
"Gue—" Kayla menghentikan ucapannya kala sepasang netra milik Juna masih menatapnya dengan sorot dingin nan mengintimidasi. Membuat gadis itu dengan refleks memundurkan langkah kakinya, sampai ia tidak menyadari telah menginjak sesuatu sehingga membuat tubuhnya seketika dibuat limbung.
"Aaakhh!" Gadis itu refleks memekik. Tubuhnya sudah hampir terjerembab.
Namun siapa sangka, Juna yang melihat Kayla hampir terjatuh, refleks menarik tangannya, sehingga membuat tubuh gadis itu langsung tertarik ke depan, sampai dahinya bertabrakan dengan dada bidang milik Juna.
Hening. Tak ada pergerakan lain di antara keduanya setelah apa yang baru saja terjadi. Suasana kantin yang ricuh akibat puluhan siswa dan siswi yang sibuk bercengkrama maupun yang sibuk memesan makanan serta minuman, tak sedikit pun dapat kedua remaja itu dengar.
Rasanya, suasana kantin yang begitu bising, tak cukup membuat keduanya langsung tersadar. Satu hal yang dapat mereka dengar dan rasakan satu sama lain.
Mereka dapat mendengar bunyi detak jantung yang berdegup kencang milik mereka berdua.
Tersadar akan apa yang baru saja ia lakukan, Juna lantas mendorong tubuh Kayla sampai membuat gadis itu ikut tersadar dan memundurkan langkahnya.
Juna berdeham sekali seraya memalingkan wajahnya yang diam-diam mulai memerah. Sedangkan Kayla, gadis itu hanya memejamkan kuat kedua bola matanya. Berharap Juna tidak akan memarahi serta meneriakinya seperti yang sempat cowok itu lakukan padanya.
"Lo—"
"Maaf! Gu-gue gak ada maksud buat kayak gitu ke elo! Gue juga gak ada maksud buat caper atau apa. Gu-gue beneran gak sengaja!" Kayla berucap setengah berteriak sampai membat ucapan yang hendak dilontarkan oleh Juna terpotong karena ulahnya.
Melihat sikap gadis itu yang jauh berbeda dari yang biasa selalu bersikap centil dan memaksa untuk selalu mengikutinya, membuat Juna sedikit merasa asing dan bertanya-tanya.
Namun, untuk apa ia ambil pusing? Toh, gak ada urusannya juga sama dia!
Juna menarik napasnya cukup dalam seraya mengangguk-angukkan kepalanya. "Ya udah." Balas cowok itu, kemudian melenggang dari hadapan Kayla yang mulai dapat bernapas lega.
Setelahnya, gadis itu mulai berjalan mengambil sebotol minuman dingin dari dalam lemari pendingin yang sebelumnya sempat tertunda akibat sebuah insiden kecil.
Sebelum Kayla benar-benar memilih minuman apa yang akan ia ambil, gadis itu menyempatkan dirinya untuk melirik ke belakang. Ia sedikit penasaran, sudah sampai mana langkah kaki cowok itu.
Ketika Kayla tak mendapati keberadaan Juna, ia lantas menghela napasnya dan kemudian mulai mengambil asal sebotol minuman dingin, sebelum akhirnya ia mulai menutup lemari pendingin itu.
Jika saja ia mengikuti apa kata hati kecilnya, barusan adalah kesempatan yang bagus untuk kembali mendekati Juna. Tetapi, Kayla sudah berjanji untuk move on dari cowok itu. Karena bagaimanapun juga, seperti apa yang pernah dikatakan oleh seseorang, orang yang dapat menggapai cinta pertamanya, tingkat keberhasilannya tidak sampai lima belas persen.
Entah perkataan siapa yang pasti, Kayla teramat mengingat kata demi kata yang terucap itu sampai membuatnya tanpa sadar sudah menghafalnya di luar kepala.
...****...
Selepas mata kuliah berakhir, Wanda diam-diam mengembangkan senyumannya kala memori kemarin malam kembali terputar secara otomatis di otaknya.
Bayangan ketika dirinya yang pertama kali memeluk Kenzo, membuatnya malu sendiri. Pikirnya, kok bisa-bisanya sih, gue meluk dia?
Namun, bukan itu yang membuat Wanda selama seharian penuh ini selalu kepikiran. Tetapi karena bisikan serta tindakan tak terduga dari Kenzo kemarin malam.
