Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 43


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan pukul 5 petang dan matahari tampak mulai merendahkan posisinya ke sebelah barat. Langit pun yang semula berwarna biru cerah, perlahan warnanya mulai berubah sedikit menjingga.


Bianca dengan seragam sekolah khas SMA Naruna yang masih lengkap menempel di tubuhnya, terduduk kaku di atas lantai kamarnya yang dingin tanpa berbalutkan apa-apa. Sudah hampir sekitar dua puluh menit lebih gadis itu mengurung dirinya di dalam kamar.


Potongan demi potongan memori beberapa puluh menit yang lalu ketika sang papa meluapkan emosinya setelah mengetahui apa yang telah terjadi padanya, membuat Bianca merasa sangat bersalah.


Beberapa puluh menit yang lalu, Bianca bersama Haykal menghadap beliau dengan laki-laki itu yang mengajak sang papa berbicara cukup serius, sampai pada akhirnya ucapan Haykal malah terdengar semakin serius dan berakhir meminta izin serta restunya untuk menikahi Bianca.


Jelas beliau kaget! Ia bahkan sempat menanyai alasan mengapa laki-laki yang usianya seumuran dengan putrinya itu malah meminta restu untuk menikah, padahal mereka berdua belum sampai lulus SMA.


Dan, ketika ia mengetahui sebuah kenyataan mengejutkan soal kondisi Bianca yang tengah hamil karena ulahnya, beliau langsung murka. Bahkan ia hampir saja melayangkan pukulannya pada laki-laki yang telah begitu tega menodai putrinya.


Namun, ia tidak bisa melayangkan pukulannya begitu saja, apalagi ketika mengingat bahwa dirinya saja sering tidak memedulikan kehadiran Bianca. Ia bahkan sudah terlalu sering meninggalkan putrinya seorang diri di rumah sampai tidak sempat meluangkan waktu hanya untuk sekadar mengobrol biasa dengan Bianca.


Jika saja ia tidak lalai untuk menjaga putrinya, mungkin hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.


Pada akhirnya, ia melampiaskan emosinya dengan memukul dinding kokoh rumahnya sampai menimbulkan suara. Deru napasnya pun mulai tersengal dengan sepasang bola matanya yang mengkilat memerah padam.


Dengan berat hati sekaligus diselimuti rasa keputusasaan, beliau pun mulai merestui mereka berdua. Dan setelahnya, ia mulai melenggang menaiki puluhan anak tangga di dalam rumahnya untuk sampai di ruang kamarnya.


Ia perlu waktu untuk menenangkan diri saat ini.


Setelah kejadian itu, Haykal pun langsung izin pamit pulang pada Bianca. Laki-laki itu akan benar-benar menuntaskan masalah yang telah ia ciptakan ini dengan menemui sang papa dan meminta izin serta restu darinya.


Bagaimanapun juga, sebenci apa pun Haykal pada sang papa, ia tetap harus mengatakan hal seperti ini dan meminta setidaknya hanya sedikit dukungan darinya.


Bianca menarik napasnya cukup dalam dengan pandangan matanya yang masih lurus menatap ke depan sana. Salah satu tangannya terulur mengelus perutnya yang masih rata dengan sesekali ia akan menelan ludahnya, mencoba menelan mentah-mentah pahitnya kehidupan yang ia jalani.


Tanpa disadari, bulir-bulir air mata menetes sampai kembali membasahi wajahnya. Batin kecilnya terus mengucapkan kata "maaf" berulang-ulang yang ia tujukan kepada Tuhan, mamanya yang telah tiada, dan papanya yang telah ia rusak kepercayaannya.


...****...


Mobil yang dikendarai oleh Haykal berhenti tepat di depan sebuah gerbang rumah mewah yang selama kurun waktu hampir dua bulan ini tidak ia kunjungi akibat pertengkaran hebatnya waktu itu dengan sang papa.


Dengan berat hati, Haykal mulai menyeret kedua kakinya untuk melangkah menghampiri gerbang rumah tersebut yang masih tertutup rapat.


Haykal mengedarkan tatapannya ke seluruh pekarangan luas rumah tersebut lewat celah-celah kecil dari gerbang itu.


Ketika tatapan matanya beralih pada sebuah tombol bel yang berada tak jauh dari posisi ia berdiri, Haykal pun ragu.


