Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 55


__ADS_3

"Kak Wanda kok bisa suka sama Kenzo? Kakak dikasih pelet apa sampai-sampai mau nerima dia yang playboy gitu?!" Kanza menyahut dari jarak yang cukup berjauhan dengan Wanda. Ketika sesampainya mereka di dalam kamar Kanza, gadis itu langsung melepas satu-persatu atribut sekolahnya ke tempat biasa.


Wanda terkekeh pelan seraya menatap beberapa foto yang tergantung di dinding kamar Kanza. "Iya juga, ya? Padahal, 'kan, dia ngeselin! Genit, lagi. Kayaknya aku emang dikasih pelet deh, sama kembaran kamu, Za!" Ujarnya, menyetujui pernyataan Kanza.


Kini giliran Kanza yang terkekeh. "Ternyata Kakak orangnya asik juga, ya? Oh, ya. Btw, Kak Wanda kuliah jurusan apa?"


"Emm. Aku kuliah jurusan administrasi perkantoran. Kalau Kanza di SMA masuk jurusan apa?"


Mendengar pertanyaan balik yang dilontarkan Wanda, sedikit membuat Kanza yang tengah berusaha mengikat rambutnya langsung tersentak.


"Aku ... jurusan IPS, hehe," ujarnya. Sedikit membuat Wanda tertarik untuk kembali mengajukan pertanyaan.


"Tumben pilih IPS? Biasanya anak-anak cewek pilihannya IPA, tuh,"


"Ish! Itu mah orang lain. Ini, 'kan, Kanza Putri Bravani! Orang pemales yang paling benci sama yang namanya angka dan rumus! Apalagi kalau dikasih soal matematika yang isinya tentang bangun datar sama bangun ruang. Udahlah, aku nyerah. Gak ngerti, sumpah!" Cerocos Kanza. Tanpa sadar membuat Wanda terkekeh pelan menanggapi ocehan gadis itu.


"Emang, sih, kalau masuk jurusan IPA tuh kebanyakan menghitung, ya. Apalagi soal-soal kimia sama fisika. Kalau matematika gak terlalu ewh banget, soalnya di kelas dan di sekolah manapun, matematika selalu ada."


Mendengar pernyataan Wanda, apalagi yang kalimat terakhir, sukses membuat Kanza semakin membenci pelajaran matematika. Kenapa, sih, di dunia ini harus ada pelajaran matematika? Batinnya menjerit.


"Eh, Kak! Aku mau mandi dulu, ya. Kak Wanda tunggu sebentar di sini, gak pa-pa?" Kanza menyahut, seraya membenarkan posisi rambutnya yang dicepol.


"Oh! Ya udah, kamu mandi aja. Aku juga kayaknya bentar lagi mau pulang. Takutnya dicariin, soalnya pas pulang dari kampus tadi gak sempat bilang mau mampir,"


Kanza mengernyitkan dahinya seraya menatap Wanda dengan tatapan sedikit kecewa. "Loh? Kok, pulang, sih? Buru-buru amat,"


"Gimana, ya? Lain kali deh, kita ngobrol sama kumpul-kumpul lagi. Gimana?"


"Ya udah. Hati-hati di jalan, ya, Kak! Kalau gitu, aku duluan ke kamar mandi," setelah mengucapkan kalimat tersebut, Kanza lantas melenggang memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Meninggalkan Wanda yang masih berdiam kaku di dalam kamar yang lebih mirip ruang tengah.


Wanda menghela napasnya cukup dalam sebelum dirinya memutuskan untuk keluar dari dalam kamar Kanza. Dalam hatinya yang terdalam, mungkinkah ia pantas masuk ke dalam kehidupan keluarga Kenzo?


Ia tahu bahwa maminya Kenzo begitu baik dan tidak memedulikan soal status sosial hanya karena putra mereka berpacaran dengan dirinya. Bahkan, Kanza selaku kembarannya pun bersikap baik dan menerimanya.


Namun, kenapa hati kecil ini terus merasa diri ini tidak pantas?


Wanda lagi-lagi menghela napasnya cukup dalam. Tak ingin terus berlama-lama, gadis itu melenggang menuju pintu kamar Kanza dengan membawa beribu pertanyaan teruntuk dirinya. Dan salah satunya adalah, mengapa dirinya begitu percaya diri mencoba masuk ke dalam keluarga cowok itu, sedangkan dirinya saja bukan dari kalangan yang sama dengan mereka.


...****...


Kenzo menatap dingin tanaman kaktus kecil yang sengaja ia tanam di dalam pot di kamarnya. Setelah mendengar dan merespon perkataan Alex beberapa saat yang lalu, hatinya seketika kacau, dan emosinya tak dapat ia atur dengan stabil. Sampai-sampai, kaktus kecil yang tidak tahu apa-apa menjadi pelampiasan emosi seorang Kenzo.


