Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 18


__ADS_3

"Kanza!" Seorang gadis yang sebaya dengannya memanggil nama Kanza.


"Bisa kasih kue ini ke Kenzo, gak? Bisa, yah! Bilangin, ini dari gue!" Gadis itu menghampiri Kanza sembari menyogok-nyogokan sebuah kotak berukuran sedang yang katanya berisi kue.


"Kenzo gak suka kue." Perkataan Kanza, membuat raut wajah gadis itu berubah menjadi dingin. Tangannya yang semula masih memegang kotak kue, kini kotak tersebut sudah ia banting tepat di hadapan Kanza.


Kanza jelas terkejut dengan perlakuan gadis di hadapannya ini. Pikirnya, gadis itu akan bertanya basa-basi seperti yang dilakukan gadis-gadis lain ketika Kanza berusaha menolak untuk menerima hadiah yang mereka berikan untuk Kenzo seperti barusan.


"Gak usah pelit jadi orang! Lo pikir lo siapa? Gue cuma mau deket sama Kenzo, itu aja kok! Lo kok sewot, sih!?"


Kanza mengernyitkan dahinya seraya terus menatap gadis itu. "Sewot?"


"Lo tuh cuma kembarannya! Gak usah ngeralang-larang, deh. Lo pikir Kenzo bakal terus ada buat lo dan jagain lo? Heh, mikir! Dia bukan bodyguard yang bakal selalu jagain cewek lemah kayak lo!" Penuturan kejam gadis itu membuat Kanza terdiam seraya menunduk.


Benar. Kenzo bukanlah bodyguard-nya. Ia adalah saudara kembarnya, dan Kanza masih terus mengekang Kenzo.


Pasti Kenzo juga membutuhkan kebebasan. Ini semua karena dirinya yang tidak bisa bergaul dengan baik seperti kebanyakan anak-anak lain.


Kanza melengos memilih untuk tidak membalas perkataan gadis itu. Namun, bukannya gadis itu membiarkan Kanza pergi, dia malah dengan kasar menarik tangan Kanza, lalu menghempaskan tubuhnya sampai terjungkal ke tanah.


"Mau ke mana? Gue masih belum selesai, asal lo tahu!"


Kanza tidak dapat berbuat apa-apa. Gadis itu hanya meringkuk seraya menangisi nasibnya yang selalu mendapat perlakuan tak menyenangkan dari teman-teman sekolahnya.


"Kak, aku mohon. Jangan gangguin aku!" Kanza memohon ketika gadis di hadapannya hendak memukulinya dengan penggaris besi yang ia keluarkan dari dalam tasnya.


Gadis itu malah tertawa sarkas, kemudian membuang penggaris itu sembarangan. "Oke. Gak akan gue pukul! Tapi, lo harus ikut gue!" Gadis itu menarik paksa Kanza, memaksanya untuk berdiri.


Ketika Kanza sudah mulai berdiri, gadis itu lantas kembali menariknya sampai di depan toilet lama yang sudah tidak dipakai lagi.


Kanza sudah takut luar biasa. Apalagi ketika aroma busuk dari dalam toilet sekolahnya itu membuatnya semakin enggan berlama-lama berada di sana.


"Kak, ini—" belum sempat Kanza menyelesaikan ucapannya, gadis itu yang juga adalah seniornya langsung mendorong tubuh Kanza ke dalam toilet itu.


"Uhuk, uhuk! Bau!" Kanza menutup lubang hidungnya saat aroma bau busuk semakin menyeruak.


"Lo diem-diem dulu deh, di sini! Jangan lupa teriak minta tolong!" Gadis itu kemudian tersenyum puas.


Setelahnya, ia mulai menutup pintu toilet dan menguncinya. Gadis itu sengaja tidak membuang kunci toilet tersebut, dan malah menggantungkannya dengan sengaja.


