
Wanda mengernyitkan dahinya sedikit bingung. "Mengambil apa yang udah gue kasih ke lo? E-emang gue ngasih apaan?"
"Lo bilang gue boleh minta apa pun?" Mendengar ucapan itu, dengan sangat polos Wanda pun mengangguk.
Kenzo kembali menaikkan kedua sudut bibirnya membuat Wanda seketika dibuat salah tingkah oleh senyuman dari cowok itu yang sanggup meluluhlantakkan hatinya.
Perlahan namun pasti, Kenzo semakin mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu. Tatapan matanya yang lembut sukses membuat Wanda sampai terhipnotis, sehingga ketika tidak ada lagi jarak di antara keduanya, gadis itu dengan refleks memejamkan kedua matanya, merasakan debaran hebat di dada yang serasa semakin bergemuruh dengan diiringi deru napas mereka yang teratur.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat tepat di bibir gadis itu. Sanggup membuat jantungnya seketika dibuat berdegup sangat kencang. Wajahnya pun mulai bersemu. Apalagi embusan napas hangat dari Kenzo yang menerpa wajahnya, semakin membuat Wanda dilanda gugup sehingga ia hanya bisa diam, merasakan, dan menunggu.
Setelah cukup lama bibir mereka hanya saling menempel, Kenzo mulai menggerakkan perlahan bibirnya sedikit ******* bibir milik Wanda. Gadis itu hampir saja terlena dan membalas ciuman dari Kenzo.
Beruntung, alarm dalam tubuhnya langsung berbunyi. Sehingga dengan kesadaran penuh, gadis itu langsung membelalakkan kedua bola matanya seraya mendorong tubuh Kenzo sampai ciuman keduanya pun mulai terlepas.
"Lo—" Wanda tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Kedua pipinya tiba-tiba terasa lebih panas dibandingkan yang sebelumnya.
Kenzo mulai kembali menatap sepasang netra milik gadis itu yang terlihat begitu panik. Seringaian kecil muncul di wajahnya, membuat Wanda yang melihat dengan sangat jelas refleks mengernyit bingung.
"Bibir lo manis." Ucap Kenzo, kemudian terkekeh. Tak lama setelahnya, cowok itu melenggang dari hadapan Wanda yang masih termangu dengan kedua pipinya yang masih memerah.
"Hei! Mau sampai kapan bengong di sana? Gak mau pulang?!" Teriakan dari jarak yang terbilang cukup jauh, seketika menyadarkan Wanda dari lamunannya. Perhatian gadis itu pun langsung beralih pada Kenzo yang tengah berdiri di samping pintu mobilnya yang terbuka. Raut wajahnya terlihat begitu bahagia dengan seulas senyuman tengil yang belum juga luntur dari sana.
"Sialan! Mukanya kek gak bersalah gitu, padahal dia baru aja nyium bibir gue sembarangan! Dan sekarang, bibir gue udah gak perawan lagi gara-gara tuh bocah!" Wanda menggerutu kesal dengan tatapan matanya yang menyalang tertuju pada Kenzo.
Dalam hati Wanda yang terdalam, ia terus merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya langsung terbius hanya karena wajah cowok itu yang sedikit lebih tampan dari orang lain.
Awas aja! Gue bales lo! Batin Wanda seraya terus berusaha menenangkan jantungnya yang masih saja berdegup kencang.
...****...
Siang menjelang sore, seseorang baru saja tiba di dalam rumahnya dengan masih mengenakan seragam sekolah. Tas yang semula berada di salah satu bahunya ia lempar sembarangan. Dasi serta blazer khas SMA Naruna ia buang ke atas tempat tidurnya.
Raut wajah yang sebelumnya selalu terlihat konyol dan ceria, berubah muram dengan pandangan matanya yang tampak sendu.
Tak lama kemudian, dia mulai menjatuhkan tubuhnya di lantai. Punggungnya yang tegap ia sandarkan di ujung tempat tidur. Tatapan matanya pun berubah semakin sendu. Bulir-bulir air mata mulai terlihat jelas di kedua bola matanya.
Dan, ya. Dia adalah Azka. Orang yang biasanya selalu paling heboh dan paling suka bercanda ketika berkumpul bersama teman-temannya. Sayangnya, ketika ia kembali ke rumah, cowok itu akan kembali mengingat kesedihannya.
"Gue iri sama lo, Zo," gumamnya, kemudian terkekeh miris.
Kedua alisnya mulai mengerut dalam dengan sesekali ia akan menelan ludah, berusaha untuk tetap tegar dengan keadaan yang ia miliki.
Azka mulai menarik napasnya dalam-dalam sebelum ia kembali melanjutkan kata-kata yang biasa ia ucapkan teruntuk dirinya sendiri.
