
"Zo, ampun, Zo! Badan gua gede, Zo! Gua gak bisa menandingi lo!" Juna sudah dibuat ngos-ngosan setengah mati oleh Kenzo.
Ya. Cowok itu terus mengejarnya sampai keduanya saat ini berada di dalam sebuah kantin sekolah yang cukup ramai.
"Bodo! Gua tinggal nyamperin lo doang, terus habis itu kasih pelajaran." Kenzo mengembangkan senyum jahatnya teruntuk Juna.
Juna masih ngos-ngosan. Cowok itu tengah berdiri menghadap Kenzo, dengan bangku dan meja kantin sebagai penghalang jarak antar keduanya.
"Woi, woi, woiii!!! Minggir! Orang ganteng mau lewat!" Azka yang baru saja selesai memesan bakso, hendak menduduki bangku kantin yang berada di antara Kenzo dan Juna.
"Aduhaaii, si Juna hari gini masih berdiri ngalangin aja! Minggir, wei! Kalo lo gak mau minggir, gue tendang lo!" Haykal yang juga baru tiba di tempat itu setelah Azka, langsung menggeser tubuh Juna agar sedikit memberikan ruang baginya untuk duduk diam menikmati semangkuk bakso.
"Lo berdua bisa cari tempat duduk lain aja gak, sih? Gue lagi memperjuangkan hidup gue, nih! Si Kenzo udah siap nyergap gue hidup-hidup." Penuturan Juna, mendapat respon ngakak dari Azka dan Haykal.
Tak selang berapa lama ketika mereka masih tertawa ngakak, Rio dan Alex datang ke meja mereka dengan masing-masing membawa sepiring mie goreng dan nasi goreng.
"Pada ribut apaan, nih?" Rio ikut mendudukkan diri di bangku lain yang pososinya berhadapan dengan Azka dan Haykal.
"Biasa. Gue lagi siap-siap menguliti hidup-hidup si Ajun Pramono!" Tatapan Kenzo masih tertuju pada Juna yang terlihat menelan ludahnya susah payah.
"Siapa Ajun Pramono, anj*r! Baru denger gue!" Azka tengah mengunyah makanannya, tetapi mulutnya tetap sewot seperti biasa.
"Ngadi-ngadi si Kenzo!" Haykal terkikik geli, namun fokusnya hanya tertuju pada semangkuk bakso miliknya yang masih setia ia aduk.
"Gue udah bosen liat lo berdua begini mulu! Dari kemaren juga!" Alex mendengus, setelah sekian lama diam dan memakan nasi gorengnya.
"Lha, kemaren? Kapan, Lex? Perasaan kemaren gak ada yang spesal sama mereka?" Azka menyahut.
"Ada, pas di tempat pelatihan tinju kemaren!"
"Hah!? Lo semua ke pelatihan tinju? Sombong amat kagak ngajak-ngajak gua anj*r!" Mendengar penuturan Alex, membuat Haykal sontak menggebrak meja seraya menyuarakan kekesalannya.
"Lha, orang gue juga kagak ikut!" Rio menyela.
"Gue juga kagak. Eyang gue kagak tahu kenapa, nyuruh-nyuruh gue buat ikut dia ke Jogja. Mana pas jam 10 malem gue balik lagi ke sini lagi. Untung gue kagak mabok darat," Azka ikut menimpali seraya sedikit menjelaskan kondisinya yang terjadi kemarin malam.
"Lo kemaren kita teleponin tapi kagak diangkat-angkat. Ke mana aja lo! Mojok?" Celetukan Juna, mendapat tawa sarkastik dari Haykal.
"Iye! Ngape lu? Iri bilang boss!" Ucap Haykal, membuat teman-temannya yang terdiri dari Kenzo, Juna, Alex, Rio, dan Azka, menanggapinya dengan kekehan kecil.
Pikir mereka, paling hanya alasan doang!
"Jun! Gue laper, nih! Beli cilok, kuy!" Kenzo menyahuti Juna yang masih dalam posisi berdiri siap sedia.
Juna tidak langsung menjawab sahutan dari Kenzo. Cowok itu malah melirik sinis Kenzo seraya mencebikkan bibirnya. "Ihh! SKSD sekali Anda! Tadi aja lo ngejar-ngajar gue kayak rentenir. Sekarang ngajak-ngajak gue jajan cilok. Lo aja sana! Gue maunya baso aci, bukan cilok!" Mendengar perkataan Juna sontak mendapat respon ngakak dari teman-temannya.
