Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 40


__ADS_3

Wanda menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Kenzo yang kini posisinya berada tepat berhadapan dengannya. Oh, ya. Keduanya saat ini tengah berada di suatu kafe karena cowok itu yang tiba-tiba saja menarik Wanda ke dalam mobilnya tanpa membiarkan gadis itu untuk membalas sekadar menolak maupun mengiyakan.


"Kedip, woi! Gak perih apa?" Wanda melempari wajah Kenzo dengan gulungan tisu kala laki-laki itu masih saja terus menatapnya namun bibirnya tak berhenti menyeruput minuman.


"Geer. Gue lagi merhatiin tukang sapu jalan, noh! Panas-panas gini masih bawa anak kecil." Ucapan Kenzo, sontak membuat Wanda langsung menolehkan kepalanya ke belakang.


Dan benar saja. Di belakangnya dengan jarak yang terbilang cukup jauh, tampak seorang wanita berseragam petugas penyapu jalan tengah menyapu jalanan yang penuh dengan sampah dedaunan seraya mengasuh anaknya yang berjalan tepat di belakangnya.


Melihat hal itu, tentu saja Wanda jadi malu sendiri. Kenapa juga ia merasa sangat percaya diri bahwa orang yang tengah ditatap oleh Kenzo adalah dirinya?


Kan, jadi malu!


Melihat reaksi Wanda yang tampak berusaha menyembunyikan raut wajahnya, refleks membuat Kenzo tersenyum.


Sejujurnya, perkataannya barusan hanyalah sebuah alasan. Karena pada kenyataannya, yang sedang Kenzo tatap adalah wajah cantik natural milik gadis itu.


Kenzo menghela napasnya seraya menjauhkan minuman boba tea yang sebelumnya ia minum. Tatapan matanya yang semula hangat langsung berubah serius ketika sepasang netranya mulai kembali bersitatap dengan sepasang netra milik Wanda.


Ditatap berbeda oleh seseorang yang biasanya terlihat konyol dan penuh tawa, jelas membuat Wanda sedikit gugup. Apalagi ketika tatapan tersebut masih juga menatapnya.


"Lo... A-ada yang mau lo omongin?" Wanda mulai mengeluarkan suaranya setelah hampir cukup lama keduanya hanya saling memandang.


Tak lama setelah perkataan yang dilontarkan oleh Wanda, Kenzo langsung mengalihkan tatapan matanya dari gadis itu, kemudian kembali menyuruput habis minumannya.


Melihat sikap Kenzo yang tidak biasanya, sedikit membuat Wanda terkejut sekaligus bertanya-tanya, ada apa dengan cowok itu?


"Wan!" Suara Kenzo yang memanggil nama Wanda terdengar sedikit lesu apalagi ditambah dengan tatapan matanya yang berubah sayu.


"Hm?"


"Apa lo gak bisa terima gue aja? Gue suka sama lo!"


Lagi dan lagi, Wanda dibuat terdiam mendengar Kenzo kembali mengutarakan perasaannya. Jantungnya yang semula berdegup biasa saja, mendadak bergemuruh sampai rasa-rasanya orang lain yang berada di sekitarnya pun dapat mendengar suaranya.


Tidak seperti waktu itu ketika mereka berada di sebuah pantai yang dengan mudahnya Wanda menolak Kenzo, kini gadis itu sudah tidak dapat mengelaknya lagi.


Entahlah. Bibirnya ingin berkata tidak, namun hatinya justru sebaliknya. Wanda tidak dapat menjawab apa pun, dan dia benci dengan keadaan yang membuatnya selalu terlihat seperti orang bisu.


"Gue tahu. Umur kita beda. Pemikiran kita juga pasti beda. Di usia lo yang udah 20 tahun, pasti lo juga ada kepikiran pengen nikah, kan, suatu hari nanti? Sementara kalau lo pacaran sama gue, apa yang lo dapet?" Ucapan Kenzo, sukses membuat Wanda semakin terdiam. Entah kenapa ucapannya seakan mewakili apa yang menjadi beban pikiran Wanda selama ini.