"Lo punya Nyokap dan Bokap yang selalu ada di sisi lo, sedangkan gue?" Azka menjeda ucapannya dengan lagi-lagi menarik napasnya.
"Gue gak punya." Lanjut cowok itu. Tanpa disadari, air mata perlahan mulai merembes keluar sampai menuruni wajahnya.
Selalu saja seperti ini. Dirinya benar-benar payah jika sudah menyangkutpaut soal ia yang tidak memiliki orangtua.
"Cemen lo, anj*ng! Nangis lo, hah!? Lo gak guna hidup di dunia ini!" Azka merutuki dirinya sendiri saat air mata terus mengalir dari pelupuk matanya.
Ia benar-benar tidak paham dengan semua yang sudah ia lalui selama tujuh belas tahun ini. Dari kecil, ia selalu dirawat oleh sang nenek, kakek, dan juga pamannya.
Saat Azka masih kecil dan polos, ia selalu bertanya pada mereka, di mana papa dan mamanya!? Ia juga selalu bertanya, seperti apa wajah mereka. Bahkan, kadang ia juga bertanya, siapa nama mereka.
Namun, usaha Azka untuk bertanya tidak pernah membuahkan hasil. Dengan canggung, nenek, kakek bahkan pamannya tidak pernah sekali pun menjawab pertanyaannya. Bahkan, mereka dengan mudahnya mengalihkan pembicaraan, sehingga tak ada kesempatan untuk Azka kembali bertanya.
Selama ini, Azka selalu memohon pada Tuhan, namun sepertinya Tuhan tidak pernah mendengarkan permohonan kecilnya.
Jika ia memang ditakdirkan tidak memiliki orangtua, tolong berikan sebuah kenangan seperti memori kebersamaan keluarga. Atau jika permintaannya yang itu terlalu besar, berikan Azka satu saja foto kebersamaan antara ia dan juga mama papanya. Setidaknya, disaat ia merindukan mereka, Azka masih bisa melihat mereka ke dalam foto, ataupun mengingat memori dulu.
Sialnya. Semuanya tidak pernah ada! Hanya ada memori ketika ia dibesarkan dengan susah payah oleh nenek dan kakek, juga pamannya yang selalu memanjakannya.
Azka mulai bangkit dari posisinya. Dengan tergesa-gesa, cowok itu berlari ke arah laci di samping tempat tidur kemudian mengorek isi laci tersebut dengan tidak sabaran. Tangannya bergerak lincah mencari suatu barang yang harus segera ia temukan.
Ketika ia telah menemukannya, dengan terburu-buru Azka mulai membuka penutup obat, lalu mengeluarkan beberapa butir, kemudian meminumnya.
Ya. Barang yang tengah dicari oleh Azka adalah obat. Obat penenang yang sebelumnya telah diresepkan oleh dokter. Bukan tanpa alasan Azka selalu meminumnya. Setiap kali ia mengingat tentang kesedihannya, tubuhnya akan mulai syok secara mendadak, sehingga menyudutkannya untuk mengonsumsi obat tersebut.
Azka lantas membuang beberapa butir obat yang tersisa di dalam wadah obat tersebut. Dengan frustasi, cowok itu menjatuhkan dirinya di lantai. Sebelah lengannya terangkat menutupi kedua bola matanya. Napasnya yang semula tersengal perlahan kembali menormal.
Satu hal yang terbesit di otaknya saat ini.
Azka ingin mengakhiri hidupnya jika saja ia tega meninggalkan sang nenek yang selalu lebih menyayanginya dari apa pun.
...****...
Hari yang telah lama ditentukan akhirnya telah tiba. Hari di mana dua orang insan akan mulai menyatukan hati mereka lewat perantara pernikahan.
Ya. Hari ini adalah hari pernikahan antara Haykal dan Bianca, di mana hanya dihadiri oleh kedua keluarga, kerabat dekat dan tentunya teman-teman dari Haykal.
Oh, ya. Pernikahan ini masih sangat rahasia. Tak heran hanya beberapa orang yang menghadiri upacara sakral tersebut.
Sebenarnya, akad pernikahan sudah selesai dari beberapa puluh menit yang lalu. Saat ini, mereka semua sibuk menikmati hidangan dengan sesekali dibumbui obrolan hangat.
"Gue masih gak percaya, Za!" Kayla menyenggol kecil lengan Kanza yang berada tepat di sebelahnya.
Gadis itu beserta sekumpulan gengnya Kenzo tengah sibuk makan. Tatapan matanya tak bisa lepas dari Bianca yang posisinya berada cukup jauh dari mereka. Wajah Bianca tampak dipoles make up dengan pakaian pengantin seragam berwarna putih yang juga dikenakan oleh Haykal.
