
Bell tanda masuk kelas kembali berbunyi. Padahal, rasa-rasanya seluruh murid di SMA Naruna baru saja melaksanakan jam istiharat kedua dengan penuh suka cita beberapa saat lalu. Tidak terasa waktu begitu cepat berputar.
Sedari ketika bell istirahat dibunyikan sampai dengan bell masuk kembali berbunyi, Kanza tak henti-hentinya terus melirik ponselnya yang ia taruh di atas mejanya.
Gadis itu sedari tadi tidak pergi ke mana-mana dan memilih diam di dalam kelas dengan berbagai lamunannya tentang Alex.
Pikirnya, kenapa Alex belum menghubungi dirinya?! Apakah rapatnya sudah selesai? Kira-kira saat ini, Alex sedang apa? Dan masih banyak lagi pemikiran-pemikiran tentang Alex di otaknya.
"Woi!" Kayla mengejutkan Kanza dengan tepukan cukup kuat di bahunya. Membuat Kanza refleks melatah seraya bangkit dari kursinya.
"Ish! Lo makin lama makin nyebelin, ya, La!" Kanza menatap Kayla dengan sorot mata garang. Sedangkan Kayla yang ditatap seperti itu bukannya takut, ia malah menyengir tanpa dosa.
"Hehe. Maaf, Za. Habisnya, lo dari tadi diajak ke kantin gak mau. Diajak main keluar, juga gak mau. Kan, gue jadi curiga!" Ucap Kayla.
Kanza mendengus. "By the way, Alma di mana? Bukannya tadi kalian barengan, ya?"
Kini giliran Kayla yang mendengus. Raut wajah gadis itu yang tadinya ceria, berubah cemberut seketika. "Lagi di rooftop."
"Hah?! Ngapain? Ini, kan, udah masuk kelas?" Kanza bertanya heran.
Kayla kembali menghela napasnya. "Gurunya gak bakal masuk. Lagi sakit katanya." Balas Kayla. Kanza pun mengangguk seraya ber-oh ria.
"Eh! Lo tahu, gak, Si Alma di rooftop lagi sama siapa?" Perkataan Kayla, mengundang berbagai pertanyaan dari Kanza.
"Sama siapa emang?"
Gadis itu langsung mendekatkan posisinya ke arah Kanza, kemudian membisikkan sesuatu.
"Sama Si Rio, berdua." Bisiknya. Sontak membuat Kanza langsung membulatkan kedua matanya dengan mulutnya yang menganga lebar.
"Serius?" Tanya Kanza, mencoba memastikan. Dan jawaban dari Kayla mampu membuat Kanza langsung terdiam dengan mulut yang masih menganga lebar.
"Iyalah! Gue yang bantuin mereka! Gemes gue sama mereka, dari dulu gak ada perkembangan mulu!" Ucapnya tersenyum bangga.
...****...
Seperti yang dikatakan oleh Kayla, saat ini Alma berada di rooftop sekolah bersama dengan Rio. Gadis itu terlihat gugup ketika keduanya berdiri dengan posisi saling berhadapan seperti sekarang ini.
Pikirnya, Kenapa Rio memanggilnya ke sini?
"Ma!" Setelah cukup lama keduanya terdiam, akhirnya salah satu dari mereka mulai buka suara.
"Hm?" Alma mulai memfokuskan kedua bola matanya menatap raut wajah Rio. Walaupun jantungnya sudah sangat berdegup tidak karuan, tetapi ia harus terlihat biasa saja.
Bisa kepedean nanti kalau Rio tahu Alma sudah dibuat gugup olehnya.
"Gue udah tahu semuanya." Ucapan Rio yang tiba-tiba, mengundang berbagai tanda tanya dalam pikiran Alma.
"Tahu? Tahu apa?"
Rio tidak langsung menjawab. Cowok itu malah dengan berani meraih salah satu tangan Alma dan menempelkannya tepat di dada bidang Rio.
Alma tentu saja dibuat terkejut. Gadis itu hendak menarik tangannya, namun sebelah tangan Rio yang lain berhasil menghentikannya.