Apalagi Azka yang baru saja memasukkan baksonya yang berukuran kecil ke dalam mulut. Mendengar perkataan Juna spontan membuat baksonya langsung meloncat keluar dan mendarat di atas meja.
"Jun, lo harus tanggung jawab! Bakso terakhir gue sial*n!" Pekik Azka, membuat seisi kantin langsung menoleh ke arah meja mereka.
"Ya elah, bakso kecil gitu doang! Minta lagi sono sama Eyang lo! Masa cucu mantan bupati kok perhitungan sama bakso segede menel,"
Azka sudah kehilangan kesabarannya. Cowok itu ingin marah, tapi ia urungkan. Ujung-ujungnya, cowok itu memilih diam merenung dengan raut wajah masam.
"Elah, Ka! Ngambek lo?" Rio dengan tampang santuy-nya bertanya pada Azka.
Udah tahu ngambek, masih aja ditanya!
"Jun! Minta maaf sono lo! Lo baru aja bikin cucu mantan bupati ngambek! Siap-siap entar kalo rumah lo kebanjiran, lo gak bakal diselametin, lho!" Kenzo bukannya diam, malah mengompori. Membuat raut wajah Azka semakin ditekuk kesal.
"Kok, gue, sih? Itu baksonya muncrat sendiri anj*r! Gue gak ada campur tangan sama sekali! Serius, demi Alek dah!"
Alex yang merasa namanya baru saja disebut-sebut seenaknya oleh Juna, langsung melirik cowok itu dengan jurus tatapan dinginnya yang teramat menusuk.
"Ngapain lo manggil-manggil nama gue?"
Juna langsung panik mendegar Alex yang tiba-tiba menyelanya.
"Eh, enggak-enggak! Salah nyebut, tenang Lex!"
Rio, Haykal, dan Kenzo, mengembuskan napas berat. Sedangkan Alex hanya mendengus sebal seraya kembali menikmati nasi gorengnya.
Berbeda dengan Azka. Cowok itu mulai menghilangkan sedikit perasaan dongkolnya. Raut wajahnya pun tidak semasam sebelumnya.
"Ka! Walaupun 100% murni bakso di mulut lo yang muncrat gak ada campur tangannya sama gue, tapi gue dengan berbaik hati ingin mengganti bakso tersebut dengan yang baru. Gimana? Oke, gak?" Juna dengan perangai anehnya mulai berbicara hati-hati pada Azka.
Azka yang sedari tadi diam dengan pandangan ke arah lain, mulai mengembuskan napas seraya melirik ke arah Juna.
"Kagak! Jajanin gue rokok aja, gimana?" Perkataan Azka diiringi smirk di wajahnya membuat sekumpulan gengnya Kenzo langsung berseru heboh.
__ADS_1
Seisi kantin mendadak kembali melirik mereka berenam dengan penuh tanda tanya.
"Gila lo, Ka! Lo bikin si Juna jantungan aja. Ye gak, Jun?" Ucap Rio.
"Kagak. Gue kagak jantungan," timpalnya sok polos.
"Hah?! Lo gak punya jantung, Jun? Terus, lo bernapas pake apaan?" Kenzo ikut menyela.
"Pake paru-paru lah!" Jawaban Juna, sontak mendapat tawaan receh dari teman-temannya.
"Pinter! Gue pikir lo bakal jawab 'pake insang', Jun!" Timpal Haykal seraya menahan tawanya.
"Sembarangan! Lo pikir gue ikan?"
"Lha, kan elo ikan dugong, Jun!" Ucap Kenzo, membuat semua teman-temannya lantas terdiam seraya berpikir.
"Emang ikan dugong bernapas pake insang?" Pertanyaan nyeleneh itu keluar dari mulut Azka.
"Bukan. Pake jantung!" Serbu Kenzo, Rio, Juna, dan Haykal. Keempatnya kompak berucap demikian.
Sedangkan Alex yang masih berada di antara kelima teman-temannya hanya mengembuskan napas lelah seraya geleng-geleng kepala.
"Dugong bernapas pake paru-paru, bukan insang apalagi jantung." Gerutu Alex, tanpa ada seorang pun yang mendengarkannya.
...****...
