Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 60


__ADS_3

“Nah, sekarang baru boleh turun.” Kenzo berucap spontan sersamaan dengan motornya yang berhenti tepat di depan sebuah kafe yang terlihat cukup ramai.


Dengan perasaan dongkol, Wanda pun turun dari atas motor Kenzo, kemudian melepas helm yang terpasang di kepalanya.


“Kita mau ngapain sih, ke sini?”


“Mau beli bensin!” Celetuk Kenzo. Membuat Wanda refleks mendengus sebal.


“Ya kali. Mau makanlah, Sayang. Lo pikir ini pom bensin? Yok, masuk!” Ujar Kenzo, kemudian menarik salah satu pergelangan tangan Wanda sampai memasuki area kafe.


Sesampainya di dalam, Kenzo langsung meraih salah satu kursi kosong dan mepersilakan Wanda untuk duduk lebih dulu. Tanpa komen, gadis itu pun mulai menduduki kursi tersebut dengan perhatian yang tertuju pada seluruh penjuru kafe.


“Lo mau pesen apa?” Kenzo bertanya lembut, membuat Wanda yang tadinya masih sibuk menatap sekitar lantas menoleh padanya.


“Eh? Di-di sini ada menu apa aja?” Wanda langsung mengambil alih buku menu dari tangan Kenzo, kemudian mulai melihatnya satu-persatu dengan cukup fokus.


Di sisi lain, Kenzo mulai menatap Wanda dengan salah satu tangannya yang menopang dagu. Kedua bola matanya terus saja terfokus pada raut wajah Wanda yang terlihat begitu serius, padahal yang berada di tangannya hanyalah sebuah buku menu biasa. Oh, jangan lupakan seulas senyuman manis yang senantiasa bertengger manis di wajahnya.


“Em … yang ini kelihatan enak, deh? Menurut lo gimana, Zo?” Wanda mulai mengalihkan perhatiannya pada Kenzo yang posisinya berada tepat di depannya.


Namun, baru juga mulai menatap Kenzo, gadis itu diharuskan berhenti sejenak akibat sepasang bola matanya yang tanpa sengaja saling bersitatap dengan bola mata milik cowok itu.


Waktu seakan berhenti berputar dengan masing-masing dari keduanya yang perlahan mulai terhanyut memandangi wajah masing-masing.


“Ekhem. Ada yang bisa saya bantu, Kak?” Suara sahutan dari salah seorang pelayan di kafe tersebut sontak menyadarkan kedua muda-mudi itu dari lamunan mereka.


Sedikit menahan malu, keduanya refleks berdeham pelan dengan kepala yang menoleh ke arah yang berlawanan dari sebelumnya.


“Ekhem. Lo mau pesen yang mana?” Kenzo mencoba menstabilkan dirinya dengan perhatian yang kembali pada gadis itu.


“Eh? Em, gue sih ini! Ka-kalau lo?” Wanda menunjuk salah satu menu di buku tersebut seraya memberikannya pada Kenzo.


“Em, boleh, deh. Samain aja, Mbak. Ini pesennya dua sama … minumnya lo mau yang mana?”


“Em … Boba tea?” Tanya Wanda, yang kemudian dibalas kekehan kecil oleh Kenzo.


“Minumannya boba tea, dua.” Ujar Kenzo, pada pelayan tersebut. Tanpa sadar sikapnya yang demikian telah membuat Wanda semakin tidak dapat mengalihkan perhatiannya pada cowok itu.


“Baik, sudah dicatat semua. Apa ada yang lain lagi?” Tanyanya. Sontak perhatian cowok itu lagi-lagi kembali beralih pada Wanda.


Paham maksud dari tatapan Kenzo padanya, gadis itu lantas beralih menatap ke arah pelayan tersebut dengan seulas senyuman tipis disertai gelengan kepala. “Itu aja, Kak. Makasih.”


...****...


“Gimana? Udah kenyang?” Kenzo bertanya perhatian pada Wanda selepas keduanya telah benar-benar menghabiskan makanan mereka.


Wanda sempat terdiam sejenak dengan berbagai pertanyaan yang terbesit di otaknya. Tak berapa lama kemudian, gadis itu berdeham pelan kemudian menyeruput boba tea-nya yang tinggal separuh lagi.


“Udah. Kenapa emangnya? Lo mau ngajakin gue jajan lagi?” Tanya Wanda. Salah satu alisnya terangkat membuat Kenzo lantas terkekeh pelan.


“Em, kalau itu yang lo mau.” Ujar Kenzo. Seketika membuat Wanda terdiam dengan sepasang bola matanya yang sedikit melebar.


Entah hanya perasaannya saja atau bagaimana, rasa-rasanya Kenzo malam ini berubah menjadi sosok cowok baik, perhatian, dan lebih mengutamakan pilihannya dibandingkan dengan keingingan cowok itu sendiri.