Setelah Wanda mengutarakan perasaannya pada Kenzo dan cowok itu yang tiba-tiba memeluknya, beberapa saat kemudian disela masih dalam keadaan berpelukan, Kenzo membisikkan sesuatu pada salah satu telinga Wanda sampai membuat tubuh gadis itu seketika dibuat gugup dengan bulu kuduknya yang mulai meremang.
"Mulai detik ini, lo adalah cewek gue! Lo gak boleh nyesel karena gue gak akan pernah lepasin lo sampai kapan pun!"
Setelah mengatakan kalimat itu, Kenzo lantas melepaskan pelukan mereka. Kemudian dilanjut menatap dalam sepasang bola mata milik Wanda yang juga tengah menatapnya.
"Sekarang lo cewek gue! Lo tahu, kan, apa aja yang harus dilakuin kalau lo jadi cewek gue?" Pertanyaan Kenzo diiringi dengan tatapan matanya yang masih berfokus pada Wanda, seketika membuat gadis itu langsung tersentak dengan raut wajahnya yang mulai memerah.
"A-apa?" Tanya Wanda. Kenzo tanpa sadar menaikkan kedua sudut bibirnya membentuk seulas senyuman yang teramat tulus.
"Merem!"
"Hah!? Ma-mau ngapain?" Jelas gadis itu agak syok mendengar suruhan Kenzo yang terdengar sedikit ambigu, apalagi saat ini keduanya tengah berada di pinggir jalan yang cukup sepi di tengah gelapnya malam.
Kenzo terkekeh kemudian melipat kedua lengannya di depan dada. "Kenapa emangnya? Lo takut gue apa-apain?" Tatapan Kenzo berubah memicing, membuat Wanda sedikit gelagapan.
"Ekhem. Coba aja kalau lo berani apa-apain gue. Gue hajar lo!" Ancam Wanda. Nada suaranya terdengar cukup serius, dan semua itu mampu membuat Kenzo tidak dapat lagi menyembunyikan senyumannya.
"Nah, itu. Makanya, merem dulu lah. Bentar doang kok. Gak akan gue apa-apain juga. Lo tinggal hajar gue aja kalau semisalkan gue khilaf,"
Wanda berdecak sebal, namun pada akhirnya gadis itu tetap menuruti perkataan dari Kenzo. Yakni, memejamkan kedua matanya seraya menunggu apa yang akan dilakukan oleh cowok itu.
"Kalau gue belum ngizinin lo buat buka mata, lo jangan dulu melek. Oke?" Perintah Kenzo. Dengan malas, Wanda pun mengangguk seraya membalas ucapan cowok itu dengan dehaman.
Setelahnya, suasana di antara keduanya pun mulai hening. Wanda dengan menutup rapat kedua bola matanya, dan Kenzo yang masih sibuk memandangi wajah cantik nan polos milik Wanda.
Tak ingin terus membuang-buang waktu, Kenzo lantas mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu sampai jarak di antara keduanya tersisa beberapa sentimeter saja.
Tatapan pertama Kenzo awalnya jatuh pada bibir gadis itu. Namun di detik berikutnya, ia langsung mengalihkan pandangannya dari sana. Kenzo sudah berjanji tidak akan berbuat macam-macam pada Wanda.
Cup!
Satu kecupan mendarat tepat di atas pucuk kepala Wanda. Sontak gadis itu langsung membelalakkan kedua bola matanya ketika merasakan benda kenyal nan lembut menyentuh area kepalanya.
Kenzo mulai kembali ke posisinya semula. Tatapan matanya kembali jatuh pada sepasang bola mata gadis itu yang tampak bengong seraya terus memandanginya.
"Kok lo melek, sih? Kan, gue udah bilang, lo gak boleh melek sebelum gue izinin! Lo keras kepala juga, ya," Kenzo terkekeh. Senyuman hangat nan tulus di wajahnya masih belum juga luntur sampai detik itu.
"Lo—"
"Dah, dah. Gue anterin lo pulang, ya. Ini udah malem banget. Bentar lagi jam setengah sepuluh. Takutnya entar ada orang lain lewat terus pas lihat kita salah paham lagi. Entar dikiranya lagi ngelakuin hal yang aneh-aneh. Kan, bahaya! Ya, gak?" Ucap Kenzo terdengar begitu bawel. Wanda yang mendengarnya hanya bisa terkekeh pelan seraya mengangguk-angukkan kepalanya.