Ya, walaupun cuman ditatap, dan gak di apa-apain lagi, tetap saja itu sangat jahat. Andai tanaman itu memiliki perasaan, mungkin ia sudah menangis dan meminta untuk dijauhkan dari pandangan Kenzo.


"Zo! Gue haus, nih. Lo ada air, gak?" Alex menyahuti Kenzo dengan mulut yang sibuk mengemil beberapa kue kering yang berada tak jauh dari tempatnya.


Sedikit tersentak akan sahutan dari sang sahabat, Kenzo pun lantas menoleh dengan raut wajah bingung. Tak lama kemudian, cowok itu mulai mengubah posisi duduknya.


"Ada. Lo cari aja di bawah," ujarnya singkat. Setelahnya, Kenzo kembali melanjutkan aktivitasnya seperti semula. Sedikit membuat Alex selaku sahabat sekaligus tamu merasa sudah tidak memiliki harga diri lagi.


"Woi!" Sentak Alex. Lagi-lagi membuat Kenzo yang tengah sibuk melamun, kembali diharuskan menoleh pada cowok itu.


"Ck. Apaan lagi, sih? Airnya di bawah. Lo cari aja gih, kek di rumah siapa aja lo! Anggap aja rumah sendiri, oke?" Jelas Kenzo, kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya tanpa peduli lagi dengan Alex.


Alex mendengus sebal melihat sikap Kenzo yang kelewat menyebalkan terhadap dirinya. Emang, sih, dari dulu dia udah ngeselin! Tapi, 'kan, ini masalahnya beda lagi. Di mana Alex adalah seorang tamu yang harus dilayani oleh pemilik rumah.


Ngomongnya sih, 'anggap aja kek rumah sendiri', padahal mah bilang aja males ngambil. Apa susahnya, sih, jujur!


"Ya udah. Gue ke bawah dulu," ujar Alex, pada akhirnya. Sepeninggalan Alex dari dalam ruang kamar Kenzo, Kenzo langsung mengubah posisinya menjadi berdiri. Salah satu tangannya pun dengan cekatan mengambil ponselnya yang ia taruh di atas meja nakas, kemudian mengotak-atiknya.


Tak butuh waktu lama, Kenzo mulai menghubungi salah satu nomor kenalannya yang mungkin akan membantunya dalam rencana kali ini.


"Hm. Ini gue, Kenzo." Kenzo berucap spontan sesaat panggilan suara tersebut telah sepenuhnya tersambung. Sebelum melanjutkan kata-katanya, cowok itu memilih menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengembuskannya.


"Ini permintaan pertama sekaligus permintaan terakhir gue,"


"Gue mau lo ..."


...****...


Alex menghela napas gusar ketika sesampainya cowok itu di sebuah dapur di kediaman rumah Kenzo. Raut wajahnya tampak suram, dan itu semua sanggup membuat dirinya ingin kembali melampiaskan amarahnya ketika kembali mengingat sosok Vando.


Ya. Orang yang telah membuat mood Alex rusak adalah Vando. Ingatan beberapa saat yang lalu ketika dirinya saling adu jotos dengan Vando, membuatnya semakin geram akan sosok cowok aneh itu.


Apalagi ketika ucapan-ucapan aneh yang sempat ia lontarkan di sela-sela ketika mereka tengah saling pukul. Alex benar-benar tidak paham dengan maksud dari pemikirannya.


"Antara terobsesi sama gila," gerutu Alex, di sela membuka salah satu pintu kulkas untuk mengambil air dingin. Seingatnya, Kenzo sering menaruh air dingin di dalam kulkas.


Dan benar saja, beberapa botol air mineral terjajar rapi di tempatnya. Tak ingin berlama-lama lagi, Alex pun meraih salah satu botol air mineral tersebut, kemudian menuangkannya beberapa mililiter ke dalam gelas yang berada tak terlalu jauh dari jangkauannya.


Sesaat ketika Alex hendak menutup kembali botol air mineral tersebut, gerakannya langsung terhenti ketika sepasang bola matanya menangkap gerak-gerik Wanda yang baru saja menuruni tangga.


Melihat ada sesuatu yang aneh, jelas Alex bingung. Tak ingin hanya menebak-nebak, cowok itu pun melangkahkan kakinya perlahan ke arah Wanda, setelah sebelumnya ia menghabiskan terlebih dahulu air minumnya.


"Kak Wanda, 'kan? Lo mau ke mana?"


