Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 11


__ADS_3

"Kenapa? Mau ngajak jalan?" Kayla yang tadinya tidak bermaksud kepo, bertanya spontan pada Kanza. Gadis yang tempat duduknya tepat di belakang Alma dan Kanza.


Kanza dan Alma saling menoleh ke belakang. "Gak tahu! Ya kali, dia mau ngajak gue jalan. Kenal deket aja, enggak!" Ujar Kanza, lalu kembali ke posisinya semula.


Alma dan Kayla saling pandang, lalu mengendikkan bahu mereka, kemudian memilih fokus pada soal ulangan.


Sudah hampir sepuluh menit lamanya waktu ulangan berjalan. Kenzo, Haykal, dan Juna yang tipikal gak bisa ujian tanpa adanya kunci jawaban, mulai tidak bisa diam di tempat.


Mereka bingung harus mengisi soalnya dengan jawaban apa!? Masa iya, harus pake caranya si Azka yang ngocok pake penghapus? Kan gak elit, Bro!


Kalau minta kunci jawaban ke si Rio ... bahaya, mejanya berada tepat sejajar dengan meja guru. Yah, walaupun mejanya berada di urutan kedua dari depan. Sama aja, itu mah cari mati namanya! Bisa langsung ketahuan nanti mereka.


Kenzo lagi-lagi mengembuskan napas lelah, melihat soal ulangan pilihan ganda yang menurutnya sama sekali tidak ia pahami. Belum ada satu nomor pun yang sudah ia isi.


Dengan terpaksa, cowok itu hendak mengisinya asal. Namun, netranya tiba-tiba tidak sengaja melirik ke arah Bu Lani yang mulai membereskan buku paket, buku absensi dan laptopnya ke dalam tas milik guru tersebut.


Tentu saja pemandangan itu mengundang tanda tanya di benak Kenzo. Ia ingin mengajukan pertanyaan, namun malah tidak jadi ketika Bu Lani mulai bersiap mengutarakan hal yang akan dikatakannya.


"Maaf, anak-anak! Ibu ada urusan mendesak yang mengharuskan Ibu untuk pergi. Kalian lanjutkan saja ulangannya. Yang sudah selesai, kumpulkan ke ruangan Ibu dan kalian boleh istirahat. Mengerti!?"


"Mengerti, Bu!" Murid-murid kelas XI IPS 4 tentu saja mereka merasa sangat bahagia ketika mendengar pengumuman dari Bu Lani.


Dalam hati, mereka bersorak, karena sepertinya, ulangan mingguan kali ini akan lancar karena tidak adanya guru yang mengawasi.


Tak lama kemudian, Bu Lani pun pergi dari kelas tersebut. Satu kelas refleks hening, dengan seorang siswa, yaitu Juna, berjalan ke arah pintu kelas untuk memastikan bahwa guru tersebut benar-benar meninggalkan kelas mereka.


"Wasseeekkkk!!! Jamkos gaesss!!!" Teriak Juna sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.


Seluruh siswa maupun siswi kelas XI IPS 4 refleks ikut bersorak seraya saling ber-high five satu sama lain.


Setelah satu kelas membuat kegaduhan, mereka kini sama-sama bekerja sama untuk mengisi jawaban yang benar dari soal ulangan mereka. Ada yang membuka-buka buku paket, buku catatan, dan bahkan ada juga yang open google. Satu kelas sibuk mencari jawaban ke sana ke mari.


Sementara itu, Kanza yang baru pertama kali melihat ada hal seperti itu, tertawa kecil melihat keunikan yang baru saja terjadi di kelas barunya.


Jadi... seperti inikah rasanya tinggal di dalam satu kelas tercampur antara laki-laki dan perempuan? Sangat mengasyikan.


Mungkin...


Kanza akan betah tinggal di sekolah ini! Asalkan tidak ada yang mengusiknya seperti dulu, Kanza jamin bahwa dirinya akan sangat betah sekolah di sini.


