
Pagi-pagi sekali, tepatnya pukul 6 lewat 18 menit, Kenzo berangkat ke sekolah dengan mengendarai mobil kesayangannya, Si Merah.
Cowok itu dengan sengaja menyisir rambutnya ke belakang, sehingga memperlihatkan jidat paripurnanya yang membuat kaum hawa sering klepek-klepek ketika menatapnya.
Oh! Jangan lupakan sebuah kacamata hitam yang bertengger manis di tulang hidungnya.
Ehm. Satu hal lagi! Sebuah senyuman genit plus tengil sengaja ia pasang di wajahnya. Membuat siapa saja yang berada di pinggir jalan maupun yang berada di jalan yang sama dengannya akan melirik ke arahnya.
"Okey! Mampir dulu ke kampusnya My Wanda, heheh." Kenzo bergumam disela mengemudikan mobil mewahnya. Tak lupa untuk selalu lirik sana-sini. Berharap gadis manapun yang melihatnya akan terpesona padanya.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Kenzo berhenti tepat di depan sebuah gerbang kampus yang menjadi tujuannya sebelum pergi ke sekolah.
Sebelum ia menuruni mobil, Kenzo menyempatkan diri untuk bercermin terlebih dahulu. Merapikan pakaian dan merapikan rambutnya yang mungkin saja rusak akibat angin dan polusi jalan raya.
"Heh! Saatnya menelpon Wanda..." Kenzo mulai meraih ponselnya yang ia letakkan di atas dasbor.
Seperti yang Kenzo katakan barusan, ia akan menghubungi Wanda dan menyuruhnya untuk segera datang ke gerbang kampus.
Tak butuh waktu lama, panggilan teleponnya langsung diangkat oleh Wanda. Senyum sumringah lantas terbit dari wajah tampannya.
"Di mana?" Kenzo langsung bertanya posisi, tanpa mengucapkan kata halo, apalagi basa-basi.
"Gue lagi di jalan. Kenapa?" Suara Wanda yang teramat judes ketika menjawab, tak sedikitpun membuat Kenzo kesal apalagi jengkel. Ia malah semakin mengembangkan senyumannya dengan hatinya yang berbunga-bunga.
"Masih lama?" Tanya Kenzo. Tatapan matanya mulai celingukan ke mana-mana ketika menyadari bahwa beberapa gadis yang lewat di sekitarnya, entah itu gadis kuliahan atau bukan, mereka semua menatap Kenzo dengan tatapan kepo sekaligus memuja.
"Enggak. Gue di belakang lo, nih!" Ucapan Wanda di seberang telepon, mampu membuat Kenzo sontak membalikkan tubuhnya ke belakang.
Kenzo mulai melepas kacamata hitamnya. Kedua bola matanya spontan melebar melihat posisi gadis yang tadinya masih berbicara dengannya lewat telepon, kini berdiri tepat di belakang Kenzo dengan sebuah senyuman hangat yang terpatri di wajah cantiknya.
Tak ingin terus-menerus berdiri, Wanda mulai melangkahkan kakinya menghampiri Kenzo yang mulai keluar dari mobilnya. Oh, ya. Wanda juga sudah mematikan sambungan teleponnya.
"Lo ke sini? Ngapain? Gak sekolah?" Pertanyaan Wanda yang Kenzo tafsirkan sedang peduli padanya, dibalas senyuman manis oleh cowok itu.
"Iya, gue ke sini. Mau ketemu sama lo, dan tentunya gue sekolah."
Wanda sontak terkekeh pelan mendengar balasan Kenzo yang di luar dugaan.
Ternyata pertanyaan Wanda dijawab semua oleh Kenzo! Padahal kan, cuman basa-basi. Biar gak garing, haha.
"Ya udah, gih, kalau lo sekolah. Ngapain lo nyempet-nyempetin ke sini? Buang-buang bensin aja."
Kenzo mencebikkan bibirnya seraya mengendikan bahunya. "Bensin doang. Kecil itu mah. Nih, ya. Jangankan bensin! Pom bensinnya aja gue beli kalau perlu!" Ujar Kenzo, meninggi. Yang dibalas decihan malas oleh Wanda.
"Iyain aja deh, Anak Sultan!" Tekan Wanda. Membuat Kenzo semakin mengembangkan senyumannya.
Kalau Wanda boleh jujur, Kenzo itu kalau lagi senyum tuh gantengnya naudzubillah! Apalagi saat ini model rambutnya begitu. Mana jidatnya terekspos, lagi! Wanda sebenarnya hampir salting, karena sedari tadi cowok SMA di hadapannya ini terus saja tersenyum ke arahnya.