"Lo masih bisa keluar, kok. Tenang aja! Kuncinya masih gue gantungin di sini!" Teriak gadis itu sebelum pada akhirnya dia mulai pergi meninggalkan toilet.


"Eh, bentar!" Gadis itu menghentikan langkah kakinya, kemudian kembali ke hadapan pintu toilet itu.


"Gue mau bilang satu hal! Mending lo jauh-jauh dari Kenzo! Jangan bebanin hidup dia lagi! Percuma dia hidup kalo ujung-ujungnya cuman buat jagain lo doang!" Setelah mengatakan hal itu, gadis itu pergi dari sana.


Meninggalkan Kanza yang masih terkunci di dalam toilet tua itu seraya menangis dan menahan napasnya.


"Mamih... tolongin Kanza... Kanza gak kuat..." Kanza meracau sambil menangis, berharap maminya yang ia panggil datang padanya dan menyelamatkannya.


Di saat seperti ini, jika bukan maminya yang selalu ia panggil, Kenzo adalah kemungkinan terbesar yang akan selalu ada untuknya kapanpun ia membutuhkan bantuan.


Tetapi, mengingat perkataan seniornya barusan, membuat Kanza berpikir dua kali untuk memanggil Kenzo. Ia jadi merasa sangat berdosa, jika harus Kenzo lagi yang ia mintai bantuan.


Namun, selain Kenzo, siapa lagi yang akan menolongnya?


Pada akhirnya, Kanza hanya bisa menangis seraya memeluk tubuhnya. Tidak ada yang tahu posisinya di mana saat ini. Dan, kemungkinan besar, ia akan terus berada di sini sampai besok pagi.


"KANZA!" Mendengar suara sahutan yang amat ia kenali, membuat Kanza spontan mengangkat kepalanya yang semula menunduk.


"Kanza! Kamu di mana? Ini aku, Kenzo!"


Gadis itu terdiam, namun detik selanjutnya ia mulai kembali menangis dengan suara yang semakin keras.


"Kenzo... tolong..." pada akhirnya, Kanza kembali memanggil nama Kenzo. Gadis itu berteriak seraya menggedor-gedor pintu toilet, berharap Kenzo dapat mendengarnya.


Tak lama kemudian, suara langkah cepat terdengar menghampirinya. Pintu toilet yang terkunci pun perlahan mulai terbuka. Dan seseorang yang baru saja membukakan pintu tersebut tak lain dan tak bukan ialah Kenzo.


"Kanza?" Kenzo memanggil nama kembarannya dengan suara pelan. Laki-laki itu terlihat terkejut melihat betapa tragisnya Kanza saat ini.


Kanza tidak menyahuti Kenzo. Gadis itu mulai berdiri dari posisinya, kemudian memeluk Kenzo dengan derai air mata.


Selalu seperti ini. Ia memanggil nama Kenzo maupun tidak, kembarannya ini selalu dapat menemukannya.


"Siapa yang ngelakuin ini?"


Kanza menggeleng-gelengkan kepalanya seraya semakin memeluk Kenzo. "Jangan kasih tahu Mami sama Papi! Kanza gak mau jadi beban buat mereka!"


Kenzo menghela napasnya seraya terus mengepalkan kedua tangannya. Laki-laki itu perlahan mulai melepaskan pelukan kembarannya.


"Hm. Kalau gitu kita pulang," ucap Kenzo, kemudian berlutut di hadapan Kanza. "Naik." Perintahnya, menyuruh kembarannya untuk naik ke atas punggungnya.


Gadis itu menatap punggung kecil kembarannya sejenak, kemudian mulai naik ke atas punggungnya seperti yang Kenzo perintahkan.


Kenzo mulai berdiri dari posisinya seraya menggendong Kanza. Laki-laki itu dengan kekuatan penuh menggendong kembarannya keluar dari dalam toilet.

__ADS_1


"Kalau ada apa-apa, jangan lupa panggil aku, Za!"