Dering notifikasi dari ponselnya menyadarkan gadis itu dari apa yang tengah ia lamunkan. Dengan cepat, Wanda lantas meraih ponsel tersebut yang ia taruh di dalam tasnya.
Ketika ia membuka ponselnya, sebuah pesan chat dari seseorang membuat senyum di wajah gadis itu kembali merekah. Siapa lagi kalau bukan Kenzo yang baru saja mengiriminya pesan tersebut.
Bocah Tengil;(
Lo d mna?
Dah balik?
Saat Wanda hendak membalas chat tersebut, seseorang entah siapa tiba-tiba merebut ponselnya. Karena kesal, Wanda sempat mengumpat pada seseorang yang dengan berani merebut barang miliknya begitu saja.
Ketika mengetahui siapa orang yang telah melakukan hal kurang sopan itu, raut wajah Wanda langsung berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.
Sorot matanya pun berubah jijik sekaligus muak yang ia layangkan pada seorang laki-laki yang tak lain adalah Erik, Si Sampah Masyarakat, mantan pacarnya sendiri.
"Lo apa-apaan, sih? Balikin, gak!?" Wanda mulai tersulut emosi, apalagi ketika melihat Erik dengan tidak sopannya mengotak-atik ponselnya yang bersifat pribadi.
Bahkan, mamanya saja tidak pernah membuka ponselnya sembarangan!
Setelah dirasa puas, sebuah seringaian meremehkan terbit dari wajahnya yang teramat menyebalkan.
"Pacar baru lo? Yang Si Bocah SMA itu bukan, sih?" Erik mengangkat ponsel milik Wanda, kemudian melemparnya ke arah gadis itu.
Beruntung tidak ada adegan dramatis setelah ponselnya yang dilempar asal oleh laki-laki sialan itu.
Mendapati ponselnya kini kembali ke tangannya, Wanda dengan terburu-buru langsung mengecek ponsel tersebut. Takut jika sewaktu-waktu Erik berbuat hal yang aneh-aneh pada barang miliknya.
Dan benar saja. Laki-laki itu dengan tidak sopan membalas pesan chat dari Kenzo dengan mengirimkan sebuah stiker binatang haram.
Dan yang lebih parahnya adalah, Kenzo sudah membaca pesan tersebut dan membalasnya lagi dengan mengirimkan beberapa tanda baca berupa tanda tanya.
"Lo gila, ya! Ngapain sih, lo nyamperin gue lagi? Lo belum puas sama pukulan dari sepatu gue yang waktu itu, iya? Mau lagi?"
Laki-laki itu terkekeh, seraya sedikit melangkahkan kakinya ke hadapan Wanda. "Gue cuma mau silaturahmi. Apa salahnya, sih?"
"Cih. Silaturahmi matamu, hah!? Minggir, gak!?"
Ketika Wanda hendak melangkahkan kakinya melewati Erik begitu saja, tangannya tiba-tiba dicekal dari belakang. Sontak Wanda menjeda sejenak langkah kakinya, kemudian menepis tangan tersebut dengan kasar, lalu membalikkan tubuhnya kembali menghadap Erik.
"Gak usah pegang-pegang! Gue jijik bersentuhan sama lo, asal lo tahu!" Sarkas Wanda. Sedikit pun tak membuat Erik merasa terintimidasi.
__ADS_1
"Oke, oke. Gue cuma mau bilang, gimana kalau kita balikan?"
"Hah?!" Wanda mengernyitkan dahinya seraya menatap horor laki-laki itu yang baru saja mengucapkan kata-kata keramat.
"Iya, balikan. Zaman sekarang, kan, banyak tuh yang pada balikan sama mantan. Daripada lo pacaran sama bocah, mending lo pacaran lagi aja sama gue. Gimana?"
Wanda terkekeh sarkas, seraya menatap dingin sepasang bola Erik yang masih menatapnya dengan tatapan tengil menjijikan.
"Setelah apa yang udah terjadi, lo datang lagi ke gue dan seenaknya bilang mau balikan? Otak lo ditaro di mana? Lo pikir gue mau balikan sama lo?"
Seringaian di wajah Erik langsung luntur mendengar penuturan dari Wanda. Raut wajahnya berubah dingin dengan kedua alisnya yang mengerut.
"Denger, ya! Seandainya waktu lo ngajakin gue yang aneh-aneh dan gue nurutin semua yang lo mau, mungkin sekarang gue udah hancur! Beruntung, Tuhan langsung ngasih kesadaran buat gue bahwa semua permintaan yang terucap dari mulut lo adalah suatu hal yang gak bener!" Wanda semakin meluapkan emosinya. Napasnya pun mulai memburu dengan tatapan matanya yang menusuk tertuju pada laki-laki di hadapannya.
