Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 46


__ADS_3

Juna mengernyit refleks menghentikan motornya kala indera penglihatannya menangkap sosok Kayla yang tengah memarkirkan motornya di pinggir jalan yang terbilang cukup sepi. Raut wajah gadis itu terlihat begitu panik dengan sesekali bolak-balik mengecek motornya. Spontan saja Juna berjalan mendekati gadis itu setelah motornya distandar dan ia yang perlahan mulai melepaskan ikatan helmnya.


"Kenapa? Mogok?" Sahut Juna, sesaat ketika cowok itu telah berdiri di belakang Kayla.


Mendengar suara seseorang yang tiba-tiba menyahutinya, refleks gadis itu berjengit seraya membalikkan tubuhnya. Ketika menyadari orang yang baru saja menyahutinya adalah seseorang yang sangat ia kenali, Kayla lantas mengembuskan napas lega.


"Eng—"


"Sini, gue cek." Juna tidak menghiraukan ucapan yang hendak dilontarkan oleh Kayla. Ia malah memilih memeriksa keadaan motor milik gadis itu sesegera mungkin.


Dimulai dari menghidupkan stater, memeriksa keadaan ban dan lain sebagainya. Lagi dan lagi, Kayla hanya mampu menghela napas sebal dengan sesekali menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Gadis itu benar-benar tidak mengerti soal mesin. Dan yang ia lakukan saat ini hanyalah menjadi penonton ketika Juna tengah berusaha mengotak-atik motornya.


"Gimana?"


Juna menghentikan aktivitasnya kemudian menolehkan sedikit kepalanya pada gadis itu. Helaan napas keluar begitu saja dibarengi dengan tangannya yang meraba salah satu saku celananya.


"Motor lo harus diderek. Bentar, gue hubungin tukang derek dulu." Ucap Juna. Seketika membuat raut wajah gadis itu semakin ditekuk kesal.


"Terus gue pulangnya gimana?" Gerutu Kayla, yang dapat didengar dengan sangat jelas oleh indera pendengaran Juna.


Tak lama setelah ia berhasil menghubungi nomor tukang derek, cowok itu lantas berjalan lebih dekat menghampiri Kayla. Tatapan matanya tak henti-hentinya terus terfokus pada raut wajah gadis itu yang jelas sekali tengah memendam suatu kekesalan.


"Lo tenang aja. Kira-kira sepuluh menitan juga motor lo bakat langsung diangkut,"


Kayla mendengus dengan sepasang bola matanya yang terpejam. Ucapan dari Juna benar-benar cukup memancing emosinya. Lantas, tatapan gadis itu kemudian beralih pada cowok itu. Kedua bola matanya tampak memicing, membuat Juna yang ditatap seperti itu refleks berdeham.


"Kenapa?" Tanya Juna. Lagi dan lagi, gadis itu kembali mendengus. Kedua tangannya tampak berkacak pinggang dengan perhatian yang belum juga beralih dari cowok itu.


"Kalau motor gue diderek, terus gue pulangnya gimana?" Pekik Kayla dengan bibirnya yang mulai mengerucut kesal.


Juna menaikkan salah satu alisnya dengan kedua lengan yang ia lipat di depan dada. "Ribet banget cuma masalah pulang doang! Lo gak lihat di depan lo ada gue? Sekali-kali kek lo manfaatin gue! Minta suruh anterin pulang gitu kek, apa kek. Udah! Gue anterin lo pulang!" Ucap Juna. Helaan napas lagi-lagi keluar dari mulut gadis itu.


"Gak mau!" Ucapnya. Refleks Juna mengernyit.


"Ya, udah kalau gak mau. Gue tinggalin, nih," Juna sudah hendak pergi meninggalkan Kayla. Namun langkahnya langsung terjeda kala tidak ada balasan lain yang keluar dari mulut gadis itu. Wajahnya pun terlihat galau dengan kepalanya yang menoleh ke samping. Membuat Juna sedikit tidak tega jika harus meninggalkan gadis itu di pinggir jalan yang cukup sepi ini sendirian.