Sayangnya, perhatian Kayla lebih ke perutnya.
"Percaya ajalah. Kan, mereka udah nikah," Alma menyahut pelan seraya terus menikmati makanannya.
Kayla mulai mengalihkan perhatiannya pada Alma dengan kedua alis yang tampak mengerut. "Ish! Tetap aja gue masih syok! Coba lo bayangin. Si Haykal tiba-tiba datang ke rumah gue, terus ngasih surat undangan pernikahan yang tertulis nama dia? Disitu gue merasa, gue lagi diprank! Tapi—"
"Heh! Lo bisa diem gak, sih? Sewot aja dari tadi! Ngapa lo? Iri? Ngikut sana! Sekalian ajakin si Juna, noh! Mumpung penghulunya belom balik. Ye, gak?" Kenzo yang posisinya berada tepat di belakang Kayla, langsung menyemprot gadis itu dengan jurus bawelnya.
Kesal karena Kenzo malah meledeknya apalagi membawa-bawa nama Juna, Kayla refleks melempari cowok itu dengan sepotong kerupuk yang sebelumnya sempat ia gigit separuh. Untungnya, Kenzo dengan cepat ngeles, sehingga kerupuk yang dilempar oleh Kayla malah berbelok dan mengenai piring Azka yang masih penuh.
"Anj*r! Lo nyari ribut sama gue, La?" Azka sudah hendak berdiri dari posisinya, namun dengan segera ditahan oleh Juna.
Melihat itu, Kenzo beserta yang lain langsung menyeru heboh, sehingga membuat beberapa orang di dalam ruangan yang dekorasinya didominasi berwarna putih dan abu-abu refleks menoleh pada mereka. Tak terkecuali Haykal dan Bianca yang tengah berbicara empat mata dengan kedua orangtua mereka.
"Jun, lo gak lagi sakit, kan?" Sontak Rio menempelkan punggung tangannya di jidat Juna. Takut jika suatu hal buruk telah terjadi pada cowok itu.
"Apaan sih, lo?" Juna menepis tangan Rio. Membuat tawa Kenzo, Azka, dan juga Rio langsung pecah saat itu juga. Sedangkan Alex, cowok itu hanya duduk diam di samping Kanza.
"Kesambet lo, Jun?" Kenzo menepuk bahu Juna yang langsung ditepis olehnya.
"Wah... Jangan-jangan lo udah mulai luluh lagi sama Si Kayla?" Celetukan Azka, membuat Juna refleks gelagapan dengan wajahnya yang sedikit bersemu.
"La! Dapet salam, nih, dari A'ak Arjuna Wiratmaja, penerus tunggal kantor kejaksaan. Katanya, mau gak nikah sama dia? Nanggung, penghulunya udah di depan mata, tuh! Soal saksi, biarkan Si Alex yang jadi relawan." Kenzo menambahi dengan sesekali menoel-noel bahu Kayla.
"Oke. Gue siap jadi saksi," tanpa diduga-duga, Alex membalas candaan yang dibuat oleh Kenzo dan teman-temannya. Raut wajahnya terlihat begitu datar dan serius. Semakin menambah suasana hangat penuh tawa di antara mereka.
Digoda habis-habisan oleh gengnya Kenzo, jelas sekali Kayla geram. Benar-benar, deh. Gak si Kenzo, gak anak buahnya, semuanya sama aja. Sama-sama ngeselin!
__ADS_1
"Gak tahu, ah! Kesel gue!" Pungkas Kayla bete sendiri. Dan siapa yang akan menyangka, bahwa gerak-gerik gadis itu terus diperhatikan oleh Juna di belakang sana.
...****...
"Makasih, ya, udah pada nyempetin datang. Gue jadi terharu." Haykal memeluk jantan satu-persatu teman-temannya sebelum mereka benar-benar memutuskan untuk pamit.
Oh, ya. Karena acara sudah selesai lebih awal, Kenzo dan yang lain memutuskan untuk pamit pulang kepada Haykal dan juga Bianca. Sepasang pengantin baru itu telah melepas pakaian pengantin mereka dan digantikan dengan pakaian biasa.
Sebelum Kenzo dan yang lain benar-benar pamit, sepasang pengantin baru itu mengantar terlebih dahulu mereka semua sampai di depan halaman rumah Bianca.
Kenzo terkekeh kecil saat pelukan jantan itu kini beralih padanya. Sesekali Kenzo akan menepuk-nepuk punggung Haykal sebelum pelukan mereka mulai terlepas.