Pikirnya, apa yang akan papanya katakan nanti jika melihat Haykal yang telah kabur dari rumah selama hampir dua bulan ini, kini kembali menampakkan dirinya?


"Heh. Ngapain gue mikir ke sana? Yang gue perlukan saat ini adalah minta izin sama restu dari dia." Monolog Haykal.


Tak ingin berlama-lama, ia pun mulai memencet tombol bel tersebut. Dan tak butuh waktu yang lama bagi laki-laki itu untuk terus berdiri serta menunggu di depan gerbang, seorang satpam yang teramat ia kenali berada di dalam pos jaga langsung berlari ke arah gerbang, kemudian mulai membukakan pintu gerbang tersebut.


"Den Haykal? Alhamdulillah. Akhirnya, Den Haykal pulang juga," Satpam dengan name tag Sutisna, menatap dengan tatapan berbinar kala netranya mulai bersitatap dengan Haykal.


Melihat Sutisna yang selalu bersikap ramah dan tidak pernah berubah, Haykal tanpa sadar menarik kecil kedua sudut bibirnya.


Dengan menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu, Haykal lantas memeluk tubuh pria paru baya tersebut sampai membuatnya dibuat terkejut sekaligus kebingungan.


Tak begitu lama setelah keduanya saling berpelukan, Haykal lantas menatap lembut ke arah sepasang netra milik Sutisna yang juga tengah menatapnya.


"Ada apa, Den? Tumben pake acara peluk-peluk?"


Haykal terkekeh pelan mendengar pertanyaan polos dari beliau. "Enggak ada apa-apa. Kangen aja. Oh ya, Papa udah pulang, Pak Tis?"


"Kebetulan! Tuan Besar baru aja sampai. Tapi, kayaknya beliau lagi ada masalah, deh, Den. Soalnya pas datang, dia langsung marah-marah gitu." Penuturan dari Sutisna, seketika membuat raut wajah Haykal berubah datar.


Batinnya, jangan-jangan Juan sudah tahu soal apa yang sudah ia lakukan pada Bianca? Secara, Juan dan papanya Bianca dulunya adalah rekan bisnis yang cukup dekat. Haykal dan Bianca pun mulai menjadi teman sejak keduanya saling mengenalkan anak-anak mereka sewaktu usia mereka masih berada di taman kanak-kanak.


"Haykal ke dalam dulu." Tak ingin terus membuang-buang waktu, Haykal lantas melanjutkan langkah kakinya untuk memasuki rumah mewah tersebut.


Rumah yang dahulu anggota keluarganya begitu lengkap, dimulai dari Mama, Papa, Kakak dan Adiknya, kini hanya tinggal tersisa dirinya dan sang papa. Itu pun sebelum Haykal memutuskan untuk angkat kaki.


Di dalam rumah yang sangat besar itu, sedikitpun tidak pernah terasa hawa harmonis. Hanya ada hawa dingin yang kadang diisi dengan percekcokan antara Juan dan Maya yang selalu membahas soal perceraian.


Haykal mengembuskan napasnya cukup berat kala dirinya telah berdiri tepat di hadapan pintu berukuran cukup lebar dan tinggi yang masih tertutup rapat. Ketika ia hendak meraih gagang pintu tersebut, sudut hatinya tiba-tiba ragu.


Beberapa saat yang ia lakukan di depan pintu tersebut adalah bergelut dengan pikirannya. Entahlah. Ia juga tidak paham mengapa dirinya tiba-tiba seperti ini.


Namun di detik selanjutnya, ia memilih untuk langsung mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalam sampai akhirnya netranya mulai menemukan sosok seorang pria setengah baya yang tak lain adalah papanya tengah berjalan memunggunginya.


Langkah kaki pria itu langsung terhenti lantaran mendengar suara pintu yang terbuka dengan diiringi suara langkah kaki seseorang. Diliriknya ke belakang, seorang remaja laki-laki yang tak lain adalah putra keduanya, Haykal, berjalan dengan langkah tergesa ke arahnya.


Melihat sosok itu, emosi Juan langsung mencuat. Sepasang netranya terus memicing, dengan kedua alisnya yang semakin mengerut dalam. Napasnya pun mulai tersengal, dan kedua kakinya mulai melangkah cepat ke hadapan Haykal yang juga tengah berjalan ke arahnya.