Pada akhirnya, Juna memilih tetap tinggal di sana menemani Kayla. Keduanya sempat saling terdiam beberapa saat sebelum pada akhirnya mobil pengangkut kendaraan mogok atau yang sering disebut dengan mobil derek telah sampai di sekitar mereka.


"Yang ini, Mas!" Juna melambaikan tangannya ke arah dua orang mas-mas tukang derek yang baru saja keluar dari dalam mobil.


Dengan telaten, dua orang mas-mas itu langsung menaikkan motor milik Kayla ke atas mobil, setelah sebelumnya ia meminta izin terlebih dahulu pada Juna.


"Langsung diperbaiki, ya, Mas! Kayaknya mesin dalamnya ada yang rusak." Ucap Juna yang diangguki oleh mereka berdua.


"Siap! Kalau begitu, kami permisi." Balas salah satu dari mereka, kemudian mulai kembali memasuki mobil derek sampai pada akhirnya mobil tersebut mulai melesat meninggalkan Juna dan juga Kayla.


Kayla menatap nanar motornya yang telah dibawa pergi oleh mobil derek. Helaan napas masih setia keluar dari dalam mulutnya. Ia benar-benar kesal dengan kesialan yang baru saja menimpanya saat ini.


"Udah siang. Ayo, gue anterin lo pulang!" Juna menarik salah satu tangan Kayla, namun dengan terburu-buru langsung ditepis oleh gadis itu.


Melihat penolakan dari Kayla, Juna lantas kembali mengalihkan perhatiannya pada gadis itu yang tengah menunduk dengan bibirnya yang masih mengerucut.


"Gue pulang sendiri aja. Makasih buat bantuannya." Ucap Kayla, terdengar sangat pelan. Setelah mengucapkan kalimat itu, Kayla lantas berpaling dari Juna.


Merasa ada sesuatu yang berbeda, Juna lantas kembali menarik salah satu pergelangan tangan gadis itu sampai membuatnya seketika menolehkan kepalanya.


"Lo kenapa sih? Lo sakit, hah?"


Kayla kembali menepis tangan Juna. Tatapan matanya berubah sendu dengan sesekali ia akan menelan ludahnya. "Gue pa-pa, kok. Gue cuma gak mau aja pulang sama lo!"


"Kenapa?" Tanya Juna. Refleks membuat mulut Kayla lantas terdiam membeku.


"Biasanya kan, lo sering ngintilin gue? Kenapa sekarang giliran gue yang nyuruh lo berada di sekitar gue, lo malah gak mau? Lo udah move on dari gue?"


Kayla mengerlingkan kedua bola matanya menatap Juna. Tatapannya tampak kurang bersahabat dengan tarikan napas dalam yang terdengar cukup jelas.


"Siapa yang udah move on? Gue belum bisa move on dari lo! Maka dari itu, lo mending jauh-jauh deh dari gue. Biar secepatnya gue bisa move on! Gue udah capek cinta sepihak mulu dari dulu! Lo enggak pernah sedikit pun nganggap keberadaan gue,"


Kini giliran Juna yang terdiam. Ucapan dari gadis itu benar-benar sukses menamparnya.


Kayla mulai kembali mengembuskan napasnya. Tatapan matanya yang semula menatap sepasang netra milik Juna, kini beralih menatap asal ke samping.


"Sekali lagi gue terima kasih sama lo yang udah bantuin gue barusan. Kalau gitu, gue dul—"


"Siapa yang izinin lo buat pergi?" Juna menyela. Membuat langkah kaki gadis itu lantas terjeda dengan posisi badan yang memunggungi cowok itu.


"Lo gak boleh move on dari gue!" Ucap Juna, refleks Kayla langsung menolehkan kepalanya ke arah cowok itu.


"Lo gila, ya?"


Juna menggeleng dengan kedua kakinya perlahan melangkah mendekat ke hadapan Kayla. "Gue gak gila! Gue serius! Dan satu hal yang perlu lo tahu," Juna menjeda ucapannya sejenak. Perlahan namun pasti, cowok itu mulai berusaha menyejajarkan wajahnya dengan wajah milik gadis itu.