Rasanya seperti, cowok itu mendadak dewasa hanya dalam satu malam.


“Ekhem. Lo kenapa sih? Salah makan obat?” Celetuk Wanda. Sontak seulas senyum tipis yang tadinya bertengger manis di wajah Kenzo langsung luntur saat itu juga.


“Kok, ngatain gue salah makan obat, sih? Emang salah, ya, perhatian sama pacar sendiri?” Kenzo memokuskan perhatiannya pada gadis itu dengan kedua alisnya yang berkerut dalam. Tatapan matanya pun berubah kesal dengan bibirnya yang mengerucut.


Wanda terdiam dengan jantungnya yang lagi-lagi dibuat deg-degan hanya karena perkataan cowok itu. Salah satu tangannya pun refleks menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Bukan gitu maksud gue-”


“Terus?” Sela Kenzo, masih setia memokuskan diri pada raut wajah gadis itu.


“Ya-” ucapan Wanda lagi-lagi terhenti sesaat ketika Kenzo malah mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Sontak saja gadis itu langsung menoleh ke arah mana pandangan Kenzo tertuju.


Dan sialnya, ternyata pandangan Kenzo jatuh pada seorang cewek asing yang berada cukup jauh dari posisi meja mereka.


Demi apa pun, Wanda teramat kesal melihatnya. Mulut julidnya ingin sekali berkoar jika saja tidak ada siapa pun di kafe ini.


Emang, ya, kalau mantan playboy, walaupun mulut sama hatinya bilang insaf, tetep aja matanya ke mana-mana. Dasar nyebelin!


“Zo? Lo lihatin apaan sih?” Wanda yang mulutnya sudah teramat gatal akhirnya bertanya dengan nada yang biasa saja.


Eits. Jangan salah! Walaupun nada bicara yang ia keluarkan terdengar biasa saja, hatinya sedang terbakar saat ini. Lihat saja kepalan di kedua tangannya.


“Bentar. Gue mau bayar ini dulu,” ujarnya, tanpa menoleh sedikit pun padanya.


Tak berapa lama kemudian selepas mengatakan kalimat tersebut, cowok itu langsung bergegas bangkit dari tempatnya. Lagi-lagi tanpa sedikit pun berniat menoleh pada Wanda.


Wanda lantas terkekeh sinis selepas kepergian cowok itu yang katanya akan pergi membayar ke meja kasir. Namun, kenapa rasanya seperti cowok itu tengah berbohong padanya?


Terlanjur kesal, Wanda memilih bangkit dari posisi duduknya seraya menyeruput habis boba tea yang tinggal separuh. Setelahnya, tanpa memilih menunggu Kenzo yang entah mengapa terasa begitu lama walau hanya pergi membayar saja, gadis itu pun melenggang keluar dari dalam kafe.


Di sisi lain, Kenzo yang baru saja selesai membayar makanan sekaligus memesan sebuah dessert langsung dibuat kebingungan sesaat ketika Wanda tak terlihat oleh indera penglihatannya.


Mencoba untuk tetap berpositive thingking, cowok itu pun mulai mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kafe, namun tetap tak menemukan di mana keberadaan gadis itu.


Mulai panik, Kenzo lantas berlari keluar kafe dengan perasaan cemas sekaligus khawatir. Tak berlangsung lama, perasaan tersebut langsung lenyap tatkala ia mulai menemukan di mana keberadaan Wanda.


Helaan napas lega lantas ia embuskan dengan kedua kakinya yang perlahan mulai berjalan menghampiri Wanda. Terlihat gadis itu tengah melipat kedua lengannya di depan dada dengan wajahnya yang tampak cemberut.


“Gue kirain lo diculik. Tertanya masih di sini,” Kenzo terkikik geli seraya menyerahkan sebuah kantong keresek berisi dessert yang ia pesan khusus untuk Wanda.


Wanda sempat terdiam sejenak. “Itu apa?”


Bukannya langsung menjawab, cowok itu malah terus melambai-lambaikan kantong keresek tersebut sampai pada akhirnya, Wanda dengan terpaksa mulai mengambil alih benda tersebut.


“Buat lo. Tadi gue gak sengaja lirik dessert punya orang lain yang di meja sebelah. Gue baru inget kalau lo suka banget sama kue yang topingnya pake buah ceri. Ya udah, gue beli.” Ujar Kenzo, berusaha menjelaskan arti dari raut penuh tanya yang ditampilkan oleh Wanda.


Sesaat ketika membuka kotak dessert tersebut, benar saja terdapat sebuah kue berukuran mini dengan toping serta selai buah ceri seperti apa yang dikatakan Kenzo.


Tunggu! Sejak kapan cowok itu tahu makanan kesukaannya?


