Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 48


__ADS_3

Azka menatap nanar langit berwarna biru kemerahan di hadapannya. Saat ini, Azka tengah merenung di atap gedung perusahaan milik sang kakek setelah sebelumnya cowok itu mendatangi beliau untuk mengkonfirmasi sesuatu. Berharap semua yang telah dikatakan oleh omnya Kelvin adalah suatu kebohongan belaka.


Sayangnya, sang kakek tidak berbicara apa-apa. Beliau hanya menghela napas diiringi anggukan kepala sebagai tanda bahwa apa yang diucapkan oleh Kelvin pada Azka adalah sebuah kenyataan.


Beberapa saat yang lalu...


Selepas Azka menyetujui perkataan Kelvin tentang ia yang harus berjanji padanya, pria itu lantas memulai pembicaraan mereka. Namun sebelum ke inti, Kelvin mengatakan pada Azka untuk berjanji bahwa setelah ini, ia tidak boleh melakukan hal diluar batas yang mungkin saja akan semakin menyakitinya.


"Jadi, di mana orangtua Azka?" Tanya Azka, setelah dirasa Kelvin sudah cukup berbasa-basi.


Kelvin menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengembuskannya. Sepasang netranya menatap Azka dalam dengan tatapan yang sendu. Sesekali, pria itu akan menelan salivanya susah payah, sesaat puing-puing ingatan masa lalu kembali bertebaran di otaknya. Bahkan, Kelvin sampai bingung harus memulai cerita dari bagian mana. Semuanya seolah terjadi begitu saja tanpa sebab yang pasti.


"Kamu mau tahu bagian mana?"


"Azka mau tahu semuanya! Dari awal kalau bisa!" Ujar Azka. Kelvin pun hanya mampu mengangguk-angukkan kepalanya beberapa kali.


"Sebenarnya, ini semua terjadi sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun yang lalu. Om gak tahu pasti karena itu kejadiannya sudah lama sekali. Ditambah lagi, waktu itu usia Om baru aja sepuluh atau enggak sebelas?" Kelvin menjeda sejenak ucapannya. Perlahan demi perlahan, Kelvin mencoba menguatkan memori belasan tahun silam agar tidak ada bagian penting yang tertinggal.


"Waktu itu, mama kamu alias kakak kandung Om memiliki hubungan dengan seorang laki-laki yang jarak usianya kalau tidak salah dua tahun lebih tua dari beliau—"


"Tunggu!" Azka memotong ucapan Kelvin. Dahinya tampak mengernyit bingung dengan tatapan matanya yang memicing.


"Kenapa? Ada yang pengin kamu tanyakan?" Azka mengangguk. "Jadi... Mama adalah kakak kandung Om? Tapi, kenapa satu pun informasi dan foto dia gak pernah ada? Dan kenapa kalian kalau ditanya soal orangtua Azka, kalian gak pernah jawab? Dan juga—"


"Azka!" Giliran Kelvin yang memotong pembicaraan remaja itu. Dengan penuh kesabaran, Kelvin mulai menenangkan Azka yang mulai dilanda penasaran.


"Sebaiknya kamu jangan dulu bertanya sebelum Om menyelesaikan semuanya. Agar kamu pun tidak akan salah menyimpulkan nanti. Paham?" Tegur Kelvin. Dengan pasrah Azka pun mengangguk.


Kelvin kembali menarik napasnya sebelum pria itu melanjutkan sesi bercerita. "Ekhem. Mama kamu memiliki hubungan dengan seorang pria yang jarak usianya sekitar dua tahunan. Karena mama kamu berasal dari keluarga politikus, Papa alias Eyang Kamu sempat gak setuju saat tahu putrinya memiliki hubungan dengan pria yang tidak diketahui asal-usulnya,"


"Kalau Om gak salah ingat, papa kamu itu pekerjaannya seorang pelukis jalanan. Sedangkan mama kamu waktu itu hanya seorang mahasiswi. Om gak tahu jelas mereka bisa saling mengenal seperti apa, namun yang Om tahu, mama kamu waktu itu nekat pergi dari rumah karena Eyang tidak menyetujui hubungan mereka." Raut wajah Kelvin kembali menjadi sendu. Tatapan matanya yang semula menatap datar ke depan, berubah sedikit menunduk sesaat ia kembali mengingat kejadian yang menimpa sang kakak, alias mamanya Azka.


"Bisa dibilang, mereka kawin lari. Eyang sempat marah, namun beliau tidak berniat menyeret mama kamu untuk kembali ke rumah."