Tatapan matanya berubah lembut. Membuat Kayla seketika dibuat salah tingkah oleh tatapan cowok itu yang jaraknya hanya beberapa sentimeter saja darinya.


"Cinta lo gak sepihak." Lanjut Juna. Sontak membuat kedua bola mata gadis itu langsung membulat hampir sempurna.


Ketika Kayla hendak berucap sepatah duapatah kata, gadis itu langsung terdiam kala benda kenyal nan lembut menyentuh permukaan bibirnya.


Sial! Juna menciumnya!?


...****...


Alex menghentikan mobilnya tepat di halaman luas rumah kediaman Kanza. Ketika ia mulai keluar dari dalam mobilnya, cowok itu dengan gantle membukakan pintu mobil sebelahnya dan mempersilakan Kanza bak seorang tuan putri.


Seulas senyum manis terbit di wajah cantiknya. Dengan malu-malu, Kanza meraih salah satu tangan Alex yang terulur ke arahnya.


"Makasih. Padahal mah enggak usah," ucap Kanza selepas gadis itu benar-benar keluar dari dalam mobil. Bibirnya pun tampak masih mengulum seulas senyum yang sama.


"Eeh, anak Mami udah pulang? Loh, Kenzo mana?" Suara sahutan dari dalam rumah spontan mengalihkan perhatian kedua remaja itu.


Mendapati sang mami alias Chelsea berjalan tergesa-gesa ke arahnya, refleks Kanza langsung berhamburan ke arah wanita setengah baya tersebut. Seulas senyum merekah terbit di wajah cantiknya.


"Kenzo izin bentar katanya," ujar Kanza yang dibalas oh saja oleh Chelsea.


Sedari wanita itu berjalan menghampiri Kanza, tatapan matanya tak henti-hentinya terus mencuri pandang pada Alex. Dalam hati ia bertanya, siapa yang dibawa pulang oleh Kanza?


"Za? Siapa?" Chelsea menyenggol lengan putrinya dengan sesekali mengode lewat tatapan matanya.


Dengan ragu sekaligus gugup, Kanza pun menjawab, "Oh! I-ini em ... kenalin, Mih! Alex, pa-pacar Kanza, hehee." Kanza menyengir di akhir kalimat yang ia ucapkan.


Demi apa pun, ia sangat malu mengakui dirinya memiliki pacar pada sang mami. Bagaimanapun juga, ini adalah perdana bagi Kanza memiliki pacar sekaligus memperkenalkannya pada salah satu anggota keluarganya.

__ADS_1


Chelsea tersenyum menggoda pada Kanza sekaligus mengangguk-angukkan kepalanya. Setelahnya, perhatian wanita setengah baya itu langsung beralih pada Alex yang terlihat tengah tersenyum ramah padanya.


"Selamat siang, Tante. Saya Alex, pacarnya Kanza." Alex menyodorkan salah satu tangannya ke hadapan Chelsea dengan sopan yang langsung diterima baik oleh beliau.


"Wah... Alex, kamu ganteng banget, ya? Beneran kamu pacarnya Kanza? Masa sih? Yakin kamu mau pacaran sama anak Tante? Sifatnya bar-bar gitu kamu gak keberatan?" Chelsea berucap cukup bawel, membuat Kanza yang mendengar sang mami mulai menjelek-jelekkannya di hadapan Alex spontan menyenggol lengannya perlahan.


"Mami, iihh!" Sewot Kanza. Refleks Chelsea menoleh ke arah putrinya dengan tatapan watadosnya.


"Apaan sih? Kan, emang iya! Kamu tuh kalo udah disatuin sama Kenzo, pasti ujung-ujungnya kalian berantem. Yang satu mulutnya bawel banget kalo udah marah, yang satunya lagi bar-bar banget kalo udah kesel!" Celetuk Chelsea. Hilang sudah imej baik hati dalam diri Kanza di hadapan Alex. Maminya ini benar-benar yang paling ahli kalau sudah menjelek-jelekkan Kanza.


Alex terkekeh melihat sikap lucu antara Kanza dan juga maminya. Dalam hati Alex yang terdalam, seandainya ia juga dapat bercanda seperti itu dengan sang mama. Sayangnya, mamanya sangat dingin tak tersentuh. Mirip seperti Alex.