“Lo tahu dari mana soal …”


“Apa sih yang gak gue tahu soal lo?” Ucap Kenzo, kemudian berjalan ke arah motornya yang terparkir tepat di belakang tubuh Wanda.


Wanda masih berusaha mencerna arti dari perkataan Kenzo padanya barusan. Berarti, yang Kenzo lihatin tadi bukan cewek dong? Batinnya tanpa sadar merasa senang.


“Yok, naik! Gue mau ajak lo ke tempat lain yang pastinya lo bakal suka.” Kenzo menyahut cukup keras diiringi salah satu tangannya yang menyerahkan sebuah helm pada Wanda. Buru-buru gadis itu berdeham pelan berusaha menghilangkan rasa yang menggebu di hatinya akibat perlakuan manis Kenzo yang tidak ada habisnya.


“Kita mau ke mana lagi emang?” Tanya Wanda, seraya menautkan ikatan helmnya yang entah mengapa terasa begitu sulit untuk ia kenakan saat ini.


Melihat Wanda yang terlihat kesusahan, Kenzo dengan penuh perhatian mencoba membantu gadis itu untuk menautkan ikatan helmnya. Tak butuh waktu lama, aksi menautkan helm itu pun telah selesai. Namun baik Kenzo maupun Wanda sama-sama merasa enggan untuk segera menjauh dari posisi mereka.


Yang ada malah keduanya sama-sama terdiam dengan fokus yang tertuju pada bola mata masing-masing.


Selang berapa lama, Kenzo tersenyum tipis membuat Wanda lantas membelalakkan kedua bola matanya. Setelahnya, gadis itu mencoba sedikit menjauhkan diri dari Kenzo dengan kedua tangan yang sibuk menyentuh helm.


Melihat sikap Wanda yang sepertinya dibuat salting karena ulahnya, Kenzo malah semakin ingin menggoda gadis itu. Dengan sedikit mencondongkan kepalanya tepat ke samping telinga Wanda, cowok itu pun berbisik,


“Kalau gak bisa tuh bilang, jangan malah diem. Untung guenya peka.” Ujarnya. Detik itu juga, kedua pipi gadis itu langsung memerah dengan sepasang bola matanya yang kian membulat.


...****...


“Ini-” Wanda sengaja menggantungkan ucapannya dengan mulutnya yang sedikit menganga. Detik berikutnya, gadis itu mulai turun dari atas motor Kenzo yang baru saja berhenti tepat di depan sebuah pasar malam.


Hah? Pasar malam?


Ya. Kenzo membawa Wanda ke sebuah pasar malam yang baru beberapa hari ini dibuka dan katanya banyak pengunjung khususnya anak muda yang berbondong-bondong ke tempat tersebut sembari membawa pasangan masing-masing.


“Tumben lo ngajakin gue ke sini?” Wanda kembali menyahut dengan perhatian yang belum juga teralihkan dari apa yang ia lihat di depannya. Sedangkan Kenzo, cowok itu sibuk memarkirkan motornya terlebih dahulu di tempat parkir yang tersedia.


Tak berapa lama kemudian, cowok itu berjalan menghampiri Wanda yang masih setia menatap jajaran kios serta stand permainan serta wahana yang berada di depannya.


“Sebenernya, gue tadinya mau ajakin lo ke mall, cuman si Kanza nyaranin ke sini. Katanya, coba dulu ke tempat umum yang jauh dari per-mall-an. Gak kalah seru katanya. Ya udah, gue nyoba-nyoba ke sini,” ujar Kenzo. Kedua tangannya tanpa permisi membantu melepaskan ikatan helm yang masih terpasang di kepala gadis itu.


Tanpa mengoceh, ataupun terkejut seperti sebelum-sebelumnya, Wanda malah tersenyum manis ke arah Kenzo yang tengah berusaha membantunya. Melihat hal itu, Kenzo dengan sangat terang-terangan membalas senyuman Wanda tak kalah manis.


Sialnya, itu semua sanggup membuat Wanda kembali salting, padahal dirinya duluan yang melempar senyum.

__ADS_1


Sialan! Bisa-bisanya ia kalah begitu saja dari cowok itu!


“Ya udah. Karena udah di sini, berarti lo harus jajanin gue dong, ya?” Wanda berucap spontan diiringi kedua tangannya yang mulai melepas helm tersebut yang sempat dibantu oleh Kenzo. Setelahnya, ia mulai menyerahkan benda tersebut pada cowok itu yang langsung disambut hangat olehnya.


“Kecil! Jajanin lo doang mah gak bikin saldo ATM gue kering,” ujar Kenzo, seraya menaikturunkan kedua alisnya.


Refleks Wanda berdecih pelan. “Dih, sombong amat! Eeh, tapi, keknya yang harus ngejajanin di sini tuh gue, deh. Soalnya ‘kan di sini gue yang paling tua, sedangkan lo tiga tahun lebih muda dari gue. Otomatis gue yang jajanin lo. Ya ‘kan?” Wanda menyunggingkan senyuman liciknya ke arah Kenzo sampai membuat cowok itu lantas mengepalkan kedua tangannya.