"Congrats, ya. Sekarang lo dah punya bini, udah mau jadi bapak juga. Jangan lirik-lirik cewek lain, awas lo!" Ucapan peringatan dari Kenzo, disambut kekehan kecil oleh Haykal.
"Ya kali, Zo! Gue dah insaf. Palingan elo yang masih bisa lirik sana-sini. Ye, gak?" Haykal mengalihkan perhatiannya pada teman-temannya yang lain, dimulai dari Azka, Alex, Rio dan Juna.
"Yo'i! Kek gak tahu aja lo, Kal, si Kenzo kayak gimana? Dia hampir sebelas dua belas sama kayak lo yang dulu!" Celetuk Rio yang langsung dibalas anggukan setuju oleh yang lain. Tidak dengan Kenzo yang malah berdesis kesal pada teman-temannya yang tidak pernah absen untuk terus meledeknya.
"Gue juga udah insaf, Yo! Lo aja yang gak tahu. Sekarang status gue sedang berpacaran, jadi gak akan lirik sana-sini lagi. Serius, deh!"
"Ah, masa?" Timpal Juna. Refleks membuat yang lainnya langsung tertawa.
"Gak percaya? Kapan-kapan kita nongkrong, deh. Kalau lo semua pada berani, bawa masing-masing pasangan lo! Dan gue akan bawa cewek gue sebagai bukti bahwa seorang Kenzo Jiran Bagaskara baru saja melepas jabatan playboy-nya!"
Azka, Rio, Juna, Alex dan Haykal, sontak dibuat menganga dengan penuturan dari cowok itu. Tak lama kemudian, mereka mulai bertepuk tangan penuh kagum teruntuk Kenzo.
"Anj*r! Keknya dia beneran dah punya cewek, deh," Azka merangkul bahu Kenzo, sedangkan cowok itu hanya tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
"Siapa takut!? Bawa pasangan doang, kan? Gue tinggal bawa aja kembaran lo, Zo," balasan dari Alex, seketika membuat seulas senyum pamer di wajah Kenzo langsung luntur sehingga digantikan dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Sampai detik ini, gue masih belum setuju lo pacaran sama kembaran gue, Lex! Kagak ridho gue harus jadi adek ipar lo! Serius, deh!"
Juna terkikik geli mendengar ucapan penuh kejujuran dari Kenzo. "Jadi, yang duluan lahir tuh Si Kanza? Gue kira elo, Zo!" Celetuk Juna. Membuat perhatian Kenzo langsung beralih padanya.
"Berisik lo! Cuman beda beberapa menit doang,"
"Dah, dah, dah! Katanya mau balik, gimana, sih?" Rio menyela. Sehingga tatapan kelima teman-temannya langsung beralih padanya.
Tak lama kemudian, suasana yang sebelumnya penuh canda dan tawa kembali sunyi dengan mereka berenam yang saling terhanyut dalam lamunan masing-masing.
Azka menghela napasnya cukup berat, sampai membuat Kenzo dan yang lain refleks mengalihkan perhatiannya pada cowok itu.
"Gue harap lo bahagia, Kal," Azka menepuk pelan lengan Haykal. Tatapan matanya terlihat cukup serius tidak seperti biasanya.
"Thank's, Ka!" Balas Haykal, kemudian menyalami Azka dengan salaman khas para laki-laki.
"Bubar, bubar, bubar! Katanya mau pulang, gimana, sih?" Suara Juna, menjadi penyadar bagi semuanya.
"Btw, cewek gue mana, ya? Perasaan tadi kita keluarnya bareng, deh?!" Rio mengedarkan perhatiannya ke segala arah, mencari di mana keberadaan Alma.
"Biasa. Perkumpulan para cewek," ucap Alex, spontan dibalas 'oh' oleh kelima teman-temannya.
...****...
Di tempat lain, Kanza bersama Alma dan Kayla, mengajak Bianca untuk sedikit menjauh dari para cowok gengnya Kenzo.
Kanza mengajak Bianca bukan tanpa alasan. Ia ingin berbicara beberapa hal pada gadis itu. Sekalian Bianca juga ingin mengatakan sesuatu pada Kanza.
"Makasih," ucapan tulus disertai pelukan tiba-tiba dari Bianca, spontan mengundang seulas senyum tulus di wajah Kanza.
Sedangkan Alma dan Kayla, mereka tampak saling pandang dengan tatapan kebingungan. Pikir mereka, sejak kapan Kanza dan Bianca jadi akrab begini?
"Gue harap setelah ini lo akan bahagia. Lo gak boleh sedih terus. Sekarang Haykal udah nepatin janji dia," Kanza menggenggam kedua tangan Bianca. Tatapan matanya seketika berubah sendu sesaat ketika ingatannya melayang pada hari di mana Bianca dengan segala kesedihannya mengadu pada Kanza.