"Kalau gitu saya izin pulang, Tante. Kebetulan juga Kanza-nya sudah saya anterin pulang dengan selamat,"


Chelsea dan Kanza yang semula masih sibuk beradu argumen, seketika langsung mengalihkan perhatiannya pada Alex. Tatapan mata sepasang ibu dan anak itu tampak sedikit syok.


"Loh? Kok pulang!? Jangan! Nanti aja, ya? Sekalian kita makan siang bareng. Ya?" Chelsea menarik lengan Alex sampai membuat cowok itu gelagapan dibuatnya.


"Tapi, Tante—"


"Udah! Pokoknya kamu gak boleh pulang sebelum makan siang di rumah Tante! Tante gak mau tahu pokoknya!" Kukuh Chelsea. Dan pada akhirnya, mau tidak mau, Alex pun menurut.


"Za! Bawa Alex jalan-jalan, gih! Mami mau beres-beres dulu. Habis itu kita masak, oke?" Perhatian Chelsea beralih pada putrinya. Cekalan di lengan Alex pun sudah sepenuhnya terlepas.


"Siap, Mami!" Balas Kanza, kemudian menarik salah satu lengan Alex dan membawanya untuk berjalan-jalan mengelilingi isi rumahnya.


...****...


Azka menghela napasnya dengan tatapan mata yang belum juga beralih dari seorang pria bersetelan jas putih yang tak lain adalah omnya, Kelvin.


Sedari beberapa saat yang lalu, cowok itu tak henti-hentinya terus bertanya hal yang sama pada Kelvin, yaitu; tentang di mana keberadaan kedua orangtuanya.


"Om!" Panggil Azka. Sedikit pun Kelvin tidak berniat menjawab panggilan dari sang keponakan.


"Om, jawab Om! Om pasti tahu, kan, orangtua Azka di mana?" Azka mencengkram kuat kedua bahu milik Kelvin. Tatapan matanya terlihat begitu frustasi dengan tarikan napasnya yang dalam.


Kelvin menghela napas seraya menyingkirkan kedua tangan Azka yang berada di bahunya. Pria yang sebentar lagi memasuki usia kepala tiga itu lantas mulai mengalihkan perhatiannya pada Azka.


"Kamu akan menyesal setelah mengetahui segalanya, Azka!" Lirih Kelvin.


Itu lagi, itu lagi!


Dengan kesal, Azka lantas menjatuhkan sebuah guci yang berada di ruangan Kelvin. Tarikan napasnya semakin memburu dengan kilatan kemarahan terpancar di kedua bola matanya.


"Justru karena Om semakin membunyikan hal itu dari Azka, Azka akan semakin menyesal, Om! Om mau lihat Azka mati?"


"Azka!" Emosi Kelvin mulai terpancing. Dengan diselimuti amarah, pria itu menarik kedua kerah kemeja yang dikenakan oleh Azka.


"Kamu gak boleh nekat! Seberapa pentingnya kamu ingin mengetahui siapa mereka?! Apa mereka pernah mencari kamu?" Azka menepis kuat cengkraman Kelvin dari kerah kemejanya.


"Seberapa penting Om bilang? Sangat penting Om! Temen-temen Azka semuanya punya orangtua, cuma Azka yang gak punya! Giliran Azka nanya ke kalian; di mana orangtua Azka, kalian gak pernah jawab! Kenapa Om? Kenapa kalian gak pernah jujur sama Azka? Apa kalian gak tahu?! Selama ini Azka menahan iri sama cemburu ketika melihat temen-temen pada banggain orangtua mereka!"


Kelvin terdiam mendengar segala keluh kesah yang dilontarkan oleh Azka. Pria itu seketika mencengkram kuat kepalan tangannya kala potongan demi potongan memori belasan tahun silam kembali melintasi otaknya.


Kelvin lantas mengembuskan napas berat dengan salah satu tangannya yang terulur untuk melonggarkan cengkraman dasi yang melilit di kerah kemejanya.