Ketika posisi kedua ayah dan anak itu telah saling berhadapan, emosi Juan semakin mencuat ke ubun-ubun. Ucapan dari seseorang yang belum lama ini meneleponnya, membuat pria itu tidak dapat lagi menahan amarahnya.


Plak!


Tamparan keras melayang di pipi kiri Haykal. Pelaku utama dari kekerasan tersebut tak lain adalah papa kandungnya sendiri, Juan.


Raut wajahnya semakin terlihat tak bersahabat. Deru napasnya pun semakin memburu. Kilatan kemarahan terpancar jelas di kedua bola matanya.


"Masih ingat pulang kamu, hah?! Apa yang sudah kamu lakukan? Dasar anak tidak tahu malu! Papa enggak pernah ngajarin kamu untuk bersikap berengsek sama perempuan!" Hardik Juan.


Mendengar berbagai ucapan dari mulut sang papa, refleks Haykal terkekeh miris. Wajahnya yang semula menoleh ke samping akibat ditampar keras oleh Juan, perlahan mulai kembali pada posisi semula.


Dan saat itu juga, tatapan antara Juan dan Haykal bertemu. Keduanya saling menatap dengan tatapan dingin yang mengintimidasi.


Muak dengan keadaan yang tidak pernah berada di pihaknya, Haykal lantas melangkahkan kakinya semakin mendekat ke hadapan Juan, sampai jarak di antara keduanya hanya tinggal beberapa jengkal saja.


"Kapan Papa pernah ngajarin Haykal?"


Bagai mendapat sebuah tamparan keras, Juan lantas melebarkan kedua bola matanya. Raut wajahnya pun berubah seratus delapan puluh derajat dari yang sebelumnya. Rangkaian kata-kata yang terucap dari mulut Haykal sukses membuat pria itu langsung terdiam.


Haykal mengerutkan keningnya, kemudian dengan berani mulai menarik kedua kerah kemeja Juan. Tatapan matanya tampak memicing yang terus dilayangkankan pada pria itu.


"Apa Papa pernah ngajarin Haykal?" Kalimat pertanyaan itu lagi-lagi hanya membuat Juan semakin membatu.


"Apa aja yang udah Papa ajarin ke semua anak-anak Papa? Cekcok? Kekerasan?" Kesal karena Hayal terus-menerus memojokkannya, Juan dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Haykal sampai cengkraman di kedua kerah kemejanya terlepas.


Haykal kembali terkekeh miris. "Papa gak pernah ajarin aku sedikit pun! Enggak. Kalian berdua gak pernah ngajarin apa pun sama kami bertiga!"


"Cukup Haykal." Juan mengeratkan rahangnya sekaligus mengepal kuat kedua kepalan tangannya.


"Apa!? Itu kenyataannya! Kalau bukan karena kalian yang selalu bertindak seenaknya, Bang Rey gak akan pernah meninggal! Dia gak akan pernah kenal sama yang namanya obat-obatan terlarang! Coba kalian pikir itu semua karena siapa!?"


"CUKUP HAYKAL!" Juan memekik keras. Napasnya semakin memburu setelah pria itu mengatakan kata-kata itu. Rentetan ucapan dari Haykal benar-benar membuat kepalanya sakit.

__ADS_1


Haykal memundurkan langkahnya. Dadanya tiba-tiba terasa sakit apalagi ketika bayangan wajah Rey, sang kakak tertua, kembali melintasi otaknya.


Rey yang hanya berjarak delapan tahun darinya adalah sosok kakak terbaik yang selalu menjaga Haykal dan juga Zidan dari amarah dan kekerasan yang dilakukan oleh Juan.


Namun siapa sangka di suatu hari, Haykal harus kehilangan Rey untuk selamanya. Orang yang selalu menjaga dan menyayanginya dibandingkan dengan kedua orangtuanya.


Dokter memvonisnya kelebihan obat-obatan atau yang lebih dikenal dengan sebutan overdosis. Tidak pernah Haykal bayangkan sebelumnya, ternyata kakaknya yang selalu menjaga dan menghiburnya itu lebih tertekan dan depresi dibandingkan ia yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun.


Tanpa Haykal sadari, air matanya jatuh begitu saja sesaat kembali mengingat betapa tulus dan baiknya Rey ketika menjaganya dan juga si adik bungsu. Demi apa pun, Haykal sangat merindukan Rey. Ia membutuhkan sosok seperti Rey yang tidak pernah absen untuk menjaga kedua adiknya.