Azka terdiam meresapi semua perkataan Kelvin. Perlahan, otaknya yang kosong mulai membayangkan seperti apa masa lalu sang mama yang baru saja diceritakan oleh Kelvin.


"Sampai pada akhirnya, satu tahun pun berlalu. Tidak ada kabar yang jelas dari dia. Keberadaannya pun tidak tahu ada di mana." Lanjutan dari Kelvin sontak mengenyahkan Azka dari lamunannya. Perhatiannya pun mulai kembali pada pria itu.


"Dan setelah satu tahun berlalu itu, mama kamu kembali tanpa diduga-duga. Beliau mendatangi Eyang sambil menangis. Dalam gendongannya dia membawa seorang bayi laki-laki yang tak lain adalah kamu."


Azka sempat tercengang mendengar penuturan Kelvin barusan. Ia ingin menyela dan bertanya, namun bibirnya seolah kelu tak dapat digerakan.


"Dia menangis dan terus memohon-mohon pada Eyang untuk menggantikannya merawat kamu. Kalau Om juga tidak salah dengar, katanya mama kamu ditinggal pergi begitu saja oleh laki-laki itu yang dahulu sangat ia cintai sampai-sampai membuatnya memilih nekat dan memutuskan hubungan keluarga."


"Jadi, Mama dicampakkan?" Pertanyaan Azka dibalas anggukan kepala oleh Kelvin. Persetan ia harus tetap diam ketika pamannya tengah melakukan sesi bercerita. Ia terlalu gemas ingin segera mengetahui segalanya.


Kelvin kembali menarik napasnya. "Awalnya, Eyang menolak permintaan beliau. Tapi setelah Eyang melihat seperti apa wajah kamu, beliau pun luluh. Sehingga kamu pun menjadi cucu kesayangan Eyang. Eyang selalu manjain kamu. Apa pun yang kamu inginkan, ia tidak segan-segan memberikannya. Tetapi satu hal yang tidak dapat dia berikan ke kamu," Kelvin menjeda sejenak ucapannya, membuat Azka lantas menerka-nerka.


"Keluarga yang lengkap." Lanjutnya. Mampu membuat Azka seketika terdiam masih mencoba mencerna semua ucapan dari Kelvin.


"Tadi kamu bertanya kan, kenapa informasi ataupun foto mama kamu satu pun gak ada di rumah kita?" Kelvin kembali bersuara, membuat perhatian Azka lagi-lagi beralih padanya.


"Itu karena Eyang masih dendam dengan beliau yang dengan mudahnya memutuskan hubungan demi seorang pria yang bahkan pada akhirnya meninggalkannya. Segala informasi maupun kenangan tentang mama kamu sudah dihancurkan olehnya. Oleh sebab itu, seberusaha apa pun kamu mencari, kamu gak akan pernah tahu sampai kapan pun."


Drrt... Drtt... Drtt...


Suara dering ponsel membangunkan Azka dari lamunannya. Perlahan, cowok itu mulai menegakkan posisi berdirinya dengan salah satu tangan yang meraba-raba salah satu saku jaket untuk mengambil benda tersebut.


Ketika benda pipih persegi panjang itu kini telah sepenuhnya berada di genggamannya, dahi cowok itu seketika berkerut dalam kala nama 'Juna' tertera besar di layar ponselnya.


"Tumben tuh anak neleponin gue? Ada apa, ya?" Azka bergumam sendiri, seraya masih menatap layar ponselnya. Tak ingin membuang-buang waktu lagi, cowok itu pun mulai mengangkat panggilan dari Juna, kemudian menempelkan ponsel tersebut di salah satu telinganya.


"Yok! Ada apa nih, tiba-tib—"


"Woi! Buruan datang ke rumah sakit! Si Kenzo lagi dirawat!"


"Hah?! Serius lo? Kok bisa?"


"Mana gue tahu! Dari tadi dia belum juga siuman! Tante Chelsea udah nangis kejer gara-gara tuh anak belum juga sadar!"


"Share lock, Jun! Gue ke sana sekarang!"


"Oke! Cepetan, ya!"


"Iya! Makanya buruan share lock!" Panggilan keduanya pun berakhir dengan Juna yang mengakhirinya dari seberang sana.


Tak lama kemudian, bunyi notifikasi memasuki ponsel Azka. Sebuah pesan chat dari Juna yang mengirimkan lokasi rumah sakit di mana Kenzo tengah di rawat buru-buru langsung cowok itu cek dengan saksama.