"Sampah masyarakat kayak lo mending jauh-jauh deh! Gue jijik lihat lo!" Tandas Wanda. Kemudian melenggang meninggalkan Erik yang terdiam membisu dengan kedua tangannya yang terkepal kuat, meresapi setiap kata yang dilontarkan oleh gadis itu.
...****...
Bel tanda sekolah telah usai pun berbunyi. Murid-murid satu sekolah di SMA Naruna mulai berbondong-bondong berlarian dari dalam kelas mereka.
Ada yang tujuan akhirnya ke parkiran sekolah untuk mengambil kendaraan mereka, dan ada juga yang langsung berjalan keluar gerbang sekolah untuk menaiki angkutan umum maupun yang langsung pulang dengan berjalan kaki.
Berbeda halnya dengan Kanza. Gadis itu dengan tergesa-gesa berjalan menuruni puluhan anak tangga untuk sampai di perpustakaan sekolah.
Bukan untuk meminjam buku. Ia hanya ingin menghampiri Alex, karena sedari jam pelajaran pertama berlangsung sampai jam pulang sekolah, laki-laki itu dikurung di dalam sana dengan embel-embel belajar untuk persiapan olimpiade.
Kanza menarik napasnya terlebih dahulu, sesaat ia telah sampai di depan pintu masuk perpustakaan. Ketika Kanza mendorong pegangan pintu tersebut, sepasang netranya langsung menjelajah ke seluruh penjuru perpustakaan yang tampak sepi dan kosong.
Tunggu! Alex di mana?
Menyadari ia tidak menemukan keberadaan Alex dengan tatapannya, Kanza langsung melangkah semakin memasuki ruang perpustakaan tersebut, dengan sesekali gadis itu akan menoleh ke sana ke mari.
Tidak perlu mencari terlalu lama di mana keberadaan laki-laki itu, Kanza sudah dapat menemukan Alex. Seulas senyum tipis terbit di wajah cantiknya sesaat melihat Alex tengah membereskan beberapa buku dan alat tulis ke dalam tasnya.
"Lex!" Sahutan itu bukan berasal dari Kanza. Melainkan dari seorang gadis yang baru Kanza sadari juga berada di dalam perpustakaan.
Seorang gadis berseragam sama dengan atribut kelas yang berbeda, berjalan dari arah lain dengan seulas senyum yang terpancar di wajahnya. Rambutnya yang panjang sepunggung dan sedikit bergelombang terlihat digerai indah. Wajahnya pun terlihat sangat cantik dengan postur tubuhnya yang tinggi.
Melihat ada perempuan lain yang mendekati Alex, tiba-tiba Kanza merasa kesal sendiri. Niat awal ingin menghampiri Alex, pada akhirnya Kanza malah memilih sedikit menjauhkan diri dari sana, dan memilih mengintip dari jarak yang cukup jauh.
"Lex!?" Perempuan itu kembali menyahuti Alex, sesaat ia telah sampai di sekitar laki-laki itu yang masih sibuk membereskan buku-bukunya.
"Eh? Kenapa Kak?" Alex akhirnya menoleh, setelah sekian lama laki-laki itu termenung dengan kegiatannya.
Dari kejauhan, Kanza yang masih sibuk menguping refleks mengernyit seraya bergumam pada dirinya sendiri. "Kak?"
"Em... Gak ada apa-apa, sih. Cuman ..."
"Ngomong aja, Kak. Gak usah sungkan," balas Alex. Tanpa sadar membuat Kanza berdesis sebal seraya terus menahan emosinya.
Perempuan itu tampak menghela napasnya sesaat sebelum ia mulai melanjutkan ucapannya. "Lo masih sering kontekan sama Gibran?" Ucapnya terdengar begitu pelan. Sampai-sampai membuat Kanza yang masih setia menguping tidak dapat mendengar ucapannya dengan jelas.
"Ngomongin apaan, sih? Awas aja minta nomor hapenya cowok gue!" Gerutu Kanza.
"Sering sih enggak! Cuman kalau nomor hapenya gue ada. Kak Rania mau?"
"Apa, apa? Alex nawarin nomor hapenya?" Kanza refleks berucap sedikit lantang, sehingga hampir membuat dirinya sendiri ketahuan.