"Alma, please! Jangan nolak gue! Sebenarnya lo juga punya perasaan, kan, sama gue? Kenapa lo gak jujur aja, hm? Biar kita sama-sama enak. Lo tahu? Gue udah tersiksa selama ini nungguin lo yang gantungin gue. Tapi gue tetep sabar. Karena gue yakin, ada saatnya lo akan bilang ke gue, kalau lo juga punya perasaan yang sama ke gue." Ucapan Rio terdengar lirih dan hampir putus asa.
Alma menelan ludahnya susah payah seraya menarik paksa tangannya dari genggaman Rio. Gadis itu menunduk tak enak hati.
Batinnya bertanya, apakah ia sudah sangat jahat pada Rio? Setidaknya, ia harus memberikan sebuah kejelasan jika memang gadis itu tidak menyukai Rio, kan?
Sayangnya, Alma memang menyukai Rio, tapi ia tidak berani mengungkapkannya. Ia sudah berjanji kepada kedua orang tuanya untuk tidak berpacaran.
"Ma! Please, jangan diem aja. Gue tahu lo juga suka sama gue. Setidaknya kalaupun lo nolak gue, kasih tahu gue alasannya. Jangan gantungin gue. Gue bukan kain jemuran."
Perlahan, Alma mulai memberanikan diri untuk menatap raut wajah Rio. Mungkin ini saat yang tepat baginya untuk mengatakan kebenarannya.
"Iya! Gue suka sama lo. Tapi gue gak bisa pacaran sama lo!" Jawaban Alma membuat Rio serasa di terbangkan ke langit, namun di detik yang sama kembali dijatuhkan begitu saja.
"Gue—" ucapan Alma terhenti ketika Rio menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir gadis itu.
"Karena Mama Papa lo gak ngizinin, kan? Gampang! Entar gue ke rumah lo. Minta izin buat pacarin anaknya." Perkataan Rio sukses membuat Alma gelagapan.
"Ja-jangan! Lo gak tahu gimana Mama sama Papa gue! Mereka itu—"
"Gue gak peduli! Pokoknya, nanti malem lo tungguin aja. Gue akan ke rumah lo." Kukuh Rio.
"Ha-ha-ha, lo bercanda, kan?" Sebisa mungkin Alma mencoba tidak menganggap serius ucapan Rio.
Rio melangkahkah kakinya selangkah ke depan, sampai membuat jarak antara dirinya dan Alma hanya tinggal beberapa centimeter saja. "Gue serius!"
"Apa!?"
...****...
"Eh, Bro! Keknya entar habis pulang sekolah, gue gak bisa ikut ke rumahnya si Kenzo, deh." Haykal yang sedari tadi memainkan ponselnya bersuara. Raut wajah cowok itu yang awalnya ceria seketika berubah murung.
Perubahan raut wajah cowok itu disadari oleh teman-temannya.
"Kenapa, Kal?" Juna menghentikan tawanya. Raut wajah cowok itu pun berubah khawatir ketika melihat perubahan Haykal.
__ADS_1
"Ada masalah?" Tanya Kenzo.
"Nyokap gue pengen ketemu." Ujar Haykal. Raut wajahnya terlihat begitu lesu ketika ia menyebutkan ibunya.
Bisa dibilang kalau Haykal sudah terpisah dari sang mama dari usia sepuluh tahun. Kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai karena pernikahan keduanya yang tidak didasari oleh cinta.
Hak asuh Haykal waktu itu jatuh ke tangan sang papa. Sedangkan adiknya yang waktu itu masih berusia empat tahun jatuh ke tangan sang mama.
"Tumben? Nyokap lo kesurupan, Kal?" Ucapan Azka, seketika mendapat pelototan tajam dari Juna dan Kenzo.
Sedikitpun, Haykal tidak merasa tersinggung dengan ucapan Azka. Justru ia malah merasa ucapan Azka ada benarnya.
Sejak kapan mamanya begitu peduli sampai ingin bertemu dengan Haykal?
"Kayaknya." Balas Haykal terkekeh miris. Cowok itu terlihat memasukkan ponselnya ke dalam saku blazer sekolahnya.
Ketiga temannya yang terdiri dari Kenzo, Juna dan Azka, hanya menatap cowok itu dengan tatapan kasihan. Namun sebisa mungkin ketiganya harus terlihat biasa saja, agar tidak membuat Haykal semakin terlarut akan kesedihannya.