...****...


Pelajaran olahraga jam pertama adalah pelajaran paling dinanti disetiap kelas mana pun. Khususnya bagi murid laki-laki. Hanya saja, resikonya tinggi bagi perempuan yang kebagian pelajaran olahraga di jam seperti itu.


Mengapa? Karena, menurut penelitian cewek-cewek di SMA Naruna yang lebih dominan cewek-cewek centil dan manja, mereka akan sok-sok an jaim dan lebih parahnya rempong.


Apalagi yang sekarang sudah mulai menjadi kelas duabelas. Sudah mulai menjadi senior, tingkat kecentilan cewek-cewek mulai meningkat.


*Gue tahu dari mana, because, gue sendiri juga ngalamin:v


Seperti yang saat ini terjadi pada murid-murid kelas XII IPA 3 yang mendapat pelajaran olahraga di jam pertama. Kelasnya Bianca.


Di lapangan tersebut, satu kelas sudah mulai berkumpul memakai seragam olahraga yang didominasi berwarna biru muda dan ada sedikit bagian yang berwarna putih di bagian celananya.


Seorang guru bertubuh kekar, tinggi dan juga mengenakan seragam olahraga, berdiri di atas tribun sambil menyuruh murid-muridnya untuk segera mulai berbaris.


Hanya satu orang dari 60 siswa kelas XII IPA 3 yang tidak ikut serta mengikuti pembelajaran olahraga dengan alasan sedang tidak enak badan. Dia adalah Bianca.


Sedari tadi ketika masih di dalam kelas, raut wajahnya terlihat murung dan pucat. Beberapa guru yang bersitatap dengannya sudah menanyai gadis itu, apakah ia sakit!?


Dan jawaban dari gadis itu hanya tersenyum samar seraya mengatakan, "Saya baik-baik saja."


Dan, yah. Bianca saat ini tengah duduk diam di atas tribun sambil menonton teman-temannya berolahraga.


Kebetulan ini masih pagi. Jadi, duduk di atas tribun pun tidak terasa panas apalagi gerah.


"Gue mau pulang..." gadis itu meracau dengan tatapan matanya yang tidak bisa teralihkan dari lapangan. Kedua tangan gadis itu memeluk lututnya dengan sepasang matanya yang kembali berkaca-kaca.


"Gue udah gak pantes jadi murid di sini lagi..." gumamnya lagi, kemudian menangis dalam diam sambil menutupi wajahnya.


Kilasan ingatan ketika Haykal dan dirinya melakukan hal yang tidak seharusnya kemarin, membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri. Penghinaan dan tuduhan yang tertuju padanya seharusnya ia luruskan secepatnya.


Mungkin, hal mengerikan seperti kemarin malam tidak akan pernah terjadi.


Mungkin, Bianca tidak akan sebenci ini pada dirinya sendiri maupun pada Haykal.


Dan, mungkin, dirinya masih bisa meminta satu kesempatan pada Haykal untuk meminta maaf.

__ADS_1


Kesalahannya dulu pada Haykal terlalu banyak. Dia bahkan tidak pernah menganggap cinta dari Haykal itu sungguh-sungguh. Dan malah berakhir membuat lelaki itu menjauhinya sampai membuatnya begitu dingin pada Bianca.


Terlalu hanyut dalam pikirannya, gadis itu kini mulai menghapus air matanya dan memilih untuk pergi dari sana. Pergi ke mana pun, asal hanya ada dirinya seorang.


...****...


Seperti yang terlihat, kelas XI IPS 4 yang keadaannya tidak ada satu orang guru pun yang mengajar, di jam masuk seperti ini mereka sudah pada keluar dari kelas. Mata pelajaran Bahasa Indonesia yang seharusnya ada dua jam lagi, menjadi jamkos karena sang guru tidak akan masuk sampai pergantian pelajaran.


Sangat menyenangkan!