"Tapi seenggaknya tolong kasih gue kesempatan. Tolong jangan lihat umur gue. Lo belum tahu apa aja yang udah gue lalui selama tujuh belas tahun ini. Dan mungkin aja, sifat gue yang gak diketahui oleh banyak orang, lebih dewasa dari yang lo kira."


"Stop, Zo! Ini bukan masalah udah dewasa atau enggaknya!" Ucapan Wanda yang setengah berteriak, sukses membuat beberapa orang yang berada di sekitar mereka berdua refleks menoleh ke arah Wanda.


Sedangkan Wanda, gadis itu hanya menundukkan pandangannya dengan sesekali menarik napas dalam-dalam sebelum ia kembali mengutarakan beberapa kalimatnya yang mungkin saja akan kembali menohok perasaan cowok itu.


"Kalau gitu, kasih gue alasan yang jelas!"


...****...


Alex menghela napas lelah entah untuk yang keberapa puluh kalinya. Laki-laki itu tampak berdiri lesu di depan sebuah toko skincare yang saat ini tengah dikunjungi oleh Kanza.


Waktu di pergelangan tangannya menunjukkan hampir pukul 5 sore, dan gadis itu masih belum juga memutuskan untuk membeli apa.


Padahal, mereka berdua ke mari kurang lebih dari pukul setengah 3 sore. Dan sekarang sudah pukul 5 lewat 5 menit. Kalau Alex tidak salah hitung, ini adalah toko ke tiga puluh lima yang dikunjungi oleh gadis itu, namun sepertinya endingnya akan berakhir sama seperti yang sebelum-sebelumnya.


Ya. Apalagi kalau bukan pergi ke toko lain dan muter-muter sampai kaki pegal.


Emang cewek kalau diajak ke mall kayak gini, ya?


"Lex! Pulang, yuk!" Kanza memanggil Alex setelah dirasa cukup untuk hari ini.


Alex tidak langsung menyahut. Laki-laki itu dengan malas menolehkan kepalanya ke arah Kanza yang masih saja terlihat begitu ceria, padahal saat ini Alex sudah dibuat dongkol olehnya.


Kalau Kanza memang sedang membalas dendam padanya, fix! Dia berhasil!


"Mau nyari lagi?" Pertanyaan yang dilontarkan Alex kini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Biasanya yang akan ia tanyakan adalah, udah belum?


"Udah, kok. Barusan gue baru inget kalo pencuci muka di rumah gue udah abis. Jadinya ya, sekalian." Kanza memamerkan paper bag berukuran kecil ke hadapan Alex seraya memasang senyumnya.


"Hah!? Serius?" Raut wajah Alex yang datar seketika langsung berubah. Dan Kanza dapat menyadari perubahan wajah itu sampai membuat gadis itu tidak sadar terkikik geli.


"Seneng, ya? Pengen cepet-cepet pulang? Heh, dasar cowok!" Kanza mencebikan bibirnya seraya melipat kedua lengannya. Raut wajahnya pun sengaja dibuat terlihat kesal, padahal dalam hati ia ingin sekali berteriak bahwa balas dendamnya pada Alex telah sukses!


"Bukan gitu!"


"Terus apa?" Pertanyaan menjurus dari Kanza membuat Alex sedikit gelagapan. Gimana, ya, jawabnya?


"Ya, pokoknya. Gitulah." Ucap Alex. Membuat Kanza lagi-lagi tidak dapat menahan tawanya.


"Bilang aja udah capek nganterin sana-sini tapi masih belum juga beli apa-apa. Iya, kan? Jujur aja, deh. Gue sengaja soalnya." Perkataan Kanza sontak membuat Alex langsung terdiam sejenak.


"Ooh. Jadi lo sengaja. Iya?" Pantes aja.


"Iya! Rasain, emang enak! Wlee!" Kanza menjulurkan lidahnya tepat di hadapan Alex yang terlihat tengah menahan emosinya.


Alex sudah hampir kehilangan kendali untuk tidak berbuat macam-macam pada Kanza. Tapi sepertinya, ia tidak dapat lagi menahannya. Ia akan melampiaskannya sekarang juga.