Sayangnya, Alex sudah lebih dulu menyadari kehadiran gadis itu yang tengah menguping pembicaraannya.
Seringaian kecil lantas terbit di wajah Alex. Sebuah ide untuk mengerjai Kanza tiba-tiba terbesit di otaknya.
"Gimana, Kak? Lo mau?" Alex sengaja membesarkan volume suaranya agar Kanza dapat mendengarnya dengan jelas.
"Em... Boleh, deh. Bentar, gue ambil hape dulu." Ucap Rania. Gadis itu mulai mengambil ponsel yang ia taruh di dalam tas sekolahnya.
Di tempatnya, Kanza masih setia mengintip seraya menguping apa yang tengah dilakukan dan dibahas oleh mereka berdua. Terkadang, Kanza akan mendumel kesal melihat Alex dan juga seorang gadis yang ia tebak adalah senior di sekolahnya ketika mereka berdiri begitu berdekatan dengan fokus keduanya yang tertuju pada ponsel masing-masing.
"Sama-sama. Oh, ya. Lo pulang sendiri?"
Kanza langsung memelotot sesaat mendengar perkataan dari mulut Alex yang ditujukan pada Rania.
Sialan! Jadi gini kelakuan Alex yang sebenarnya kalau tidak ada dirinya?
"Ternyata emang bener-bener temennya Si Kenzo, ya. Sama-sama playboy!" Gerutu Kanza dengan tatapan matanya yang masih tertuju pada Rania dan juga Alex.
"Lo nanya gue?" Rania terlihat sedikit kebingungan. Pasalnya, ini pertama kalinya Alex, si cowok paling dingin dan susah didekati apalagi oleh makhluk yang namanya perempuan, secara tidak langsung menawarkannya untuk pulang bersama.
Jika saja yang ditawarkan seperti itu adalah Dayana ataupun para penggemar perempuannya, mungkin mereka akan dengan senang hati menerima tawaran dari Alex.
Sayang sekali. Rania tidak memiliki perasaan apa-apa pada Alex. Gadis itu hanya akan menyukai Gibran sampai kapan pun.
"Iya. Kalau gitu gue duluan, ya." Pamit Rania. Seulas senyum tipis terbit di wajah cantiknya.
Melihat Rania yang mulai meninggalkan perpustakaan, Kanza langsung membalikkan tubuhnya seraya melipat kedua lengannya di depan dada.
Perasaan kesal, dongkol, dan cemburu, menyatu menjadi satu. Mulutnya pun tak henti-hentinya terus menggerutu aneh menirukan kembali apa yang sebelumnya telah diucapkan oleh Rania.
"Dasar sok cantik! Cantikan juga gue!" Gerutu Kanza lagi. Membuat Alex yang saat ini tengah berada tepat di belakang gadis itu tanpa sadar mengembangkan senyumannya.
Tak ingin terus mengerjai Kanza lebih lama lagi, Alex lantas berdeham cukup keras, sampai membuat gadis itu refleks berjengit, dengan perhatiannya yang beralih padanya.
Melihat reaksi Kanza yang syok akibat ulahnya, hampir saja membuat Alex tertawa. Untung saja Alex langsung menahannya dengan memasang topeng dingin yang menjadi andalannya.
"Lo ngapain di sini?" Tanya Alex. Raut wajahnya benar-benar dibuat terlihat dingin dengan tatapan mata yang menusuk.
"Gue—"
"Lo nguping?" Tanyanya lagi. Tanpa sadar membuat Kanza mengernyitkan dahinya.
Kanza terkekeh miris seraya menatap Alex dengan tatapan kesal. "Siapa juga yang nguping!" Balas Kanza, kemudian melenggang dari hadapan Alex.
Tak sampai lima langkah Kanza berjalan, tangannya sudah lebih dulu dicekal, sehingga langkah kakinya kembali terhenti.
"Kenapa gak jujur aja, sih? Gue udah sadar kali, lo dari tadi nguping sambil sembunyi-sembunyi di sini!" Ucap Alex. Seketika membuat emosi gadis itu mulai terpancing.
Dengan kesal, Kanza menepis tangan Alex kemudian menatapnya tajam. "Iya, gue nguping! Puas lo! Lo ngeselin tahu, enggak!"
Kanza sudah hendak kembali melenggang meninggalkan Alex, namun lagi dan lagi cowok itu menarik tangannya sampai membuat tubuh gadis itu dibuat limbung, sehingga berakhir berdiri begitu dekat dengannya.