Tatapan mata pria itu kembali pada Azka. Bisikan demi bisikan yang menyuruhnya untuk memberitahu Azka segalanya terus merongrong silih berganti.


"Fine! Om bilang! Tapi pertama-tama, kamu harus janji satu hal sama Om!"


Tak ingin terus bergelut dalam hati, Azka lantas mengangguk-angukkan kepalanya sebagai tanda setuju oleh syarat yang diajukan oleh Kelvin.


"Apa pun, Om! Azka janji apa pun sama Om, asal Om mau ngasih tahu Azka kebenaran di mana dan siapa sebenarnya orangtua Azka,"


Kini giliran Kelvin yang mengangguk. Perlahan, pria itu mulai menceritakan kejadian demi kejadian masa lalu yang seharusnya tidak ia ceritakan pada Azka, dikarenakan ia sendiri pun telah berjanji pada sang papa, alias kakeknya Azka, untuk tidak membocorkan memori pahit tersebut.


...****...


"Jadi ... Kamar kamu yang mana?" Alex bertanya pada Kanza setelah hampir belasan menit mereka berjalan ke sana ke mari melihat isi rumah gadis itu.


Kanza tampak berpikir sejenak, "Coba tebak! Kira-kira kamar aku yang mana," ucapnya. Seulas senyum malu-malu terbit di wajahnya.


Entahlah. Ia jadi malu sendiri ketika memanggil dirinya dengan panggilan 'aku'. Ini semua karena usulan Alex beberapa waktu lalu yang memaksa Kanza untuk mulai mengganti panggilan mereka.


Awalnya memang terdengar sangat aneh ketika mengucapkan kata 'aku-kamu'. Kanza bahkan sempat diledek habis-habisan oleh Alex karena seringkali selalu salah dalam penyebutan.


Oke. Lupakan soal panggilan itu.


Alex tampak terdiam dengan perhatiannya yang tertuju pada dua buah daun pintu yang berada tepat di hadapannya. Kedua pintu itu jelas tampak sama. Dimulai dari warna cat, bentuk, hingga ukiran. Yang jadi pembedanya adalah isi yang berada di balik pintu tersebut.


"Yang kanan!" Tunjuk Alex. Sontak Kanza melebarkan mulutnya dengan perhatian yang kembali tertuju pada cowok itu.


"Kok tahu? Punya mata batin, ya?" Kanza terkekeh, kemudian mulai mendorong knop pintu kamarnya sampai pemandangan di dalam sana mulai terlihat cukup jelas.


"Masuk, yuk?" Ajak Kanza. Seulas senyum manis nan polos terbit di wajahnya.


Tidak dengan Alex. Cowok itu sudah dibuat hampir gelagapan setengah mati ketika gadis itu menawarinya untuk masuk ke dalam.


"E-emang boleh?" Sebisa mungkin Alex menghilangkan kegugupannya yang diciptakan oleh Kanza.


"Kenapa gak boleh? Di dalem luas kok. Barangkali kamu kepo sama isi di dalem kamar aku! Ayok!" Kanza menarik tangan Alex sampai pada akhirnya, mereka berdua mulai berada di dalam kamar milik gadis itu.


Alex awalnya sempat enggan untuk masuk ke dalam. Bagaimanapun juga, Alex itu cowok! Dan dia bukanlah cowok baik-baik apalagi cowok alim. Namun, rasa enggan dalam dirinya langsung lenyap kala melihat dekorasi serta segala isi dari dalam kamar gadis itu yang benar-benar langsung memanjakan matanya.


Dimulai dari dinding yang berhiaskan wallpaper berwarna biru langit cerah disertai dengan gambar awan-awan. Barang-barang yang tertata rapi sampai ke hiasan dinding berupa sebuah lukisan di kamarnya yang membuat Alex langsung mendekatkan diri ke sana.


"Lukisannya bagus. Cocok sama dekorasi kamarnya," ucap Alex. Seulas senyum manis lagi-lagi terbit di wajah Kanza.


"Serius? Ekhem. Siapa dulu dong yang buat," Kanza mengibaskan rambutnya membuat Alex seketika menoleh padanya.