Dengan menggunakan satu tangannya, Alex mengacak rambut gadis itu yang terurai sampai membuatnya terlihat gimbal. Jelas saja Kanza yang diperlakukan seperti itu spontan menjerit kaget.


Dengan kesal, Kanza berusaha menjauhkan diri dari Alex yang masih saja mengacak tatanan rambutnya yang sudah susah payah ia catok dan roll sedemikian rupa. Tapi malah langsung hancur di tangan Alex.


"ALEX! Lo emang nyebelin, ya!" Kanza menatap nyalang serta memanyunkan bibirnya tepat setelah laki-laki itu mulai berhenti mengganggu kedamaian rambut indahnya.


Melihat Kanza yang terlihat kesal karena ulahnya, dalam hati Alex yang paling dalam, ia sangatlah puas. Batinnya, seru juga, ya, jailin pacar sendiri.


"Ya udah, sini, gue bantu rapihin lagi!" Alex merentangkan kedua tangannya berniat untuk merapikan kembali rambut Kanza dan berharap gadis itu akan mendekat ke arahnya seperti yang baru saja ia katakan.


"Gak usah! Gue bisa sendiri!" Pekik Kanza, seraya mencoba merapikan rambutnya sendirian.


Seperti yang telah diucapkan oleh Kanza beberapa saat yang lalu, Alex pun memilih diam seraya mengendikan bahunya pasrah. Toh, gadis itu sendiri yang bilang bisa sendiri. Iya, kan?


"Alex, iiihhh! Rambut gueeee!" Tak butuh waktu belasan menit, apalagi puluhan jam, gadis itu kembali merengek pada Alex. Seolah meminta laki-laki itu untuk membantunya merapikan rambutnya.


Melihat sikap Kanza yang terlihat menggemaskan ketika sedang merengek, refleks Alex tidak dapat lagi menahan tawanya. Raut wajah gadis itu yang terlihat begitu menyedihkan ditambah rambutnya yang seperti habis terkena setruman benar-benar mengundang tawa.


"Ketawa sekali lagi, gue pergi, nih!"


"Eeh, iya, iya! Sini gue bantu rapihin." Dengan pasrah sekaligus mencoba menahan tawanya, Alex mulai membantu gadis itu merapihkan rambutnya.


Sesekali, Kanza akan berdesis merasakan sedikit ngilu karena rambutnya yang kusut serasa tertarik. Dan semua itu tak luput dari perhatian Alex yang berada tepat di hadapannya, yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja.


"Sakit, ya? Maaf. Gue sengaja soalnya." Balasan dari Alex spontan langsung dibalas bogeman mentah oleh gadis itu tepat di atas dada bidangnya. Membuat Alex refleks mengaduh sembari mendesis pelan.


"Sakit, Yang!" Bisik Alex, seraya terus berusaha menahan tawanya.


"Ish! Yang, Yang, palamu peyang? Jijik tahu! Kek anak SMP aja!" Gerutuan Kanza, lagi-lagi membuat Alex tidak dapat menahan senyumnya.


Sepertinya, kalau ada Kanza di sebelahnya, Alex tidak akan pernah berhenti tersenyum maupun tertawa. Entah karena gadis itu yang memancarkan energi positif, atau dirinya yang sering membuat gadis itu kesal dan membuat Alex tanpa sadar mulai terhibur, ia juga tidak tahu.


Setelah dirasa cukup rapi, Alex mulai menjauhkan kedua tangannya dari rambut Kanza. Namun, laki-laki itu masih enggan untuk mundur dan menjauh dari Kanza.


Alex malah tidak sadar mulai terhanyut dalam aroma yang keluar dari rambut gadis itu. Dan parahnya lagi, sedari tadi ia memainkan rambut Kanza, ia baru menyadarinya ketika ia telah selesai merapikan rambut Kanza.


"Udah, belum?" Suara Kanza yang sedikit berbisik sontak membangunkan Alex dari lamunannya.