Kanza kembali melotot seraya mendongakkan kepalanya menatap Alex. Dan siapa sangka, Alex ternyata juga tengah menatapnya dengan wajah mereka yang begitu berdekatan. Sampai-sampai mereka dapat merasakan embusan napas serta suara detak jantung milik masing-masing.
"Za, lo marah?" Alex berbisik dengan tatapan matanya yang belum teralihkan dari Kanza.
Seolah tersadar akan posisi mereka yang begitu berdekatan, Kanza langsung menjauhkan diri dari Alex dengan sesekali berdeham untuk menghilangkan kegugupannya.
Tidak seperti Kanza yang akan selalu salah tingkah, Alex malah dengan sangat santainya tersenyum manis seraya mengucek pelan pucuk kepala gadis itu sampai membuatnya mengerang kecil.
"Jangan cemberut gitu dong. Dia cuman nanyain nomor hapenya Si Gibran, bukan nanyain nomor hape gue. Udah, ya? Soal gue nanya dia pulang sendiri, itu cuma basa-basi. Gak usah dipikirin, oke? Lagian, dia juga sukanya sama Si Gibran." Seolah peka mengapa gadis itu masih saja diam dengan raut wajahnya yang kembali jutek, Alex perlahan mulai menjelaskan sedikit demi sedikit pada Kanza.
"Oh!" Balas Kanza masih terdengar jutek.
Terlalu gemas melihat tingkah Kanza yang tak biasa, Alex kemudian mengapit kedua pipi gadis itu dengan salah satu tangannya, sampai membuat bibirnya tampak mengerucut, dengan kedua bola matanya yang membulat.
"Lo kalau lagi cemburu lucu juga, ya," ucap Alex seraya tersenyum. Sanggup membuat raut wajah Kanza langsung bersemu dengan kedua bola matanya yang semakin membulat sempurna.
Setelah cukup puas bermain dengan kedua pipi milik gadis itu, Alex mulai melepaskan tangannya dari sana, dan dilanjut menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan Kanza.
__ADS_1
"Hm... Mau ikut gak?" Tanya Alex. Wajahnya dengan Kanza hanya berjarak sekitar lima belas sentimeter saja.
"K-ke mana?"
Alex kembali menegapkan posisi berdirinya. Salah satu tangannya pun meraih tangan Kanza lalu menautkannya.
"Ada deh." Ucapnya misterius, kemudian menarik tangan gadis itu dan membawanya keluar dari dalam perpustakaan.
...****...
"Tante minta maaf! Ini semua salah Tante. Kalau bukan karena Tante yang—" Maya tidak dapat melanjutkan kata-katanya ketika wanita itu kembali mengingat momen masa lalunya yang cukup mengerikan.
Sedari beberapa puluh menit yang lalu, Maya tak henti-hentinya terus menangisi nasib seorang gadis yang saat ini tengah berada di sampingnya. Tak lupa, ia pun turut merutuki dirinya sendiri yang tidak becus mendidik putranya.
"Kamu yang kuat, ya. Sekali lagi, Tante minta maaf!" Ucap Maya. Wanita setengah baya itu kembali memeluk Bianca yang hanya bisa termnung, tidak dapat berbuat apa-apa.
Ya. Saat ini, Bianca dan juga Haykal tengah berada di rumah kediaman Maya yang berada di Bekasi. Setibanya sepasang remaja itu di rumah Maya, mereka atau lebih tepatnya Haykal menceritakan segalanya pada sang mama tentang apa yang telah terjadi di antara ia dan juga Bianca.
Mendengar kejujuran yang terucap dari mulut putranya, jelas Maya sangat syok. Wanita setengah baya itu bahkan sempat menangis seraya memukuli dada bidang Haykal, kemudian berakhir menyalahkan dirinya sendiri.
Maya mulai mengendurkan pelukannya, kemudian dilanjut menatap nanar sepasang bola mata Bianca yang juga tengah menatapnya.
"Tante gak tahu harus bilang apa lagi selain kata maaf. Tapi Tante akan menjanjikan satu hal sama kamu," Maya mulai menggenggam erat kedua tangan Bianca. Tatapan matanya berubah serius ketika bersitatap dengan manik mata gadis itu.
"A-apa itu, Tante?"