"Sekali lagi gue terima kasih sama lo, Za! Seandainya lo gak ngasih tahu gue, gak mendukung gue, mungkin saat ini gue udah tinggal nama. Gue sempat sekilas berpikir pengen bunuh diri, Za, tapi berkat lo? Gue mulai berusaha tegar dan kuat, sampai pada akhirnya saat-saat terang itu mulai hadir di hidup gue." Bianca balas menggenggam kedua tangan Kanza. Raut wajahnya tampak berseri walaupun bulir-bulir air mata menggenang di kedua bola matanya.
"Tunggu, tunggu! Sejak kapan kalian jadi akrab?" Alma mulai menodongkan pertanyaannya teruntuk Kanza dan Bianca. Saat ini, ia benar-benar tidak paham dengan situasi apa yang sudah pernah terjadi di antara kedua gadis itu.
Perlahan Kanza mulai melepaskan genggaman tangannya di kedua tangan Bianca. Gadis itu dengan langkah pasti menghampiri Alma dan Kayla, kemudian merangkul kedua pundak gadis itu sampai perhatian mereka pun beralih menatap Kanza.
"Gue sama Bianca kenal belum lama. Em... bisa dibilang kita saling kenal karena gak sengaja?!"
"Oh, ya? Terus, kenapa lo rahasian ini dari kita?" Kayla mengerucutkan bibirnya dengan perhatiannya masih tertuju pada Kanza.
"Em... Sorry! Gue bingung ngasih tahu kalian harus gimana, sedangkan gue aja disuruh Bianca buat jagain rahasia dia. Gak mungkin juga, kan, gue sebar aib sahabat sendiri?" Kanza melepaskan rangkulannya, kemudian menatap Alma dan Kayla secara bergantian.
Mendengar kata 'sahabat' terucap dari mulut Kanza, Bianca langsung terdiam dengan kedua bola matanya yang sedikit melebar.
Sahabat? Jadi, sekarang akhirnya gue punya sahabat?
Bianca mulai menarik kedua sudut bibirnya membentuk seulas senyuman yang begitu tulus. Tatapan matanya pun tampak menyiratkan sebuah kebahagiaan yang dulu tidak sempat ia dapatkan, namun telah ia rasakan setelah mengalami berbagai cobaan.
Alma mendengus sebal kemudian menarik pergelangan tangan Bianca sampai tubuh gadis itu sedikit tertarik, sehingga posisinya berakhir berada begitu dekat dengan mereka.
Melihat Alma yang menariknya begitu saja, jelas Bianca kaget. Apalagi raut wajah gadis itu terlihat kurang bersahabat. Pikir Bianca, apa jangan-jangan Alma tidak menyukainya?
"Udah, udah. Yang dulu gak usah dipikirin! Karena Bianca udah jadi sahabatnya Kanza, otomatis dia juga sahabat kita. Ya, kan, La?" Ucap Alma. Sontak membuat Bianca langsung mengerjapkan kedua bola matanya menatap tidak percaya atas semua perkataan dari gadis itu.
"Yup! Betul!" Balas Kayla. Perhatiannya pun kini mulai beralih pada Bianca dengan tatapan matanya yang terlihat cukup serius. Sedikit membuat Bianca gelagapan dibuatnya.
"Gu-gue—"
"Mulai hari ini, lo juga sahabat kita! Kalau ada apa-apa, lo jangan sungkan kasih tahu kita. Oke? Oh, ya. Mau tukeran nomor hape? Siapa tahu kan, lo butuh temen chatting, hehe. Gue jomlo soalnya," Kayla menyengir di akhir kalimat yang ia ucapkan. Membuat Bianca tanpa sadar ikut tertawa menertawakan candaan garing yang dibuat oleh gadis itu.
"Ngomongnya doang jomlo, padahal di hatinya ada Si Juna. Jiaahh... Tos dulu dong, Ma!" Kanza menyodorkan salah satu tangannya ke arah Alma yang langsung disambut heboh olehnya.
"Eh, kayaknya kita udah kelamaan ngerumpi, deh? Gimana kalau sekarang kita samperin cowok-cowok kita?" Alma bersuara, yang langsung dibalas cibiran oleh Kayla.
"Cowok-cowok kita? Cowok lo aja kali! Cowok gue Lee Jongsuk lagi Di Korea, mon maaf aja, nih,"
"Cieee... Yang sekarang bucin... Padahal dulunya malu-malu monyet," Kanza menimpali dengan raut wajahnya yang dibuat-buat jutek.
"Bomat! Yang penting bahagiah and sejah terahhh!" Balas Alma tak mau kalah.