Kanza membelalakan kedua matanya seraya bangkit dari posisi terlentangnya. Ia baru saja bermimpi kembali pada kejadian semasa kelas 5 SD dulu.


Semenjak kejadian itu, ia jadi sering murung di rumah apalagi di sekolah. Ia juga mulai menyuruh Kenzo untuk tidak terlalu dekat dengannya.


Kanza tidak ingin terus membebani Kenzo.


Dan sejak saat itu, Kanza mulai pindah ke sekolah lain. Dan perjanjian soal menyembunyikan status keduanya dimulai sejak saat itu.


Oh, ya. Soal Kanza yang bisa bela diri juga ia dapatkan dari Kenzo yang mengajarinya. Tentu saja sebelum Kenzo benar-benar menyetujui permintaan Kanza soal menyembunyikan identitas mereka, Kenzo memberikan syarat-syarat yang harus dilakukan oleh Kanza.


Dan salah satunya harus bisa melawan dengan ilmu bela diri ketika ada orang lain yang mengganggunya. Dan yang paling penting, harus menjadi perempuan tangguh, agar tidak mudah ditindas oleh orang lain.


Kanza mulai mengembuskan napas berat. Gadis itu kemudian melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 5 pagi


Karena sudah jam segini, Kanza memilih untuk tidak melanjutkan tidurnya. Lebih baik ia ke kamar mandi untuk bersiap pergi ke sekolah.


...****...


Sedari tadi, Kenzo tak henti-hentinya terus mengulum senyum di wajahnya. Cowok itu masih memikirkan kejadian kemarin sore yang mempertemukannya dengan perempuan cantik, walaupun memiliki temperamen yang cukup galak.


Mengingat wajah perempuan itu yang begitu dongkol dan kesal karenanya, membuat Kenzo kembali mengingat momen kemarin sore.


"Gue masih SMA. Buku lo baru beli, kan? Ya udah, naik. Gue beliin lagi deh, yang baru buat lo. Oke, gak?" Penuturan Kenzo membuat perempuan di hadapannya langsung membelalakan kedua bola matanya seraya menatap Kenzo.


"Lo masih SMA?" Tanpa pikir panjang, Kenzo mengangguk. Perempuan itu terlihat mengembuskan napasnya sedikit kecewa.


"Kenapa? Kecewa, ya? Fix! Gue saat ini pasti kelihatan ganteng banget, iya kan?" Perempuan di hadapannya langsung menatap tidak percaya ke arah Kenzo.


"Lo bilang apa barusan? Ganteng banget? Kepedean banget lo!"


Kenzo memundurkan sedikit langkah kakinya seraya senyam-senyum sendiri. Ia juga mulai menaiki kembali motornya seraya menghidupkan mesin motor. "Oke, gue gak bercanda lagi. Naik!"


Perempuan itu terlihat merengut dengan otak kecilnya yang terus berpikir. "Mau ngapain?"


Kenzo menghela napasnya seraya kembali menuruni motornya, kemudian berjalan ke arah perempuan itu. "Lo bilang gue harus tanggung jawab. Gimana, sih! Ya udah, buruan naik!" Perempuan itu tidak langsung menjawab perkataan Kenzo, malah memanyunkan bibirnya.


Kenzo mulai kembali menaiki motornya seraya memakai helm. Melihat perempuan itu yang masih bergeming seraya menatapnya, mau tidak mau Kenzo harus kembali menyahutinya.


"Buruan naik! Gue masih ada kerjaan di rumah, harus buru-buru balik." Sahutan Kenzo, membuat perempuan itu langsung menaiki motornya.


"Iya, iya! Bawel banget jadi cowok!"


Kenzo tak membalas lagi. Cowok itu malah tersenyum puas di balik helm yang ia kenakan.


Perempuan itu kaget luar biasa. Bagaimana kalau sampai dirinya terjungkal?