Dengan menahan berbagai kekesalan yang melanda, Kenzo berusaha menyunggingkan seulas senyuman terpaksa di depan Wanda. “Nih, ya, gue kasih tahu,” Kenzo menggantungkan sejenak perkataannya dengan kedua kakinya yang perlahan mulai berjalan ke hadapan gadis itu.


“Jangankan beda tiga tahun, beda sepuluh tahun aja gue masih mampu bikin lo masuk angin.” Lanjutnya, terdengar ambigu. Refleks Wanda mengernyit bingung dengan kedua bola matanya yang polos menatap raut wajah Kenzo yang menampilkan senyum misterius.


“Maksudnya?” Tanyanya, semakin membuat Kenzo tidak tahan untuk tidak tersenyum saat itu juga.


Ya. Seulas senyuman yang teramat begitu menyebalkan di mata Wanda.


Sebelum berniat menajawab pertanyaan polos dari sang pacar, Kenzo menyempatkan diri untuk menatap sekitar. Ketika tak ada siapa pun yang memerhatikan mereka, cowok itu mulai mendekatkan diri pada salah satu telinga Wanda, kemudian berbisik,


“Hamil.” Ucapnya. Detik itu juga, sepasang bola mata Wanda langsung terbelalak dengan salah satu tangannya yang refleks memukul lengan Kenzo. Tatapan nyalang lantas ia layangkan pada cowok itu yang mulutnya semakin tidak dapat disaring dengan benar.


“Lo-” Wanda menghentikan ucapannya dikarenakan kepalanya yang tiba-tiba menoleh ke semua sisi, berharap tidak ada siapa pun yang mendengar pembicaraan mereka saat ini.


Menyadari sepertinya tidak ada siapa pun yang mendengarkan pembicaraan mereka, gadis itu lagi-lagi melayangkan pukulannya pada Kenzo. Namun, bukan lagi di area lengan melainkan di area perut. Spontan cowok itu mengaduh dengan salah satu tangannya yang memeluk erat perutnya.


“Sakit, Yang.” Pekik Kenzo seraya berusaha menahan tawa.


“Ya elo ngomong asal jeplak aja! Gimana kalau ada yang denger coba? Entar orang-orang ngiranya kita udah-”


“Udah apa?” Sela Kenzo. Raut wajahnya dibuat sepolos mungkin, padahal dalam hati ia teramat ingin tertawa, apalagi ketika melihat raut wajah Wanda yang terlihat tengah menahan berbagai kekesalan akibat ulahnya.


“Udah- Tahu ah, kesel gue sama lo! Mendingan gue pulang aja.” Ujar Wanda, sudah hendak melenggang dari hadapan Kenzo. Beruntung cowok itu cukup cekatan, sehingga Wanda tak berhasil lolos begitu saja.


“Eeh, jangan! Iya, iya, gue minta maaf! Gue cuma bercanda kali. Ngancemnya bawa-bawa pulang mulu perasaan,”


“Masih ngeledek, gue pulang beneran, nih!” Kukuh Wanda, semakin membuat Kenzo dibuat kewalahan atas ancaman yang diberikan oleh gadis itu.


“Eeh, iya, enggak! Jangan pulang! Masih banyak yang mau gue lihatin ke lo, oke? Jangan pulang, ya?” Mohon Kenzo dengan tatapan memelas.


Wanda sempat terdiam sejenak. “Minta maafnya mana?”


Perasan barusan gue udah minta maaf, deh. “Iya, aku minta maaf! Maaf, ya, please … Gak gitu lagi, janji!” Ujar Kenzo. Semakin membuat Wanda tak dapat menahan tawanya ketika melihat raut wajah cowok itu yang lagi-lagi terlihat kewalahan.


“Janji?” Tekan Wanda. Sempat membuat cowok itu terdiam kaku dengan salah satu tangannya yang menggaruk belakang kepala.


“Iya, janji! Maafin tapi,” ujar Kenzo pada akhirnya. Tak berapa lama kemudian, seulas senyuman penuh kemenangan terbit di wajah gadis itu.


“Oke.” Balas Wanda, kemudian melenggang lebih dulu memasuki area pasar malam tanpa berniat menunggu Kenzo.


Di sisi lain, Kenzo mulai mengembuskan napas lega saat Wanda tak benar-benar memilih pulang. Padahal tadi ia sudah sangat dibuat waswas! Takut jika rencana yang ia susun sedemikian rupa akan gagal hanya karena mulutnya yang tidak bisa dijaga.


“Untung aja gak beneran pulang.” Gerutu Kenzo, seraya ikut melangkahkan kakinya mengikuti langkah Wanda.