"Sebenarnya, niat Haykal ke sini bukan buat berantem sama Papa. Tapi siapa yang tahu pas sampai di sini kita malah berantem," Haykal mengusap wajahnya yang masih menyisakan air mata. Tatapannya pun yang semula menatap ke arah lain, kini mulai kembali menatap pada Juan yang tampak menunduk dengan raut wajah yang seolah menampilkan beribu penyesalan.


Dengan menarik napas sedalam-dalamnya, Haykal pun mulai melangkahkan kakinya kembali ke hadapan Juan.


"Pa! Haykal mau minta izin buat nikahin Bianca." Ucap Haykal. Tatapan Juan kembali menatap pada putranya. Ia tidak bereaksi. Hanya mengembuskan napasnya seraya kembali menunduk.


Tak lama setelahnya, Juan pun mengangguk lesu, kemudian melenggang melewati tubuh putranya. Sebelum ia benar-benar melenggang meninggalkan putranya, langkahnya langsung terhenti tepat di samping Haykal. Sebelah tangannya terulur untuk menepuk pelan bahu Haykal sampai membuatnya seketika menoleh.


"Papa minta maaf. Harusnya Papa lebih peduli sama kalian. Bukannya malah bertindak kasar dan tidak pernah memedulikan kalian. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu. Papa sayang sama kamu, sama Rey dan Zidan. Papa hanya tidak tahu harus mengekspresikannya seperti apa." Ucap Juan. Setelahnya, ia benar-benar pergi meninggalkan Haykal yang terdiam berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh sang papa.


...****...


Kenzo mengepulkan asap rokok dari dalam mulutnya. Di malam yang bertabur bintang ini, ia habiskan dengan nongki di tempat biasa bersama teman-temannya yang terdiri dari Juna, Azka, Alex, Rio dan Haykal.


Keenamnya kompak mengenakan setelah serba hitam, padahal mereka sedikitpun tidak memiliki niatan untuk menyamakan warna pakaian mereka. Hanya model pakaian lah yang jadi pembeda.


"Udah jam delapan. Lo semua gak ada niatan mau pulang?" Alex menyahut. Cowok itu tengah memainkan permainan kartu bersama teman-temannya yang lain.


"Males gue. Di rumah kagak ada siapa-siapa," balas Azka. Cowok itu sesekali akan menyesap ujung rokoknya seperti yang tengah dilakukan oleh Kenzo sembari terus memainkan permainkan kartu.


"Apalagi gue. Nyokap gue sibuk syuting, sedangkan Bokap gue sibuk ngurusin kantor kejaksaan." Timpal Juna, kemudian terkekeh miris.


Kenzo membuang rokoknya yang sudah tinggal separuh, kemudian menginjaknya sampai hancur tak tersisa. Setelahnya, ia yang sedari tadi mendudukan dirinya di atas motornya langsung berjalan menghampiri Juna yang tengah bermain kartu bersama Rio, Azka, dan Alex.


Tidak dengan Haykal yang terlihat membaringkan diri di atas bangku lain seraya menutupi kedua matanya dengan salah satu lengannya.


"Sampai detik ini gue masih gak percaya lo anaknya musisi terkenal Salma Afifah!" Perkataan Kenzo langsung disetujui oleh Azka yang ditujukan untuk Juna.


"Bener banget. Seketika gue merasa dunia kita itu berbeda, Jun!"


Mendengar ucapan itu, Juna hanya menanggapinya dengan tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nih! Terima jurus dari gue!" Juna melempar kartu as yang selama ini ia sembunyikan baik-baik sehingga permainan pun dimenangkan olehnya.


Melihat kekalahan sudah di depan mata, Rio, Azka dan Alex, refleks membuang kartu di tangannya seraya menyeru kesal.


"Udah hampit jam setengah sembilan. Cabut, yuk!" Ajakan Rio langsung diangguki oleh teman-temannya.


Dengan santai kelimanya mulai bangkit dari posisi sembari berjalan ke arah kendaraan mereka. Ada yang membawa motor dan ada juga yang membawa mobil. Seperti biasa di setiap tongkrongan, Kenzo, Alex, Azka dan Juna akan selalu membawa motor mereka. Tidak dengan Haykal dan Rio yang kali ini membawa mobil.


"Kal! Gimana sama masalah lo? Dah kelar?" Sebelum Haykal benar-benar memasuki mobilnya, Kenzo menepuk pelan bahu cowok itu sampai membuatnya seketika menoleh.