Sayangnya, bukan hanya dirinya yang dikasih senyuman itu oleh Kenzo. Siapa pun perempuan, mau itu kenal atau tidak, semuanya disenyumin sama Kenzo.
Dasar genit!
"Udah ah, bentar lagi gue ada kelas pagi. Duluan, ya!" Wanda dengan terburu-buru pergi dari hadapan Kenzo setelah mengatakan kalimat itu.
Melihat Wanda yang mulai meninggalkannya, Kenzo buru-buru mengejar gadis itu seraya menarik salah satu pergelangan tangannya, sehingga membuat tubuh Wanda berbalik sampai jidat gadis itu menubruk dada bidang Kenzo.
Wanda tentu saja kembali dibuat salting oleh bocah 17 tahun di hadapannya ini. Jantungnya sudah berdegup begitu kencang. Dan wajahnya sudah memerah seperti tomat.
"Mumpung besok weekend, ikut gue jalan jam 7 malem. Kirimin alamat rumah lo, besok gue jemput." Bisik Kenzo, tepat di depan telinga Wanda.
Tersadar bahwa saat ini posisi keduanya bisa membuat siapa saja yang melihatnya salah paham, Wanda langsung mendorong Kenzo, dan menjauhkan diri dari cowok itu.
"Ekhem. Ha-harus banget ya, gue ikut?" Sebisa mungkin Wanda menghilangkan rasa kegugupannya yang diciptakan oleh Kenzo.
"Harus! Gak boleh ada penolakan!"
"Sorry! Kayaknya gue gak bisa, deh. Semua baju-baju gue pada kusut, dan karena besok weekend, gue males nyetrika." Ucap Wanda, yang diakhiri senyum sekilas.
Sebenarnya, Wanda berbohong tentang semua pakaiannya yang pada kusut itu. Ia hanya ingin menolak permintaan Kenzo.
Pokoknya, Wanda gak boleh dekat-dekat dengan cowok ini! Selain usia mereka berpaut tiga tahun, dan itu lebih tua dirinya, ia juga merasa sedikit minder.
Kenzo dari kalangan atas. Sedangkan dirinya hanya dari kalangan biasa. Sudah cukup Wanda sering diejek anak-anak satu kampus karena dirinya bukan dari kalangan berada. Ia tidak ingin kembali diejek oleh mereka jika suatu saat Wanda mengencani laki-laki yang lebih muda darinya, apalagi yang tipe-tipe Anak Sultan macam Kenzo.
"Hmm... Oke!" Balasan Kenzo sungguh diluar prediksi Wanda.
Wanda pikir, Kenzo akan marah-marah atau paling tidak membujuk dirinya karena cowok itu sendiri yang bilang, bahwa ajakannya kali ini adalah 'harus'. Tapi, kenapa malah 'iya-iya' aja?
Dan kenapa juga Wanda merasa sedikit kecewa?
"Ya udah, gue ke sekolah dulu. Udah jam 7 lebih. Bisa-bisa entar gue dihukum lagi," Kenzo terkekeh. Cowok itu mulai memasuki mobilnya seraya menghidupkan mobil.
"Gue duluan, ya. Jangan kangen." Ujar Kenzo, sebelum pada akhirnya ia melesatkan mobilnya meninggalkan Wanda.
Sontak saja Wanda dibuat ternganga oleh ucapan cowok itu. Bisa-bisanya ia pergi begitu saja tanpa memberikan sedikit kesempatan untuk Wanda memaki padanya.
"Dasar bocah tengil ngeselliiinnn!!! Siapa yang bakal kangen sama lo!?" Pekik Wanda. Untunglah, tidak ada satu orang pun di sekitarnya saat ini. Hanya beberapa kendaraan yang berlalu-lalang dan itu pun tidak ada yang memedulikannya.
...****...
Kenzo menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang SMA Naruna yang tertutup rapat.
Dengan perasaan berkecamuk, Kenzo keluar dari dalam mobilnya dan berlari ke arah gerbang sekolahnya.
__ADS_1
Gawat!
Kenzo terlambat! Gerbang sudah ditutup, padahal jam tangan di pergelangan tangan kirinya baru menunjukkan pukul 7.20 pagi. Bukannya masih ada sepuluh menit lagi sampai masuk kelas?
"B*ngs*t! Sekarang kan, pelajarannya Pak Ucup! Anj*rlah!" Kenzo mendesis seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Demi apa pun, Kenzo frustasi! Mana satpam sekolahnya tidak terlihat berada di dalam pos jaga, lagi!