"Emang, siapa yang buat?"


"Emm ... Gak tahu! Hahaha!" Cetus Kanza. Tawanya terbit begitu saja.


Alex menggeleng pelan, "Kirain kamu yang buat."


"Hah! Gak mungkin!"


"Gak ada yang gak mungkin di dunia ini," Alex beralih mengusap lembut kepala Kanza, dibarengi dengan seulas senyum tipis yang ditujukan pada gadis itu.


Kanza sempat terdiam mendapat perlakuan tak terduga dari Alex. Jantungnya tiba-tiba berdegum begitu kencang, padahal ini bukan kali pertama cowok itu menyentuh kepalanya.


Alex mulai menarik kembali tangannya dari kepala Kanza. Perhatiannya kemudian beralih pada sebuah buku binder berwarna pink yang berada di atas meja belajar.

__ADS_1


Sedikit penasaran, akhirnya Alex berjalan mendekat ke arah sana. Tangannya pun mulai terulur mengambil buku binder tersebut. Namun, ketika hendak membukanya, seseorang tiba-tiba saja memekik. Dan ketika menoleh, Kanza tengah menatapnya dengan begitu panik.


"Jangan dibuka!" Pekik Kanza, membuat Alex semakin penasaran dengan isi dari buku binder yang berada di tangannya.


"Pelit banget. Nyembunyiin apaan emang?" Alex sudah mulai membukanya.


Melihat itu, refleks Kanza langsung berlari ke arah cowok itu untuk merebut kembali barang miliknya. Sayangnya, gerak-gerik Kanza sudah terbaca oleh Alex. Dengan sangat cekatan, cowok itu mengangkat tinggi-tinggi binder pink tersebut, sehingga Kanza tidak dapat merebutnya.


"Alex, iih! Balikin, gak?" Kanza berjinjit untuk mengambil kembali barang miliknya. Sialnya, tubuh Alex terlalu tinggi. Kanza benar-benar bukan tandingan cowok itu.


"Kenapa sih? Panik banget. Gak lagi nyembunyiin selingkuhan, kan?" Alex terkekeh. Cowok itu masih setia dengan aktivitasnya.


Kanza berdecak, "Siapa juga yang nyembunyiin selingkuhan? Balikin, gak!"


"Enggak! Kasih tahu dulu isinya apaan," Alex mengangkat salah satu sudut bibirnya membentuk seulas seringaian menyebalkan.


Kanza mendelik diiringi mendengus sebal. "Kepo banget, sih! Ini tuh rahasia, balikin, gak?" Kukuhnya, masih berusaha meraih bindernya yang masih berada di tangan Alex.


"Kasih tahu dulu isinya apaan!"


"Ish! Lo!"


Alex mulai menyembunyikan binder milik gadis itu di belakang tubuhnya. Sepasang bola matanya lantas menyipit menatap tajam Kanza yang mulai berhenti. "Kamu, Za! Bukan Elo!" Ralat Alex, yang hanya dibalas decakan sebal oleh Kanza


"Bodo amat! Balikin, gak?" Kanza sudah hendak kembali beraksi. Sayangnya, Alex langsung memundurkan langkah kakinya sehingga gadis itu lagi-lagi gagal dalam merebut kembali barang miliknya.


Demi apa pun, Kanza gemas sekaligus kesal dengan Alex. Bisa-bisanya cowok itu mempermainkannya. Tidak ingin kalah saing, Kanza pun memutuskan untuk melakukan hal gila yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.


Pikirnya, cowok itu pasti akan kalah jika Kanza melakukan hal ini. Ya! Cowok itu pasti akan kalah!


Tiba-tiba saja sebuah seringaian licik terbit di wajah Kanza. Tak ingin membuang-buang waktu, gadis itu lantas melangkahkan kakinya ke hadapan Alex yang terlihat begitu tenang, tanpa sedikit pun merasa waswas.


Kesempatan!


Kedua tangan Kanza mulai menyentuh kedua bahu Alex. Tatapan matanya pun terlihat begitu berbeda dari sebelumnya. Melihat hal itu, jelas Alex bingung. Otaknya bahkan sempat berpikir, apa yang akan dilakukan oleh gadis itu?!