Menyadari ada seseorang yang baru saja menyahutinya, bukan tidak mungkin Wanda tidak terkejut. Gadis itu bahkan hampir saja melatah akibat panggilan dari Alex yang terbilang tiba-tiba.


"Gue ... mau pulang. Duluan—"


"Lo udah pamit sama Kenzo?" potong Alex. Sedikit membuat Wanda yang belum menyelesaikan ucapannya dibuat tergagap oleh cowok itu.


"Eh? Be-belom,"


"Kenapa?" Tuntutnya. Sanggup membuat Wanda tidak dapat berpikir hal lain, selain; alasan apa yang harus ia katakan pada Alex?


Satu hal yang Wanda sadari dari Alex. Temannya Kenzo yang satu ini terlalu mengerikan kalau sedang bertanya. Raut wajahnya yang kaku dan nada suaranya yang datar sanggup membuat Wanda tidak betah berlama-lama di sekitar Alex. Pikirnya, masih mendingan Kenzo.


"Emm ... Gue pikir, lo masih sama Kenzo. Takutnya jadi ganggu kalian, makanya gak gue kasih tahu." jelas Wanda. Bukannya membalas ucapannya, Alex malah bengong seraya menaikkan salah satu alisnya.


Bereaksi yang lain, kek!


"Tapi gue udah pamit, kok, sama Kanza! Ekhem. Kalau gitu, gue pamit duluan," ujarnya terburu-buru. Setelahnya, gadis itu benar-benar melenggang dari hadapan Alex, yang padahal hendak melontarkan beberapa rangkaian kata-kata pada Wanda.


Alex menghela napas pasrah seraya menggendikkan bahunya. "Terserahlah," gumamnya, kemudian melangkahkan kakinya kembali ke kamar Kenzo.


Ketika sesampainya cowok itu di dalam kamar Kenzo, hal yang paling membuatnya tidak mengerti adalah, Kenzo tengah berbaring di atas tempat tidur dengan posisi terlentang, dengan sepasang bola mata yang terpejam.


Padahal, ini bukanlah waktu yang tepat untuk tidur! Harusnya, 'kan, Alex dan Kenzo mulai merencanakan sesuatu untuk melindungi Kanza, ataupun sebagainya. Ini malah tidur!


"Woi! Tidur lo? Pantesan cewek lo kabur. Lo-nya aja gak care gitu," Kenzo yang tengah pulas, langsung dibuat tersadar seratus persen. Kedua bola matanya langsung terbelalak hampir sempurna ketika nama kekasihnya disebut-sebut.


"Hah?! Lo bilang apa barusan? Cewek gue kabur lagi? Yang bener lo?"


Kenzo sudah hendak mengubah posisinya menjadi berdiri, namun pergerakannya langsung dicegah oleh Alex. "Pamit pulang katanya," ujar Alex, menjawab pertanyaan yang hampir terpampang jelas di wajah Kenzo.


"Kok, pamitnya sama lo? Kenapa gak sama gue?"


Alex mengendikkan bahunya seraya mendudukkan diri di sofa semula. "Mana gue tahu. Sebenarnya, dia pamitnya udah sama Kanza duluan. Gue kehitung nanya sendiri, makanya gue sampe tahu."


Mendengar jawaban Alex yang kelewat santai, perasaan dongkol lantas mulai menggerogoti hati Kenzo. Kesal dan marah bercampur menjadi satu.

__ADS_1


"Ck! Apa gak bisa nengok gue di kamar sebelah, terus bilang pamit? Dia gak lagi maen tarik-ulur, 'kan?"


"Dih, tarik-ulur. Percuma lo nanya sama gue, gak guna. Gue aja gak tahu!" timpal Alex, semakin membuat Kenzo dilanda kesal.


"Dasar temen laknat lo! Gue gak lagi nanya sama lo. Tapi sama diri gue sendiri!" Ketus Kenzo, yang dibalas 'oh' saja oleh Alex.


...****...


Azka menghela napas gusar ketika setibanya cowok itu di parkiran sekolah. Suasana sekitar sekolah yang masih terbilang cukup sepi sedikit membuat sudut hatinya merasakan ketenangan yang tak lagi ia dapatkan ketika berada di rumahnya.


Ketika cowok itu hendak turun dari atas motornya, suara klakson yang cukup menggema disertai suara mesin kendaraan membuatnya spontan menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Wei! Tumben kagak pake mobil and tumben gak bareng sama cewek lo? Udah mulai bosen, ya?" Celetuk Azka, tatkala orang tersebut mulai memarkirkan motornya tepat di sebelah motor miliknya.


Orang tersebut perlahan mulai melepas helm full face yang ia kenakan, sehingga nampaklah wajahnya yang datar, namun masih sangat tampan dengan tatanan rambut yang terbilang cukup acak-acakan.