“Eeh, Zo! Sini, deh!” Wanda refleks menarik lengan Kenzo yang berada tepat di belakangnya sampai membuat posisi cowok itu menjadi bersejajar dengannya.


Ditarik-tarik seperti itu bukan tidak mungkin Kenzo tidak bertanya-tanya. Cowok itu bahkan menatap Wanda dengan kedua alisnya yang berkerut dalam. “Kenapa?” Tanya Kenzo, terdengar datar dan itu semua sanggup membuat Wanda tanpa sadar mendengus sebal.


“Naik wahana itu, yuk!” Wanda menunjuk sebuah wahana di depan sana, sehingga dengan refleks cowok itu pun mengikuti ke mana arah jari telunjuk gadis itu mengarah.


"Apaan dah! Naek itu?" Tanya Kenzo, berusaha memastikan. Jari telunjuknya ikut menunjuk salah satu wahana yang sempat ditunjuk oleh gadis itu.


Wanda mengangguk antusias. "Boleh, ya? Please ..."


"Enggak! Lo aja sana. Gue gak berminat." Tolak Kenzo tegas. Sedikit membuat Wanda kecewa, namun ia tidak akan pernah menyerah untuk membujuk cowok itu.


"Kok, gitu sih? Lo 'kan pacar gue, masa gue naik sendiri sih? Ikut juga, ya, please ..." Bujuknya, semakin membuat Kenzo enggan untuk menaiki wahana tersebut.


"Ya kali gue harus naik wahana kuda-kudaan! Gue bukan bocil. Lo aja sana." Ujar Kenzo, masih sama tegasnya.


Ya. Wahana yang ingin dinaiki oleh Wanda adalah wahana kuda-kudaan yang berputar sambil naik-turun itu! Membayangkannya saja sudah membuat Kenzo ngeri.


Wanda berdecak sebal dengan bibirnya mengerucut. "Ah, lo mah gak romantis!" Cetus Wanda, sedikit membuat Kenzo merasa tersentil.


Melihat sikap serta ekspresi kesal Wanda yang Kenzo sadari baru-baru ini benar-benar membuatnya gemas. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah lengkungan.


"Sini, ikut gue! Gue tunjukin hal yang paling romantis buat lo." Ujar Kenzo, kemudian menarik lembut salah satu tangan gadis itu ke suatu tempat yang telah begitu lama ia persiapkan.


Sementara Wanda, gadis itu memilih diam dan ikut ke mana pun Kenzo membawanya. Ia masih dongkol dengan cowok itu yang menolak mentah-mentah ajakannya menaiki wahana tadi.


Memangnya kenapa kalau kuda-kudaan? Lucu, kok. Pasangan yang lain pada ikutan naik, bukan cuma anak kecil doang! Kenapa juga dia gak mau? Batin Wanda menggerutu.


Terlalu larut dalam kekesalan, gadis itu sampai tidak menyadari bahwa Kenzo telah melepaskan cengkraman tangannya. Di depan sana, Kenzo sibuk mengantre untuk membeli dua buah tiket wahana yang akan dinaiki mereka berdua nanti.


Beruntung antrean tak terlalu panjang sehingga Kenzo dapat dengan cepat kembali ke sisi gadis itu, kemudian kembali meraih salah satu tangannya yang sempat ia genggam. Refleks gadis itu langsung tersadar dari apa yang ia lamunkan.


"Yuk!" Ajak Kenzo. Sedikit membuat Wanda bertanya-tanya.


"Ke mana?"


Bukannya langsung menjawab, cowok itu malah tersenyum tipis dengan kedua kaki jenjangnya yang mulai memimpin jalan. Sontak Wanda ikut melangkahkan kakinya di belakang Kenzo.


Tak berapa lama kemudian, langkah cowok itu pun terhenti sehingga membuat Wanda ikut menghentikan langkah kakinya.


Ditatapnya raut wajah Kenzo dari samping, kemudian beralih menatap ke depan untuk melihat apa yang tengah disaksikan oleh cowok itu.


"Ini-" Wanda menggantungkan ucapannya sesaat ketika Kenzo lagi-lagi tersenyum manis padanya. Setelahnya, cowok itu berjalan lebih dulu ke tempat pengembalian tiket yang berada tak jauh dari posisi sebelumnya mereka berdiri.


"Mas! Tiket untuk dua orang, ya," ucap Kenzo seraya memberikan dua buah tiketnya pada petugas loket.


"Satu tempat berdua?" Tanyanya yang langsung diangguki Kenzo.


"Sama nanti kalo udah sampe di puncak ..." Kenzo berjalan mendekat pada petugas tersebut seraya membisikkan sesuatu padanya. Sehingga Wanda yang tadinya tengah diam dan mendengarkan lantas dibuat bertanya-tanya.


"Oh, siap! Beres pokoknya." Ujarnya sembari memberi kode.