Bianca menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib ketiga sahabat barunya. Rasa-rasanya hari ini ia sangat beruntung. Hal yang dulunya tidak ia miliki, kini ia juga punya. Sahabat adalah contoh paling utama.
"Ekhem. Ya udah, sekarang kita nyamperin mereka, yuk! Takutnya mereka udah pada jamuran lagi gara-gara nungguin kalian bertiga selesai," pungkas Bianca dan langsung diangguki oleh Kanza, Alma dan Kayla.
...****...
"Weh, anj*r, ditungguin juga! Pada habis dari mana si lo ciwi-ciwi, hah? Hampir aja kegantengan gue luntur!" Kenzo berucap spontan sesaat sepasang netranya mulai menemukan keberadaan Kanza, Alma, Kayla dan juga Bianca.
Kanza berdecak sebal ketika ia mulai bersitatap dengan Kenzo, kembarannya yang teramat bawel sekaligus menyebalkan. "Kepo banget sih, hidup lo! Ini tuh urusan cewek! Cowok gak bakal paham!"
Kenzo mengernyit kesal. Ketika ia hendak menegakkan posisinya dan menghampiri Kanza, cowok itu sudah didahului oleh Alex yang dengan cepat berjalan ke arah Kanza.
"Aku anterin pulang, ya," Alex menatap lembut sepasang manik mata Kanza.
Mendengar hal itu, Kenzo refleks terbatuk-batuk, padahal dirinya tidak sedang mengemil apa pun.
__ADS_1
"Udahlah, Zo! Restuin aja, Oke? Kasian Si Alex, udah mah gak direstui sama Bokap lo, eeh malah sama lo-nya juga gitu," Azka menyeletuk. Cowok itu cukup peka dengan reaksi Kenzo.
Kanza mengernyit bingung mendengar penuturan dari Azka. "Papi aku bilang gitu?" Tanya Kanza, dengan sepasang bola matanya yang menatap Alex penuh tanya.
"Iy—"
"Please deh, lo berdua! Bisa gak ngomongnya jangan 'aku-kamu' gitu? Kek biasa ajalah 'lo-gue'! Kan biasanya juga gitu! Ngeri gue dengernya!" Juna yang sedari tadi bungkam mulai mengeluarkan ocehannya. Demi apa pun, Juna geli mendengar Alex dan Kanza saling memanggil diri mereka sendiri dengan panggilan 'aku-kamu'.
"Sewot ae lo, Jun! Orang gue aja sama Alma 'aku-kamu', kok. Ya, kan, Bep?" Rio menyela seraya merangkul bahu Alma yang berada tepat di sebelahnya.
"Ih! Geli tahu! Bap bep bap bep!" Alma menoyor kepala Rio sampai rangkulan dari cowok itu langsung terlepas.
Haykal menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah absurd para teman-temannya. Merasa tidak ingin kalah saing, cowok itu menarik lembut pinggang Bianca sampai posisi keduanya menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Tatapan mata Bianca yang semula menatap tingkah lucu yang dilakoni oleh Rio dan Alma, langsung beralih pada Haykal dengan kedua bola matanya yang mengerjap-ngerjap.
"Mau ... ngapain?" Jelas Bianca gugup. Tatapan mata cowok itu benar-benar mengerikan. Seolah hanya dari tatapan matanya saja sudah bisa menerkam Bianca.
"Emm... Enggak. Mau ikutan aja kek mereka. Gak pa-pa, kan, Sayang?" Ucap Haykal. Refleks membuat semua yang berada di sekitar sana langsung menatap ke arah cowok itu dengan tatapan tidak percaya.
"Woi! Berhenti kagak!? Lo semua gak kasian sama gue? Gue tuh jomlo! Dan yang lain juga pada jomlo! Lo yang udah pada nikah, yang udah pada punya pacar, mending minggir jauh-jauh deh! Bikin ruang sendiri sana! Dosa tahu bikin anak orang kesel!" Kayla sudah tidak tahan dengan keuwuan yang mereka lakoni.
Batinnya, mentang-mentang udah pada punya pasangan, sombongnya sampai selangit! Tidak tahukah bahwa Kayla adalah satu-satunya gadis yang masih jomlo di antara mereka?
Mendengar luapan kekesalan dari mulut Kayla, semua cowok termasuk Kanza, Alma dan Bianca, refleks menertawakan gadis itu.
"Jun! Ngode noh! Pacarin gih!" Azka mencolek dagu Juna yang spontan dibalas decakan sebal olehnya.