"Berisik lo! Sembarangan aja kalo ngomong. Kanza disuruh Maminya buat berangkat bareng Si Kenzo," sewotnya, yang tak lain dan tak bukan ialah Alex.


Azka terkekeh seraya menepuk-nepuk bahu sang sahabat. "Elah. Baperan amat lo! Bercanda kali, Lex,"


Alex memutar bola matanya sembari menghela napas pelan. Terserah. Balasnya dalam hati.


"Eh, btw. Si Kenzo pulang dari rumah sakitnya kapan? Kok, gue kagak tahu?!" Azka kembali menyahut, bertepatan ketika Alex mulai turun dari atas motornya.


"Kemaren."


"Oh, pantesan,"


Dan setelahnya, suasana di antara keduanya mendadak hening. Dengan sesekali melangkahkan kaki meninggalkan parkiran sekolah menuju kelas mereka.


Merasa ada yang berbeda dengan Azka hari ini, Alex menolehkan kepalanya ke arah cowok itu yang berada tepat di sampingnya. Dan benar saja. Raut wajah Azka terlihat begitu murung. Sangat jauh berbeda dari sebelumnya.


"Lo ada masalah apa lagi, Ka?" Kini giliran Alex yang menyahut duluan. Azka yang tengah sibuk dengan lamunannya langsung tersentak. Kepalanya dengan spontan menoleh pada Alex.


"Emang kelihatan banget, ya?" Alex mengangguk. Detik itu juga, Azka lagi-lagi mulai mengembuskan napas panjang dengan perhatian yang tertuju ke bawah.


"Sebenarnya bukan masalah, sih. Lebih tepatnya, gue masih kepikiran aja soal Nyokap gue. Gue ngerasa nyesel banget setelah gue ninggalin dia gitu aja waktu itu. Padahal waktu itu dia minta maaf sampe mohon-mohon sama gue. Tapi ... nyatanya ego gue lebih tinggi,"


Alex lantas bungkam mendengar penuturan Azka. Namun tak berlangsung lama, di detik berikutnya, cowok itu mulai menepuk pelan bahu Azka. Mencoba memberikan sedikit kekuatan pada cowok itu untuk tidak menyerah maupun terus bersedih.


"Mau gue kasih saran, gak?" Lagi-lagi Azka menoleh pada Alex. Namun bedanya, raut wajahnya tidak sekaget tadi.


"Kenapa enggak? Siapa tahu dengan dengerin nasehat dari lo, gue bisa dapet sedikit pencerahan? Secara 'kan, lo adalah sang penasihat di antara kita berenam. Iya, gak?" Penuturan dari Azka membuat Alex refleks terkekeh pelan. Tak berlangsung lama, raut wajahnya kemudian kembali seperti semula. Tatapan matanya yang tertuju pada Azka pun tampak begitu serius.


"Temuin lagi gih, Nyokap lo! Sebesar apa pun salah dia yang udah nelantarin lo, dia tetep ibu kandung lo. Gue bilang kayak gini karena gak mau lo nyesel di kemudian hari," ungkap Alex. Detik itu juga, Azka langsung terdiam seribu bahasa. Keduan kakinya yang semula masih melangkah pelan langsung terhenti di tengah jalan.


"Gue ke kelas duluan. Inget, pikirin baik-baik, Ka,"


...****...


"Akhirnyaaaa! Udah istirahat juga. Ngantin, yok, Ma, Za!" Kayla mulai meregangkan otot-otot tubuhnya sesaat ketika sesi pembelajaran telah benar-benar usai. Tubuhnya yang semula loyo berubah penuh semangat.


Alma yang masih sibuk membereskan meja hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Kanza, gadis itu hanya terkekeh pelan dengan perhatian yang tertuju pada layar ponselnya yang menyala. Menampilkan deretan foto barang-barang keperluan cewek dalam sebuah aplikasi belanja online.


"Jajanin, hayuk!" ujar Kanza, dengan perhatian yang belum juga beralih dari layar ponselnya.


"Ck, masa anak sultan minta dijajanin, sih? Harusnya lo tuh yang jajanin kita. Ya, 'kan, La?" Alma menyahut seraya meminta persetetujuan Kayla, yang langsung dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.


Perlahan, Kanza mulai mematikan ponselnya kemudian menaruhnya ke dalam saku rok. "Ya udah, gue jajanin. Terserah kalian mau pesen apa, biar entar si Kenzo yang bayarin," ucap Kanza. Membuat senyum bahagia yang terukir di wajah Alma dan Kayla langsung memudar.


"Ah, gak mau! Entar malah diamuk lagi," Alma mengerucutkan bibirnya sembari mendengus.