Tak ingin berlama-lama, Kanza mulai berjinjit dengan wajahnya yang perlahan mulai mendekat ke wajah Alex. Embusan napasnya yang lembut mulai menerpa area sekitar wajah dan leher cowok itu.


Alex terdiam kaku. Kedua bola matanya sudah membulat sesaat wajah gadis itu semakin mendekat padanya.


Melihat reaksi Alex yang sama persis dengan ekspektasi Kanza, gadis itu lagi-lagi menarik salah satu sudut bibirnya. Salah satu tangannya yang berada di atas bahu cowok itu perlahan mulai terlepas. Dengan cepat sekaligus hati-hati, Kanza mulai merebut bindernya yang berada di belakang tubuh Alex.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, gadis itu lantas menjauhkan diri dari Alex. Tak berapa lama, tawa Kanza mulai pecah. Sanggup untuk menyadarkan Alex dari apa yang sempat ia lamunkan.


"Wleek! Emang enak! Ngeselin, sih. Anggap aja kita impas, oke?" Kanza masih setia dengan tawanya. Ia benar-benar tidak menyangka ternyata ide gilanya ini benar-benar berhasil?!


Berterimakasihlah Kanza pada beberapa judul drama yang baru-baru ini ia tonton. Kalau bukan karena itu, ide gila barusan tidak akan pernah terpikirkan dan Kanza tidak akan pernah bisa merebut binder keramatnya ini.


Puluhan atau bahkan mungkin ratusan rahasianya akan terbongkar di tangan Alex jika bindernya tidak segera diselamatkan. Dan Kanza tidak ingin cowok itu mengetahui pengalaman pahit apa saja yang telah ia alami dalam hidupnya.


Kanza mulai menghentikan tawanya. Gadis itu lantas memilih melangkahkan kakinya ke arah rak buku dan menyelipkan binder pink tersebut di sela buku-bukunya yang lain.


"Nah! Kalo gini kan, lumayan aman," ucap Kanza pada dirinya sendiri.


Di sisi lain, Alex mulai mengepalkan kepalan tangannya. Tadi ia benar-benar tertipu. Ia pikir, Kanza akan menciumnya! Tapi ternyata, gadis itu malah mempermainkannya.


Apa gadis itu masih juga tidak sadar dengan perbuatannya itu bisa saja membuat sisi lain dalam diri Alex muncul? Atau jangan-jangan, Kanza memang sedang menantikannya?


Perlahan namun pasti, Alex melangkahkan kakinya ke arah Kanza yang memunggunginya. Ketika gadis itu berbalik, ia langsung berjengit mendapati Alex berdiri begitu dekat di hadapannya.


Memilih mengembuskan napas untuk menghilangkan rasa keterkejutan, gadis itu lalu menatap kesal sepasang netra milik cowok itu yang juga tengah balik menatapnya.


"Ngagetin aja sih! Gimana kal—"


"Za!" Alex menyela ucapan Kanza. Tatapan mata cowok itu berubah menusuk yang baru disadari oleh Kanza. Lantas, gadis itu seketika dibuat gugup apalagi Alex yang perlahan mulai mendekatkan wajahnya, mengikis jarak di antara mereka.


"I-iya!"


Alex menatap wajah Kanza dimulai dari mata, alis, hidung, kemudian mulut. Tatapan matanya semakin membuat Kanza dilanda gugup setengah mati.


Gila! Gila! Gila!


Alex gak lagi mau balas dendam, kan? Batinnya memekik.


"K-kenapa?" Tanya Kanza. Seulas senyum kaku terbit di wajahnya.


Terdengar helaan napas dari Alex yang semakin membuat Kanza gugup setengah mati. "Lo tahu, kan, kalau gue cowok?" Alex berucap setengah berbisik. Dengan ragu, Kanza pun mengangguk.


"Terus, kenapa lo malah kayak tadi?"


"E-emangnya salah, ya?" Kanza mengerutkan keningnya merasa tidak enak.


Alex menggeleng pelan. "Lo bikin otak gue liar, Za!"


"Hah!?"