Tak ingin berlama-lama lagi, Kenzo lantas menghampiri Wanda dengan seulas senyum misterius yang lagi-lagi terbit di wajahnya.


"Yuk, naik! Gue jamin bakal romantis."


"Eeh! Lo serius ngajakin gue naik bianglala?" Wanda sempat menarik kembali tangannya yang digenggam Kenzo. Sepasang bola matanya bahkan tak lepas dari cowok itu.


"Kenapa emangnya? Katanya lo mau yang romantis, makanya gue ajakin naik wahana ini."


Wanda terdiam sejenak dengan sesekali menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi wajah yang berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Sedikit membuat Kenzo bertanya-tanya akan sikapnya yang tiba-tiba.


"Emh ..."


"Ya?"


"Se-sebenernya ... gue takut ..."


"Takut?"


"I-iya, gue takut sama ..."


"Sama tukang loketnya?" Tebak Kenzo, spontan dibalas gelengan kepala oleh gadis itu.


"Iih, bukan!"


Mulai bingung, pada akhirnya Kenzo memilih menyerah menebak-nebak. "Ya, terus?"


"Gue takut ketinggian!" Pekik Wanda, kemudian mulai menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Sempat terdiam sejenak, detik berikutnya, Kenzo terkekeh pelan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Itu doang?" Wanda tak menjawab dan memilih untuk terus menyembunyikan wajahnya yang memerah padam.


Perlahan namun pasti, Kenzo meraih salah satu tangan Wanda, kemudian menggenggamnya. Perhatian gadis itu pun perlahan mulai kembali beralih menatap Kenzo dengan tatapan polosnya.


"Lo gak perlu takut. Ada gue yang jagain lo." Ujar Kenzo, kemudian menarik lembut Wanda ke dalam bianglala yang telah siap menunggu mereka.


...****...

__ADS_1


"Aaak! Kenzo, gue mau turun aja, ah! Ngeriiii!" Belum ada sekitar lima menit menaiki bianglala, Wanda sudah menjerit ketakutan dengan sepasang bola matanya yang terpejam.


Oh, jangan lupakan kedua tangannya yang menggenggam erat besi bianglala sebagai alat baginya untuk berpegangan.


Di sisi lain, bukannya menolong, Kenzo malah terkikik geli melihat tingkah Wanda yang melebihi seorang anak kecil. Umur doang gede, tapi nyalinya ciut.


"Sini, sini, pegangan sama gue. Gitu aja takut," Kenzo menarik kedua tangan Wanda, kemudian menggenggamnya dengan sangat erat.


Perlahan, Wanda mulai memberanikan diri untuk membuka matanya. Dan ketika baru saja gadis itu membuka sebelah namanya, ia lagi-lagi menjerit dengan kedua tangan yang kian menggenggam erat tangan Kenzo.


"Ini kapan turunnya, sih? Kok, malah makin tinggi?"


"Eeh, kok malah merem lagi? Melek, dong. Gue mau ngomong sesuatu nih. Biasa, momen romantis," Kenzo lagi-lagi terkikik geli, membuat Wanda tanpa sadar berdecak sebal serta membuka sepasang bola matanya menatap cowok itu dengan tatapan sinis.


"Romantis your eyes! Bisa gak sih jangan di tempat yang ketinggian gini? Yang biasa-biasa ajalah nyari scene romantisnya. Yang ada gue trauma tahu, gak!" Ketusnya, semakin membuat Kenzo gencar untuk menggoda gadis itu.


"Jutek banget, sih. Ngomong-ngomong, harus didengerin, ya! Entar lo nyesel lagi,"


Wanda mendengus dengan kepalanya yang menoleh ke samping. "Iya, didengerin."


Mendengar jawaban Wanda yang masih sama ketusnya, lagi-lagi membuat Kenzo tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum.


Namun tak berlangsung lama, raut wajah cowok itu langsung berubah serius dengan tatapannya yang lembut tertuju pada Wanda.


"Wan!"


"Hm."


"Lo sayang gak sih, sama gue?" Tanya Kenzo. Sedikit membuat Wanda tertarik akan pertanyaan dari cowok itu.


"Kok, lo nanya gitu, sih? Lo pikir kenapa gue mau jadian sama lo kalo gue gak sayang sama lo?" Balas Wanda, lagi-lagi terdengar jutek dan ngegas.


"Iya juga, ya," Kenzo tertawa kecil, seketika membuat Wanda lagi-lagi dibuat salting.


"Em, kalo gitu ... lo cinta gak sama gue?" Lanjut Kenzo. Tatapannya belum berubah sama sekali dan semuanya sanggup membuat Wanda terbawa dalam suasana.


"I-iyalah! Ih, kok lo nanya-nanya gitu, sih? Demen banget, ya, lo bikin gue salting!" Wanda mengerucutkan bibirnya. Kedua pipinya pun tanpa sadar mulai bersemu.