"Enggak jadi deh, Za! Gue takut," timpal Kayla. Sontak membuat Kanza tidak dapat lagi menahan tawanya.


Kanza kemudian menghentikan tawanya. "Baru juga denger nama si Kenzo, kalian udah pada nyerah aja,"


"Ya, gimana gak langsung nyerah? Tuh cowok kelakuan biasanya emang kek tukang lawak, tapi kalo giliran udah kesel, bisa-bisa orang yang gak sengaja maupun yang sengaja nyari gara-gara sama dia bisa habis. Ughh... Ngeri banget," Kayla bergidik ketika membayangkan seperti apa sifat Kenzo ketika berhadapan dengan orang yang ia anggap lawan.


Kanza sedikit syok mendengar penuturan dari Kayla. "Emang, lo pernah lihat si Kenzo pas lagi marah kayak gitu?"


"Bukan pernah lagi, Za! Sering! Itu pun pas masa-masa kelas sepuluh kemaren. Dan lo tahu lawannya siapa?"


"Siapa?" Kanza sedikit harap-harap cemas, namun batinnya begitu penasaran.


Alma menarik napasnya dalam-dalam sebelum gadis itu kembali mengutarakan kalimatnya. "Senior kelas dua belas." ujarnya. Saat itu juga, Kanza langsung membelalakkan kedua bola matanya.


"Hah?! Serius?" Pekik Kanza. Bukannya langsung menjawab, Alma dan Kayla malah mengangguk mantap tanpa ekspresi.


"Kok, bisa?" Alma dan Kayla kompak menggendikan bahu mereka. Tak lama kemudian, ketiga gadis itu mulai berjalan keluar dari dalam kelas menuju salah satu kantin sekolah.


"Kalau gue gak salah denger, sih, gara-gara masalah cewek!"


"Iya! Katanya cewek tuh kakel kegatelan gitu ke si Kenzo. Tapi yang digosipin sama anak-anak malah si Kenzo yang katanya gangguin cewek orang. Padahal nih, ya, gue aja tahu kalau yang gatel tuh si ceweknya," Jelas Alma, yang balas anggukan pelan oleh Kanza.


"Si ceweknya kelas dua belas?"


"Heh. Apanya kelas dua belas? Dia sekelas sama kita, makanya gue bisa tahu kelakuannya kayak gimana,"


"What?"


"Kaget, 'kan? Untungnya tuh cewek sekarang udah pindah sekolah gara-gara ketahuan sering open BO,"


Kanza lagi-lagi menganguk-anggukan kepalanya seraya bergumam pelan. "Em, terus. Si cowok kakel itu kabarnya gimana?"


"Dia dikeluarin dari sekolah gara-gara ketahuan sering nindas junior-juniornya. Dan cuma si Kenzo yang sempat jadi target dia yang berani nantang." jelas Kayla. Tanpa ketiganya sadari, mereka akhirnya telah tiba di kantin yang sering menjadi langganan mereka. Buru-buru ketiganya mulai mencari tempat duduk kosong untuk mereka singgahi.


"Di sini aja, yuk! Lumayan adem soalnya," Kanza menunjuk sebuah meja kantin dengan dua bangku panjang yang berada tepat di samping sebuah pohon yang cukup rindang.


"Boleh. Kalian mau pesen apa? Gue pesenin," ujar Alma. Tak lama kemudian, Kanza dan Kayla mulai berpikir sejenak.


"Gue mau nasi goreng aja, deh. Pasti enak tuh," sahut Kayla, yang kemudian diangguki oleh Alma.


"Kalau lo, Za?"


"Em, samain aja, deh." ujarnya, yang lagi-lagi dibalas anggukan serta acungan jempol oleh Alma. "Kalau gitu gue juga mau samain aja, deh, biar cepet. Hehe," tutur Alma. Tak berbasa-basi lagi, gadis itu lantas mulai melenggang meninggalkan tempat, siap untuk memesan makanan.


Sepeninggalan Alma, Kayla langsung mengubah raut wajahnya menjadi dongkol dengan sesekali mendengus kasar. Peka dengan hal itu, Kanza lantas menolehkan kepalanya ke arah Kayla dengan kedua alisnya yang sedikit berkerut.


"Kenapa, La? Muka lo kek lagi nahan kesel gitu?"


"Eh?! Em, gue gak pa-pa, kok. Cuma ..."