"Ck! Aaaghhh! Masa iya, gue harus nerobos?" Ucapnya. Sontak memberikannya sebuah ide brilian agar dirinya bisa masuk ke dalam area sekolah, tanpa harus membuka pintu gerbang.
Dan yang lebih hebatnya lagi, ia tidak perlu berpapasan dengan satpam sekolah yang sudah seperti Pak Ucup ke-2.
"Heheh! Kenapa gak kepikiran dari tadi? Manjat di tembok sebelah, kan, bisa! Tinggal markirin mobil aja di depan sono! Anjay, dari tadi kek," gerutunya.
Kenzo lantas kembali menaiki mobil dan memarkirkannya di pekarangan rumah kosong yang letaknya berhadapan dengan gerbang masuk SMA Naruna.
Tak butuh waktu lama, cowok itu telah selesai memarkirkan mobilnya. Dan misi terakhirnya saat ini adalah, memanjat tembok sekolah.
...****...
"Bapak tanya sekali lagi! Ada yang tahu ke mana Kenzo, Arjuna, Haykal, Rio, Azka, dan Alex? Kenapa sampai sekarang mereka masih belum sampai? Mereka gak lagi janjian buat gak masuk sekolah, kan?" Sudah dari lima belas menit yang lalu, Pak Ucup tak henti-hentinya terus menanyakan keberadaan enam murid-muridnya yang masih belum juga tiba di sekolah.
Pak Ucup bingung harus mengapakan keenam murid-murid bangor itu?! Ia ingin marah, tapi orangnya tidak ada. Pak Ucup benar-benar dibuat gondok setengah mati.
Di tempat lain, tepatnya di luar kelas XI IPS 4, Juna, Haykal, Alex, Rio, dan Azka, terlihat saling menghela napas setelah mendengar ocehan guru mereka di dalam kelas yang menanyakan tentang keberadaan mereka.
Padahal, sedari beberapa saat yang lalu, mereka berlima terus berada di sana dengan posisi badan setengah jongkok.
"Anjaylah, kenapa juga tadi pagi gue pengen ke rooftop? Harusnya gue langsung ke kelas aja, kan gak akan gini jadinya! Pake acara ketiduran segala lagi!" Juna menggerutu. Posisi cowok itu berada tepat di belakang Haykal.
"Berisiklah, anj*r! Gue juga telat nih gara-gara kemaren! Sialan banget dah!" Haykal mendesis, kemudian mendudukan dirinya di atas lantai.
"Ck! Harusnya lo semua pada dengerin gue! Harusnya kita langsung masuk aja ke kelas. Bodo amat Pak Ucup lagi ngabsen juga. Kalau hukum, ya tinggal hukum aja! Mau sampe kapan kita begini?" Alex mendumel yang posisinya tepat berada di belakang Rio, di depan Azka dengan posisi yang sama.
"Hush! Sembarangan lo, Lex! Lo aja gih, yang dihukum! Sorry-sorry aje, ye, gue kagak mau!" Azka menyahut. Sebelah tangannya menepuk pelan tas yang dipakai Alex
"Tunggu bentaran lagi! Gue yakin, Pak Ucup—" ucapan Rio terpotong ketika seseorang dari belakangnya menepuk pelan bahunya. Membuat Rio mau tidak mau menoleh.
"Ap— hmph!" Rio hampir saja memekik, ketika seseorang yang tadinya tidak ada, kini berdiri tepat di hadapannya dan membekap mulutnya.
"Ish! Anj*rlah! Ngagetin aja lo! Gue pikir—"
Kenzo kembali membekap mulit Rio. Kepalanya celingukan menatap ke sana-sini, berharap tidak ada satu orang pun yang melihat mereka berenam di luar kelas dalam keadaan seperti ini.
Ya. Orang yang sebelumnya tidak ada diantara mereka berlima adalah Kenzo. Kedatangan cowok itu sungguh membuat Juna, Haykal, Azka, Alex, dan Rio, mengalami syok sesaat.
"Telat juga lo, Zo?" Rio menyahut dengan suara pelan. Yang dibalas anggukan malas oleh Kenzo.
"Lo semua juga?" Kenzo balik bertanya pada kelima teman-temannya.
"Terus gimana?" Kenzo ikut mendudukan diri di samping Rio. Cowok itu menatap satu-persatu teman-temannya yang terlihat sama bingungnya.
"Harusnya kalian dengerin gue!" Alex mengulang kalimatnya. Raut wajahnya terlihat begitu dingin dengan tatapan matanya tertuju pada Azka lalu beralih menatap Haykal.