Haykal tersenyum kecil, kemudian balas menepuk bahu Kenzo dengan cukup jantan. "Thank's, udah merhatiin gue. Udah kelar, kok. Tinggal ngasih tahu Nyokap aja,"


"Semangat, Kal! Lo pasti bisa!" Ucap Azka yang langsung dibalas kekehan kecil oleh Haykal.


"Oh, ya. Besok kayaknya gue gak ke sekolah dulu, deh. Gue mau nyamperin Nyokap. Kalian bisa bantuin izinin absen gue, kan?" Haykal kembali menatap satu-persatu teman-temannya yang beberapa dari mereka hendak memakai helm dan sisanya hendak menghidupkan mobil.


"Gampang, Kal. Kan, ada Si Alex?" Ucap Juna. Cowok itu membalas ucapan dari Haykal seraya berusaha memakai helmnya.


"Sekali lagi gue makasih sama lo semua. Walaupun gue udah pernah ngecewain, kalian tetep aja mau jadi temen gue."


"Elah, Kal! Besok ajalah makasihnya! Dah malem, entar dengerin omongan lo makin kemaleman dong kita. Oke?" Kekehan Azka langsung dijawab tawa kecil serta anggukan kepala oleh Haykal.


"Oke!"


...****...


Wanda menghela napasnya ketika sesampainya gadis itu di dalam sebuah mini market. Malam-malam begini gadis itu berjalan kaki dari rumah sampai ke mini market yang jaraknya bahkan cukup jauh dengan rumahnya.


Bukan tanpa alasan gadis itu di waktu yang menunjukkan hampir pukul sembilan malam ini masih keluyuran. Ini pun ia terpaksa karena stok pembalut di kamarnya hanya tinggal tersisa satu, sedangkan besok ia masih harus pergi kuliah.


Salahkan datang bulannya yang datang tiba-tiba di malam hari. Untung saja masih tersisa satu lagi. Bagaimana kalau tidak tersisa satu pun?


Setelah cukup lama menimbang beberapa merek pembalut, gadis itu lantas memasukannya ke dalam keranjang belanjaan setelah ia selesai memilih.


Dan sekarang, ia akan membeli beberapa camilan yang senantiasa menemaninya di malam hari. Dirasa cukup, Wanda lantas melangkahkan kakinya ke meja kasir. Tak butuh waktu lama, gadis itu pun mulai membayar barang belanjaannya karena mini market tersebut yang memang hanya kedatangan dirinya seorang.


Di perjalanan pulang, Wanda lagi-lagi menghela napas seolah dalam hidupnya ia tengah memikul sebuah beban yang begitu berat.


Tidak. Ia tidak sedang memiliki masalah. Hanya saja, beberapa hari ini otaknya terus-menerus memikirkan seseorang. Dan hatinya terasa seperti ada yang mengganjal entah kenapa.


Kenzo. Lagi-lagi nama itu terus bersarang di hati dan pikirannya. Bayangan ketika Wanda kembali menolak mentah-mentah perasaan dari laki-laki itu membuatnya merasa menjadi manusia paling jahat di dunia.


Entah karena hal apa, rasa-rasanya Wanda serasa ditampar habis-habisan oleh ucapan seseorang akhir-akhir ini yang tak lain adalah sang mama.


Beberapa hari yang lalu, mamanya tiba-tiba bertanya random padanya tentang hubungan apa yang ia miliki dengan laki-laki yang pernah datang ke rumahnya.


Dengan jujur, Wanda pun menjawab; hanya teman. Namun mamanya tidak langsung percaya dan memilih kembali bertanya dengan pertanyaan lain.


Dan siapa sangka, mamanya malah berkata, "Cowok itu kayaknya suka, deh, sama kamu! Pas waktu jalan sama dia, kamu habis ditembak, ya? Muka kamu pas mau berangkat sama pas pulang, beda soalnya." Membuat Wanda dibuat gelagapan oleh tingkat kepekaan super milik sang mama.


Waktu itu, Wanda tidak menjawabnya dan masih bisa mengelak. Namun, ucapan sang mama yang terakhir, sukses membuat Wanda bagai ditampar bolak-balik oleh kenyataan.