"Cuma apa?" Tanya Kanza. Lagi-lagi membuat Kayla mendengus dengan raut yang semakin terlihat dongkol. "Gue bingung harus dari mana ngomongnya,"


"Em, coba lo pikirin dulu pelan-pelan. Siapa tahu—"


"Si Juna kemaren ngejar gue sampe ke gramedia! Dia bahkan sempet-sempetnya godain gue. Dia juga bilang kalau, katanya dia mulai sadar sama perasaannya ke gue belum lama ini. Dia juga bilang nyesel karena udah nyia-nyiain gue. Dan dia bahkan lagi-lagi nembak gue, dan gue gak tahu harus bereaksi kayak gimana?!" Kayla menjeda ucapannya dengan sesekali menarik napasnya dalam-dalam.


"Bukannya lo bilang mau move on, ya? Lo tinggal bilang aja dengan tegas kalau lo gak bisa nerima perasaan dia. Beres, 'kan?"


Kayla menggeleng-gelengkan kepalanya seraya kembali menghela napas. "Gue juga gak tahu. Disaat gue pengin bilang begitu, dada gue rasanya tuh sakit banget. Terkadang juga gue seneng pas dia bilang juga punya perasaan yang sama ke gue. Tapi di sisi lain, gue merasa kecewa. Kenapa gak dari dulu dia suka sama gue? Mungkin kalau dari dulu, gue gak akan buang-buang waktu lagi seperti saat ini,"

__ADS_1


"Lo nyalahin takdir?" Sahut Kanza. Sontak Kayla yang sebelumnya masih terdiam dalam dunianya diharuskan menoleh ke arah Kanza.


"Nyalahin takdir? Ya, enggaklah,"


"Terus barusan? Nih, ya, La. Kalau lo masih suka sama si Juna, udah lo tinggal ngomong aja. Jangan terus ditutup-tutupin, apalagi sampe pura-pura gak punya perasaan apa pun ke dia. Jangan pernah sekalipun lo mencoba membohongi diri lo sendiri dengan mengatakan, kalau lo udah gak punya perasaan apa pun sama si Juna!" Tekan Kanza. Saat itu juga, Kayla langsung terdiam dengan pikirannya yang kembali melayang pada sosok Juna.


"Yuhuu! Udah dateng, nih. Siapa yang udah laper?" Selorohan melengking dari jarak yang tak terlalu jauh lantas mengalihkan perhatian Kanza dan juga Kayla.


Melihat Alma yang terlihat cukup kesusahan membawa nampan berisi tiga piring nasi goreng dan juga beberapa cup air mineral, membuat Kanza dan Kayla merasa sedikit tidak tega. Namun, ketika kedua gadis itu hendak bangkit dari posisinya, seseorang dari belakang Alma dengan cukup cekatan mengambil alih nampan tersebut hingga berada di tangannya.


Alma jelas cukup terkejut dengan aksi yang tiba-tiba itu. Namun tak berlangsung lama, seulas senyum tulus terbit di wajah cantiknya, kala seseorang yang baru saja mengambil nampannya tersebut tak lain adalah Rio.


"Makasih," ucap Alma, terdengar malu-malu. Rio tak langsung menjawabnya. Cowok itu hanya tersenyum tulus ke arah Alma.


"Nah. Lo bisa lihat mereka, 'kan?" Kanza tiba-tiba menyahut, membuat Kayla spontan mengalihkan perhatiannya pada gadis itu.


"Mereka berdua adalah bukti kalau cinta itu gak perlu gengsi dan gak perlu lagi yang namanya membesarkan ego,"


...****...


Bianca membasuh wajahnya dengan cukup kasar di salah satu wastafel di dalam toilet kelas dua belas. Wajahnya tampak pucat dengan napasnya yang tampak memburu.


Mual. Itulah yang ia rasakan saat ini. Ketika jam istirahat pertama baru saja dimulai, perutnya tiba-tiba terasa begitu melilit seperti ada sesuatu yang akan keluar lewat mulutnya.


Dengan terburu-buru, gadis itu pun berlari keluar dari dalam kelas tanpa memedulikan sahutan beberapa teman sekelasnya.


Merasa sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, Bianca lantas memutuskan untuk keluar dari dalam toilet tersebut dengan sesekali akan memegangi perutnya yang masih rata.


Namun, ketika gadis itu baru saja membuka pintu toilet, seseorang yang tak lain ialah Haykal, berdiri tepat di luar toilet dengan posisi yang terbilang begitu kaku. Raut wajahnya terlihat sangat panik dengan tarikan napasnya yang tidak seperti orang-orang pada umumnya.


"Kamu gak pa-pa?" Sahut Haykal, masih pada posisinya.