"Serius salting? Berarti, posisi gue di sini berpengaruh banget dong, ya,"


"Tahu ah! Nanya yang lain, please," ujar Wanda, berusaha menyembunyikan senyumannya.


"Oke, kalo gitu gue langsung to the point aja, ya,"


"Hm, cepetan."


"Em, lo mau gak nikah sama gue?" Detik itu juga, ekspresi wajah gadis itu langsung berubah kaku dengan sepasang bola matanya yang terbelalak.


"A-apaan sih, lo? Kok tiba-tiba? Nikah muda maksudnya?" Tanya Wanda, setelah hampir cukup lama ia terdiam menahan degup jantungnya yang kian berdegup kencang.


"Maksud gue bukan sekarang. Tapi, lo mau gak nikah sama gue?"


"Ekhem. Itu sih, tergantung lo-nya setia apa enggak. Entar nemu yang lebih cantik, bening, glowing, lo malah putar haluan, lagi." Celetuk Wanda.


"Eh, lo tenang aja. Gue kalo udah bucin sama satu cewek, gue gak akan lirik yang lain lagi, apalagi yang se-uwaw elo!" Balas Kenzo, sedikit membuat Wanda mual mendengarnya.


"Masa sih? Gue denger-denger, lo sebelum sama gue, cewek lo di mana-mana, deh?"


"Ck, itu mah masa lalu. Sebelum gue sadar dan nemu yang lebih baik." Wanda lagi-lagi terdiam mendengar perkataan dari cowok itu. Mulutnya tiba-tiba terkatup rapat seolah terkunci.


"Jadi, lo mau gak?" Tanyanya lagi, seketika membuyarkan Wanda dari apa yang tengah ia pikirkan.


"Ekhem. Lo gak lagi ngelamar gue, 'kan?" Wanda mencoba bertanya dengan nada datar, padahal dalam hatinya yang terdalam ia telah benar-benar dibuat gugup.


"Ya kali. Kalo mau ngelamar ya, bukan di sini. Tapi ke rumah lo sambil bawa orangtua. Gue cuma mau ngasih satu hal sama lo,"


"Apa?"


Kenzo terdiam sejenak mencoba untuk kembali meyakinkan dirinya. "Rasa sayang dan cinta gue tulus sama lo, Wan. Tapi karena guenya belum lulus, gue boleh minta satu hal gak?"


"Ish! Lo dari tadi bilangnya 'minta satu hal, minta satu hal,' tapi gak diomongin. Ya udah, apa? Gue udah penasaran, nih." Mana jantung gue deg-degan, lagi. Lanjut Wanda dalam hati.


"Ekhem, kalau gitu ... lo bisa, gak, kasih gue waktu sekitar empat tahun lagi?" Ucap Kenzo. Saat itu juga, perasaan menggebu dan lain sebagainya yang bersinggah di dalam hati gadis itu langsung lenyap. Jantungnya yang semula berdegup kencang pun kini terasa melemah.


"Maksudnya?"


"Maksud gue ... kuliah! Kuliah 'kan waktunya empat tahun? Jadi, gue berencana setelah lulus kuliah, gue pengin halalil lo gitu," papar Kenzo. Masih sempat-sempatnya menggoda Wanda, padahal hal yang tengah ia bicarakan ini cukup serius.


"Ih! Gue kirain lo mau ninggali gue! Kuliah doang, nih?" Tanya Wanda. Raut wajahnya berubah berbinar dengan sesekali mencoba menahan senyumnya.


"Hm, pengennya sih, kalau bisa sekarang juga gue nikahin lo. Sayangnya, SMA gak ngebolehin siswanya punya status lain selain pelajar. Beda banget sama yang kuliahan," ujar Kenzo, tanpa sadar membuat Wanda mengulum senyumnya dengan pipinya yang sedikit bersemu.


"Heh! Lo tuh masih SMA! Ngebet banget pengin cepet-cepet nikah. Emang lo mau ngapain, sih?"


"Lo nanya?" Tatapan Kenzo berubah misterius dengan salah satu alisnya yang terangkat. Sedikit membuat Wanda menyesal telah mengatakan pertanyaan barusan.


"Enggak! Anggap aja lo gak denger apa-apa," ucap Wanda, seraya mengalihkan perhatiannya dari cowok itu.


"Gue pengin-"


"Gue gak mau denger! Udah pasti jawaban lo yang aneh-aneh." Sela Wanda, tanpa berniat menatap ke arah Kenzo sedikit pun.


"Yakin?" Tanya Kenzo. Seulas seringaian terbit di wajah tampannya.


"Yak-"


Cup!


"Hm? Gimana?" Kenzo tersenyum puas selepas dirinya dengan secepat kilat mencuri kecupan tepat di bibir gadis itu. Belum sempat ia mengatakan kalimatnya, dengan seenak jidat cowok itu menyelanya dengan cara yang tak biasa.