"Woi! Lo sengaja, ya!" Perempuan itu berteriak meneriaki Kenzo.


"Makanya kalo dibonceng pake motor tuh, harus pegangan." Ujar Kenzo, membuat perempuan itu berdecak seraya mencebikkan bibirnya.


"Btw, gue belum tahu nama lo!" Kenzo berteriak disela menjalankan motornya.


Perempuan itu terlihat cemberut, namun pada akhirnya membalas ucapan cowok itu. "Kenapa?"


Kenzo mengernyitkan keningna. "Kok, kenapa!? Gue pengen tahu lah."


"Lo gak perlu tahu! Lagian kita gak akan ketemu lagi." Judes perempuan itu.


Kenzo tidak habis pikir dengan tingkah garang plus judes perempuan yang tengah ia bonceng itu. Pikirnya, kenapa galak banget jawabnya?


Tanpa aba-aba, motor yang dikendarai Kenzo mengerem mendadak. Perempuan itu yang posisi duduknya sudah mepet gara-gara takut terjungkal, jadi semakin mepet ke depan.


"Iiihh!!! Dasar mesum!!! Sengaja, ya?!" Perempuan itu dengan suara lantang meneriaki Kenzo.


Mendengar perempuan di belalangnya mengatai dirinya mesum, membuat Kenzo langsung melotot seraya menolehkan kepalanya.


"Sembarangan gue dikatain mesum! Noh, di depan ada bocil tiba-tiba lari! Ya kali gue tabrak? Gue juga gak bermaksud kali."


Perhatian perempuan itu langsung beralih menatap ke depan yang katanya ada seorang anak kecil yang tiba-tiba berlari.


Dan benar saja. Di depan sana sudah ada seorang anak kecil yang terjatuh, mungkin karena syok, anak kecil itu juga terlihat menangis.


"Oh!" Perempuan itu lantas turun dari atas motor Kenzo dan menghampiri anak kecil tersebut yang usianya sekitar 3-4 tahunan.


"Duhh... kaget, ya?" Perempuan itu mulai memangku anak kecil itu.


"Emak-nya kemana, sih? Lalai banget jadi orang tua," Kenzo gemas sekaligus kesal.


Kalau dirinya tadi telat sedikit saja tidak mengerem motornya, mungkin saat ini sudah lain cerita.


"Andi!" Suara seorang wanita dari kejauhan terdengar menyahut ke arah Kenzo, dan perempuan itu.


Keduanya kompak mengalihkan perhatian pada seorang wanita setengah baya yang berlari dengan derai air mata.

__ADS_1


"Andi! Kamu kemana aja, hm? Ibu nyariin kamu ke mana-mana. Ibu bilang jangan jauh-jauh dari Ibu!" Wanita setengah baya itu langsung merebut anak kecil yang berada di gendongan perempuan itu.


"Bu! Lain kali anaknya dijaga baik-baik. Barusan anak Ibu lari-larian hampir ketabrak, untung motornya langsung saya rem. Gimana kalau—" perkataan Kenzo langsung terjeda saat sikut seseorang menoel lengannya.


Dan yah, pelakunya tak lain adalah perempuan yang masih belum diketahui siapa namanya itu. Ia terlihat mengode Kenzo agar diam dan tidak melanjutkan perkataannya.


"Maaf. Lain kali saya tidak akan lalai lagi." Setelah mengatakan kalimat itu, wanita yang diyakini adalah ibu kandung dari anak kecil tadi langsung pergi.


"Gitu doang?" Kenzo menatap tidak percaya pada punggung wanita itu yang semakin menjauh.


"Ish! Biarin aja kenapa, sih! Bawel banget jadi cowok!" Perempuan itu berdecak, seraya memandangi Kenzo sinis.


Sedangkan Kenzo hanya mendengus, kemudian berjalan ke arah motornya dan mengambil kunci motor yang belum sempat ia ambil.