Bianca sempat terdiam beberapa saat ketika melihat Haykal benar-benar menghampirinya disaat ia tengah memerlukan bantuan dari cowok itu. Tak lama kemudian, seulas senyum tipis terbit di wajah cantiknya. Perlahan, kedua kakinya melangkah ke arah Haykal. Dengan penuh perhatian, cowok itu ikut melangkahkan kakinya ke arah Bianca sampai jarak di antara keduanya hanya bersisa beberapa sentimeter saja.


"Masih mual?" Haykal bertanya dengan hati-hati seraya memegang salah satu tangan gadis itu.


Bianca menggeleng lemah dengan senyum tipisnya yang belum juga luntur dari sana. "Udah lumayan baikan, kok. Makasih udah dateng," gumamnya, kemudian menarik tubuh Haykal dan memeluknya.


Haykal sempat terdiam sesaat gadis itu mulai memeluknya. Tak berlangsung lama, ia pun mulai balas memeluk tubuh Bianca dengan cukup erat dengan sesekali akan mengusap pelan punggung gadis itu.


"Kita ke rumah sakit aja, ya?" Ujar Haykal, spontan membuat pelukan di antara keduanya langsung terlepas, dengan Bianca yang lebih dulu mencoba melepaskan diri dari cowok itu.


"Gak usah! Kata Mama, ibu hamil emang hormonnya kayak gini. Ada juga yang enggak. Aku gak kenapa-kenapa, kok," Bianca mencoba membujuk Haykal, namun yang ia dapatkan malah pelukan tiba-tiba darinya.


"Maaf." Lagi-lagi kata itu terus Haykal ucapkan pada Bianca. Perasaan bersalah di masa lalu terus membuatnya tidak tenang sampai detik ini.


Bianca menghela napas panjang mencoba untuk menetralkan dirinya. Pikiran malam itu lagi-lagi terputar otomatis di kepalanya tanpa ia minta.


"Itu udah berlalu, Kal. Kamu mau berubah dan tanggung jawab sama aku aja, aku udah bersyukur. Makasih karena gak ninggalin aku. Dan maaf karena aku udah nyakitin hati kamu di masa lalu,"


Tubuh seseorang dari kejauhan sana langsung menegang dengan sesekali mencoba menjauhkan diri dari sekitar area toilet. Kedua bola matanya pun lantas menegang dengan salah satu tangannya yang terangkat mencoba menutupi mulutnya.


"Ha-hamil? Bianca hamil?" Gumamnya syok. Tak lama kemudian, dia langsung pergi dari sana tanpa memedulikan dirinya sendiri yang sempat ingin buang air kecil.


...****...


Di sepanjang langkah kaki meninggalkan toilet, Bianca merasakan ada hal aneh yang tengah terjadi saat ini. Di setiap Banca melangkah melewati koridor kelas, beberapa murid yang didominasi oleh para siswi tak henti-hentinya terus menatapnya dengan tatapan aneh yang Bianca sendiri tidak paham maksud dari tatapan mereka padanya.


Terkadang, mereka akan berbisik-bisik bersama teman mereka ketika pandangan mereka tidak sengaja saling bertatap dengan Bianca.


Tunggu! Ada apa ini? Apakah ada sesuatu yang tengah menempel di tubuhnya, makanya mereka terus menatapnya demikian?


Memilih untuk tidak terlalu peduli dan terus melanjutkan langkah kakinya sampai ke dalam kelas, Bianca lagi-lagi mendapat tatapan aneh ketika sesampainya gadis itu di dalam.


Bahkan, tatapan mata teman-teman sekelasnya menatap Bianca seakan dirinya terlihat begitu kotor dan rendah. Lebih dari apa yang Bianca terima dari murid-murid lain yang ia jumpai beberapa saat yang lalu di koridor kelas.


"Bianca! Lo dipanggil sama kepala sekolah," sahutan yang teramat dingin dari salah seorang siswi di kelasnya, membuat Bianca sontak menolehkan kepalanya.


"Gue? Ada apa?" Tanya Bianca. Bukannya langsung menjawab, siswi itu malah mendengus dengan tatapan sinis yang ia tujukan pada Bianca.


"Mana gue tahu. Sana gih! Gue jijik lihat muka sok polos lo!" Sentak siswi itu, kemudian melenggang dari hadapan Bianca yang dibuat syok oleh perkataannya.


Memilih untuk mengalah dan tidak memperburuk keadaan, Bianca pun melenggang keluar dari dalam kelas menuju ruang kepala sekolah. Entah ada angin apa sehingga hampir satu sekolah dari mulai siswa maupun siswi terus bersikap aneh padanya. Memperlakukannya seakan bahwa Bianca memiliki sebuah dosa yang tidak dapat ditoleransi.


"Heh! Lo yakin Si Bianca hamil? Mukanya kek gak tahu apa-apa gitu," siswi ber-name tag Andin menghampiri siswi tadi yang sempat beradu argumen beberapa saat dengan Bianca.