Azka lantas memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jaket. Dirasa ia mengetahui di mana alamat tersebut, cowok itu langsung bergegas turun dari atap gedung. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, Azka tak henti-hentinya terus berdoa yang terbaik agar salah satu sahabatnya Kenzo tidak mengalami luka yang serius.


...****...


Siang telah berganti sore dan Kenzo masih belum juga sadarkan diri. Chelsea dan Kenan selaku orangtuanya dibuat khawatir setengah mati. Apalagi Chelsea yang notabene seorang ibu. Ibu mana yang akan tenang ketika melihat anaknya terbaring tidak berdaya dengan luka lebam dan lecet di sekujur tubuhnya?! Wanita itu bahkan sudah menangis berkali-kali sampai kedua bola matanya mulai sembab.


Sedangkan Kanza, gadis itu tengah terduduk kaku di salah satu kursi tunggu di depan ruang ruang rawat inap VIP, tempat di mana Kenzo mendapat perawatan lanjutan.


Gadis itu tidak sendiri. Ia ditemani Alma dan Kayla juga Alex serta anak-anak sepermainan Kenzo yang juga datang ke sana menghibur Kanza sekaligus ingin mengetahui kabar terkini dari Kenzo.


"Kalian beneran gak tahu kenapa Kenzo sampe kayak gitu?" Kanza menarik napasnya seraya menatap satu-persatu cowok teman-temannya Kenzo dimulai dari Juna, Rio, Haykal, kemudian dilanjut pada Alex.


Rio dan Alex kompak menggeleng tak tahu. Sedangkan Haykal, cowok itu belum ada sehari menikah, ia bisa tahu apa!? Berbeda dengan Juna yang tampak terdiam dengan kedua alisnya yang mengerut dalam.


"Kayaknya tadi gue sempet denger kembaran lo ngomong sesuatu, deh," perkataan Juna membuat semua teman-temannya seketika langsung mengalihkan perhatian padanya.


"Serius? Terus, dia ngomong apa?" Kanza bertanya dengan tidak sabaran. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menyeka sisa air mata yang menggenang di salah satu pelupuk matanya.


Juna menghela napasnya seraya mengernyit. "Dia bilang, dia mau ketemu sama musuh lama! Terus gue tanya sama dia; mau gue temenin, gak? Dia malah bilang; gak usah, gue bisa sendiri. Setelah itu, Si Kenzo malah nyuruh gue pulang duluan,"


"Musuh lama? Siapa?" Alex mengernyit dengan perhatiannya yang terfokus pada Juna.

__ADS_1


"Jangan-jangan yang bikin Si Kenzo kayak gini, si musuh lama dia!?" Haykal mulai menerka-nerka. Sedangkan Rio, cowok itu tampak berpikir keras mencoba mencari jawaban atas perkataan Juna.


"Tapi pertanyaannya siapa?" Alex kembali mengutarakan rasa penasarannya yang belum juga terpecahkan.


Di sisi lain, Kanza sudah dibuat panas dingin kala perkataan Juna tentang musuh lama Kenzo terus terngiang-ngiang di otaknya. Kedua tangannya tiba-tiba bergetar. Pikirannya pun sudah tidak dapat diajak berpikir rasional. Serpihan demi serpihan memori mengerikan beberapa tahun silam yang telah lama ia lupakan seolah kembali mendatanginya.


Musuh lama. Kanza tahu betul siapa yang dimaksud oleh Kenzo pada Juna.


Alma dan Kayla yang menyadari perubahan Kanza jelas panik, sehingga perhatian Alex dan yang lain pun lantas beralih pada gadis itu.


"Za! Lo kenapa, Za!?" Alma menyentuh tangan Kanza, namun gadis itu refleks menepisnya.


Tak lama setelah itu, tangis Kanza mulai pecah sehingga membuat semua orang panik dan bertanya-tanya. Ketika Alma dan Kayla hendak berusaha membujuk Kanza serta menenangkannya, Alex menahan mereka berdua dan menyuruhnya untuk sedikit menjauh. Biar dirinya yang menenangkannya.


"Za!" Alex berjongkok di hadapan Kanza yang masih setia duduk di atas kursi tunggu. Raut wajahnya terlihat begitu tertekan dengan kedua tangannya yang bergetar hebat. Ketika Alex hendak meraih kedua tangannya, Kanza langsung menempelkan kedua tangannya itu di kedua daun telinganya. Tangisnya pun semakin pecah.