Dengan cepat, Alex langsung memundurkan langkah kakinya seraya berdeham sekali. "Udah." Jawabnya, tanpa sedikitpun menatap pada Kanza.


Kanza yang memang pada dasarnya polos tidak menyadari perubahan sikap Alex hanya bersikap biasa-biasa saja. Justru ia malah dengan santai menatap pantulan wajahnya di depan layar ponselnya.


"Ya, udah. Pulang, yuk! Tapi entar beli makanan dulu, ya? Gue laper soalnya. Ya?" Ucapan Kanza disertai dengan senyuman lagi-lagi membuat Alex tanpa sadar ikut menarik kedua sudut bibirnya.


"Gak ngambek lagi?"


"Enggak! Gue tuh orangnya simpel. Kalo udah marah, beberapa menit kemudian juga baikan lagi." Balasan Kanza, langsung ditanggapi anggukan kepala oleh Alex.

__ADS_1


"Jadi... Kalau gue kerjain lo lagi, mau?" Seketika itu juga, raut wajah Kanza langsung berubah datar setelah mendengar perkataan dari laki-laki itu.


"Gue pulang sendiri aja, deh, kalau gitu." Balas Kanza. Gadis itu hampir melenggang meninggalkan Alex, jika saja laki-laki itu tidak segera bergerak dan menahannya.


"Gitu aja ngambek. Bercanda kali, Za. Ya, udah. Ayok pulang!" Tak ingin basa-basi lagi, Alex pun menarik tangan Kanza dan membawanya untuk keluar dari dalam area mall.


Namun sebelum itu terjadi, Alex menghentikan langkah kakinya sejenak kemudian melirik Kanza yang tampak cemberut di belakangnya.


"Udah dibayar?" Pertanyaan Alex yang to the point, sempat kurang dimengerti oleh Kanza.


"Apanya?"


"Yang barusan lo beli!"


"Ooh. Udah."


"Pake duit siapa?"


"Pake duit gue, lah!"


"Kok, gitu?" Alex mengernyit bingung.


"Kenapa emangnya?"


"Katanya lo minta gue jajanin, gimana, sih?"


Kanza terkekeh seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gue gak serius kali ngomong kayak gitu. Mana berani gue minta dijajanin cowok! Entar gue disangka cewek matre lagi."


"Ya, terus? Lo kan, cewek gue. Kenapa harus gak berani?" Alex memicingkan kedua bola matanya membuat Kanza sedikit gugup ketika bersitatap dengannya


"Mm... Gue gak berani, lah! Kita kan, cuma pacaran. Bukannya nikah! Masa iya, baru pacaran beberapa hari aja gue udah minta dibeliin ini-itu?"


"Kenapa enggak?" Balasan dari Alex benar-benar di luar prediksi Kanza. "Lo bilang lo laper, kan? Sini, gue bawa lo ke tempat makan." Lanjut Alex, seraya kembali menarik tangan gadis itu dan membawanya untuk segera keluar dari dalam gedung mall.


...****...


Sudah hampir 2 jam lamanya, Alma duduk di dalam sebuah mobil dengan keadaan berhenti alias mogok. Raut wajahnya yang sebelumnya ceria, apalagi ia sempat pamer pada Kanza dan paling parahnya membuat Kayla marah, kini berubah dongkol dengan sesekali ia akan mendumel seraya menatap sinis Rio yang sedari tadi hanya uring-uringan keluar-masuk mobil hanya untuk mengecek keadaan mobilnya.


"Gimana?" Pertanyaan Alma yang ke puluhan kalinya tetap dijawab gelengan kepala oleh laki-laki itu.


"Elo, sih! Dibilang juga cek dulu mesinnya sebelum berangkat! Sekarang malah gini, kan? Terdampar di tepi jalan! Mana jarak rumah dari sini jauh banget, lagi!" Alma sudah hampir menangis karena sedari tadi mereka berdua masih saja di tempat yang sama.


Jalan setapak yang tampak agak sepi dengan waktu yang mulai menunjukkan pukul 5 sore dan udara yang mulai terasa dingin, membuatnya jadi sedikit parno.