"Tante pastikan, Haykal akan bertanggungjawab sama kamu! Dan untuk sekolah kamu, mungkin kamu terpaksa harus di rumah. Tapi Tante janji, kamu masih bisa tetap sekolah walaupun cuma di rumah. Ya?" Ucap Maya yang langsung diangguki anggukan pelan oleh Bianca.
Tak lama setelahnya, kedua perempuan dengan usia yang berpaut cukup jauh itu mulai kembali saling berpelukan, mencoba untuk saling menguatkan satu sama lain.
Di tempat lain, tepatnya di depan halaman luas rumah sang mama, Haykal tampak termenung di atas bangku taman bersama sang adik yang sedari tadi hanya menatapnya dari samping.
Zidan sebenarnya sangat ingin menanyakan beberapa hal pada Haykal sesaat ketika kedatangan sang kakak yang begitu tiba-tiba bersama seorang perempuan yang belum pernah ia temui.
Apalagi ketika beberapa saat kemudian mamanya langsung menangis histeris di pelukan Haykal. Semakin membuat Zidan bertanya-tanya, sebenarnya, apa yang sedang terjadi?
"Hm... Kak!" Setelah cukup lama keduanya saling terdiam, Zidan akhirnya mulai mengeluarkan suaranya. Ia sudah sangat gatal ingin bertanya.
"Kakak ada masalah, ya? Sampai-sampai barusan Mama nangisin Kakak,"
Haykal menolehkan kepalanya menatap Zidan yang baru saja selesai mengutarakan pertanyaannya. Tak lama kemudian, sebelah tangannya terangkat mengelus pucuk kepala sang adik. Setelahnya, Haykal mulai menarik napas dalam-dalam, sebelum pada akhirnya ia mulai menjawab pertanyaan dari Zidan.
"Iya. Lebih dari itu malah," ucap Haykal. Seulas senyuman miris terbit di wajahnya.
"Masalah apa?" Tanya Zidan lagi. Wajahnya terlihat begitu lugu dan polos ketika kembali menanyakan hal itu. Seketika membuat Haykal merasa begitu bersalah karena telah memberikan contoh yang begitu buruk pada sang adik.
Haykal mulai bangkit dari posisinya, kemudian berjongkok tepat di depan Zidan yang masih terduduk di atas bangku. "Sebelum Kakak cerita, lo harus janji satu hal sama Kakak,"
"Janji apa, Kak?"
"Lo harus janji, jangan ikutin jalan gue, kalau lo gak mau menyesal nantinya. Oke?" Ucap Haykal, masih belum ke intinya. Zidan yang mendengarnya hanya mampu mengangguk patuh seraya mengeluarkan jari kelingkingnya di hadapan Haykal.
"Janji!" Ujarnya. Langsung disambut hangat oleh Haykal yang ikut menautkan jari kelingking tersebut dengan jari kelingking lain miliknya.
Tak lama setelah kedua jari kelingking mereka saling bertautan, tatapan Haykal mulai kembali pada sang adik seraya mulai melepaskan tautan tersebut.
"Kakak mau nikah." Ucap Haykal terdengar begitu serius. Refleks membuat Zidan langsung bangkit dari posisinya dengan sepasang bola matanya yang membulat, menatap tidak percaya pada sang kakak.
"Bohong!"
"Kakak serius!" Haykal kembali menegapkan posisinya dengan perhatiannya yang masih tertuju pada Zidan.
"Sama siapa?" Tanya Zidan. Nada bicaranya terdengar sedikit melemah tidak seperti sebelumnya.
"Sam—"
"Sama perempuan yang tadi?" Sela Zidan. Dengan berat hati, Haykal pun mengangguk.
...****...
"Maksudnya apa nih?!" Kenzo mengerang kesal di hadapan Wanda yang saat ini tengah menciut dengan menutup mulutnya rapat-rapat.
Selepas pulang dari sekolah, Kenzo langsung menancap gas untuk menemui Wanda dan meminta penjelasan pada gadis itu atas balasan pesan chat berupa sebuah stiker yang bisa dibilang stiker haram.
Padahal, Kenzo bertanya baik-baik saat hendak mengirimi Wanda pesan chat itu. Ia bahkan sempat tersenyum seperti orang bodoh, sampai membuat teman-temannya yang melihat tingkah ajaibnya terus meledek Kenzo.
Dan siapa sangka, gadis itu malah mengirimkan sebuah stiker binatang haram, seolah ia sedang meluapkan emosinya pada Kenzo!?