"Ya udah. Lupain yang barusan. Kita masuk dulu aja, gimana?" Perempuan itu mengernyitkan dahinya. "Ke mana?"


Kenzo berdecak, kemudian mengambil salah satu tangan perempuan itu. "Ke toko buku, gantiin buku-buku lo yang basah." Ucapnya.


Perempuan itu langsung mengedarkan tatapannya ke segala arah. Ia baru sadar, bahwa keduanya saat ini telah berdiri tepat di depan sebuah gedung toko buku.


Setibanya di dalam, perempuan itu langsung mengambil beberapa buku tanpa merasa sungkan.


Pikirnya, toh, cowok itu yang bilang sendiri bakal tanggung jawab! Siapa suruh naik motor gak hati-hati!


"Udah." Perempuan itu menyahuti Kenzo yang sedari tadi hanya diam seraya menyandarkan punggungnya di tembok.


Cowok itu tampak tersadar, kemudian menghampiri perempuan itu. "Cepet banget. Segitu doang?"


"Iya." Balas perempuan itu singkat.


Kenzo manggut-manggut namun posisinya tidak berubah sedikitpun. Perempuan di hadapannya tentu saja merasa sedikit was-was. Jangan-jangan tuh cowok cuma pura-pura mau tanggung jawab lagi!?


"Heh! Kok masih diem! Bayarin! Udah janji lho, tadi!" Perempuan itu menyahut cukup keras, membuat beberapa orang yang berada di sekitar meliriknya.


"Iya, iya. Tapi, dengan satu syarat!" Ujar Kenzo, spontan perempuan itu memutar bola matanya kesal. "Apaan?"


"Nama lo sama nomor WhatsApp lo!"


Perempuan itu berdecak, "Wanda, 08—"


"Wei, wei, wei! Sabar dong! Gue keluarin dulu handphone gue!" Kenzo menjeda perkataan perempuan itu yang katanya bernama Wanda.


"Siniin handphone lo! Takutnya lo bohong lagi," perempuan bernama Wanda itu tersenyum paksa seraya mengeluarkan ponselnya seperti yang diminta cowok bawel plus nyebelin di hadapannya.


"Nih! Gak pake password, lo tinggal buka aja. Gak usah nanya-nanya lagi." Sarkasnya, membuat senyum di wajah Kenzo terbit seketika.


"Sementara gue mainin handphone lo bentar, nih bayarin sendiri!" Kenzo menyerahkan sebuah sebuah kartu ATM pada Wanda. Perempuan itu menerimanya dengan berbagai kecurigaan.


"Seandainya kalau ATM lo gak ada isinya, gue jual motor lo, ya!" Ancamnya, dan Kenzo hanya manggut-manggut tidak peduli.


"Woii! Ngelamun ae lu! Mikirin apaan, dah!!" Sebuah gebrakan meja diiringi suara nyaring yang teramat Kenzo kenali, membangunkan cowok itu dari lamunan indahnya.


Kenzo berdesis kemudian menatap Juna, sang pelaku utama, yang kini telah berdiri tepat di hadapannya dengan ekspresi nyengir tanpa dosa.


"Jun, lo udah bosan hidup? Sini lo! Gue geprek pala lo!" Kenzo mulai bangkit dari kursinya hendak mengejar Juna.


Sayangnya, Juna sudah ngacir duluan. Tidak ingin langsung kalah begitu saja, Kenzo mengejar Juna sampai cowok itu kelabakan dibuatnya.


^^^To be continue...^^^


Maaf, baru up🙏


Di eps ini kebanyakn flash back ya. Apalagi soal mimpinya Kanza yang pernah terjadi dulu waktu masih SD. Besok klo gk ada hambatan atau lgi bnyk waktu, insya Allah update, tpi klo nggak berarti lgi bnyk kerjaan:')


...Kenzo



...


...Kanza



...


...Wanda



...


...Juna


__ADS_1


...


__ADS_2