Sontak saja Alma langsung menatap ke arah langit yang mulai berubah warna. Berharap pada Tuhan bahwa malam ini tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi pada ia dan juga Rio.


Terlalu lama berada di dalam mobil membuat Alma tanpa sadar mulai menguap. Berniat untuk sekadar meregangkan otot-otot tubuhnya, Alma pun mulai keluar dari dalam mobil. Dan hal pertama yang ia lakukan saat keluar dari dalam mobil adalah menarik napas sedalam-dalamnya, kemudian mengembuskannya perlahan.


Kalau dipikir-pikir, ini tidak buruk juga. Suasana jalanan yang cukup sepi dengan beberapa pepohonan rindang yang berjajar di pinggiran jalan serta pemandangan matahari hampir tenggelam ditelan dalamnya lautan, terlihat begitu menyejukan mata, apalagi warna langit yang tampak seperti sebuah lukisan dua warna yang sengaja digradasikan.


Oh, ya. Keduanya berniat berkencan di pantai sambil menunggu sunset. Tapi, belum juga sampai di pantai, mobil Rio malah berhenti di tengah jalan, padahal jarak pantai yang akan mereka tuju hanya tinggal beberapa kilometer lagi.


"Haah... Gue foto dulu aja kali, ya?" Alma bergumam sendirian seraya terus menatap fokus pemandangan senja di depannya.


Tanpa sadar, kedua tangannya refleks mengusap lengannya yang terasa dingin. Seharusnya ketika tadi ia sedang memilih pakaian, ia jangan memilih kaos lengan pendek ini. Apalagi bawahannya hanya sebuah rok saja.


Untungnya, rok yang ia pakai hampir di bawah lutut. Jadi, disaat udara yang dingin seperti ini, ia tidak akan terlalu merasa kedinginan.


"Nih, pake jeket gue!" Alma sedikit terjengit kaget ketika sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bahunya. Ditambah dengan suara Rio yang terdengar begitu dekat di telinganya membuat gadis itu sontak menolehkan kepalanya ke belakang.


"Kok, kasih ke gue? Terus lo?" Alma bertanya sambil memakaikan jaket milik Rio di tubuhnya.


"Buat lo aja." Ucapan lembut dari Rio sukses membuat gadis itu langsung salting. Raut wajahnya pun tampak sedikit memerah, namun sebisa mungkin Alma menyembunyikannya di balik lengan jaket Rio.


"Ekhem. Gue boleh jujur, gak?" Rio kembali berucap, setelah beberapa saat lalu keduanya hanya terdiam.


"Jujur apaan?"


"Hm... Sebenarnya... Mobilnya gak mogok. Dia cuma habis bensin aja, dan bensinnya juga masih ada persediaan di bagasi. Dan intinya, gue sengaja pura-pura bilang kalau mobilnya mogok, cuma buat berhenti di sini." Perkataan Rio yang sedikit panjang lebar, sontak membuat Alma menatapnya dengan tatapan datar.


Tak lama kemudian,


"Awh!"


"Iihhh! Gak ada kerjaan banget, sih, pake bohong-bohong segala?! Gue barusan udah parno takut gak bisa pulang!" Alma berteriak keras pada Rio setelah sebelumnya ia menyempatkan diri melampiaskan kekesalannya pada laki-laki itu dengan memukulnya tepat di dadanya.


Rio hanya terkekeh pelan seraya mengelus dadanya yang masih meninggalkan bekas akibat pukulan dari Alma.


"Sebagai gantinya, mau gue fotoin, gak?" Rio mengangkat sebuah kamera yang sebelumnya ia ambil dari dalam mobil.


Alma baru menyadari bahwa kamera yang diperlihatkan oleh Rio, sedari tadi menggantung di lehernya. Dengan perasaan berkecamuk antara gengsi tapi mau, gadis itu berdeham seraya menyisir perlahan rambutnya yang tergerai dengan jari-jemarinya.


"Di mana?" Tanya Alma. Raut wajahnya terlihat kaku, namun terlihat jelas bahwa gadis itu menginginkan untuk difoto menggunakan kamera yang dipegang oleh Rio.