"Jelasin! Gue gak mau tahu!" Tuntut Kenzo. Membuat Wanda tidak dapat berbuat apa-apa selain menjelaskan kesalahpahaman tersebut.
"I-itu salah kirim, Zo!"
"Masa?" Balas Kenzo. Raut wajahnya masih terlihat kesal seperti sebelumnya.
Dalam hati Wanda yang terdalam, ia benar-benar bingung harus menjelaskannya seperti apa!? Masa dirinya harus bilang kalau stiker tersebut dikirimkan oleh mantannya?
Terus nanti gimana kalau Kenzo semakin marah?
"I-itu beneran salah kirim, serius! Udah, yah. Jangan ngambek! Ya? Lo boleh minta apa aja deh sama gue, asal lo jangan ngambek. Hm? Ya?" Ucap Wanda. Seberusaha mungkin ia membujuk Kenzo yang masih terlihat ngambek karena persoalan stiker haram yang dikirim sembarangan oleh Erik.
Kalau sampe gue ketemu sama lo lagi, gue tendang lo, Erik! Batin Wanda menggerutu kesal.
Kenzo tampak berdeham beberapa kali, dirasa tawaran dari Wanda sedikit agak menggiurkan. Apalagi, bisa saja tawaran tersebut akan lebih menguntungkannya.
Heh, saatnya balas dendam!
"Oke. Gue maafin, tapi dengan syarat; lo harus mengabulkan semua permintaan gue!"
"Serius? Tapi kok, semua? Banyak dong?"
"Gak mau? Ya udah. Enggak gue maafin!" Balas Kenzo. Pada akhirnya, Wanda akan selalu kalah telak dari cowok itu.
"Oke, fine! Lo mau apa?" Tanya Wanda pada akhirnya.
Seringaian licik tiba-tiba saja terbit di wajah Kenzo. Membuat Wanda yang melihatnya tanpa sadar mengerjap beberapa saat dengan bulu kuduknya yang tiba-tiba berdiri.
Kenzo mulai melangkahkan kakinya ke hadapan Wanda, sehingga dengan refleks gadis itu langsung memundurkan langkah kakinya.
"Zo! L-lo mau ngapain?" Cicit Wanda. Gadis itu masih setia memundurkan langkah kakinya sampai punggungnya pun mulai menubruk sebuah tihang, sehingga ia tidak dapat bergerak ke mana-mana.
Di hadapannya sudah ada Kenzo yang berjalan semakin dekat ke arah Wanda, menepis jarak di antara keduanya.
Oh, ya. Keduanya saat ini tengah berada di area taman umum yang terbilang cukup sepi dari biasanya. Tidak ada orang-orang yang berlalu-lalang maupun anak-anak yang berkeliaran. Membuat otak Wanda seketika dibuat traveling karena gerak-gerik Kenzo yang cukup mencurigakan.
"Zo!" Wanda kembali memanggil cowok itu, sesaat tubuh keduanya telah begitu berdekatan sampai-sampai mereka dapat merasakan embusan napas masing-masing.
"Lo gak perlu panik, karena saat ini gue cuma mau mengambil apa yang udah lo kasih ke gue!"
Wanda mengernyitkan dahinya sedikit bingung. "Mengambil apa yang udah gue kasih ke lo? E-emang gue ngasih apaan?"
"Lo bilang gue boleh minta apa pun?" Mendengar ucapan itu, dengan sangat polos Wanda pun mengangguk.
Kenzo kembali menaikkan kedua sudut bibirnya membuat Wanda seketika dibuat salah tingkah oleh senyuman dari cowok itu yang sanggup meluluhlantakkan hatinya.
Perlahan namun pasti, Kenzo semakin mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu. Tatapan matanya yang lembut sukses membuat Wanda sampai terhipnotis, sehingga ketika tidak ada lagi jarak di antara keduanya, gadis itu dengan refleks memejamkan kedua matanya, merasakan debaran hebat di dada yang serasa semakin bergemuruh dengan diiringi deru napas mereka yang teratur.
^^^To be continue....^^^
__ADS_1
Duh... baru update😁 sbnrnya tinggal beberapa puluh kata lagi kmaren malem bisa langsung diup, cuman ini ngetik adegan terakhirnya susah juga ya🤣 sampe² memerlukan waktu hampir satu jam, pdhl gk sampe 150 kata🥲
By The way, mereka ngapain, ya, kira²?🤣 Jadi penasaran, eaakk🤭 dahlah, aku mau pamit dulu. Byee🤣🤭