"Za! Menurut lo, cowok kira-kira suka hadiah apa, ya?" Kayla yang sedang memainkan ponselnya di dalam kelas, tiba-tiba bertanya pada Kanza yang berada di depannya.
"Hah? Buat siapa emang?" Kanza langsung membalikkan tubuhnya menghadap Kayla. Tidak dengan Alma yang terlihat sibuk menuliskan beberapa kalimat di buku diary-nya.
"Mmm... ada, hehee." Ujarnya misterius. Alma yang teramat paham maksud dari ucapan Kayla langsung berdecak seraya geleng-geleng kepala.
"Buat si Juna lagi?" Perkataan Alma sontak membuat raut wajah Kayla mendadak panas. "Iiih, apaan sih! Eng-gak, kok." Jawabnya cepat.
Kanza diam-diam mengulum senyumnya sembari menatap Kayla. "Emang lo suka, ya, sama si Juna? Emang apa sih, yang lo lihat dari si Juna? Ganteng, ya? Atau... tinggi?" Pertanyaan Kanza, spontan membuat Kayla memelotot.
"Hah!? Kapan gue suka sama dia? I-ini buat sepupu gue," Kayla mengibaskan tangannya di sekitar area leher, seperti baru saja merasa kepanasan.
Alma sudah tidak tahan lagi dengan sikap Kayla yang sok jaim, langsung menaruh pulpen dan buku diary-nya, kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap Kayla dengan tatapan datar.
"Kayla! Lo gak usah nutup-nutupin lagi, deh! Gue udah pernah lihat lo di belakang sekolah ngasih sesuatu buat si Juna, tapi tuh orang nolak lo, kan? Gini, deh. Gue bilang gini ke lo karena lo sahabat gue. Si Juna masih belum bisa move on dari si Monika! Walaupun si Monika kecentilan ke si Kenzo, tetep aja tuh cowok sampe mati pun gak akan pernah bisa lupain si Nenek Lampir itu!" Ucapan Alma yang panjang lebar, membuat raut wajah Kayla seketika langsung murung.
Kanza yang melihatnya jadi merasa tidak enak. Jadi, Juna adalah cinta pertama gadis itu?
Hebat juga masih bisa bertahan sampai saat ini! Kalau itu Kanza, ia pasti akan segera melupakannya. Bagaimanapun, cinta pertama itu adalah cinta yang tidak akan pernah tergapai. Hanya beberapa persen orang yang mampu bertahan sampai menikah dengan cinta pertama mereka.
Alma mendengus kemudian mengusap kecil kepala Kayla. "Dah, dah! Belajar move on dari sekarang." Ucap Alma, Kayla langsung mengangkat kepalanya dengan raut wajahnya yang kembali seperti semula.
"By the way, Za! Lo pasti juga punya cinta pertama, kan? Kira-kira... berapa lama lo bisa lupain cinta pertama lo itu?" Kanza tersentak mendengar pertanyaan Kayla yang seperti tengah mengejeknya.
Cinta pertama?
"Iya, Za. Kasih tahu si Kayla cara-cara supaya dia bisa cepet-cepet move on. Kasian dia setiap kali sering ditolak sama si Juna." Timpal Alma yang mendapat desisan kesal dari Kayla.
Kanza tertawa miris seraya mengelus-elus dadanya. Ekspresi wajahnya berubah miris dan menyedihkan. Kayla dan Alma dibuat terheran-heran dengan sikap Kanza.
"Cinta pertama dari mana, woi! Gue dari kecil di rumah mulu gak pernah keluar. Gue bisa punya cinta pertama dari mana?"
Kayla dan Alma spontan membelalakkan kedua matanya. Kedua gadis itu menatap Kanza dengan tatapan tidak percaya.
"Za! Lo sepolos itu?" Pertanyaan itu keluar bukan dari mulut Kayla ataupun Alma.
Melainkan dari seseorang yang baru saja memasuki ruang kelas dengan diikuti teman-temannya yang lain. Yah, siapa lagi kalau bukan Kenzo dan para antek-anteknya, Alex, Rio, Juna, Azka, dan Haykal.
Kanza spontan mencebikkan bibirnya seraya menatap Kenzo sinis. "Kenapa? Semua gara-gara lo! Anak-anak cowok yang mau deketin gue jadi mikir dua kali karena sikap lo yang kasar itu!" Perkataan Kanza sukses membuat satu kelas termasuk gengnya Kenzo saling menatap terheran-heran.