"Di situ!" Rio menunjuk ke arah belakang Alma membuat gadis itu pun ikut menolehkan kepalanya. Tak lama kemudian, laki-laki itu mulai menarik tangan Alma untuk menyeberang jalan agar keduanya sampai di tempat yang baru saja ditunjuk oleh Rio.


"Nah, di sini!"


"Di sini?" Tanya Alma, dan Rio pun mengangguk.


"Siap, ya?" Rio mulai sedikit memundurkan langkah kakinya untuk mulai memotret Alma. Sedang gadis itu, ia mulai kembali berdeham, kemudian mulai mengeluarkan jurus gaya andalannya dalam berpose.


...****...


Saat ini, Alex dan Kanza tengah berada di dalam mobil untuk perjalanan pulang. Keduanya baru saja habis dari restoran drive thru untuk memesan makanan.


Awalnya, keduanya hendak menikmati makanan mereka di restorannya langsung, namun karena waktu telah menunjukkan hampir pukul 6 sore, keduanya pun memilih untuk memesan lewat drive thru dan membawa makanannya pulang.


Suasana di dalam mobil pun terasa hening, apalagi Kanza, yang saat ini tengah terdiam melamun memikirkan sesuatu. Otaknya terus saja memikirkan soal ucapan papinya tadi siang ketika di sekolah yang menyuruhnya untuk tidak dekat-dekat dengan Alex.


Flashback>>>


Kanza ditarik paksa oleh Kenan untuk sedikit menjauh dari Geo dan juga Alex. Namun siapa sangka, papinya yang biasanya bertingkah absurd itu justru sekarang malah bersikap posesif padanya.


Apalagi tarikan tangan dari pria empat puluh tahunan itu cukup kuat sampai membuat Kanza tidak dapat berkutik.


Kenan menghentikan lagkah kaki sekaligus cengkraman tangannya dari pergelangan tangan Kanza. Tatapan matanya pun kini tertuju pada sepasang bola mata putrinya yang tampak sedikit kebingungan ketika menatapnya.


"Kamu pacaran sama dia?" Pertanyaan Kenan yang to the point hanya dibalas anggukan kepala kikuk oleh Kanza.


"Putusin!" Ucapan Kenan selanjutnya, refleks membuat Kanza seketika membulatkan kedua bola matanya.


"Kok, gitu? Alex, kan, anaknya baik! Papi juga tadi kayaknya akrab gitu sama papanya Alex?"


Kenan berdecak seraya berkacak pinggang. "Pokoknya, Papi gak mau kamu deket-deket lagi sama Si Alex! Papi gak suka!" Tandasnya. Kemudian pergi begitu saja dari hadapan Kanza yang berteriak memanggil-manggil namanya.


Kanza menghela napasnya dalam-dalam ketika memori tersebut lagi dan lagi melintasi pikirannya. Ia benar-benar bingung, kenapa papinya sangat menentang hubungan ia dan juga Alex?


Bahkan, sang papi menyuruhnya untuk memutuskan hubungannya dengan Alex, padahal Kanza sangat menyukai laki-laki itu.


Diliriknya ke samping, raut wajah Alex yang tenang dengan sesekali melirik ke arahnya dapat ia saksikan. Tatapan mata Kanza pun berubah loyo sesaat ketika ucapan sang papi terus terngiang-ngiang di otaknya.


"Em... Gue minta maaf, ya, soal sikap Papi gue kek lo yang tadi." Kanza berucap spontan membuat Alex refleks mengernyitkan dahinya.


"Yang waktu di sekolah?" Kanza mengangguk perlahan.


"Gue juga gak ngerti dia kenapa. Mungkin, dia lagi banyak pikiran atau, gak tahu juga. Pokoknya, gue atas nama Papi minta maaf atas sikap dia ke lo!" Kanza menunjukkan jurus puppy eyes, berharap Alex akan menerima permintaan maafnya.