Melihat hal aneh itu, semua orang seketika tercengang. Ada apa dengan Kanza?


"Za! Kamu kenapa, hm? Za?" Alex belum menyerah untuk menenangkan Kanza. Cowok itu berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang agar tidak menakuti Kanza.


Sayangnya, tangisnya malah semakin menjadi. Ia bahkan meraung-raung dengan sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya.


Alex dan yang lainnya terdiam. Sikap Kanza benar-benar membuat mereka berpikir pada satu kemungkinan. Namun mereka semua tak ada yang benar-benar berani menyimpulkan.


Melihat Kanza yang masih terlihat sama, tiba-tiba saja sudut hati Alex terasa begitu sakit seolah ada sesuatu yang baru saja mencubitnya. Pikirnya, ia telah mengetahui segalanya tentang gadis itu. Namun ternyata, banyak yang tidak ia ketahui. Contohnya saat ini.


Alex tahu mengapa Kanza seperti ini. Tapi ia tidak tahu alasan dibaliknya. Yang pasti, sampai kapan pun, ia tidak akan meninggalkan Kanza, walau seperti apa pun kondisinya.


Perlahan namun pasti, Alex membawa Kanza ke dalam pelukannya. Walaupun gadis itu sesekali akan memberontak, namun Alex masih dapat menahan sekaligus menenangkannya. Usapan halus di area punggungnya pun tak henti-hentinya terus Alex berikan pada Kanza diiringi suara desisan lembut dari mulutnya.


Perlahan, tangis Kanza mulai mereda. Ia juga sudah tidak lagi memberontak seperti sebelumnya. Napasnya yang semula tersengal pun perlahan mulai teratur. Namun suara isak tangisnya masih dapat terdengar.


Dengan hati-hati, Alex mulai melonggarkan pelukannya. Tatapan matanya yang lembut mulai menatap sepasang manik mata sendu milik Kanza yang sedikit memerah akibat tangisannya barusan.


"Musuh lama Kenzo..." Kanza berucap pelan membuat yang lain spontan mendekatkan diri pada gadis itu. Sedangkan Alex, cowok itu masih tetap berada di posisinya dengan sepasang netra yang tertuju pada Kanza.


"Lo tahu dia siapa, Za?" Kayla bertanya sedikit keras. Refleks Alma menyiku gadis itu diiringi dengan pelototan tajam.


"Gue... D-dia... Dia gak akan—"


"Gak akan apa? Coba cerita pelan-pelan, hm?" Alex masih tetap berusaha bertanya lembut walau dalam hati ia teramat sangat penasaran.


"Dia—" suara pintu terbuka dari arah ruangan tempat Kenzo dirawat menghentikan niatan Kanza yang hendak mengutarakan ucapannya. Perhatian gadis itu serta semuanya seketika langsung beralih pada seorang wanita setengah baya yang tak lain adalah Chelsea, sang mami. Wanita itu keluar dari ruang rawat inap putranya setelah hampir berjam-jam lamanya ia terus berada di dalam sana.


Tatapan matanya tidak sesendu tadi. Samar-samar terlihat seulas senyum tipis di wajahnya yang ditujukan pada Kanza, putrinya. Tak lama, wanita itu menghampiri Kanza kemudian menarik salah satu tangannya sampai membuat posisi gadis itu menjadi berdiri.


"Kenzo udah sadar. Dia mau ketemu sama kamu," ucap Chelsea. Seulas senyum tulus lantas terbit di wajah cantiknya.


Helaan napas disertai ucapan rasa syukur terlontar dari mulut Alex dan yang lain. Sementara Kanza, ketika gadis itu mendengar kembarannya telah sepenuhnya sadar, ia langsung berlari ke dalam ruangan untuk menemui Kenzo.


...****...


Pria yang dipanggil om itu pun lantas membalikkan tubuhnya. Dahinya tampak mengernyit dengan tatapan matanya yang seperti biasa selalu dingin jika bersitatap dengan Alex.


"Kenapa di sini? Gak nemenin Kanza?" Kenan lantas mengalihkan perhatiannya pada seorang apoteker yang memberikan beberapa obat dengan dosis yang telah diresepkan.


Setelahnya, perhatian pria itu kembali pada Alex. Kedua kakinya pun tampak melangkah mendekat ke arah pemuda itu sehingga posisi keduanya lantas menjadi bersebelahan.