Siswi ber-name tag Ami itu hanya mendengus dengan kedua lengan yang ia lipat di depan dada. "Kita lihat aja. Gue tahu gosip ini juga dari anak IPS sebelah yang mergokin dia sama cowok. Dan parahnya, dia sendiri yang bilang kalau dia itu lagi hamil."


Andin mengangguk-angukkan kepalanya beberapa saat. "Pantesan badannya agak gemukan gitu. Tahu-tahunya lagi isi ternyata,"


"Emang, ya. Kita itu gak boleh lihat orang dari cover-nya doang," timpal siswi lain, yang langsung disetujui beberapa siswa maupun siswi di kelas tersebut.


...****...


"Bapak manggil saya, ya?" Bianca bertanya harap-harap cemas setibanya gadis itu di dalam ruangan kepala sekolah.


Sang kepala sekolah, alias Pak Stevan, menatap siswinya dengan tatapan datar, namun lebih kepada tatapan penuh kekecewaan.


"Tunggu sebentar," ucap Pak Stevan, kemudian bangkit dari posisi duduknya. Kedua kaki jenjangnya dengan cukup gontai berjalan ke arah ruang pribadinya yang terletak di bagian belakang sudut.


Tak berapa lama, beliau kembali menghadap Bianca dengan seorang wanita asing bersetelan jas putih berdiri di belakang Pak Stevan.


"Ini—"


"Saya dengar, salah satu siswi di sekolah saya ada yang sedang hamil. Jadi, di sini saya ingin mencari tahu sekaligus meluruskan. Apakah rumor tersebut benar, atau tidak."


Bagai mendapat sebuah tamparan telak, tubuh Bianca mendadak kaku dengan sepasang bola mata yang hampir membulat sempurna. Kedua kakinya pun dengan refleks mundur beberapa langkah, agar sedikit menjauh dari hadapan kepala sekolahnya sekaligus wanita itu yang Bianca tebak adalah seorang dokter yang akan memeriksanya.


"Ta-tapi saya enggak hamil Pak! I-itu bohong! Kenapa Bapak harus percaya?" Bianca sudah sangat panik. Kedua kakinya terus mundur ke belakang sampai tanpa sadar punggungnya telah membentur sebuah vas bunga dengan diameter 20 cm dan tinggi 60 cm.


Prang!


Suara pecahan vas yang terdengar cukup menggema tak lagi dapat dielakan. Stevan mengurut keningnya yang terasa pening dengan sesekali mengepalkan kepalan tangannya.


"Saya mohon kerja samanya. Kalau memang tidak ada yang terjadi apa pun sama kamu, itu bagus! Setidaknya, sekolah kita tidak akan dipandang aneh oleh masyarakat." Ucapan Stevan berikutnya semakin membuat Bianca panik.


Demi apa pun, apakah rahasianya akan mulai terbongkar di hadapan seluruh penghuni sekolah? Tidak! Bianca tidak mau! Ia harus mengelak, bagaimanapun caranya.


"Pak! Saya beneran gak hamil! Kalau Bapak marah soal vas bunga yang barusan saya pecahin, saya minta maaf. Tapi tolong, jangan paksa saya!"


Stevan lagi-lagi mengurut keningnya yang terasa begitu pening. Helaan napas gusar kembali ia embuskan.


"Kalau kamu benar tidak seperti yang orang lain bilang, cobalah untuk membuktikannya sekarang." Perhatian Stevan kemudian beralih kepada wanita berjas putih itu. Mencoba mengodenya untuk segera melakukan perintahnya.


Mengerti maksud dari tatapan Stevan padanya, wanita itu lantas berjalan ke arah Bianca yang tampak terdiam dengan raut wajahnya yang masih begitu syok.


"Ayo! Saya janji tidak akan berbuat hal lain selain memeriksa kamu," ucapan lembut dari wanita itu sontak membuat Bianca tersentak. Gadis itu ingin melawan dan memberontak, namun ia tidak bisa.


Lalu, apakah ini adalah akhir dari segalanya?


Tuhan... Cobaan apa lagi ini? Apakau Engkau masih ingin menguji Hamba yang lemah ini? Tolong, lindungi Hamba. Hamba takut jika semua orang akhirnya tahu bahwa Hamba adalah makhluk paling kotor dan hina di dunia ini.

__ADS_1


^^^To be continue....^^^


Updatenya agak siangan ya, maaf!:) Kepala mendadak sakit banget. Jadi, yaah, gitu. Tpi skrng udh agak mendingan sih. Btw, ada yg bisa tebak endingnya bkl kyk gimna?🤔


__ADS_2