Alex terkekeh kecil melihat Kanza yang selalu bersikap di luar perkiraannya. Sepasang bola matanya yang membulat dan bibirnya yang sengaja mengerucut, terlihat lebih mirip anak kucing yang seperti sedang minta bermanjaan pada majikannya.


"Iya, dimaafin. Gak gue masukin ke hati juga, kok." Alex mengelus pucuk kepala Kanza sekilas tanpa menatap langsung pada sang empunya.


Sepasang matanya dan satu tangannya yang lain masih harus fokus menyetir mobil. Namun tak lama kemudian, mobil Alex mulai berhenti tepat di depan sebuah gerbang pagar menjulang yang tak lain adalah gerbang rumahnya Kanza dan Kenzo.


"Em... Gue masuk duluan, ya?" Kanza membuka pintu mobil di sebelahnya, kemudian melepas ikatan seatbelt yang masih terpasang kuat di tubuhnya.

__ADS_1


Alex hanya mengangguk seraya tersenyum manis sampai memperlihatkan kedua lesung pipinya. Melihat hal itu, spontan Kanza langsung membekap mulutnya.


Ia benar-benar terpesona.


"Hei! Kenapa? Lo gak pa-pa, kan?" Melihat Kanza yang terdiam dengan mulutnya yang dibekap oleh salah satu tangannya, sontak saja membuat Alex kebingungan.


Dengan mengibaskan beberapa kali tangannya di depan wajah Kanza, Alex sukses membuat gadis itu langsung mengerjap.


"Iiih, kok, lo bisa punya lesung pipi, sih?" Kanza menarik wajah Alex sampai wajah keduanya kini hanya berjarak tinggal beberapa senti saja.


Lagi dan lagi, Alex dibuat kaget sekaligus syok oleh sikap Kanza yang selalu di luar prediksinya. Lihat saja sekarang, ia dengan berani mendekatkan wajahnya terlihat seperti sedang ingin mencium—


Astaga! Apa yang sedang otak kotornya pikirkan?


"Lo... bisa lepasin muka gue?"


Kanza mendengus sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Bibir bawahnya pun tampak terus digigiti membuat Alex dibuat kelabakan ketika melihat pemandangan tersebut dengan jarak yang sangat dekat.


"Gue dari dulu pengen banget punya lesung pipi!" Kanza mulai melepas kedua tangannya dari wajah Alex dengan santai. Ia bahkan tidak menyadari perubahan suasana dari Alex yang mulai menjauhkan diri segera dari Kanza setelah kedua tangan gadis itu mulai melepas wajahnya.


"Coba senyum lagi!" Suruhan Kanza, sontak membuat Alex langsung menolehkan kepalanya seraya menatapnya dengan sepasang bola matanya yang sedikit melebar.


"Gimana?" Tanya Alex memastikan. Takutnya, ia salah dengar, lagi.


"Senyum!" Tuntut Kanza. Raut wajahnya benar-benar sangat polos, tidak seperti Alex yang bahkan otaknya saja sudah dibuat traveling gara-gara ulah gadis itu.


Tanpa basa-basi lagi, Alex pun tersenyum kikuk ke arah Kanza. Dan saat itu juga, kedua jemari telunjuk Kanza langsung menusuk tepat di tempat kedua lesung pipinya. Tak selang berapa lama, gadis itu tertawa.


Tawanya sangat indah sampai-sampai membuat Alex langsung terdiam memandangi wajah gadis itu.


"Udah, ah. Gue mau mas—" ketika Kanza hendak menarik kedua jari telunjuknya dari pipi Alex, laki-laki itu itu dengan sigap mencengkram salah satu tangannya.


Refleks Kanza membulatkan kedua bola matanya, apalagi saat tangannya itu mulai digenggam erat sampai ditempelkan di pipi laki-laki itu.


Kanza benar-benar dibuat gugup oleh Alex. Sorot matanya pun perlahan mulai berubah teduh dan lembut ketika menatapnya. Sukses membuat jantung Kanza serasa diporak-porandakan oleh sikap laki-laki itu yang baru kali ini ia temui.


"Lain kali..." Alex sengaja menggantungkan ucapannya.