"Kanza lagi di dalam nemenin Kenzo," ucap Alex yang dibalas singkat oleh Kenan.


"Emm, Om!" Panggilnya lagi, membuat langkah kaki Kenan lantas berhenti sehingga langkah kaki Alex pun ikut terhenti.


"Ada apa? Ada yang ingin kamu tanyakan?" Alex mengangguk mantap.


"Sebenarnya, Kanza kenapa Om?"


"Maksudnya?" Raut wajah Kenan berubah semakin dingin dengan tatapan matanya yang tampak memicing.


Sebelum benar-benar melanjutkan pertanyaannya, Alex menarik napasnya terlebih dahulu. Ia mencoba mempersiapkan dirinya jika sewaktu-waktu Kenan akan tiba-tiba marah atas pertanyaannya yang mungkin dinilai mencoreng.


"Tadi Kanza tiba-tiba histeris, Om. Sebenarnya apa aja yang sudah dilalui sama Kanza sampai dia tiba-tiba jadi seperti itu? Apa ada hal yang tidak saya ketahui?"


Kenan seketika dibuat bungkam oleh pertanyaan dari Alex. Tatapan matanya yang semula memicing pun perlahan mulai berangsur menghilang dan digantikan dengan tatapan penuh kesedihan dan penyesalan. Sesekali, pria itu akan menelan salivanya sesaat ketika bayangan mengerikan beberapa tahun silam yang dialami oleh putrinya kembali berputar otomatis di kepalanya.


Tak ingin terus terhanyut dalam bayangan masa lalu, Kenan lantas memejam kuat kedua bola matanya. Tarikan dan embusan napasnya pun sampai terdengar begitu dalam. Sepasang bola matanya terlihat sedikit memerah, dan semuanya membuat Alex semakin yakin bahwa ada suatu hal yang telah terjadi di kehidupan Kanza sehingga membuat gadis itu bersikap demikian.


Perhatian Kenan lantas kembali pada Alex. "Sebenarnya, ada beberapa hal yang tidak kamu ketahui tentang Kanza dan juga alasan mengapa saya sangat menentang hubungan kalian berdua,"


Mendengar penuturan Kenan padanya, jelas sekali Alex tercengang. Ia bahkan hanya bisa diam padahal sebelumnya cowok itu telah menyiapkan puluhan pertanyaan yang akan ia lontarkan pada Kenan.


"Alex!" Kenan menyentuh salah satu bahu bidang Alex. Tatapannya pun tampak begitu serius.


"Kanza punya trauma dan mentalnya tidak sedang baik-baik saja. Dia akan tiba-tiba mengalami kecemasan dan ketakutan kalau memori masa lalunya kembali berputar. Dan yang telah membuatnya seperti itu adalah," Kenan menjeda sejenak ucapannya. Bibirnya tiba-tiba menjadi kelu dan otaknya mulai berpikir ulang.


"Adalah apa, Om? Kenapa Om berhenti?"


Kenan kembali menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengembuskannya. "Adalah seorang laki-laki yang terobsesi dengan Kanza, sampai membuatnya bersikap nekat, sampai membuat Kanza memiliki trauma yang tidak pernah bisa dilupakan."


Kedua tangan Alex lantas mulai terkepal kuat dengan tarikan napasnya yang hampir tersengal. Suatu fakta lain yang baru ia ketahui tentang Kanza dari Kenan membuat Alex kesal sendiri.


Ia adalah pacarnya, tapi Alex sedikit pun tidak mengetahui soal trauma yang pernah dialami oleh Kanza!? Apakah ia benar-benar masih pacarnya Kanza? Kenapa hal sebesar itu saja ia tidak tahu? Alex merasa dirinya sangat tidak becus karena hal sebesar itu pun ia masih diberi tahu.


"Oh, ya. Kanza sempat gak mau ditemenin siapa-siapa dan gak mau keluar dari kamar setelah kejadian itu. Dia sering nangis, sering murung, selalu tertutup dan dia juga sempat gak mau sekolah. Dan kejadiannya itu waktu Kanza masih SMP,"


"SMP?" Kenan mengangguk sembari menghela napas.


"Sebenarnya, alasan paling kuat mengapa saya menyuruh kamu menjauhi Kanza bukan karena keluarga kamu. Walaupun keluarga kamu dingin dan begitu tegas, tapi pengarahan Geo untuk mendidik anak-anaknya sedikit membuat saya kagum," Kenan tersenyum kecil sembari membayangkan seperti apa Geo yang juga adalah temannya sewaktu kuliah dulu, ketika mendidik anak-anaknya untuk patuh.