"Kamu kalau suka sama dia, mending jujur aja, deh. Emang kenapa kalau kamu lebih tua dari dia? Kalau emang sama-sama suka kan gak pa-pa!? Siapa tahu dia emang jodoh kamu."


Dan, ya. Sampai saat ini, ucapan dari sang mama semakin terngiang-ngiang di otaknya. Ditambah lagi kini Wanda merasakan dirinya mulai tersadar akan perasaannya yang sesungguhnya pada Kenzo.


Jika saja ia dapat memutarbalikkan waktu, mungkin Wanda akan meminta pada Tuhan membalikkan waktunya pada saat hari di mana ia dan juga Kenzo berada di salah satu kafe, disaat laki-laki itu mengutarakan perasaannya yang kedua kalinya.


"Lo emang bego! Habis nolak sekarang nyesel dah, kan?" Wanda merutuki dirinya sendiri dengan sesekali memukuli kepalanya.


Di setiap langkah kakinya, tak henti-hentinya gadis itu terus menghela napas. Sampai pada akhirnya ia mendengar suara langkah kaki misterius di belakang tubuhnya, refleks Wanda langsung menjeda sejenak langkah kakinya.


Tubuhnya mulai menegang dan punggungnya terasa meremang. Pikiran negatif soal perampok atau bahkan penjahat yang kini berjalan mengikutinya membuat dirinya parno sendiri. Apalagi, ini sudah malam. Jam di ponselnya menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. Jalanan di sekitar yang biasanya ramai mendadak sunyi. Dan itu semua sukses membuat Wanda semakin dilanda ketakutan.


Tidak ingin membuang lebih banyak waktu dengan terus berdiam diri, Wanda lantas melanjutkan langkah kakinya dengan tergesa-gesa, berharap ia bisa semakin menjauh dari tempat itu.


Namun, suara langkah kaki di belakang terdengar seperti tengah mencoba menyamakan langkah dengannya. Seolah ingin mengejar Wanda atau bahkan ... ingin menculik Wanda?


"Fokus Wanda, fokus! Gak ada yang namanya penculikan! Kalaupun iya, gue tinggal teriak aja yang keras. Gampang, kan?" Gerutu gadis itu, masih terus melangkahkan kakinya sampai akhirnya ia tiba di persimpangan jalan yang menuju ke rumahnya.


Akhirnya, gadis itu bisa sedikit bernapas lega, apalagi suara langkah kaki di belakangnya sudah tidak lagi terdengar.

__ADS_1


Namun, siapa yang akan menyangka, jika sebuah tangan seseorang dari belakang, menyentuh pundaknya secara tiba-tiba. Membuat langkah kaki gadis itu lantas berhenti dengan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang.


Alhasil, Wanda refleks berteriak tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang tengah menyentuh bahunya.


Dengan cekatan, seseorang yang menyentuh bahunya itu langsung menarik Wanda sedikit menjauh dari tempat itu seraya membungkam mulut gadis itu. Sesekali, ia akan mengoceh kesal karena Wanda yang berteriak seperti seseorang yang baru saja menjumpai sosok makhluk astral.


"Sadar, woy! Lo hampir aja bikin tetangga lain pada jantungan malem-malem karena teriakan lo!" Suara laki-laki yang teramat Wanda kenali, menjadi penyadar gadis itu dari apa yang tengah ia lakukan.


Kedua bola matanya yang sempat memejam karena takut, kini mulai terbuka lebar dengan pandangannya yang mendongak menatap wajah seseorang yang begitu tinggi dari pandangannya.


"Lo ngapain jam segini masih keluyuran di luar? Lo gak takut dibegal? Gimana kalau ada penjahat lewat? Lo gak lihat barusan jalanan pada sepi gitu? Berani juga lo, ya!? Untung barusan gue ngenalin lo walaupun cuman belakangnya doang. Gimana kalau—"


"Kenzo?" Wanda menyela ucapan laki-laki itu membuatnya spontan menghentikan perkataannya.


"Apa?! Iya, ini gue Kenzo! Untung barusan gue. Gimana kalau itu sampai orang lain, coba? Gue jamin lo gak akan—" ucapan Kenzo langsung terhenti, ketika Wanda mulai mendekatkan tubuhnya seraya mengalungkan kedua lengannya di leher Kenzo.


Jelas Kenzo terkejut. Cowok itu yang niat awalnya cuma mau beli minuman di mini market, malah tidak jadi karena sepasang matanya yang super jeli ini menemukan keberadaan Wanda tengah keluyuran di tengah malam.


