


“Jemput kamu.” Ujar Alex, kemudian mengecup punggung tangan Kanza yang masih setia berada di genggamannya.


“Pulang sekarang?” Lanjut cowok itu, yang mau tidak mau hanya dapat dibalas anggukan singkat oleh Kanza.


Sebelum Alex benar-benar akan menaiki motornya, cowok itu mengambil salah satu helmnya untuk dikenakan oleh Kanza. Tak lupa ia pun membantu gadisnya memakai helm tersebut dengan penuh perhatian.


“Tumben bawa motor? Mobilnya ke mana?” Tanya Kanza. Semburat merah lantas menghiasi kedua pipinya tanpa dirinya sadari.


“Ada. Cuman lagi males aja. Sekalian, kalau pake motor, ‘kan, biar makin romantis. Ekhem, peluk-pelukan.” Ujar Alex. Kedua alisnya sengaja dinaikturunkan, membuat Kanza yang melihatnya refleks memukul pelan lengan cowok itu.


“Ish! Dasar cowok!” Dalam hatinya yang terdalam, gadis itu sudah dibuat deg-degan tidak karuan hanya karena ucapan Alex yang semakin hari kian berani menggodanya.


Sementara Alex sendiri, ia begitu senang jika sudah melihat raut wajah Kanza yang kadang dibuat salting karena ulahnya. Rasanya seperti, Alex tak ingin senyuman salah tingkah itu menghilang begitu saja dari tempatnya. Alex ingin terus membahagiakan Kanza dengan cara apa pun yang tidak akan melukainya.


“Udah, gak usah sok senyam-senyum. Buruan, naik! Entar kalau kelamaan, Tante Chelsea khawatir lagi.”


“Ck, iya, iya! Bawel banget.”


^^^To be continue….^^^

__ADS_1


Arus menuju ending:*


__ADS_2