Dan yang terjadi pada Geng Kenzo yang terdiri dari dirinya sendiri, Azka, Rio, Juna, dan Haykal, mereka tengah bersantai ria di atap gedung sekolah saat ini.


Kelimanya asik bergosip, ngopi, ngemil, sambil merokok di siang hari. Oh, ya. Mereka berlima juga sedang menunggu Alex yang masih berada di ruang guru dengan terus memerhatikan sekitar area sekolah menggunakan teropong yang sedang dipakai oleh Kenzo.


"Gimana, Zo! Target udah ketemu belum!?" Azka menyahuti Kenzo, padahal mata dan jarinya sibuk menscroll instagram seorang selebgram cantik.


Emang dasar Azka! Gak di real life, gak di sosmed, pasti nyarinya tuh, cewek cantik.


"Anj*rlah! Si Alex mana, si? Sampe pegel mata gue nyarinya!" Kenzo sewot sendiri, lalu mulai melepas teropong yang ia pakai yang ia gunakan untuk mencari keberadaan satu orang sahabatnya.


"Sini, biar gue aja!" Juna yang tadinya sibuk ngemil, menghentikan aktivitasnya dan memilih menggantikan Kenzo untuk mulai mengintai ulang.


"Nih! Males gue, mending molor!" Ujar Kenzo, lalu melengos ke arah sofa panjang bekas yang kebetulan sudah ada dari jaman alumni lama yang tidak lagi dipakai bertahun-tahun.


Lumayanlah, kalau buat tidur bentar doang mah. Yekannnn?


Juna mulai tekun melihat satu-persatu siswa maupun siswi lewat teropong itu. Terkadang, cowok itu senyam-senyum sendiri. Entah apa yang ditertawakannya saat ini.


Azka yang berada di samping cowok itu tentu saja dibuat risih sekaligus kepo. Ia mulai menaruh ponselnya sembarangan, dan merebut teropong yang masih ada di tangan Juna.


"Anj*r! Apaan si lo, Ka! Kaget nih gue! Kena mental break dance, kan?"


"Apaan dah, mental break dance! Lebay amat," Rio menyahut, padahal dirinya sedang sibuk melihat postingan terbaru Alma di Instagram.


"Minjem, elaah..." balas Azka, kemudian mulai melihat ke bawah sana lewat teropong yang sebelumnya ia rebut dari Juna.


Dan, yah. Sekarang giliran cowok itu yang senyam-senyum sendiri.


Pikirnya, ternyata pemandangan ini toh, yang bikin si Juna betah?!


"Anjaayyy... Si Agnes body-nya makin Uwaaw!" Azka berucap spontan, membuat Kenzo yang tadinya sibuk memejamkan kedua matanya, langsung bangkit dan mulai jelalatan.


"Emang dia lagi ngapain?" Tanya Kenzo, lalu merebut teropong yang masih dipakai Azka.


"Ah, lu mah Zo! Kebiasaan! Pake mata telanjang aja, napa?"


"Lha, elo aja maen rebut tadi waktu masih gua pake? Kenapa lo gak pake mata telanjang aja?" Juna membalikkan perkataan Azka. Cowok itu seketika menyengir tanpa dosa.


"Ck. Ngapain lo semua liatin tuh jal*ng? Jijik gua anj*r!" Celetuk Haykal, yang sedari tadi diam dan melamun.


"Eh, eh, eh! Itu, kan Si Bianca! Di apain tuh anak sama si Agnes!?" Mendengar Kenzo mengatakan nama Bianca, Haykal spontan beranjak dari posisinya, dan beralih merebut teropong yang dipakai Kenzo.


Cowok itu langsung melihat ke arah Bianca di bawah sana yang terlihat sedang diganggu oleh Agnes dan kedua teman b*tch-nya.


"Sial! Mau ngapain lagi si Agnes!" Haykal sudah mengeratkan rahang dan mengepalkan kepalan tangannya, dengan fokus penglihatannya masih ke bawah sana.