Suara embusan napas berat terdengar oleh telinga Kenzo yang ia tebak berasal dari Wanda. Napasnya terdengar tidak beraturan. Mungkin gadis itu masih syok dengan kedatangan Kenzo yang dikiranya adalah seseorang yang memiliki niat jahat padanya.


"Maaf. Gue nyesel, Zo," bisikan lirih yang terucap dari mulut Wanda, seketika membuat Kenzo langsung mengerutkan kedua alisnya.


"Nyesel kenapa?" Tanya Kenzo. Sedikit pun ia tidak memiliki niatan untuk melepaskan gadis itu yang masih setia memeluknya.


Sebentar saja. Kenzo sudah sangat nyaman dengan posisinya saat ini.


Terdengar suara isak tangis, sebelum Wanda benar-benar melanjutkan ucapannya. "Soal perasaan gue ke elo yang sebenarnya. Gue baru menyadari itu setelah gue dengan jahatnya nolak lo! Gue emang cewek berengsek. Iya, kan?"


Seketika itu juga, Kenzo langsung mendorong pelan tubuh Wanda agar sedikit menjauh darinya. Tatapan matanya pun berubah syok sesaat kedua bola matanya itu mulai bersitatap dengan Wanda yang juga tengah menatap ke arahnya.


"Barusan lo bilang apa?"


Wanda mencoba menelan salivanya sebelum ia benar-benar menjawab pertanyaan dari cowok itu.


"Gue nyesel karena baru sadar,"


"Terus?" Tanya Kenzo, semakin menuntut jawaban lebih lanjut dari Wanda.


"Gue suka sama lo!" Lanjut Wanda. Air matanya tiba-tiba lolos setelah mengucapkan kalimat itu.


Terlalu bahagia disertai rasa syok yang masih setia bersarang di hatinya, Kenzo lantas menarik tubuh Wanda dan memeluknya cukup erat. Helaan napasnya terdengar begitu bersemangat dengan sesekali tersenyum bahagia. Sayangnya, Wanda tidak dapat melihat senyuman Kenzo yang bahkan bisa dibilang menambah ketampanan milik laki-laki itu.


Disela ia memeluk Wanda, Kenzo berbisik tepat di telinga gadis itu. Membuat bulu kuduk Wanda seketika meremang akibat bisikan aneh yang terucap dari bibir Kenzo.


...****...


Seharian ini selama KMB berlangsung, tak henti-hentinya Kenzo terus tersenyum misterius, membuat beberapa sahabatnya yang melihat gerak-gerik mencurigakan darinya lantas bergidik ngeri.


"Woy! Lo kenapa sih, Zo? Lo gak lagi kesurupan setan beranak, kan?" Azka menoyor kepala Kenzo, membuat cowok itu refleks berdesis seraya mengalihkan tatapannya pada Azka.


"Apaan sih, lo! Syirik aja. Temennya lagi bahagia, juga." Sinis Kenzo, yang langsung mendapat cibiran dari Juna.


"Halah. Paling kelebihan obat, makanya Si Kenzo senyum-senyum sendiri kek orang gila. Ya, gak, Yo?"


"Mungkin?" Balas Rio singkat, dengan fokusnya yang tertuju pada layar ponselnya.


Tak lama setelahnya, Rio mulai bangkit dari kursinya seraya memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku blazer yang ia kenakan.


Dan gerak-gerik cowok itu tak luput dari perhatian Kenzo, Juna dan juga Azka. Tidak dengan Alex yang saat ini berada di perpustakaan tengah disibukkan dengan puluhan soal dan materi yang harus segera ia kuasai, karena lomba olimpiade yang tinggal menghitung hari.


Dan untuk Haykal, cowok itu benar-benar tidak masuk sekolah seperti yang telah ia katakan pada kelima teman-temannya. Ia akan kembali ke Bekasi untuk menemui Maya, mamanya.


Tidak sendirian. Cowok itu membawa Bianca untuk sekalian diperkenalkan pada Maya.


Back to topic.


Azka menaikkan salah satu alisnya seraya menatap heran Rio yang terlihat tengah merapikan seragam yang tengah ia kenapan. Pikirnya, Si Rio kenapa, sih?


"Lo mau ke mana, Yo? Dari tadi kita lihatin kek mencurigakan gitu. Ya, gak, Bro?" Azka mengalihkan tatapannya pada Juna yang langsung dibalas anggukan mantap olehnya.