"Lo berdua temen waktu kecil?" Azka menyahut, mewakili teman-temannya.
Sial!
Gue keceplosan!- Kanza merutuki dirinya sendiri dalam hati. Sedangkan Kenzo, cowok itu berdesis seraya mengurut pangkal hidungnya.
"Kalo dipikir-pikir, nama lo berdua kek couple. Kanza, Kenzo. Ya, gak?" Haykal menaik-turunkan kedua alisnya seraya menatap satu-persatu teman-temannya.
"Iya juga! Jangan-jangan...." Juna menggantungkan kalimatnya.
Kanza dan Kenzo sudah mulai was-was. Namun, keduanya sudah menyiapkan diri jika sewaktu-waktu hubungan antara keduanya sampai terbongkar.
"Jangan-jangan?" Alex sedari tadi sudah menahan emosinya saat Kanza mengatakan seolah-olah bahwa gadis itu dan juga Kenzo adalah teman sewaktu kecil.
__ADS_1
Demi apa pun Alex cemburu!
Juna yang melihat dengan jelas raut wajah Alex yang tampak menahan emosi, sontak saja tertawa. Namun, tawanya tak berlangsung lama ketika Alex semakin menatap ke arahnya dengan tatapan dingin.
"Jangan-jangan lo berdua jodoh lagi! Eaaaa!" Haykal dan Azka kompak berucap demikian, kemudian saling ber-high five ria.
Mendengar Haykal dan Azka berucap seperti itu membuat Alex semakin dibuat kesal. Cowok itu dengan langkah lebar pergi ke arah mejanya dan mulai menendang salah satu meja yang dilaluinya.
Satu kelas mendadak diam dengan berbagai pikiran masing-masing. Tak terkecuali dengan gengnya Kenzo yang mulai berpikir yang aneh-aneh.
Namun, ketika mereka hendak mengutarakan pemikiran mereka, seorang guru mulai memasuki kelas mereka, membuat satu kelas refleks berlari ke arah meja mereka masing-masing.
...****...
Sudah sekitar lima menit yang lalu, Haykal berdiri seraya sedikit menyembunyikan dirinya di lorong kelas XII IPA.
Sebelumnya, cowok itu meminta izin terlebih dahulu untuk pergi ke toilet kepada guru yang mengajar di kelasnya. Padahal, Haykal sama sekali tidak pergi ke toilet, melainkan pergi ke kelas dua belas.
Cowok itu terlihat lesu dengan raut wajahnya yang kelabu. Tingkah receh, tawa yang menggelegar, dan candaan-candaan yang sebelumnya ia ciptakan sewaktu berkumpul dengan teman-temannya adalah palsu.
Ya, dirinya memakai topeng petakilan, padahal keadaannya saat ini begitu kacau, dengan nama seseorang yang selalu berada di pikirannya yang membuatnya sering merasa tidak tenang.
Bianca.
Haykal membelalakkan kedua matanya ketika pintu kelas XII IPA 3 terbuka. Dan yang paling membuatnya terkejut ialah, gadis itu alias Bianca, keluar dari kelas dengan membawa setumpuk buku paket di kedua tangannya.
Haykal hendak menghampiri gadis itu, namun langkahnya tercekat kala ingatannya melayang pada saat-saat dimana ia melakukan hubungan bersama Bianca.
Malam itu, ia dalam pengaruh minumam. Jika saja malam itu Haykal tidak minum, mungkin otak dan pikirannya akan sedikit waras.
Namun, semua itu sudah terjadi. Dan tidak akan pernah bisa diulang kembali, apalagi mencoba memperbaiki. Yang harus Haykal lakukan untuk menebus dosa besarnya adalah dengan meminta maaf dan bertanggungjawab pada Bianca.
^^^To be continue...^^^
Monmaap baru update. Kmaren mau aku up, tpi aku harus ke kondangan gaes. Malemnya ketiduran. Pdhl naskahnya udh hampir selesai.
But, hari ini 2 eps. Semoga bisa memuaskan:)
Btw, tdinya mau malem (senin, 24 mei) aku update eps ini. tapi gk jdi, karena aku pikir kalian udh pada tidur dijam segini. jadinya yah pagi-pagi, hehee
...Kenzo...
...Kanza...
...Alex...
...Haykal...
...Rio...
...Juna...
...Azka...
...Alma...
...Kayla...
...Bianca...
__ADS_1