"Nyokap lo kangen sama lo kali." Kenzo menepuk pelan bahu Haykal. Setidaknya, sedikit hiburan mungkin dapat mengembalikkan mood cowok itu.
"Bisa jadi itu!" Azka menyahut heboh. Membuat Juna yang berada tepat di sebelahnya, merasakan kengiluan di area telinga dalamnya yang mendengar dengan begitu jelas teriakan dari mulut Azka.
"Sialan, telinga gue sakit, Anj*ng!" Juna menempeleng kepala Azka. Cowok itu lantas berdesis seraya balik menempeleng kepala Juna.
"Biasa aja, dong! Rambut gagah gue rusak, nih!"
"Lha, elu juga ngomongnya biasa aja! Jan pake tereak-tereak, kuping gue sakit, nih!" Sewot Juna, membuat Kenzo dan Haykal yang menyaksikan adegan pertengkaran mereka berdua menghela napas lelah.
"Dah, dah, dah! Gitu aja ribut." Ucap Kenzo. Tak lama kemudian, Rio yang entah habis dari mana, memasuki ruang kelas dengan raut wajahnya yang tampak berseri-seri.
Kenzo, Juna, Haykal, dan Azka, sontak meledek kedatangan Rio dengan berbagai godaan.
"Abis dari mana lo, Yo? Muka lo cerah banget, dah!" Azka menyeletuk. Cowok itu dengan gaya selengeannya menggoda Rio yang tampak berdeham beberapa kali.
"Wah... jangan-jangan habis BAB lo, ya?" Tuduhan Juna, membuat yang lain tak bisa menahan tawanya lagi.
Rio yang dituduh aneh-aneh pun jelas kesal. "Sembarangan lo! Elo kali, Jun, yang abis BAB!" Ucap Rio, kemudian menduduki kursinya. "Eh, Si Alex mana? Kok, enggak kelihatan?" Rio menyahut, merasa ada seseorang yang kurang di antara mereka.
"Biasa! Orang jenius mah tempat belajarnya beda. Agak elitan dikit, Jiaaahhh..." Haykal berseloroh, yang disambut heboh oleh Juna dan Azka.
"Eh, Anj*r! Gue serius nanya! Si Alex di mana?"
"Dia lagi di belajar buat persiapan olimpiade." Ujar Kenzo, mendapat tanggapan 'oh' dari Rio.
"Oh, ya. Entar gue gak bisa ikut ke rumah lo, Zo. Sorry, yah!" Rio menyengir, membuat Kenzo sontak menatapnya datar.
"Ya udah. Terserah! Orang gak jadi, kok." Balasan Kenzo, sontak mendapat seruan tidak terima dari Juna dan Azka.
"Sejak seribu tahun yang lalu!" Ketus Kenzo. Juna dan Azka spontan mendesah kecewa.
"Ah, gak seru! Ini semua gara-gara lo berdua, nih! Si Kenzo jadinya ngebatalin rencana gitu aja, kan?" Azka menunjuk Haykal dan juga Rio.
"Sebenarnya lo ada acara apa sih, sampe gak jadi ikutan segala?" Pertanyaan Juna ditujukan pada Rio.
"Kepo!" Balas Rio, membuat Juna gondok setengah mati.
"Eh! Iya juga, ya!" Ucap Kenzo tiba-tiba. Juna, Haykal, Azka, dan juga Rio, yang merasa ucapan Kenzo tidak nyambung dengan pembahasan mereka saat ini, sontak melirik heran ke arah cowok itu.
"Lo ngomong sama siapa, Zo?" Sahut Haykal.
"Jangan-jangan sama makhluk astral?" Celetuk Azka, sontak mendapat seruan heboh dari keempat teman-temannya.
"Elu makhluk astralnya, B*go!"
...****...
Tring! Tring!
Bunyi notifikasi ponsel Kanza yang berada di dalam tasnya, menghentikan langkah kaki gadis itu yang hendak berjalan keluar kelas.
Oh, ya. Di dalam kelas itu hanya tinggal dirinya sendiri yang belum pulang.
"Za, kita pulang duluan, yaa..." Teriak Alma dan Kayla berbarengan dari luar kelas. Kedua gadis itu telah melenggang pergi setelahnya.