"Udah, udah! Ribut aja lo pada! Ini udah siang, bentar lagi sore, terus malem. Kan kasihan kalau kita masih di sini. Takutnya kehadiran kita yang gak pulang-pulang ini malah jadi beban untuk saudara Haykal dan saudari Bianca yang ingin melanjutkan ke tahap selanjutnya. Ya, kan?" Sela Kenzo. Sontak membuat Haykal dan Bianca dibuat gelagapan setelah mendengar ocehan ngasal dari cowok itu.
"Ya, udah. Sekalian gue juga mau silaturahmi sama calon mertua. Boleh, kan?" Alex kembali mengalihkan perhatiannya pada Kanza. Senyum di wajah cowok itu seolah tak pernah luntur ketika bersitatap dengan gadisnya.
"Kamu mau ketemu Papi?" Tanya Kanza, dan Alex pun mengangguk.
"Ekhem. Karena kalian maksa pada pengin pulang, so, gue gak bisa nahan lagi!" Haykal menyela di tengah-tengah. Kedua tangannya tampak terangkat seolah mengisyaratkan 'terserah'.
"Keknya gue juga harus ke rumah sakit, deh. Duluan, ya," Azka hendak melenggang ke arah motornya.
Namun siapa yang sangka, Alex dengan perasaan khawatir langsung menahan pundak cowok itu sampai membuat Azka langsung menolehkan kepalanya.
"Lo sakit?"
Mendengar pertanyaan yang terdengar cukup serius dari Alex, sontak langsung disambut tawa garing dari Azka. "Apaan sih, lo! Siapa yang sakit? Gue mau nyamberin Om gue. Dia kan dokter? Otomatis gue nyamperinnya ke rumah sakit, dong?" Jelas Azka. Langsung saja Alex menurunkan tangannya dari bahu cowok itu seraya menghela napas lega.
"Bikin kaget aja lo, Ka! Si Alex jantungan noh!" Rio menunjuk Azka dan Alex secara bergantian. Raut wajahnya tampak dibuat-buat seolah ia tengah kesal.
"Sorry! Kalau gitu gue duluan, ya?" Pamit Azka pada akhirnya. Setelah mengucapkan kalimat perpisahan itu, Azka melanjutkan langkah kakinya ke arah motornya yang terparkir tak jauh dari posisi di mana sebelumnya ia berdiri.
"Duluan!" Pamitnya lagi. Namun kali ini dibarengi dengan menaikan standar lalu menghidupkan stater. Dan setelahnya, cowok itu mulai melesatkan motornya ke jalan raya.
"Karena Si Azka juga udah mulai cabut, gue sama Alma juga mau cabut, deh. Duluan, ya," Rio mulai menarik tangan Alma untuk mengajak gadis itu ke arah mobilnya yang terparkir. Sayangnya, Alma dengan tergesa-gesa melepas tangan Rio dan mengode cowok itu untuk menunggunya sebentar di mobil.
Memilih mengalah, Rio pun pada akhirnya berjalan ke mobilnya seorang diri. Sedangkan Alma, gadis itu melangkahkan kakinya ke arah Kayla yang tampak cemberut.
"Lo pulang sama siapa, La?" Tanya Alma sedikit berhati-hati.
"Apa?! Mulai inget lo sama gue? Pergi lo!" Ketus Kayla. Tanpa sadar membuat Juna tertawa kecil.
"La, lo marah, ya? Maaf! Lain kali gak lagi deh, ya?!" Alma memohon-mohon di hadapan Kayla. Sedangkan gadis itu malah semakin mencebikkan bibirnya dengan kedua lengannya yang terlipat di depan dada.
"Tahu, ah! Mentang-mentang udah punya ayang beb, gue sebagai sahabat langsung dilupain gitu aja!" Balas Kayla. Kedua bola matanya tampak memicing mencoba untuk memengaruhi Alma dan membuat gadis itu semakin memohon permintaan maaf padanya.
Sekali-kali lah isengin temen. Haha.
"Enggak gitu! Ya udah deh, lo mau apa, gue kabulin! Serius! Duarius kalau lo mau!"
"Beneran?" Tanya Kayla dengan salah satu alisnya yang terangkat tinggi.
Dengan penuh semangat, Alma pun mengangguk. Pikirnya, setidaknya Kayla mau memaafkannya, dan sedikit permintaan untuk membuatnya tidak lagi merajuk itu sudah cukup.
"Sini, gue bisikin!" Ucap Kayla. Buru-buru Alma langsung mendekatkan telinganya ke arah Kayla.
Melihat gerak-gerik mereka berdua yang mencurigakan, bukan tidak mungkin Juna, Kenzo dan Kanza sedikit penasaran. Ketiga remaja itu bahkan sampai menerka-nerka, apa yang tengah dibisikan oleh Kayla kepada Alma?!