"Lain kali?"


"Iya. Lain kali lo jangan sentuh wajah gue kayak tadi lagi."


"Maaf! Lo enggak suka, ya?" Kanza hendak menarik kembali tangannya yang masih berada di genggaman Alex, namun laki-laki itu malah semakin kuat menggenggamnya.


"Bukannya gue gak suka. Takutnya nanti gue khilaf! Gue gak mau buat lo takut."


Kanza langsung terdiam seraya merasakan debaran jantungnya yang semakin menjadi. Ucapan Alex padanya barusan, benar-benar membuatnya bingung harus bereaksi seperti apa.


Di satu sisi, Kanza menyukai sikap jujur dan sikap dewasa Alex. Ia mengatakan seolah dirinya bisa saja berbuat apa pun, namun karena ia masih menghargai Kanza, jadi dia tidak ingin membuat Kanza takut.


Dan di sisi lain, ia sangat terkejut dengan ucapan Alex yang lebih seperti pengakuan. Jadi, Kanza harus bersikap seperti apa?


Kanza menarik terlebih dahulu tangannya yang masih berada di genggaman Alex. Alex tidak berniat menahannya seperti yang ia lakukan sebelumnya. Ia justru melepaskannya.


"Maaf!" Kanza dan Alex berucap bersamaan, membuat keduanya tanpa sadar kembali saling pandang kebingungan.


"Kenapa lo minta maaf?" Alex langsung mengernyit.


"Lha, itu lo juga kenapa minta maaf?"


"Gue—"


Tok tok tok!


Kanza dan Alex refleks menghentikan sesi bicara mereka, dan menolehkan kepalanya pada bunyi ketukan yang mereka tebak berasal dari kaca mobil yang berada di sebelah Alex.


"PAPIH!?" Kanza langsung memekik kaget menyadari orang yang baru saja mengetuk kaca mobil tersebut adalah papinya, Kenan.


Dengan menampilkan raut wajahnya yang dingin, Kenan sukses membuat putrinya langsung keluar dari dalam sana dengan terburu-buru. Kemudian disusul oleh Alex yang terlebih dulu permisi pada Kenan untuk membuka pintu mobilnya.


Selepas keduanya keluar dari dalam mobil, tatapan Kenan yang sinis tak henti-hentinya terus tertuju pada Alex.


Ditatap seperti itu, apalagi oleh calon papi mertua, jelas membuat Alex gugup sekaligus kikuk. Batinnya bertanya, sejak kapan Om Kenan lihatin kita?


"Pih!" Kanza langsung menyahut pada sang papi, seraya menggandeng erat lengannya.


Tatapan Kenan yang semula tertuju pada Alex, langsung beralih menatap putrinya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


"Masuk!" Ucapan tegas Kenan disertai kode garis keras lewat tatapan matanya teruntuk Kanza, mau tidak mau harus Kanza turuti.


Namun sebelum itu, gadis itu menyempatkan diri melirik Alex sekilas, kemudian setelahnya ia mulai berlari memasuki rumahnya.


Selepas kepergian Kanza, Kenan langsung berjalan mendekati Alex seraya menatap remaja itu dengan tatapan datarnya.


"Jauhi anak saya!"


^^^To be continue....^^^


Sudah up!!!


Tidak ada spoiler lagi, takutnya salah perhitungan lagi kyk kemaren²😁 but, epsnya ini panjang bgt ya gaes, 3800 kata lebih. So, jan lupa tinggalin jejaknya. Aku ngetiknya sampe 2 ½ hari eaaak😅


Ada yang kangen mereka?


...Kanza...



...Kenzo...



...Alex...



...Rio...



...Alma...



...Kayla...



...Wanda...



...Juna...



...Azka...



...Haykal...



...Bianca...

__ADS_1



Dayana sama Monika enggak yah:v aku males sama mereka eaaks! Apalagi Agnes! Dia gk aku kasih visual karena aku gk mau aja! Takutnya karena dia nyebelin entar malah kalian hujat lagi orangnya🤣


__ADS_2