"Oke!" Balas Kanza ikut berteriak, namun tidak sekencang kedua gadis itu.
Ketika Kanza mulai mengeluarkan ponselnya, beberapa notifikasi pesan chat yang dikirim oleh Alex, membuat senyum di wajahnya terbit.
Alex
Udh plng?
Katanya gurunya gk msuk ya?
Kanza mencoba menstabilkan dirinya yang masih saja gugup saat berinteraksi dengan Alex. Maklum, ini pertama kalinya bagi Kanza jatuh cinta dan berpacaran.
Ketika Kanza hendak membalas pesan dari Alex, suara sahutan keras dari arah luar, sukses membuat gadis itu terperanjat sampai membuatnya terlonjak kaget.
"KANZA! Gila lo, ya! Gue cariin ke mana-mana, malah di sini! Lo mau pulang kagak? Pokoknya, lo pulang bareng gue! Barusan Mami nelepon marah-marah ke gue gara-gara kita yang berangkat sama pulang sekolah masing-masing! Dia bahkan nuduh gue yang enggak-enggak!" Dan, ya. Seseorang yang sukses membuatnya kaget itu tak lain adalah kembarannya sendiri.
__ADS_1
Dengan perkataannya yang merentet, cowok itu berucap tanpa jeda, bak seorang pembawa berita yang sedang dikejar waktu. Kanza yang mendengarnya sukses dibuat pusing sekaligus kesal.
"Euhhh... Iya, iya! Bawel banget jadi cowok!" Kanza yang tadinya hendak membalas pesan chat dari Alex langsung ia urungkan.
Mood-nya sudah dibuat hancur oleh Kenzo yang seenak jidat datang marah-marah dan koar-koar tidak jelas padanya.
Menyebalkan.
"Buruan!" Kenzo kembali bersuara, membuat Kanza semakin tidak dapat menahan emosinya.
"Buruan lo bilang? Gak sopan banget lo ama gue?! Gini-gini gue kakak lo, ya!"
Bukannya merasa terintimidasi setelah mendengar penuturan dari Kanza, Kenzo malah mencebikan bibirnya seraya mengendikan bahunya.
"Beda beberapa menit doang! Denger, ya! Kita lahir di tanggal, bulan, tahun, dan waktu yang sama! Di antara kita gak ada yang namanya kakak ataupun adek! Kita saudara kembar, Okeh?" Kenzo mengembangkan senyum sekilas yang dibalas decihan sebal dari Kanza.
"Oh, ya? Tapi di kartu keluarga tertulis, gue anak pertama, dan lo anak kedua! Terus gimana tuh?" Ucapan Kanza sukses membuat Kenzo tidak dapat berkata-kata lagi. Cowok itu dibuat bungkam oleh Kanza.
"Ck, gue bakar lama-lama tuh kartu keluarga." Dumel Kenzo, seraya berjalan meninggalkan Kanza yang tengah tersenyum puas melihat kekalahan cowok itu dalam berargumen.
...****...
"Si Kenzo mana, Kal?" Azka berbalik menatap Haykal yang tengah mencoba menaiki motornya.
Cowok itu, Azka yang hendak memasuki mobilnya langsung berhenti ketika menyadari mobil merahnya si Kenzo masih berada di parkiran sekolah. Sedangkan orangnya tidak ada.
"Kayaknya tadi dia balik lagi ke kelas, deh." Jawab Haykal. Cowok itu hendak memakaikan helmnya, namun terhenti di tengah jalan ketika ponselnya yang ia taruh di dalam saku blazer berbunyi.
Haykal lantas menaruh kembali helmnya di atas motor, kemudian meraih ponselnya. Nama kontak 'Mama' tertera besar di layar ponselnya yang menyala.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Haykal langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo?"
"Kal, gue duluan, ya? Mau nyusulin dulu si Juna sama si Rio di Warkop!" Sahutan Azka yang berada di dalam mobil, ditanggapi dengan acungan jempol oleh Haykal.
Setelah kepergian Azka, Haykal kembali memfokuskan dirinya pada panggilan telepon tersebut.
"Kenapa, Ma? Ini Haykal udah—"
"Haykal?" Suara sahutan yang terdengar begitu tegang di seberang sana sukses membuat Haykal terkejut.