Kenzo, Juna, Azka dan Rio, yang bingung dengan sikap Haykal saat ini hanya mampu saling pandang. Mereka tidak ada yang mengeluarkan suara, bahkan bernapas pun sudah susah.


Setelah hampir cukup lama melihat Bianca lewat teropong itu, Haykal langsung melempar teropongnya ke arah teman-temannya, lalu berlari sekuat tenaga.


...****...


"Heh, Bianca!" Agnes dan kedua temannya Alia dan Saras, mencengat langkah kaki Bianca tepat di tengah-tengah lapangan.


"Tumben lo gak ikutan olahraga? Kenapa? Tubuh lo udah gak kuat setelah semalem adegan ranjang sama Haykal!?" Perkataan Agnes membuat Bianca langsung membeku.


Darimana dia tahu kalau kemarin...


"Ma-maksud lo apa?" Seberusaha mungkin Bianca untuk tetap tenang, walaupun hatinya sudah bergejolak.


"Gak usah sok suci deh, lo! Kita punya bukti yang menguatkan kalo lo itu melakukan perzinahan di ruangan VVIP club malam sama Haykal! Mau liat?"


Bianca berdecih pelan.


Sekarang, Bianca paham apa yang sedang terjadi. Jadi, Agnes sudah dari dulu merencanakan ini untuk menjebaknya!


Dari waktu Alia yang mendekatinya dan mengaku bahwa keluarganya bangkrut dan Agnes tidak mau lagi berteman dengan Alia.

__ADS_1


Dengan sifat Bianca yang lemah lembut dan mudah memaafkan, ia mulai dekat dengan Alia saat itu juga. Di kemudian hari, Alia mengajak Bianca bertemu di sebuah bar, dan sesampainya di sana, Alia mengajak Bianca untuk berfoto. Katanya, untuk kenang-kenangan.


Bianca yang memang hatinya polos, dan tidak memiliki pikiran negatif pada Alia, dirinya hanya "iya-iya" saja. Sampai pada saatnya seorang laki-laki yang berusia duapuluh tahunan datang ke meja mereka dan meminta untuk berkenalan bersama Bianca.


Dan, ya. Kesalahpahaman dimulai saat Bianca memposting foto dirinya ketika di bar seorang diri. Tentu saja yang memfotonya adalah Alia. Itu pun dengan paksaan. Sejak saat itu, banyak komenan laki-laki kurang belaian yang mengomen di postingannya.


Bianca memposting foto itu juga paksaan dari Alia, karena gadis itu juga sudah memposting foto dirinya sendiri di Instagram.


Dan dari sejak saat itu, Bianca sudah masuk ke dalam perangkap Agnes, Alia dan Saras. Entah kenapa, dari semasa kelas sepuluh pun, Agnes selalu memusuhinya tanpa sebab.


Entah apa yang dia inginkan sebenarnya dari Bianca!


"Semua ini rencana lo, kan? Lo semua keji tahu, gak!" Bianca sudah muak. Gadis itu mulai meledak, sampai membuat siswa maupun siswi yang berada tak jauh dari mereka langsung berkerumun mengelilingi keempatnya.


"Teriak aja terus, biar satu sekolah pada tahu apa yang udah lo lakuin kemaren malem." Perkataan Alia, membuat Bianca spontan menatap ke sekelilingnya. Dan benar. Beberapa siswa maupun siswi sudah mengerumuninya.


Sial! Apakah ia akan dipermalukan di depan satu sekolah?


"Lo mau gue kayak gimana, biar lo menghentikan semua ini?" Bianca sudah pasrah. Gadis itu menangis sesegukan dengan ditonton puluhan siswa yang mengelilinginya.


Agnes, Alia dan Saras saling pandang, kemudian tertawa. Ketiganya bak iblis yang berkuasa atas penderitaan Bianca saat ini.