Kedua cowok itu yang ditatap dingin oleh Alex, hanya menyengir tanpa dosa. Ya. Jika bukan karena ide Azka dan Haykal untuk diam terlebih dahulu di luar kelas, mereka mungkin saat ini tidak berada di luar sini dengan posisi duduk di emperan seperti seorang pengemis.
"Gak pa-pa kali, Lex. Itung-itung pengalaman. Ye, gak?" Ucap Azka. Yang dibalas decihan sebal oleh kelima teman-temannya.
"By the way, tumben banget si Alex telat ke sekolah?! Biasanya kan, lo yang paling anti tuh Lex, sama yang namanya telat." Juna menatap heran ke arah Alex.
Kenzo, Haykal, Azka, dan juga Rio, spontan mengalihkan fokus mereka dan menatap Alex penuh tanya.
Pikir mereka, benar juga apa yang dikatakan oleh Juna! Alex itu murid teladan. Baru kali ini mereka menyaksikan cowok itu terlambat ke sekolah dan malah berakhir bolos bersama mereka.
"Gue gak percaya kalau alesan lo telat ke sekolah gara-gara bangun kesiangan!" Perkataan Kenzo, mendapat sambutan setuju dari yang lain.
"Setuju!" Rio menyahut dengan suara yang cukup keras. Membuat kelima teman-temannya langsung berdesis seraya memelototinya.
Alex menghela napasnya seraya mulai menyandarkan punggungnya di tembok kelas. Tatapan mata cowok itu beralih menatap langit-langit koridor.
Kenzo dan yang lain yang tidak paham mengapa Alex menatap ke arah langit-langit lantas ikut menatap ke atas.
Melihat teman-temannya yang begitu bodoh dan tidak peka, membuat Alex berdecak seraya menatap dingin kelima teman-temannya.
"Ban mobil gue kempes! Padahal gue udah sampe pertigaan." Ucap Alex, mulai bercerita tentang kesialan yang ia alami tadi pagi.
"Terus, terus?" Azka sedikit merapatkan posisi duduknya.
Sebelum melanjutkan ceritanya, Alex kembali menarik napasnya dalam-dalam. "Ya, gue balik lagi lah! Gue ganti pake motor. Eh, tahu-tahunya bensinnya dikit lagi. Gue mampir ke pom bensin dulu, kan. Antreannya malah panjang! Mau nyari ke pom bensin lain, takutnya entar motor gue mogok di tengah jalan. Apes banget dah, hari ini, anj*r!"
Mendengar cerita panjang lebar Alex, membuat Kenzo dan yang lain lantas ikut berduka atas kesialan yang menimpa cowok itu.
"Kalau gue sih, beda lagi! Gue telat gara-gara apel dulu ke kampus cewek gue!" Kenzo berucap dengan diakhiri kekehan kecil.
Juna, Haykal, Azka, Rio, dan Alex, spontan membulatkan mata mereka ke arah cowok itu.
"Hah? Jadi omongan lo yang waktu itu serius, Zo?!" Rio menatap kagum sekaligus tidak percaya ke arah Kenzo.
"Anjay! Sama cewek kuliahan? Cantik, kagak?" Juna mulai heboh di tempat.
"Ini Kenzo Jiran Bagaskara, Anjay! Ya kali, cewek-ceweknya kagak cantik! Lo mah suka ngadi-ngadi, Jun!" Azka ikut nimbrung. Langsung disambut decakan kagum sekaligus tepuk tangan meriah dari Haykal.
"Gue bangga sama lo, Zo!" Haykal mencengkram kuat sebelah bahu Kenzo. Tatapan matanya sengaja sok serius yang ditujukan untuk cowok itu.
__ADS_1
Berbeda dengan Alex yang tampak jengah dengan pembahasan kelima teman-temannya.
Dipuji dan diakui oleh teman-teman satu gengnya, membuat Kenzo merasa hebat luar biasa. Cowok itu dengan sombong tingkat akut, tersenyum bangga seraya berkali-kali menyugar poninya ke belakang.
"Gue gituloh!" Ujarnya.
Tanpa keenamnya sadari, Pak Ucup yang sedari tadi menguping di balik pintu masuk kelas mulai tersulut emosi.
"Dasar anak-anak nakal!" Gerutu Pak Ucup dengan beribu kesabaran yang sudah mulai menipis.
Dengan penuh emosi, Pak Ucup membuka pintu kelasnya kasar, membuat Kenzo dkk, termasuk murid-muridnya yang lain yang berada di dalam kelas terlonjak kaget.