Alex semakin mendekatkan wajahnya, membuat Kanza refleks memundurkan langkah kakinya sampai punggungnya menubruk rak buku. "Dan lo harus terima hukuman karena lo udah membangkitkan sisi liar gue!"


"Gu-gue—" Kanza menjeda ucapannya. Kedua bola matanya refleks membulat sesaat ketika Alex semakin mendekatkan wajahnya, sampai pada akhirnya bibir keduanya mulai saling bersentuhan.


Deg!


Jantungnya tiba-tiba berdegup semakin kencang. Pipinya terasa memanas dan napasnya mulai tercekat.


Gila!


Alex benar-benar gila! Cowok itu mampu membuatnya terdiam membatu hanya dengan kecupan singkat yang mendarat di bibirnya. Setelahnya, cowok itu mulai menjauhkan sedikit wajahnya dari Kanza, sehingga tatapan keduanya kembali bertemu.


Wajah Kanza sudah memerah padam dengan sepasang bola matanya yang masih membulat sempurna. Sedangkan Alex, cowok itu hanya menatap datar Kanza dengan deru napasnya yang mulai tak beraturan.


"Za, lo—" ucapan yang hendak dilontarkan oleh Alex langsung terjeda kala suara ketukan pintu yang beruntun terdengar memekakan telinga mereka.


Seolah suara ketukan pintu tadi menjadi penyadar, Kanza lantas mendorong Alex sampai pada akhirnya posisi keduanya mulai sedikit berjauhan.


"Kanza! Kamu di dalam sama siapa?!" Belum sempat Kanza menghela napas lega, suara pekikan dari luar kamarnya lagi-lagi membuatnya kembali dilanda panik.


Ini kan, suara Papi!?


Lantas, tatapan Kanza beralih pada Alex yang ternyata cowok itu juga tengah menatapnya dengan tatapan yang sama.


Mampus! Ketahuan kan, lo! Elo, sih, maen nyosor gitu aja! Gini, kan, jadinya! Batin Alex, merutuki tindakannya sendiri.


^^^To be continue....^^^

__ADS_1


Akhirnya aku update gaess😭 stlh mendapat musibah hilangnya seluruh naskahku, kini terbitlah terang🤣 astaga, apaan sih diriku🙂 untuk eps kli ini scene Kenzo gk ada, ya. Gk muat gaes maaf🙏 di next eps keknya😁 sekali lagi aku mau minta maaf karena updatenya sangat² telat dari biasanya. ini tuh gara² para guru yg ngasih tugas numpuk mulu! mana disuruhnya mencatat satu bab lagi😭 tugas ini lah, itulah. mana bnyk bgt lgi😭 ditambah pljrn lain juga nyuruhnya mencatat 1 bab. ralat, deh. ada yg baru slesai nulis 1 bab, eeh nyuruh nulis 1 bab lgi. mana semaleman harus udh beres lagi😭 (karena aku bkn anak baik, aku mencatatnya sepotong aja. gila aja satu bab semaleman😭) jahat bgt huhuu, untung gurunya gk masuk dan diganti sama Kakak² KKN🤤 curhat, ya? iya nih. aku gk punya temen curhat, makanya curhat di sini😤 aku bner² merasa udh mau gila gara² tugas belom pada slsai tpi udh nambah lgi yg baru😤 maklum, mungkin karena jurusan komputer, jadinya yah bgini😣 untungnya skrng cuman 2 pljrn lgi aja sih yg blom dikerjain. itu pun bukan besok🤗 so, untuk eps slnjtnya aku juga gk tau bkl updatenya lama lgi ato gimna. aku tkut kejadian kek kmaren² disaat aku mau update, eeh malah gk sempet😭 gitu aja, deh. mksih kalian udh mau ngertiin aku🙏 bab yg ini udh aku usahain hampir sama kek yg hilang itu. walaupun sbnrnya seluruh scene cerita di eps ini semuanya dirombak karena aku bner² lupa. tpi sebisa mungkin dimirip²in kek di eps yg hilang itu. Sekali lgo aku minta maaf sekaligus terima kasih sama kalian🙏


__ADS_2