"Lalu, apa alasan Om menyuruh saya untuk menjauhi Kanza?" Pertanyaan Alex menyadarkan Kenan. Persekian detiknya, pria itu mulai berdeham.

__ADS_1


"Sebelumnya, Om minta maaf sudah menyinggung soal keluarga kamu. Tapi yang Om takutkan lebih dari itu. Om takut jika sewaktu-waktu kamu tahu Kanza terkadang sering tidak stabil, kamu akan menjauhi Kanza sehingga membuat putri kecil saya kembali bersedih. Saya gak mau itu terjadi,"


Lagi-lagi Alex terdiam. Bibirnya kembali kelu dan isi kepalanya telah dipenuhi oleh semua ucapan dari Kenan tentang Kanza dan juga alasan dibalik pria itu selalu menentang hubungan mereka.


"Kanza sudah sempat pergi ke beberapa psikiater untuk menghilangkan traumanya. Tapi, semuanya sia-sia. Traumanya tetap ada dan malah semakin tidak dapat dihilangkan. Namun, entah apa saja yang sudah diucapkan oleh Kenzo kepada kakak kembarnya sehingga Kanza perlahan mulai terlepas dari mengurung diri sampai pada akhirnya dia mau kembali bersekolah." Kedua bola mata Kenan sudah hampir kembali berkaca-kaca, namun pria itu langsung menghentikannya dengan mendongakkan kepala ke langit-langit.


"Jadi, jika kamu berpikir Kanza terlihat baik-baik saja, kamu salah. Dia mencoba menutupi rasa takut akan traumanya dengan cara tersenyum dan tertawa sampai orang-orang yang melihatnya berpikir bahwa hidupnya terlihat begitu sempurna," Kenan kembali menghela napas panjang. Tatapan matanya pun jatuh pada Alex yang terlihat sedikit menunduk.


"Jadi Alex, apa kamu mulai tidak menyukai Kanza setelah saya mengatakan hal barusan?"


Alex langsung mendongakkan kepalanya sesaat mendengar pertanyaan dari Kenan. Dahinya pun tampak mengerut dalam dengan tatapan datar yang mendominasi.


"Kenapa saya tidak menyukai Kanza?" Ucapan dari Alex membuat Kenan refleks membulatkan kedua bola matanya.


"Sampai kapan pun dan seperti apa pun Kanza, saya tidak akan pernah pergi hanya karena Kanza memiliki kekurangan. Saya mencintai Kanza apa adanya, bukan ada apanya. Jadi Om, tolong jangan jauhkan saya dari Kanza!"


...****...


"Udah dong ... jangan nangis lagi! Gue kan masih hidup, Za," Kenzo masih sempat-sempatnya tersenyum jahil pada Kanza, padahal hampir semua sudut wajahnya sudah dipenuhi oleh perban dan luka lebam.


Kanza menarik ingusnya seraya memukul pelan salah satu lengan Kenzo dengan derai air mata yang belum juga sirna.


"Omongon lo tuh gak lucu tahu gak! Gue udah takut lo akan kenapa-kenapaaaa!!! Kenapa lo-nya nyebelin banget sih? Gue tabok, nih!" Kanza menunjukkan salah satu tangannya ke hadapan Kenzo membuatnya refleks terkekeh pelan seraya meringis.


"Udah, jangan nangis lagi. Gue masih hidup dan gue gak akan mati dengan mudah cuma karena dipukulin orang doang. Lo pikir gue kentang mudah hancur? Gue ini besi! Sekalipun hancur masih bisa diperbaiki, eaaak..." ucap Kenzo terdengar begitu lemah namun sanggup membuat seulas senyum tercetak di raut wajah Kanza.


"Gitu dong, senyum. Kan tambah uwaw!" Kelakar Kenzo. Lagi dan lagi, Kanza menepuk pelan tangan cowok itu sampai membuatnya refleks mendesis.