"Mencurigakan banget, sampai-sampai gue pengin nanya, tapi takut dijawab 'kepo' doang sama dia!" Ucap Juna. Membuat Kenzo seketika langsung menggelakkan tawanya.


"Sotoy lu! Gue mau nemenin ayang beb gue makan. Syirik gak tuh?" Ujar Rio, seketika membuat teman-temannya langsung dibuat terdiam dengan rangkaian perkataan darinya yang bisa dibilang begitu asing jika seorang Rio yang biasanya pendiam, mengatakan hal tersebut.


"Barusan lo bilang apa?" Kenzo, Azka, dan Juna, refleks bertanya kompak. Namun respon dari Rio hanya terkikik geli, kemudian melenggang meninggalkan ketiga teman-temannya yang dibuat cengo olehnya.


"Anjay! Pergi gitu aja Si Rio?" Gumam Azka.


Tak lama setelah mengucapkan itu, Juna yang sedari tadi tengah duduk di atas meja langsung mengubah posisinya menjadi berdiri. Langsung mengundang perhatian Azka dan juga Kenzo yang belum juga mengubah posisi duduknya.


"Mau ke mana lo?" Tanya Kenzo. Raut wajahnya terlihat cukup serius ketika mengeluarkan pertanyaan itu pada Juna.


"Gue mau ke kantin bentar. Haus. Duluan, ya!" Balas Juna. Sontak membuat Azka dan Kenzo yang ditinggal begitu saja di dalam kelas kembali dibuat cengo, namun oleh orang yang berbeda.


Sesampainya Juna di salah satu kantin sekolah, cowok itu dengan langkah tergesa-gesa berjalan ke arah lemari pendingin minuman yang berada di pojokan kanan. Mencari sebotol air mineral.


Ketika Juna telah mendapatkan apa yang ia inginkan, cowok itu lantas menutup kembali lemari pendingin tersebut. Namun ketika ia hendak berbalik, seseorang entah itu disengaja atau tidak, kini telah berdiri sangat dekat dengannya dengan kepalanya yang mendongak menatap wajah Juna yang berada begitu tinggi dari jangkauannya.


"Eh? Gu-gue gak sengaja!" Gadis itu memekik kaget kala menyadari siapa yang berada di hadapannya saat ini.


Juna mengembuskan napasnya dengan keningnya yang tiba-tiba mengerut dalam. Melihat siapa yang telah berani berdiri di belakangnya dan hampir membuat mereka berdua saling bertabrakan, membuat Juna seketika dibuat bad mood.


"Lo sengaja, kan?" Tanya Juna. Tatapan matanya berubah dingin saat menatap sepasang bola mata polos milik seorang gadis yang tak lain adalah Kayla.


Ya. Seseorang yang berdiri di belakang Juna dan hampir membuat keduanya bertabrakan adalah Kayla.


Gadis itu tadinya mau membeli sebotol minuman dingin. Karena tidak begitu menyadari siapa yang tengah berdiri di depan lemari pendingin itu, Kayla sampai menunggunya selesai memilih minuman.


Namun siapa sangka ketika orang itu berbalik, Kayla langsung menyadari satu hal bahwa orang itu adalah Juna. Cinta pertamanya yang tidak akan pernah tergapai sampai kapan pun.


"Gue—" Kayla menghentikan ucapannya kala sepasang netra milik Juna masih menatapnya dengan sorot dingin nan mengintimidasi. Membuat gadis itu dengan refleks memundurkan langkah kakinya, sampai ia tidak menyadari telah menginjak sesuatu sehingga membuat tubuhnya seketika dibuat limbung.


"Aaakhh!"


^^^To be continue....^^^


Sudah update!!!


Harusnya diupdate kmarin, tpi karena akhir² ini sering gadang jdinya pas siang ngantuk gitu:( jdinya yaah... naskahnya belum beres dan baru beres jam stengah 11 malem. Tapi aku panjangin jadi 4200 lebih kata, ya. Semoga suka!!!


*Akhir² ini aku sering dengerin OST Blue Birthday yg dinyanyiin sama Heize. Enak bgt lagunya huhuu:'( gini amat ya, pecinta Kdrama sma pecinta OST Kdrama. Curhat gk tau tmpat🤣🙏

__ADS_1


__ADS_2