Ingin marah, tapi tak bisa! Sisi dalam dirinya yang lain berkata bahwa dia menyukainya. Namun sisi dalam dirinya yang satunya lagi berkata untuk marah dan mengatakan segala apa pun yang tersimpan dalam kepala.


Jadinya, ya, Wanda dilema. Dan sialnya, ia yang tipikal bermulut bawel mendadak bisu dengan kepalanya yang menoleh ke samping.


"Tumben diem? Biasanya juga kalau gak ceramah, ya, tangannya timpuk sana timpuk sini."


"Lo bisa diem gak sih- Aaak!" Wanda refleks memekik bersamaan dengan bianglalanya yang berhenti berputar. Kedua tangannya pun refleks mencari pegangan dengan sepasang bola matanya yang terpejam.


"Huwaaaa! Ini kenapa tiba-tiba berhenti, sih? Bilang kalo ini cuma prank? Please ... gue belum mau mati mudaaaa ..." Wanda lagi-lagi berteriak, membuat beberapa pasang mata yang berada di bianglala lain maupun yang berada di bawah sana refleks memerhatikan ke arah mereka.


Beruntung bianglala yang mereka tempati tepat berada di paling puncaknya, sehingga mereka tidak dapat melihat dengan jelas raut wajah Wanda yang cukup menyedihkan.


Namun sialnya, hal ini membuatnya gemetaran setengah mati.


Setelah ini, Wanda akan baik-baik memberikan Kenzo pelajaran karena telah membuat dirinya trauma menaiki wahana menyebalkan ini. Awas saja nanti!


"Eeh, sembarangan mati muda! Terus gue gimana, dong?" Kenzo masih sempat-sempatnya menggoda Wanda, sehingga menyebabkan gadis itu malah menangis sejadi-jadinya.


Sontak cowok itu dilanda panik saat menyaksikan Wanda menangis dengan air matanya yang bercucuran.


"Eh, lo-"


"Lo jahat tahu, enggak! Gue mau turuunnnn! Gue gak mau naik wahana ini lagi! Turunin gueee ..." Pekik Wanda lagi. Semakin membuat Kenzo panik dan bingung di waktu bersamaan.


"I-iya, maaf. Gue gak tahu kalo bakal kayak gini jadinya. Tapi, palingan juga gak bakal lama." Mana gue nyuruhnya sepuluh menit lagi baru dijalanin, lagi, aduh! Rutuk Kenzo. Ia tidak pernah menyangka bahwa nyali gadis itu seciut ini hanya karena ketinggian bianglala.


"Jangan nangis lagi dong! Pegangan sama gue sini. Gue yakin gak lama lagi pasti jalan lagi," ujar Kenzo, merasa bersalah. Salah satu tangannya terangkat mengusap sisa air mata di wajah Wanda yang masih menggenang. Dan tangan satunya lagi ia gunakan untuk menggenggam tangan Wanda untuk mencoba menenangkannya.


Ketika Wanda sudah mulai sedikit tenang, Kenzo dengan lembut mengecup punggung tangan gadis itu beberapa kali.


"Maaf." Lirihnya, tanpa sadar membuat Wanda merasakan sedikit aman dan nyaman hanya karena ucapan permohonan maaf dari Kenzo.


Tak berapa lama kemudian, bianglala kembali berjalan dengan normal. Helaan napas lega akhirnya dapat Wanda embuskan.


Bukan ini yang gue mau! Gue maunya pas di titik paling atas kita romantis-romantisan ini kek, apa kek. Ini malah kek bencana! Fix, gagal! Batin Kenzo menggerutu.


^^^To be continue....^^^


Halo~ aku baru update, maaf! Sbnernya aku baru aja sembuh dua hari yg lalu, jdinya selama pas lgi sakit aku gk ngetik dulu. jadinya yah gitu, naskahnya beresnya telat. Dan bbrpa hari sblm acara dibagi raport tuh aku smpet depresi sbntar, dan stlh dibagi raport-nya eh malah jatoh sakit! Dahlah, ya. Lemah sekali diri ini wkwk. Mungkin karena nilai sama peringkatnya gk sesuai sama ekspektasi, jdinya terus kepikiran smpe sakit:') pdhl perasaan aku gk se itu kok:v tpi kok malah ...? And, by the way, full eps kli ini ceritanya Kenzo sama Wanda dulu, ya. Soalnya mau bkin kenangan manis yg gk pernah terlupakan, aseeekkk!


Mungkin segitu aja dulu untuk kali ini. Buat kalian yg senasib kek aku jangan lupa terus bersabar dan ttp semangat! Jgn smpe berakhir kyk aku ini, ya, hehee. See you next time:*

__ADS_1


__ADS_2