"Bisik-bisik aja lo berdua! Kasih tahu gue kek," Kanza berdecak kesal. Ia sudah hendak berjalan mendekati kedua sahabatnya, namun tangannya langsung ditahan oleh Alex.
"Kal! Kita duluan, ya," pamit Alex. Refleks membuat Kanza langsung menolehkan kepalanya dan menatap cowok itu dengan penuh tanda tanya.
"Hah!? Tapi—"
"Oke! Hati-hati!" Balas Haykal, tanpa sadar memotong ucapan yang hendak dilontarkan oleh Kanza.
"Hati-hati di jalan, Za!" Timpal Bianca. Seulas senyum tulus lagi-lagi ia perlihatkan pada Kanza. Sukses membuat gadis itu langsung melupakan apa yang akan ia katakan.
"Gue pulang dulu, ya Bi!" Pamit Kanza. Pada akhirnya, gadis itu benar-benar melupakan apa yang seharusnya ia katakan.
"Eeh! Entar kalau Mami nanyain gue, bilangin aja gue mau nongkrong bentar!" Kenzo berteriak yang langsung dibalas 'oke' oleh Kanza.
Sepeninggalan Kanza dan Alex, perhatian mereka kembali pada Alma dan Kayla yang baru saja menyelesaikan acara bisik-bisik mereka.
"Gimana?" Tawar Kayla. Langsung dibalas anggukan mantap oleh Alma.
"Oke, siap! Lo tenang aja! Ekhem. Kalau gitu, sekarang gue udah dibolehin pulang, dong?" Alma menaikturunkan kedua alisnya. Seulas senyum penuh harap terbit pula di wajahnya.
"Ya udah. Pulang sana! Orang gue juga mau pulang, kok," ucap Kayla. Tak lama setelah mengatakan kalimat itu, perhatiannya langsung beralih pada Haykal dan Bianca.
"Gue duluan, ya, Bi!" Kayla tersenyum tulus pada Bianca dan langsung dibalas ucapan halus olehnya.
Haykal mengernyitkan dahinya merasa ada yang berbeda. "Kenal sama dia?" Tunjuk Haykal pada Kayla yang mulai berjalan ke arah motor matic pink miliknya yang terparkir tepat di samping mobil milik Rio.
Bianca tersenyum seraya mengangguk. Sanggup membuat Haykal langsung terdiam kaku melihat senyuman tulus yang terpancar dari wajah gadis itu.
"Kita juga duluan, ya, Kal!" Giliran Kenzo dan Juna dan mulai pamit. Kedua cowok itu mulai melangkahkan kaki ke arah motor masing-masing setelah salam perpisahannya dibalas acungan jempol oleh Haykal.
Sekarang, kediaman rumah ini kembali sepi. Hanya tersisa Haykal dan Bianca yang terdiam kaku seraya terus memandangi teman-temannya yang perlahan mulai meninggalkan halaman luas rumah tersebut bersama masing-masing kendaraan mereka.
Haykal menarik napasnya cukup dalam sesaat teman-temannya telah benar-benar pergi. Tatapan matanya pun beralih menatap Bianca yang tampak menunduk dengan raut wajah yang masih berseri-seri.
Kedua tangan Haykal dengan berani mulai menggenggam kedua tangan Bianca, sehingga perhatian gadis itu pun langsung beralih padanya.
Melihat sepasang bola mata Bianca yang begitu polos ketika menatapnya, sedikit membuat sudut hati Haykal terasa begitu sesak. Ingatan ketika ia merusak gadis baik-baik itu dengan begitu brutal cukup membuatnya merasa menjadi orang paling jahat di dunia ini.
"Kenapa?" Bianca bertanya, setelah hampir cukup lama Haykal terdiam dengan fokus yang belum juga beralih darinya.
Haykal mengembuskan napasnya, kemudian tersenyum. Senyuman yang begitu tulus yang ia perlihatkan di depan Bianca.
Tanpa berkata-kata, cowok itu langsung menarik Bianca ke dalam pelukannya. Mendekap hangat tubuh gadis itu yang terasa begitu pas dalam pelukannya.
^^^To be continue....^^^
Huhuy!! Dah update gaess:* maaf telat, harusnya pas jam 12 malem udh langsung up, tapi karena di hari sblmnya aku biasalah gadang, ya, jadinya pas kmren malem ngantok🤣🙏 so, aku tambahin jdi 4400+ kata ya. Semoga kalian enggak enek🤣🤭
__ADS_1
Edit: ini sbnrnya udh aku upload dari jam 1 (siang) lebih, tpi gara² apk nya harus diperbarui, jdinya direviewnya lama. Karena tkut gk lulus review, aku hapus lagi dan upload ulang. Semoga kali ini reviewnya gk lama🙏