"Gampang, kok. Lo tinggal jadi babu gue selamanya!" Papar Agnes. Dan saat itu juga, tubuh Bianca mulai melemas. Gadis itu terduduk di lapangan dengan sepasang matanya yang bercucuran air matanya.


Bianca sudah tidak bisa lagi membayangkan nasib hidupnya di kemudian hari akan seperti apa.


Kenapa?


Kenapa ini harus terjadi padanya?


"Kenapa gue harus jadi babu lo?" Bianca bertanya. Nada suaranya terdengar pelan dan menyedihkan.


"Oh! Lo gak mau? It's okay, gak masalah. Gue tinggal sebarin aja video lo sama—" ucapan Agnes terjeda, ketika tangan seseorang sudah berhasil merebut ponselnya secepat kilat..


"Heh! Berani banget lo, nyolong hape gue! Balikin gak!" Agnes meledak pada seseorang yang baru saja mengambil ponselnya sembarangan, yang sekarang tengah berdiri memunggunginya.


Tak lama kemudian, seseorang yang mengambil ponselnya itu mulai membalikkan tubuhnya. Dan betapa terkejutnya Agnes serta kedua temannya, ketika mengetahui bahwa orang yang baru saja mengambil ponselnya itu tak lain adalah,


"Ha-haykal?"


Haykal. Dia adalah Haykal. Cowok yang terburu-buru berlari memuruni puluhan anak tangga, hanya untuk sampai di sebuah kerumunan yang diciptakan oleh Agnes.


Cowok itu mulai memutar sebuah video yang katanya adalah sebuah bukti yang menguatkan tuduhan mereka tentang apa yang terjadi di antara Haykal dan Bianca.


Dan benar saja. Kejadian malam itu benar-benar terekam jelas diponsel ini.


Jadi..., Haykal sudah masuk ke dalam jebakan yang dibuat Agnes?


"Ini yang lo maksud bukti?" Haykal menunjukkan sebuah video yang sudah ia matikan.


Tidak mungkin juga, kan, Haykal harus memutarnya lagi dan memperlihatkannya kepada semua orang?


"Videonya masih ada salinan lain?" Haykal menatap dingin satu-persatu gadis jahat di hadapannya.


Tidak ada yang menjawab. Ketika ditatap pun, Agnes malah menghindar. Alia malah menunduk. Sedangkan Saras, dia sudah ketakutan setengah mati, sesaat kedua matanya bersitatap dengan kedua mata Haykal.


"Gue tanya sekali lagi! MASIH ADA SALINAN LAIN, GAK!?" Haykal membentak keras. Cukup membuat satu sekolah bergidik ngeri, sampai memutuskan untuk membubarkan diri.


"Gak ada salinan lain! I-itu satu-satunya!" Ucapan Saras, membuat Agnes serta Alia menatap tajam pada gadis itu.


"SARAS! Lo nyari mati?!" Alia menggertak.


"Ini yang paling gue benci dari sifat lo, Ras! Lo tuh penakut, terlalu jujur, dan itulah kenapa gue selalu ngelarang lo buat ngomong terlalu banyak, kalo lo masih mau gabung sama gue!" Perkataan Agnes, membuat Saras tidak dapat berkata-kata lagi. Gadis itu berlari entah ke mana. Meninggalkan tempat itu.


"Nih! Udah gue hapus, sekalian hape-nya gue riset!" Haykal melempar ponsel Agnes tepat ke arah gadis itu.


Dengan sedikit was-was, Agnes berusaha menangkap ponselnya agar tidak rusak lagi seperti waktu kemarin.


Bisa-bisa papanya ngamuk, dan tidak mau lagi membelikannya.


"Dan, lo! Ikut gue!" Kini giliran Bianca yang ditarik Haykal untuk bangkit dan pergi mengikuti cowok itu.


Bianca tidak memberontak seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Gadis itu hanya diam dengan pasrah.


Terserah, Haykal mau membawanya ke mana. Setidaknya, Bianca bisa menjauh dari kerumunan itu.


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2