"Lo tuh lagi sakit! Bisa gak jangan bercanda mulu? Gue hampir aja kehilangan lo! Lo gak tahu gimana takutnya gue tadi! Gue belum siap tinggal sendirian di dunia ini, Zo! Cuma lo yang dari kecil sampai sekarang yang selalu jagain gue, nenanging gue, ngehibur gue yang sangat-sangat lemah ini. Gue bahkan lupa kapan terakhir kali lo bener-bener bahagia selain karena lo selalu ngehibur gue! Lo bahkan bela-belain belajar bela diri demi bisa jagain gue dari orang-orang yang jahatin gue! Lo bahkan sempat cedera, tapi lo masih bisa ketawa! Bisa gak lo jadi orang jangan sok kuat? Tunjukin kelemahan lo kalo emang lo udah gak kuat! Jangan maksain!" Kanza meluapkan segala emosinya sampai air matanya pun benar-benar membanjiri wajah cantiknya. Sepasang matanya sudah sembab akibat ia yang terus-menerus menangis begitu lama karena Kenzo.


Ya. Karena cowok itu.


Meskipun terkadang Kenzo selalu memperlihatkan sisi yang begitu menyebalkan, namun sebenarnya Kenzo adalah sosok pelindung nyata bagi Kanza.


Di mana saat Kanza tersakiti, di situ akan ada Kenzo yang dengan sigap memeluk dan menghiburnya dengan segala cara. Andaikata ia tidak memiliki kembaran seperti Kenzo, mungkin saat ini Kanza sudah sangat hancur.


Kenzo tersenyum samar melihat Kanza yang masih saja menangisinya. Walaupun dalam hati ia juga sebenarnya ingin menangis, apalagi kata-kata yang diucapkan oleh kakak kembarnya serasa begitu menembus sudut hatinya yang terdalam.


"Kalau gue lemah, terus yang jagain lo siapa? Hantu?" Kenzo terkekeh. Sebulir air mata lolos begitu saja dari salah satu pelupuk matanya tanpa ia sadari.


Kanza tidak langsung menjawabnya. Gadis itu menyempatkan diri untuk menyeka sisa air matanya dengan sesekali berdeham menelan ludah.


"Jadi, siapa yang buat lo jadi kayak gini? Bukan ... dia, kan?" Ucap Kanza, membuat seulas senyum tipis di wajah Kenzo lantas memudar.


"Vando! Bu-bukan dia, kan?" Tarikan napas Kanza terasa begitu berat dari sebelumnya. Namun sebisa mungkin gadis itu terlihat biasa saja seolah tidak ada yang pernah terjadi.


Kenzo terdiam sejenak. Sesekali cowok itu akan menelan ludahnya susah payah sebelum ia benar-benar akan mengatakan suatu hal yang mungkin akan kembali mengguncang Kanza.


"Gak peduli sampai kapan pun, gue akan tetap jagain lo! Gue gak akan biarin lo menderita!" Ujarnya. Sanggup membuat tubuh Kanza mematung dengan pikiran yang kembali melayang pada saat di mana ia merasakan ketakutan yang teramat mengerikan.


Tok tok tok!


Suara ketokan pintu diiringi pintu yang terbuka seketika langsung mengalihkan perhatian Kanza dan juga Kenzo. Diliriknya ke arah pintu yang terbuka, Alex beserta teman-temannya yang lain, Rio, Haykal, Juna dan juga Azka yang baru saja tiba beberapa saat yang lalu, berjalan memasuki ruang rawat Kenzo.


Kelima cowok itu menampilkan raut wajah datar hampir tak bereskpresi, padahal Kenzo sempat menyahuti konyol mereka berlima.


"Lo semua ada di sini juga ternyata? Sampe terharu gue," Kenzo terkekeh pelan, membuat teman-temannya yang lain lantas berdesis kesal pada cowok itu.


"Diem lo! Bisa-bisanya lo masih sempet ngajak bercanda? Lo dah bikin kita semua khawatir tahu gak!?" Rio meledak yang langsung diangguki anggukan setuju oleh Juna dan yang lain.


"Ngomong sama kita, siapa yang udah bikin lo Penerus Keluarga Jiran babak belur? Bilang sama gue, sekalian gue santet mereka," Azka menimpali, membuat Haykal lantas menyiku pelan lengan cowok itu. Raut wajahnya yang semula tampak serius pun langsung berganti konyol. Seulas cengiran terbit di wajah tampannya.


"Biar gak tegang, elaah..." ucap Azka, dibalas kekehan pelan oleh Kenzo.


"Udah, jangan pada berisik. Si Kenzo belum ada sembuh sehari, entar malah tambah parah lagi gara-gara keributan kalian," sambung Juna yang langsung diangguki yang lain.