Raut wajah Pak Ucup sudah memerah. Kenzo dan yang lain jelas mulai dilanda was-was dan ketakutan.
Keenamnya hendak berdiri, namun entah kenapa, disaat seperti ini kedua kaki mereka terasa mati rasa.
"KENZO! HAYKAL! ARJUNA! ALEX! AZKA! RIO!" Pak Ucup memanggil nama mereka berenam dengan penuh penekanan.
Kenzo dan yang lain mulai menelan ludah mereka usah payah. "I-iya, Pak!" Sahut keenamnya. Seberusaha mungkin mereka menjawab seraya bangkit dari posisi mereka dan berdiri tegak.
"Dengar ini baik-baik. Kalian semua Bapak hukum! Berdiri di tengah-tengah lapangan sambil hormat pada tiang bendera! CEPAT!" Pekik Pak Ucup. Tak membuat keenamnya lantas pergi melaksanakan perintahnya saat itu juga.
"Sekarang, Pak?" Haykal menyahut, membuat Pak Ucup lantas berdesis kepada cowok itu.
Tanpa aba-aba lagi, Kenzo, Haykal, Juna, Alex, Azka, dan Rio, mulai berlari menuju lapangan sekolah, sebelum nantinya Pak Ucup semakin mengamuk pada mereka.
^^^To be continue....^^^
Epilog:
Hampir dua jam lamanya, Kenzo dkk berdiri tegap di tengah-tengah lapangan dengan sebelah tangan mereka yang terangkat untuk menghormati bendera merah putih di atas mereka.
Raut wajah keenamnya sudah sangat memerah. Keringat mulai mengucur dari dahi hingga leher mereka.
"Sampe kapan kita gini?" Juna menyahut. Ia pun mulai menurunkan tangannya yang mulai pegal, karena sedari tadi terus hormat.
"Anj*r, gue udah gak kuat!" Haykal mulai melepas dasi dan blazernya, kemudian melemparnya ke atas tas sekolah yang ia taruh tak jauh dari tempat ia berdiri.
"Maak! Azka pengen Es Teler, Maak!" Azka mulai mengipasi area sekitar lehernya dengan sebuah buku tulis yang ia ambil dari dalam tasnya.
"Rasanya gue pengen nyebur ke kolam es sekarang juga!" Rio mendumel, seraya ikut melepas dasi dan blazernya seperti yang dilakukan oleh Haykal.
"Gue kagak mau tahu, entar abis pulang sekolah kita renang di kolam berenang di rumah lo, Zo!" Ujar Haykal. Sontak mendapat acungan jempol dari Azka, Rio, Juna, dan Alex.
"Good! Udah lama juga kita kagak main ke rumah lo. Iya, gak?" Alex menyela, yang langsung dijawab setuju oleh yang lain.
"Oke!" Balas Kenzo. Cowok itu masih bisa tertawa, padahal saat ini ia pun juga kepanasan.
"Jangan lupa siapin makanan sama minuman yang banyak pokoknya!" Timpal Juna, membuat Kenzo, Haykal, Azka, Rio, dan Alex, berseloroh heboh.
"Ekhem!" Suara dehaman yang cukup nyaring yang teramat keenamnya hafal siapa pemiliknya, membuat Kenzo dkk yang posisinya mulai terleha-leha, langsung menegapkan posisi mereka seraya kembali unjuk hormat.
"Pssss... Pak Ucup, bukan?" Rio berbisik kepada Haykal yang berdiri di samping kirinya.
"Kagak tahu!" Balas Haykal pelan.
Mendengar suara langkah kaki di belakang yang seakan menghampiri keenamnya, sontak membuat tubuh Kenzo dkk menegang.
Keenamnya sudah dibuat panas dingin hanya karena mendengar langkah kaki di belakang mereka yang terdengar semakin jelas.
"Kalian berenam!" Suara sahutan dari belakang mereka sudah sangat jelas milik Pak Ucup.
Kenzo, Haykal, Azka, Alex, Rio, dan Juna, mulai memejamkan kedua mata mereka, berharap tidak ada yang akan terjadi pada keenamnya.
"Hukuman kalian sudah selesai! Sekarang kalian bisa pergi ke kelas!" Ujar Pak Ucup.
Detik itu juga, Kenzo dkk mulai menghela napas lega.
...Cast:...
...Kenzo...
...Alex...
...Haykal...
...Azka...
...Juna...
...Rio...
__ADS_1
Sudah update!!!>~<
Part spesial Kenzo dan kawan-kawan (dkk)