"Ini..." Merasa suara seseorang di telepon tersebut bukanlah suara sang mama, Haykal lantas melirik sebentar layar ponselnya.
Ini nomornya Mama, kok!
"Ini siap—"
"Haykal, ini Tante Tya! Sekretaris sekaligus sahabat Mama kamu! Kamu masih inget, kan?" Suara perempuan dari seberang sana kembali terdengar. Membuat Haykal bertanya-tanya dalam hati.
"Tante Tya? Kenapa Tante nelepon Haykal pakai nomor hp Mama?"
Terdengar suara helaan napas panjang dari seberang sana yang membuat Haykal merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi di sana. "Mama kamu kecelakaan! Sekarang sedang ditangani oleh dokter, kamu bisa datang ke sini, kan, Haykal? Dia butuh kamu!"
Bagai disambar petir di siang bolong, tubuh Haykal mulai membeku saat itu juga. Kedua bola matanya melebar. Sesekali cowok itu menelan ludahnya susah payah mencoba mencerna ucapan Tante Tya di seberang telepon.
"Tante gak lagi bercanda, kan?" Sebisa mungkin Haykal bertanya, walaupun tubuhnya sudah mulai panas dingin.
"Ini serius, Haykal! Kamu pikir Tante bercanda? Buat apa tante bercanda?" Suara teriakan Tante Tya, sukses membuat Haykal langsung menurunkan bahunya dengan perasaan yang campur aduk.
"Haykal ke sana. Tolong kirimin alamatnya. Dan tolong jagain Mama." Ucap Haykal, kemudian mematikan sambungan teleponnya sepihak.
Haykal kemudian mencari salah satu nomor telepon untuk ia hubungi saat ini. Tangannya sampai bergetar hebat, dan membuatnya sedikit kesulitan untuk mencari-cari nomor telepon tersebut.
Setelah nomor telepon yang ia cari ketemu, Haykal langsung menghubunginya. Tak butuh waktu lama, seseorang di seberang sana langsung mengangkat telepon dari Haykal.
"Lex, kalau besok guru nanyain, tolong bilangin gue mau balik Ke Bekasi. Nyokap gue—" Haykal tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Cowok itu menarik napasnya terlebih dahulu, kemudian mengembuskannya. "Nyokap gue dirawat. Gue minta tolong sama lo, Lex! Cuman lo yang paling gue percaya." Lanjut Haykal. Kedua bola matanya sudah berkaca-kaca. Dan berbagai pikiran negatif menghinggap begitu saja di otaknya.
"Hm. Makasih, Lex. Gue berangkat sekarang. Bilangin juga ke yang lain, gue minta doanya buat Nyokap gue." Dan setelah mengatakan kalimat itu, sambungan telepon pun terputus oleh Haykal yang memutusnya sepihak.
Tak ingin berlama-lama lagi, Haykal langsung menaiki motornya dan menghidupkannya. Sebelum Haykal benar-benar melesatkan motornya, ia terus menarik napas dalam-dalam seraya berharap dan berdoa, bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada sang mama.
^^^To be continue....^^^
Spoiler next episodes...
Bianca berjalan keluar dari dalam bilik toilet di kamarnya dengan langkah tertatih-tatih. Raut wajahnya pun terlihat pucat. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengelus perutnya yang sedari tadi terus saja mual tidak berhenti.
Dan sebelah tangannya yang lain ia gunakan untuk memegang sebuah benda berukuran kecil dan tipis namun agak sedikit panjang yang tak lain adalah sebuah testpeck, alat tes kehamilan.
"Gue—" Bianca tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tubuh gadis itu yang semula berdiri, mulai merosot sampai terduduk di atas karpet berbulu.
Air matanya sudah tidak dapat lagi ia bendung. Jeritan tangis tertahannya meledak saat itu juga. Bianca membuang benda tadi sembarangan dan mulai memeluk tubuhnya.
Semuanya sudah berakhir...
Haii!!! Sudah Update!!!
Itu yg di atas spoiler yak! Sengaja mau ngecek doang, ada yg bkl penasaran gk? gitu aja kok, gk lebih:)
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak sayang-sayangku:*