Merasa sedikit canggung berdiri di tengah-tengah para teman-temannya Kenzo, pada akhirnya Kanza memilih undur diri dari dalam ruangan tersebut. Sebelum gadis itu benar-benar pergi setelah ia yang sebelumnya izin terlebih dahulu pada Kenzo, tatapan matanya tidak sengaja mencuri pandang pada Alex.


Namun ketika sebuah kenyataan bahwa ternyata cowok itu juga tengah menatapnya, Kanza langsung mengalihkan pandangan kemudian menunduk dalam. Jantungnya pun terasa begitu berdegup kencang. Bukan karena terbawa perasaan bahagia, melainkan perasaan takut yang tidak dapat dihentikan.


Ya! Takut. Takut akan ia yang sebenarnya telah benar-benar diketahui oleh Alex. Atau mungkin, kedua sahabatnya Alma dan juga Kayla pun telah mengetahui tentang sisi lain dari dirinya.


Di sisi lain, Alex menatap datar punggung Kanza yang semakin menjauh sehingga pada akhirnya benar-benar tak lagi terlihat oleh netranya.


Bayangan beberapa saat yang lalu ketika ia berbincara empat mata dengan Kenan membuat cowok itu kembali teringat dengan masa lalu Kanza yang masih begitu samar di kepalanya. Kenan bilang, jika ia ingin mengetahui setiap inci dari cerita Kanza, maka ia harus bertanya pada Kenzo. Dialah yang benar-benar selalu ada disaat Kanza dalam kondisi apa pun.


"Zo! Si Juna bilang, lo sempat ngomong kalo lo mau ketemu sama musuh lama lo? Bilang sama kita. Apa dia yang udah bikin lo jadi kayak gini?" Haykal menyahut tiba-tiba membuat lamunan Alex langsung membuyar seketika. Perhatian cowok itu pun lantas beralih pada Haykal, kemudian dilanjut pada Kenzo.


Kenzo tampak terdiam sejenak. Namun di detik selanjutnya, cowok itu sedikit menggendikkan bahunya membuat Alex dan yang lain refleks mengernyit.


"Bisa ya, bisa enggak. Soalnya yang gebukin gue anak buahnya,"


"Hah? Dia punya anak buah?" Rio menyela.


Kenzo mengangguk seraya mengembuskan napas panjang. "Dia ketuanya geng motor. Enggak mungkin dia gak punya anak buah?!"


Alex mencengkram kuat kepalan tangannya dengan alis yang mengerut dalam. "Apa dia juga yang membuat Kanza jadi trauma?" Ucapan Alex yang terkesan tiba-tiba membuat teman-temannya lantas mengalihkan fokusnya pada cowok itu.


Tak terkecuali Kenzo yang juga mulai menatap salah satu sahabatnya itu dengan tatapan tidak percaya.


"Lo ... tahu dari mana?" Pertanyaan Kenzo membuat fokus Juna, Haykal, Rio dan Azka lantas beralih padanya.


Alex menguatkan kedua rahangnya dengan tarikan napas yang mulai tidak beraturan. Kedua tangannya pun semakin terkepal kuat.


"Zo!" Panggilan dari cowok itu sedikit membuat Kenzo dibuat gelagapan. Sementara itu, teman-temannya dibuat tanda tanya dengan sikap serta pertanyaan kurang dimengerti yang dilontarkan oleh Kenzo dan juga Alex.


"Tolong kasih tahu gue segalanya tentang Kanza! Gue mau tahu tentang dia, semuanya!"


^^^To be continue....^^^

__ADS_1


Wah... updatenya jdi smakin lama ya😭 gk tau ah, tugas numpuk mulu nyebeliiinnn😭 mana karena aku ngetiknya di hp, jdinya pas pulang skolah batrenya kadang suka tinggal setengah dan kdang tinggal dikit. jdinya nunggu dicharger smpe penuh dan paling² ngetik tuh malem dari jam 8 sampe jam 10, kadang smpe jam 11, tpi ttp aja gk selesai² soalnya satu babnya panjang. Entah aku mau dimaafin lgi ato nggak karena updatenya semakin lama, tpi aku ttp akan minta maaf🙏 aku selalu sempat²in walaupun ujung²nya cmn ngetik paling 100-400 kata. aku smpetin ngetik setelah aku ngerjain tugas dulu jdinya waktu ngetik paling cuman 1-2 jam doang😭🙏 gitu aja mungkin untuk QnA nya. Sekali lgi aku minta maaf karena upnya semakin hari semakin lama dari biasanya🙏 ini bonus 4200+ kata dariku:*


__ADS_2